
.
.
.
Aku lelah.
Maksudku, super-mega-amat-sangat-lelah.
Maksudku, itu sangat melelahkan sampai mungkin aku bisa pingsan.
Terlalu banyak serangan perasaan akhir-akhir ini.
Sudah dua kali aku bermimpi kembali ke beranda masa lalu, ketika lantai-lantai rumah masih didominasi dengan kayu. Ketika sungai-sungai di seberang masih mengalirkan jernih. Ketika anak-anak lainnya mengajakku bermain layang-layang, atau balap sepeda, atau mencemplungkan di ke tambak-walaupun kuakui sampai sekarang aku tak pernah bisa berenang.
Ketika sungai itu selalu kudatangi saat senja berlabuh sembari bersenandung, "Senja berlabuh, mentari buang sauh. Kita berpeluh, tak boleh mengaduh."
Ketika Edgar selalu menungguku di teras rumah atau ikut menjemputku di sekolah bersama ayah. Lalu kami akan berjalan-jalan di taman kota sampai maghrib datang.
Ketika Edgar menumpahkan susu coklat di depanku lalu menangis kepada bunda dan menuduhku berbuat hal keji-menurut Edgar-itu hanya karena aku menolak ajakan mainnya.
Dan ketika bisikan gaduh menguar di dalam kelas. Semuanya saling bicara. Kecuali aku. Semuanya punya teman. Kecuali aku.
Tatapan sinis dan nada bicara yang terkesan jengkel masih mengganggu telingaku. Aku bahkan takut duduk di depan kelas karena berpikiran bahwa semua orang akan menatap nyalang di belakangku.
Aku ingin tertawa. Betapa konyolnya masa kecilku. Terlalu ironi. Menyedihkan di sekolah, terlalu bahagia di rumah. Setelah tertawa aku bahkan bisa bertanya, "Di mana letak lucunya?"
Aku rindu.
Aku rindu semuanya.
Termasuk rasa sakit dan rasa takutnya.
Aku tertawa sendirian di koridor utama sekolah. Beberapa orang melirikku dan mengerutkan dahinya, aku tak peduli.
Bahkan, aku bisa saja membenturkam kepala menuju pilar terdekat.
Oke, mungkin ini terlalu berlebihan. Namun, ini benar-benar membuatku frustrasi.
Setelah semua kilatan kenangan dan serangan perasaan itu datang, kejutan nyata membuntuti dengan perasaan tak bersalah.
Aku perlu menuntut semesta untuk ini.
Pagi itu, semua orang bertanya perihal namaku, cita-citaku, orang yang kutaksir, dan rumus fisika.
Rumus fisika.
Bu Laksmi-yang mempunyai hobi gembar-gembor tentangku dan segala peringkat-nomor-satuku-dengan hati-hati mendekati mejaku dan bertanya: "Kamu sudah hapal perkalian satu sampai sembilan, kan, Edel?"
"Ha?" aku melongo, "Maksudnya apa, ya, Bu?"
Bu Laksmi terkejut. Wanita cantik itu memainkan jarinya, malu. Namun, aku dapat melihat kelegaan yang besar dalam manik hitamnya, "Emm.. Itu.. Kemarin kamu nggak ngerti semua rumus yang Ibu tulis. Kamu bahkan nggak tau cara perkalian ratusan,"
Aku terdiam beberapa saat.
Kapan?
Kapan?
KAPAN??!!
Lalu, hari ini Ran dan Sekar menempelkan tangannya ke keningku saat aku mencapai pintu kelas. Aku mengerutkan kening, "Ngapain lo? Gue nggak ketemu Elang tadi," kataku. Soal Elang kita bicarakan saja nanti.
Dua makhluk itu mengusap dadanya, lega. Ran menepuk-nepuk punggungku, "Gue terharu. Lo udah nggak kesambet lagi. Kita kira lo luoa ingatan."
"Kami, bukan kita. Beda," kataku tajam. Selalu saja ada manusia yang tidak bisa membedakan kata 'kami' dan 'kita' atau 'ubah'dan 'rubah', kadang di situ saya merasa kesal, "Terus ... lo bilang apa? Kesambet? Nani?"
