W A K T U

W A K T U
4 | Tolong Katakan Jika Ini Mimpi!



Aku berdiam diri sejenak, mengumpulkan nyawa yang sempat tertinggal di pelupuk mimpi tadi. Lalu menggeliat sejenak untuk meregangkan otot.


Ah, mimpi apa aku tadi. Biasanya aku selalu mengingat mimpiku semalam, tapi malam ini dalam sekejap aku bahkan lupa semua apa yang terjadi kemarin.


Tunggu sebentar, aku ingat.


.


.


.


16 Juli 2011.


Hari ini adalah hari yang menyenangkan—seharusnya—karena hari ini adalah hari ke-2 dalam delapan bulanku di kelas tiga. Pelajaran baru, buku baru, aroma kelas baru, dan beberapa teman baru. Hanya beberapa—itu sudah cukup bagiku—karena aku tidak terbiasa dan tidak pernah memiliki pengalaman punya banyak teman sampai hari ini.


Terkadang aku membayangkan bagaimana rasanya dikelilingi banyak teman dan tertawa terbahak-bahak tanpa menyembunyikan satu atau dua hal—kata-kata sarkasme dan riak muka masam, misalnya.


Sungguh menyenangkan.


DUAAKK!


Kahayalanku tethenti saat sesuatu mengenai pelipis kananku. Sesuatu yang berukuran satu kepala, "Aw, sakit tauk!" aku berteriak pada siapa pun yang seenak jidatnya memarkirkan benda ke kepalaku.


"Maaf!" teriak seorang laki-laki yang tingginya jauh di atasku, "Eh, kepalamu berdarah! Ayo ke UKS!" laki-laki itu panik dan segera menarik tanganku ke dalam gedung sekolah.


Tunggu, debaran apa ini? Jantungku memompa darah lebih cepat dan kuat dari sebelumnya. Tolong, siapa pun selamatkan jantungku!


Aku meneliti penampilan pemuda di depanku tanpa kehilangan kendali barang seinci. Dari perawakannya—tubuh tegap, tinggi semampai, dan cara berjalannya yang penuh wibawa—sudah pasti ia kakak kelas.


"Sakit banget, ya? Aduh maaf," ia menoleh ke arahku.


Aku mengerjap-erjap. Ah ya, dia tampan, batinku.


"Halo? Dek?" tangannya dikibas-kibaskan tepat di depan mukaku.


Astagfirullah, apa-apaan tadi itu.  Kamu itu masih kelas tiga, Edel! Aku menampar pipiku, mencoba melepas setan yang berusaha masuk ke dalam kepalaku.


"Heh, kamu itu kepala masih sakit main tampar-tampar aja!" kakak kelas ini segera menarik tanganku dan menggenggamnya, "Ck, ini sekolah apa gedung olahraga, sih? Daritadi nggak ketemu-ketemu UKS-nya."


Aku mengerutkan kening, baru menyadari kalau rasa sakit di kepalaku sudah diambil alih oleh debaran di jantungku, "Eung ... Kak, kita kayaknya salah gedung, deh. UKS ada di gedung C, kan?"


Kakak kelas ini menepuk keningnya sendiri, "Ah, oh," ia mengalihkan pandangan, sepertinya malu, "Aku baru pindah ke sini bulan kemaren. Hehe,"


"Ayo lari," katanya.


"Nah, udah sampe," kakak kelas ini melepaskan genggamannya, "Mau ditemenin apa bisa ke kelas sendiri?"


Yah, gandengannya selesai, tanpa sadar bibirku membentuk lengkungan ke bawah.


"E—del?" kakak ini mengerutkan dari sembari mencoba tersenyum, "Canda, nggak usah sedih gitu. Istirahat juga masih lama, kok."


"Hah? Kakak tau namaku?"


Dia masih tersenyum dan menggerakkan dagunya ke arah bordiran tanda pengenal pada seragamku.


Aku melirik ke arah seragamku lalu menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal, "Oh."


Sebuah tangan terulur, ia tersenyum, "Angga. Angga Dibaskara. Kelas 6B. Edelweis, kan? Kelas berapa?"


"Kelas tiga."


Kak Angga tersenyum. Kami sama-sama (berusaha) menikmati hening yang kami ciptakan sendiri.


Tapi hatiku tyduck hening, pemirsa:) Tolong, ini amat-sangat-canggung-sekali!


