
7 September 2018
Konstelasi iPod dan jam bekerku masih bermain mendengung-dengung membuat siapa pun, demi gendang telinga tersayangmu, ingin mematikannya. Aku juga begitu. Entahlah, kebisingan ini seakan membuatku tidak terusik lagi tentang mimpi konyol barusan.
Dan dalam empat detik akan keluar seorang wanita paruh baya yang selalu tersenyum padaku, yang aku panggil Bunda.
Empat.
Tiga.
Dua.
Satu.
"Edel!! Mau sampe kapan kamu tidur?! Cepet bangun! Udah jam tujuh, matahari udah bangun! Edeeell!!"
Aku merasakan selimutku tertarik dengan sangat halus dan lenganku digoyang-goyangkan bersamaan dengan konstelasi musik yang berhenti.
"Bundaa... Bentar lagii... Masih jam enam juga," ku menggeliat sejenak sebelum tertidur lagi. Mimpi itu terasa melelahkan.
Seperti, bayangkan saja, kau tidak berbuat hal-hal aneh sejak malam hari. Kau hanya menonton televisi dan minum coklat hangat, lalu tertidur. Kau bahkan tidak melupakan tugas sekolah yang kadang minta dirobek daripada dikerjakan.
Tidak lebih.
Akan tetapi, semesta kadang memang suka sekali mengaminkan hal-hal tidak berguna.
Contohnya; melemparku ke masa lalu.
Yang membuat tidurku tidak setenang biasanya. Oh Tuhan, bahkan aku belum sempat tertidur.
"Nggak! Kamu itu masuk sekolah jam tujuh, mandi cepet! Habis itu makan," Bunda masih berdiri dengan tangan kanannya yang memukul-mukulkan guling kecil—yang enam tahun lalu adalah milik adikku—ke kepalaku, "Kadang Bunda heran kenapa bisa punya anak kayak kamu. Dari dulu Bunda itu bangun subuh, langsung mandi. Ck, anak jaman sekarang. Apa sebutannya? Kids jaman now? Mending dulu Bunda kasih kamu ke padepokannya Saitama,"
Kadang, aku juga bingung punya ibu se-ajaib Bunda. Bunda itu sudah memasuki angka empat puluh akhir. Tiga tahun lagi umurnya genap lima puluh. Akan tetapi, beliau sama random-nya dengan teman-teman sekelas. Ah, Bunda memang kadang suka pergi ke sekolah dan bicara ngalor-ngidul sama teman-teman. Bunda bahkan hafal setiap center dan maknae mulai dari BTS sampai suju.
Tapi bunda adalah bunda. Tipe ibu-ibu yang kalau minta dibangunkan jam enam, maka ia akan membangunkan jam lima dan bilang bahwa sekarang sudah jam tujuh.
Seperti sekarang.
Kadang tuh, ya. Sisi jahilnya ibu itu bikin aku pengin jadi astronot terus pindah ke Mars. Biar ketemu Papa Elon. Ralat. Gara-gara kesel aku tuh.
"Bundaa... Saitama nggak buka padepokan," sahutku malas-malasan degan senyum yang dipaksakan, "Lagian, Bunda emang mau aku ke sana? Nanti aku auto sekarat yang ada kena sentil di jidat,"
"Ha? Lemah amat kamu kena sentil aja sekarat," Bunda masih membereskan kasur dan seperangkat alat tidurku—maksudnya bantal, guling, dan selimut, "Cepet sana mandi! Bunda lupa setrika seragammu," katanya lalu sosok Bunda pergi dari kamar.
Aku tersenyum kecut. Entah kenapa aku se-sentimental ini setelah mimpi ... Oh haruskah aku memanggilnya mimpi indah?
Tidak, aku tidak bahagia, sedikit pun.
Tapi, mimpi itu tidak seburuk yang aku pikirkan.
Argh, masa bodoh!
"Edeell! Cepet mandi!!" suara itu menarik paksa dari lamunanku.
"Iyaaaa!! Ini Edel mandi kok!"
"Manaa?? Bunda nggak denger suara air tuh,"
Oh, demi rambut Saitama, kadang aku kesal dengan telinga Bunda yang selalu peka pada setiap pergerakanku. Iya, telinga Bunda aja peka, kenapa hati kamu nggak peka-peka?
Aku tersenyum, segera menyambar handuk dan melesat menuju kamar mandi di sebelah kamar.
Dengan pikiran dan hati yang dag-dig-dug. Aduh, kangen juga sama si tiang yang kalem bin adem kayak ubin masjid.
Sebelum dia bicara (Yang ini akan kuceritakan nanti).
.
.
.
"Serah lo, dah," kataku sambil mengibas-ngibaskan lengan. Tentu saja, aku lebih memilih tidur di bangkuku daripada sibuk menyahuti Senja yang terlalu bersemangat pada Senin pagi.
