W A K T U

W A K T U
9 | Buku-Buku Berdebu



.


.


Hari ini hari Senin dan hari ketiga setelah insiden cerita di komputer. Katarine menyuruhku iseng-iseng mengirimnya ke majalah sekolah.


Aku menurut saja.


Dan herakhir dengan honor di tanganku. Lumayan, cukup untuk membeli mie ayam dan es krim untukku dan Edgar.


Aku mulai menikmati mimpi ini. Tidk terlalu buruk seperti yang kuharapkan. Kelas yang dulunya hanya berwarna hitam-putih dalam ingatanku tiba-tiba berubah menjadi me-ji-ku-hi-bi-ni-u.


Walaupun setiap malamnya masih sering menangis karena terlalu banyak serangan perasaan dan dua cerita yang jungkir balik dalam waktu yang sama.


Juga ketakutan yang sama.


Kelas kami sedang kosong dan aku menghabiskan waktu dengan melamun karena tidak ada kerjaan.


"Hai kawan-kawan! Kata Pak Atmo kelas kita jamkos soalnya habis UTS!" Vivin sudah teriak-teriak di ambang pintu, "Sama nanti kita pulang awal jam 11!"


Nala dan Bagas sibuk bernyanyi keliling kelas dengan konstelasi di luar nalar. Nala dengan lagu 'Mimpi' punya Anggun C. Sasmi dan Bagas dengan lagu rock yang aku tidak tahu.


Tapi ujung-ujungnya juga lagu dangdut.


Akhirnya, aku keluar kelas.


Niat hati ingin menuju perpustakaan, mencari ketenangan. Tapi ujung-ujungnya juga ke kantin.


Aku mengambil nyam-nyam dan minuman teh yang ada di kulkas, "Ini, Bu," kataku menyodorkan beberapa lembar uang.


"Hm ... balik ke kelas rame. Mending ke ...," aku memandang gedung aula di samping gedung utama, "Rooftop."


Atap sekolah memang tidak diketahui banyak siswa. Bahkan, sebagian besar dari mereka tidak mengetahui jika sekolah ini memiliki atap yang cukup luas dan datar seperti di film animasi Jepang.


Sayangnya—atau untungnya—aku adalah siswi yang tidak memiliki banyak teman dan menghabiskan sebagian besar waktuku sendiri. Jadi, saat istirahat aku menghabiskan waktu mencari tempat se-sepi mungkin dan mendekam di sana sampai bel masuk berbunyi.


Dan tempat itu, ada di sini. Di atas aula yang ramai dan sibuk.


Aku berjalan ke arah lorong sempit tepat di belakang aula. Lorong ini tersembunyi oleh mobil sekolah yang berjejer di samping aula.


Lalu, ada tangga besi yang dirawat seadanya, meninggalkan karat dan lumut di sana-sini. Dan di ujung tangga, ada pintu tua yang lapuk. Bahkan, penjaga sekolah tidak pernah menguncinya.


Aku menghirup udara yang lebih baik di sini. Beberapa genangan air bekas hujan semalam masih belum kering. Gudang kayu di ujung juga tampak basah dengan pintunya yang terbuka menampakkan kain pel, sapu, kanebo; semuanya basah.


Aku melangkah lebih dekat dengan tepi atap. Para guru terlihat buru-buru menuju gedung utama untuk mengajar. Beberapa lainnya melangkah santai ke arah kafetaria terbuka.


Aku juga melihat Zenith yang berlari dengan Nadir di belakangnya membawa kodok kecil di tangannya.


Tengil sekali.


Aku menghela napas.


Memandangi gedung kayu, genangan air, dan langit yang datar. Tempat ini menyimpan terlalu banyak cerita; terlalu banyak luka.


Aku harusnya menghabiskan banyak waktu masa kecilku dengan menangis di sini.


Kalau tidak bermain kartu sendirian dengan angin atau hujan sesekali.


Atau sibuk mencorat-coret kertas sebagai pelarian dari berbagai emosi.


Seketika aku menyesal memilih tempat ini.


"Ah, bodo amat," gumamku dan bergegas menghabiskan minuman yang tadi kubeli.


"Hujan, gue kangen."


"Senja, gue kangen."