"Em, kok kayaknya ada yang salah, ya," Kak Angga mengitari sekitar dengan tatapannya, kemudian berhenti padaku, "OH IYA! LUKAMU BELOM DIOBATIN!"


Aku menepuk kening. Pantas saja seperti ada  yang harus dilakukan, "Oh, iya. Ya udah, aku sendiri aja. Kakak balik ke kelas aja," kataku sambil mendorong pelan tubuh Kak Angga.


Tidak baik berlama-lama dengan kakak kelas ini.


Kemudian aku mendengar seseorang memanggil, "Angga! Aku tunggu kamu dari tadi. Ke UKS? Ngapain?" itu suara perempuan.


"Nggak pa-pa tadi aku nglempar bola ke adek kelas. Kasian dia," itu Kak Angga menjawab, "Ck, nggak usah ... dia nggak pa-pa."


Suara itu menghilang di lorong-lorong.


Sepertinya Kak Angga sudah punya pacar. Ya, sudahlah.


Aku merebahkan tubuhku. Lumayan, melewatkan satu jam pelajaran ternyata cukup menyenangkan. Tidur telentang di UKS dengan teh hangat di atas nakas di samping ranjang.


Tok, tok, tok!


"Permisi, assalamu 'alaikum," kataku pada Bu Tiwi yang sedang berdiri menghadap papan tulis.


"Oh, Edel? Dari UKS? Itu kenapa kepalamu diplester?" tanyanya.


"Oh, kena bola, Bu. Hehe," lalu aku duduk di bangkuku.


Tunggu.


Kenapa semuanya—terutama para perempuan—menatapku ... seperti aku adalah makhluk yang dikirim dari Jupiter ke kelas mereka.


Apa ada sesuatu di kepalaku?


Lalu aku mendengar suara bisik-bisik, "Eh, eh, tadi bener katanya Kak Via dia godain pacarnya?" itu suara Lala.


Tolong, kalau bisik-bisik suaranya dikondisikan. Itu sangat-sangat kedengaran jelas, Lala Pintar.


Aku mendengus, mencoba untuk tidak ambil pusing oleh cerita-cerita santer antar siswi SD.


Tapi gagal.


"Ck, sok-sokan kena bola. Salah sendiri dia berdiri di tengah lapangan," kata—haruskah aku berkata 'bisik'?—Katarine.


Aku bahkan nggak tau aku bisa berdiri di situ, aku menjawab dalam hati.


"Palingan dia emang mau kena bolanya kali. S-e-n-g-a-j-a," Vivin menimpali.


Eh, enak aja! Kena tampol bola mana ada yang mau!


Tapi rentetan sarkasme itu terus berlanjut sampai bel pulang berbunyi.


Omong-omong, darimana mereka tahu? Dari Kak Via? Tidak mungkin. Dia saja tidak pernah bertemu denganku. Kak Angga? Sepertinya tidak mungkin.


Tapi sindiran dan tatapan sinis itu masih berlangsung sehari penuh.


.


.


.


Ah, aku menyesal telah mengingat-ingat (hampir) dari seluruh cerita hari itu. Untung saja ada Edgar yang selalu menungguku pulang.


Ah, anak berpipi gempal yang menggemaskan itu. Di mana dia sekarang? Anak itu biasnya sudah mengagetiku pagi-pagi buta mendahului subuh.


"Ed, Edgar...," aku mulai menuruni kasur—yang terasa lebih ringan dan lebih mudah dituruni. Aku juga merasa kakiku lebih jenjang dari biasanya.


Sebentar, sebentar.


Kenapa dekorasi kamarku berubah ... terlihat lebih simpel dan semuanya berwarna biru laut.


Biru selalu terasa menyegarkan.


Tapi tetap saja kamar ini terlihat berbeda!


Aku berjalan gontai menuju nakas yang bersebelahan dengan meja belajar.


Apa ini? batinku saat menatap kumpulan peralatan rias. Aku meraih salah satu benda di sana. BB cream? Apa ini?


Tunggu dulu. Sepertinya cermin ini tidak ada di kamarku sebelumnya.


Aku melirik buku-buku tebal yang berjajar di rak. Pandnganku berhenti saat suatu judul yang tidak mungkin ada di sini.


KIMIA untuk SMA/MA kelas XI


Kimia?


Tidak. Yang lebih gawat, KELAS XI?!


Tolong. Terlalu banyak kejutan pagi ini. Aku tidak mau jantungku berhenti bekerja tiba-tiba, jadi kuputuskan untuk memastikan lebih lanjut, "Edgar?" kataku.