Kali ini Senja mengetuk dahiku, "Heh, Jenong! Temenin gue, kuy!"
"Ke?"
"Toilet,"
Aku merinding. Senja ini laki-laki, meski namanya se-melankolis itu. Senjakara Danu Buditama. Sebenarnya, sampai saat ini aku masih sangsi memanggilnya dengan panggilan 'Senja'. Setiap orang yang ragu memanggilnya Senja, dia akan berkata seperti ini :
"Terserah lo mau manggil apa. Mau Senja kek, Jaka, Danu, serah. Tapi jangan manggil Kara, gue manusia, bukan santan. Buditama juga nggak boleh. Itu nama Bapak gue,"
Kemudian orang-orang itu mengangguk paham. Keesokannya, orang itu kembali lagi memanggilnya 'Senja' dengan nada sangsi. Aneh.
Dia tipe-tipe manusia dengan karbohidrat berlebih. Dia tak pernah bisa diam, barang semenit. Selalu saja ada celotehan tak berguna atau gerakan-gerakan aneh yang ia sebut 'peregangan otot saat otak sedang lelah dengan kumpulan rumus yang sebenarnya teori alien yang diterjemahkan ke bahasa Bumi'.
Iya, super-duper-mega-aneh.
Dan anehnya, aku mengenal dia dengan baik selama dua tahun ini. Kami sama-sama konyol dan tak pernah jelas. Duo abs, absurd dan abstrak. Kami sering berdiskusi—walau ujung-ujungnya bakal debat capres—mulai tentang pelajaran sampai tata letak pedagang kaki lima di terminal.
Satu hal yang aku ketahui tentang Senja, matanya ajaib. Siapa pun bisa tertidur pulas dalam matanya. Dan siapa pun akan menyukai matanya dalam sekali pandang.
"Woi, budek! Cepetan! Bel masuk bentar lagi!!"
"Ogah, ke toilet sendiri sono,"
"Ck, ke kantin, ege. Gue bercanda elah,"
"Oh, Ferguso, andai sebercanda itu. Tapi sayang disayang, ini hati. Dan perasaan gue tidak sebercanda itu,"
"Udah, halu-nya nanti aja, ya. Sekarang temenin gue makan," tangannya yang notabene seorang laki-laki, tentu lebih besar dan kekar dariku. Tangan itu dengan sigap menyeret lenganku dari selasar koridor kelas 11 menuju kantin.
"Ah, akhirnya kenyang," kata Senja menepuk-nepuk perut datarnya. Iya, datar. Padahal di depannya ada tiga piring kosong yang isinya baru saja masuk ke perut datar itu. Kok bisa, ya.
"Iya, kenyang. Stok kantin buat istirahat entar udah lo abisin pagi ini. Selamat, Senja," desisku pada pemuda yang menunjukkan cengirannya.
"Nih, buat lo," tangan kiri Senja menarik tangan kananku dengan paksa, "Karena lo bakal ngambdk kalo nggak dikasih jajan," katanya meninggalkan sekotak susu coklat di tanganku.
Padahal, kan, saya sukanya kopi 'hari baik'.
Aku mengamati punggung tegapnya tanpa berkedip. Selain matanya, punggungnya juga ajaib. Senja bahkan sering mendapati selusin gadis kelas 10 yang diam-diam menatap punggungnya saat upacara. Terus buru-buru berdecak sok terganggu. Tangannya diturunin ke dalam saku celana sok gelisah.
Padahal mah apa, habis kocar-kacir menuju kelas, dia teriak-teriak bilang, "WOII ITU TADI DEGEM-DEGEM PADA NAKSIR GUEE... NGELIATIN GUE TEROOSS! GUE JAMIN DIA DALAM HATI TERIAK 'AAA KAK SENJA COGAN GILAA'!!"
Untung saja Senja cepat **** bibirnya ke dalam sebelum lemparan remah kacang milik Dina mampir ke uvula pemuda itu.
Aku cuma tertawa renyah melihat wajah polos dari Senja yang kena damprat si Dina. Dua sejoli ini tak pernah akur sejak kelas satu.
Aku mendudukkan diri di atas bangku.
Tunggu.
Entah kenapa aku seperti sangat merindukan bangku ini? Seperti sudah kosong berminggu-minggu. Kayunya dingin dan berdebu.
Seperti dalam berminggu-minggu itu aku tidak mendaratkan bokong di atas potongan kayu ini.
🐾🐾🐾
Tbc.
Halo! Part ini emang dikhususkan buat Edelweis dan Senja. Buat tokoh (utama) yang lain bakal dikupas di part-part selanjutnya, ya!
Salam kenal dari selasar SMA Muara Angkasa,
Edelweis dan Senja.