"Ran, Sekar, Nina, Zara, Fara, Cicik, Ali-Ali, huwaaaa,"


Aku malah menangis sendirian di sini, lagi.


"Nia ...," aku menangkap sesosok berkacamata yang berlari di tengah lapangan, "Gue juga kangen."


Aku menatap langit dengan gumpalan awan yang berserakan seakan ingin tumpah memenuhi kerak bumi. Hanya ada segaris biru yang terlihat, selebihnya putih.


Aku kembali melamun.


Kalo kita sering mimpi maen karate, kita lama-lama beneran bisa karate nggak, ya?


Kalo kita mimpi lari-lari katanya kita pengen melarikan diri dari kenyataan? Emang bener?


Kalo kita dimimpiin orang katanya orangnya kangen? Lah kemaren gue dimimpiin Lee Jinhyuk berarti dia kangen gue dong? (○゚ε゚○)


Kalo kita mimpi itu asalnya darimana, ya?


Kalo ternyata kita nggak mimpi tapi kita ada di dunia paralel kayak film 'Orange' gimana?


Kalo ternyata kita nggak mimpi gimana?


Aku terlonjak.


Hah?


Apa?


Nggak mimpi?


Tapi ini aneh juga. Bagaimana bisa kamu beneran mimpi bener-bener di hari yang sama, jam, menit, detik yang sama. Bahkan sampai detail-detail peristiwanya yang nggak kamu ingat!


Apa ini beneran mimpi?


"Ah, hahahahaha," aku tertawa hambar. Merutuki pikiran bodoh yang baru saja lewat, "Nggak. Nggak mungkin. Bego banget sia, Edel,"


Aku menutup pintu itu.


Berniat kembali ke kelas, menjalani hari seperti sediakala, melupakan pikiran-pikiran itu, lalu kembali tidur dan bangun di kehidupanku yang seharusnya.


"Edel!"


Nia melambaikan tangan kanannya, "Dicariin Bu Ratih di ruang guru. Cepetan gih!"


"Kenapa emangnya?"


"Nggak tau," jawabnya sambil lalu, "Disuruh cepet katanya."


Aku hanya mengangguk seadanya dan berjalan gontai menuju ruang guru.


Kenapa, sih? Perasan gue nggak ada kesalahan apa-apa. Nilai juga lumayan.


Eh, tapi nilaiku beneran lumayan dibandingkan waktu yang seharusnya. Dulu waktu SD nilaiku selalu di atas memang, tapi peringkat tetap terakhir.


Tok tok!


"Permisi," kataku.


Bu Ratih mendongak dan tersenyum menatapku, "Ah, Edelweis. Ini," katanya menyerahkan beberapa kertas, "Ibu udah liat semua cerpen sama puisimu di majalah sekolah. Bagus-bagus semua."


Aku mengangguk, "Terima kasih, Bu."


"Itu ada lomba nulis tingkat kota. Ibu mau kamu jadi perwakilan SD kita. Gimana?"


Mataku melebar beberapa saat. Aku mengangguk semangat, "Ya, Bu. Saya mau."


Lalu aku keluar ruang guru dengan wajah sumringah dan membawa perubahan takdir.


Kompetisi menulis tingkat kota yang akan diwakili oleh Edelweis Alfa Sanjaya, bukan Katarine Shaffara Ayuningtyas.


Meja itu tampak penuh dengan pernak-pernik seperti stiker, gamtungan kunci, dan kertas binder pelbagai gambar.


"Aku mau ini," Valen menunjuk beberapa stiker, "Berapa?"


"Dua ribu," jawab Citra yang sibuk mengguntingi stiker yang dipilih.


"Oke."


Oh, ya.


Masa SD kami juga dihiasi oleh barang-barang seperti binder dan stiker. Dan peluang itu dilihat oleh Citra yang sekarang sedang berjualan stiker di kelas.


"Eh, Del, tadi Bu Ratih ngomong apa?" Nia mendekati mejaku.


Aku tersenyum, "Nggak pa-pa. Nggak penting kok. Nggak tentang kelas ini juga."


Aku memilih untuk menyembunyikan berita daripada mencetuskan perang baru. Apalagi Katarine melirik kami karena mendengar kata 'Bu Ratih'.