Aku membuka pintu kamar. Bunda sudah memasang pose berkacak pinggang. Aku tersenyum lebar, sebentar lagi bunda akan bilang; Edel!! Mau sampe kapan kamu tidur?! Cepet bangun! Udah jam tujuh, matahari udah bangun! Edeeell!!


"Edell!! Untung baru bangun, ya, kamu! Cepet mandi! Habis itu makan! Matahari udah bangun! Cepetan!"


Yah, sepertinya alarm abadi-ku sedikit termodifikasi karena aku sudah keluar kamar.


"Edgar belom bangun, ya, Bunda?" tanyaku.


Bunda malah terkejut—tepatnya sangat-sangat terkejut. Matanya melebar, bahunya sedikit terguncang, dan bunda mulai mundur teratur, "E—del?" katanya lirih, "Kamu habis mimpi tentang Edgar? Ah, kita mau ke makamnya Jumat besok, kok. Tenang," Bunda berusaha bersuara tenang.


Dan, kali ini aku yang terkejut.


Jumat.


Edgar.


Dan makam.


Tiga kata ituu sukses membuatku ingin cepat-cepat bangun dari mimpi buruk ini.


Siapa pun, tolong aku!


.


.


.


Mimpi ini lebih aneh dari yang kuduga. Aku tiba-tiba menjadi siswi kelas XI SMA dan seluruh catatanku dipenuhi oleh makhluk-makhluk asing yang susah digambar; µ, π, ∑, ∫, ε, λ, σ, dan makhluk lainnya.


Belum lagi bahasan rumus fisika (bagian dari pelajaran IPA) yang membuat kepala pening seketika. Apakah pelajaran SMA se-rumit ini?


Bahkan, sekelas sudah tertawa tadi saat aku tiba-tiba dipanggil guru—dari emblem-nya tertulis Tuti Warsiwati, S. Pd.—untuk menyelesaikan perkara 'torsi(?)'.


Gila saja. Ketika Bu Tuti sibuk menjelaskan tentang tau sin theta dan seterusnya, aku cuma bisa memegang kepala dan mengangguk pura-pura paham saat Bu Tuti mengedarkan pandangannya ke arahku.


Aku tidak bisa bertanya— atau bahkan mengajak bicara—siapa pun karena semua terlihat asing.


Dan, voila! Aku mendapat jackpot di saat yang sangat-sangat tepat.


Siang itu aku hanya bisa memegang kepala dan berdiam diri di kelas, siapa tahu aku akan tertidur dan kembali lagi ke kehidupanku yang seharusnya.


"Del? Lo kenapa gila hari ini? Kejedot tiang listrik pas berangkat?" Ranira D... (entahlah apa pun itu yang tercetak pada emblem-nya) menyentuh pundakku, riak mukanya sangat mendramatisasi, "Kemaren gue masih bercanda sama lo, lo masih waras, kenapa sekarang lo jadi gila, Del?"


Haruskah aku menunjukkan bahwa yang terlihat gila di sini adalah dia?


"Ka-kamu ngapain, ya?" aku mengerutkan kening.


"Ck, lo beneran Edel, kan? Jangan sok kesambet, deh! Hari ini nggak ada PR juga!" seorang gadis berkuncir kuda duduk di atas mejaku dengan gaya yang sangat sopan.


Aku cuma bisa memasang wajah bingung melihat delapan orang berkumpul di sekeliling mejaku.


"Edel? Jangan nakut-nakutin gue, ya!" gadis berpipi chubby menggoyang-goyangkan kepalaku, seolah ada sesuatu yang menguasai otakku.


"Ck, kamu ngapain, sih?!" aku menepis tangannya. Sepertinya, hari ini aku sedang tidak bisa diajak bercanda.


Mimpi ini terlalu ... aku bahkan tidak bisa menyusun kata-kata lagi.


"EDEELLL!!!" sebuah teriakan muncul dari arah mulut pintu kelas, memunculkan seorang gadis berhelaian sebahu yang berlari dengan gaya tidak senonoh ke arahku.


Apa lagi ini?


🐾🐾🐾


Tbc.


Aduh, kasian banget si Edel kecil:v ada yang bisa tolongin?:v


Maaf, baru update:"( tugas numpuk, cuy:"(


Btw, ada yang bisa sebutin nama-nama lambang yang tadi disebutin Edel?



Ini Edelweis (SMA). Imut, tapi tidak seimut kelihatannya.