
Edelweis Alfa Sanjaya sibuk menekuri kertasnya dengan beberapa coretan, angka, dan tulisan yang terlalu ruwet untuk dipahami. Gadis itu mendengus keras-keras, lalu mengetuk-ngetuk pulpennya di atas meja.
Ia frustasi.
Edel mencoba menarik napas dalam, menulis lagi, "Mulai September ... terus Agustus. Dari 2018 ... ke 2011," lirihnya.
"Ck," Edel mulai mengacak-acak rambutnya sendiri, "Kok jadi ribet gini, sih!"
🐾🐾🐾
7 September 2018
Pukul lima tepat. Langit masih remang. Mentari masih dalam fase misterius-misteriusnya saat ini. Dan aku bangun mendahului jam bekerku yang akan berdering. Satu detik. Dua. Lalu tiga. "Kriiing" bukan "biip-biip". Menurutku, suara bising jam beker memiliki daya tembus lebih tajam ke alam bawah sadar. Dan suara bising yang belum berhenti itu disusul dengan suara bising lainnya. Ipod-ku sedang bernyanyi konstelasi lagu rock yang juga sesuai pengalaman dan pengamatanku, memiliki daya tembus ekstra ke alam bawah sadar.
Tubuhku terlalu malas, bahkan hanya untuk mematikan dua suara bising yang berdengung-dengung hebat di dalam kamar yang kecil ini. Jadilah aku di sini menunggui konser duet suara bising yang beradu itu sampai selesai. Dan sibuk mengerjapkan kelopak mata sampai segala yang ada di hadapan menjadi jelas. Sekali. Dua kali. Dan tiga kali. Sebelum seperti kemarin, kemarin lusa, dan kemarin-kemarinnya lagi aku bercakap-cakap dengan bayanganku di depan dinding.
Aku bermimpi.
Mimpi yang cukup panjang dalam malam yang singkat. Dan aku...
Kembali lagi pada masa jadi siswi SD?!
––––––———————
18 Agustus 2011
Pukul dua belas lebih tiga puluh menit. Tak ada yang bangun, tak ada yang terjaga. Kecuali aku yang sibuk tersenyum-senyum sembari menyiapkan segala untuk menggenapi hari keempat permulaan tahun ajaran baru. Buku baru. Kelas baru. Teman baru. Walau aku tak yakin dengan kalimat terakhirnya. Setidaknya aku akan memulai perang baru dan pertarungan baru di atas lembar nilai dan spidol merah.
Aku menghela napas. Setidaknya tiga kali sebelum memulai rutinitasku bercerita dengan diriku yang lain di permukaan tembok—bayanganku. Entah sejak kapan aku mulai berkenalan dan bercerita dengan bayangan ini. Kami—lebih tepatnya aku—bercerita tentang apa saja. Perihal sekolahku, teman-temanku, tentang pelajaran sepak bola yang baru saja diajarkan dan tentang anak laki-laki yang seenak jidatnya melontarkan bola plastik itu ke arahku (perihal cerita ini akan kubahas lain kali saja, ya), tentang apa saja. Jika masalahku adalah pekerjaan rumah dan rumus-rumus (yang sebenarnya) sederhana seorang siswa SD yang semakin rumit, percakapan inilah obatnya.
Setelah sepersekian menit aku mulai ditelantarkan oleh pikiran absurd, aku mulai bercerita.
Aku bermimpi.
Mimpi yang luar biasa dari hidupku yang begitu-begitu saja. Dan aku...
Tiba-tiba menjadi seorang siswi SMA?!
🐾🐾🐾
Tbc.
Hallo! Ini karya pertamaku di sini. Semoga suka 💙
Salam naungan kopi di sudut kamar,
Lara.
Enaknya pake visualisasi nggak, ya?