Katarine Shaffara Ayuningtyas, perempuan manis penuh ambisi. Ia punya banyak mimpi. Dan ia juga berusaha keras untuk mendapatkan mimpinya, untuk mendapatkan apa yang ia mau.


Aku akui ia berusaha keras.


Walau prinsipnya adalah: Katarine harus mendapatkan apa yang dia mau, meskipun harus menghancurkan, merusak, dan melukai.


Ia meraih nilai di atas 90 pada hampir seluruh mata pelajaran. Ia juga berusaha keras belajar senirupa dan olah vokal, suaranya cukup bagus.


Aku juga tahu kalau ia suka menulis.


Katarine salah satu murid yang mengikuti eskul cipta puisi dan murid kesayangan Bu Ratih.


"Bu Ratih? Bi Ratih kenapa?" Katarine menyisir rambutnya ke belakang.


Entah kenapa aku merasa jahat jika aku bilang kalau aku menjadi perwakilan sekolah, bukan Katarine.


"Oh, itu. Ada lomba katanya."


Haha.


Sial.


Aku menampar pipiku sendiri, "Kamu mau ikut? Nanti coba tanya Bu Ratih bareng-bareng ke ruang guru."


Katarine menaikkan kedua alisnya, "Lomba? Kok setauku cuma ada yang bulan lalu, ya. Bu Ratih nggak bilang ada lomba lagi?"


"Oh," katanya manggut-manggut, "Nggak usah, lah. Kamu aja yang ikut. Aku ada lomba pidato Bahasa Inggris minggu depan."


Aku tersenyum lega.


Kemudian gadis itu beranjak menepuk-nepuk bahuku,


"Good luck."


"HEH NANTI SIAPA YANG MAU IKUT KE TIMEZONE???" suara Nala terdengar menggelegar di tengah kelas.


"Aku!"


"Aku!"


"Siapa? Aku, Citra, Valen, Fira, Vivin, udah itu doang?" katanya mengabsen orang-orang yang berkumpul di depannya.


"Nia?"


"Nggak. Aku udah telpon Mamah di TU."


"Tarin?"


"Nggak, ah. Males."


"Valen?"


"Pengennya sih ikut. Tapi ada acara hehe."


"Zenith?"


"Zenith mah mau pacaran sama Nadir dulu," celetuk Bagas yang dihadiahi oleh pukulan keras di punggungnya.


Zenith mendengus, "Nggak. Nggak boleh sama Mamah."


"Oke," Nala menatapku, "Edel?"


Aku menopang daguku dengan telapak tangan.


Gue juga belom bilang sama ayah. Tapi mau ke timezone bokek habis jajanin si Edgar, rame-rame lagi.


Pengen jalan-jalan sendiri, tapi kelihatan banget kalo jones.


Aku melebarkan mata, "Aha!"


Nala mengangguk tanpa niat, "Ya, ya. Gimana? Ikut?"


"Ng? Nggak hehe."


.


.


.


Dan di sinilah aku.


Duduk sendirian di lantai di balik rak-rak buku berdebu. Membaca satu per satu halaman sambil sesekali melirik kanan-kiri.


Di samping kanan sekolah kami terdapat toko buku terkenal yang sudah buka cabang di sana-sini. Tempat ini sangat luas dan rapi. Aku juga suka aromanya.


Dan tempat ini yang nantinya sering aku kunjungi bersama Hujan dan satu lagi temanku, Keya.


Seperti kebanyakan toko buku. Selalu saja ada orang yang ingin membaca salah satu buku terbaru, tapi tidak ingin membelinya. Jadilah ia menyobek segel dan tinggal membaca diam-diam.


Tindakan itu sangat merugikan, memang. Entah sudah rugi berapa rupiah yang diterima oleh pihak toko buku.


Tapi karena orang-orang itu, aku jadi bebas membaca buku di sini tanpa harus menanggung risiko.


Maaf, ya, Bapak CEO terhormat. Tapi saya belom punya cukup uang. Nanti saya nabung dulu buat beli bukunya.


Jadilah aku menabung beberapa minggu untuk satu buku.


Aku beralih menuju bagian yang hampir setiap hari kukunjungi saat SMA: puisi.


Para seniman puisi selalu punya daya tarik tersendiri untuk menggambarkan apa saja, entah hujan, seduhan kopi di musim dingin, sepeda tua yang sedang berjalan, apa pun itu.


Ah, salah satu puisi yang kusuka: "Kamus Kecil".


Di tengah kumpulan kata-kata itu, Joko Pinurbo—pengarangnya—telah menemukan sebuah sihir yang selama ini disembunyikan oleh kekayaan bahasa.


Kurang lebih isinya seperti ini:


"Bahwa sumber segala kisah adalah kasih


Bahwa ingin berawal dari angan


Bahwa ibu tak pernah kehilangan iba


Bahwa seorang bintang harus tahan banting."


Padahal cuma dibolak-balik, tapi bagus:;(∩´﹏`∩);:


"Yah, udah jam satu," aku bangkit dari lantai dan mengusap-usap bokongku memastikan tidak ada kotoran yang menempel.


Aku mengembalikan buku tipis itu ke barisan buku lainnya dan berniat segera kembali ke sekolah.


Sebelum rak pernak-pernik mengganggu konsentrasiku.


Aku meraih salah satu stiker di sana, "Mahal. Kalo dijual entar nggak untung."


Lalu tanganku mengambil stiker post-it di sampingnya, bersamaan dengan lampu pijar yang melayang-layang di atas kepala, "Aha!"


"Eh, di sini juga ada post-it loh!" seruku saat meja milik Citra penuh oleh stiker dan binder.


Vivin mengerutkan kening, "Post-it?"


"Iya! Yang stiker yang ditempel-tempelin bukan catetan tambahan itu lho!"


Anak-anak rajin sontak menoleh,"Mana? Mana?"


Aku tersenyum dengan tangan menumpahkan berbagai stiker lucu dari plastik.


Mulai hari itu, aku selalu punya bantuan finansial dari tanganku sendiri dan hampir tak pernah mengalami krisis moneter pada masa sekolah.


.


.


.


Aku merebahkan diri di atas kasur. Hari ini menjadi sangat melelahkan. Dua minggu lagi upacara Hari Kemerdekaan, diikuti dengan festival sekolah selama satu minggu.


Aku jadi rindu festival sekolah.


Sekolah kami selalu sungguh-sungguh dalam ajang memeriahkan hari besar, murid-muridnya juga semngat menantikan pelajaran yang kosong dan deretan kedai makanan di sepanjang tepi lapangan.


Di tengah-tengah lapangan, digelar berbagai kontes mulai dari adu makan kerupuk, balap karung, sepak bola, dan lainnya yang aku lupa. Kuakui lapangan sekolah ini sangat luas karena masih menyisakan lahan untuk panggung berukuran sedang.


Aku memandang almanak yang tertempel di dinding, "Dua Agustus."


Sampai kapan mimpi ini berlangsung?


Bagaimana jika ini bukan mimpi?


Kalau semua ini berakhir nanti, apa yang terjadi di masa depan?


Apa masa depan bakal berubah kalau aku bangun besok pagi?


Kalau masa depan berubah, apa mereka tetap mengenalku?


Apa aku tetap ada di tempat yang sama?


"Huh, nggak tau ah, capek," aku mengusap wajah kasar, menarik selimut, dan bersiap tidur.


Tapi tidak bisa.


Karena Edgar tengah mematung di ambang pintu sambil membawa segelas susu coklat, "Kak Edel, Ed mau bobo sini, ya. Ed takut."


Aku tertawa geli, "Napa? Habis nonton yang serem mesti."


"Nggak."


"Ada iklan film horor?"


"Mimpi yang nggak enak?"


"Nggak."


"Kenapa?"


Anak itu berjinjit meraih kasurku,


"Ed kangen Kak Edel."


Aku tertegun, "Apa?" kemudian aku merentangkan tangan lebar-lebar, "Utututuuu ... sini, sini."


Tunggu, tadi hari ini tanggal berapa?


Tanganku meraih kalender di dinding setelah meninabobokan Edgar dan menghabiskan susu coklat yang dibawanya tadi, "2 ... Agustus 2011," aku mencoba bersuara sepelan dan setenang mungkin.


Sial, aku kembali tidak bisa tidur.


Aku menyambar pena dan buku yang baru kubeli bersamaan dengan stiker post-it kemarin, lalu bergegas keluar rumah.


🐾🐾🐾


Tbc.