Tiba-tiba Nia menyeruak dari arah luar, "Ck, lo nggak ngerti kemaren. Lo itu salah kelas, mau masuk ke kelasnya Senja. Trus, lo lupa kita semua," aku memeloti gadis ini. Kita, bukan kami.
Nia mengangkat bahu tak peduli banyak, "Terus lo lupa semua rumus, semua materi, Bu Laksmi sama Bu Tuti sampe bingung tujuh keliling lapangan GBK!" katanya dengan mata menggebu-gebu.
Aku menggaruk ujung kepala. Terlalu konyol untuk didengar, "Bu Tuti sama Bu Laksmi ... nggak beneran keliling GBK, kan?" tanyaku akhirnya.
Nia memajukan kedua tangannya, seolah ingin meremas wajahku, "Ya enggaklahhhh, Edel sayangggg ... Pokoknya kemaren lo aneh. Nggak tau lagi gue."
Saat istirahat, Bu Tuti memanggilku ke ruang guru untuk mempertanyakan jawabanku perihal soal-soal ulangan kemarin lusa. Menurutnya, jawabanku terlalu aneh dan tidak relevan. Menurutku juga begitu.
Bagaimana mungkin soal gelombang transversal dijawab menggunakan teori komposisi matahari?
Tulisannya juga jelek, besar-besar dan tidak bis membedakan tanda 'x'dan kali. Jelas bukan punyaku. Namun, Bu Tuti bersikeras berkata jika itu punyaku.
Akhirnya, "Saya mau remidi aja, Bu."
Aku masih berjalan gontai menuju kantin. Pilar-pilar koridor masih menggodaku untuk membenturkan kepalaku di sana. Aku ingin, tapi malu.
Perutku mulas.
Aku baru menyadari jika aku belum makan dari kemarin siang. Setelah pulang aku langsung mengerjakan setumpuk tugas dengan riang gembira. Soalnya hanya dua halaman. Jawabannya, diminta membuat analisis sebanyak dua belas lembar.
Aku mengedarkan pandangan, kantin ini terlalu ramai dengan manusia. Kepalaku mulai terasa pusing. Dengung-dengung suara puluhan murid sukses menambah deritaku.
Aku harus cepat-cepat membeli makanan lalu lari menuju halaman belakang sekolah.
Sialnya, kakiku mulai bergetar. Aku harus berjalan dengan memegangi dinding kantin.
Sial, mereka semua bawa bekal sendiri lagi. Gue juga harus ke perpus, ke ruang guru lagi. Sial, umpatku dalam hati. Merasa kesl dengan Sekar, Ran, Nia, atau empat makhluk lainnya.
Mengumpat dalam hati ternyata tidak cukup membantu untuk situasi saat ini. Keringat, hawa panas, dan ramainya kantin menambah frekuensi kunang-kunang di kepalaku.
Aku terlalu lelah.
Mungkin, akan pingsan di sini.
"Edel?" sebuah suara menginterupsi pikiranku. Aku melirik kecil ke arah sumber suara. Mendongak dan mencari-cari si empu hanya menambah rasa pusingku, "Elo ngapain?"
Rasanya ingin mengumpat.
Ke kantin mau ngapain lagi selain makannn ... Pintar sekali. Seharusnya, aku bisa menendang betisnya dan menceramahinya terhadap pertanyaan klasik itu.
Sayang sekali, fisik dan pikiranku sedang tidak memadarmi saat ini. Jadi, aku memilih untuk diam dan memejamkan mata.
"E-eh, wajah lo pucet banget!" suara bariton itu sangat dekat sekarang. Aku membuka mata, Senja membandingkan suhu dahiku dengan dahinya. Dia t-e-r-l-a-l-u-d-e-k-a-t.
Sumpah, ya. Gue lagi gini malah kena semprot orang yang sebelas-dua belas sama bunda.
Aku berdecak, "Ngapain juga lo deket-deket gini," aku mendorong tubuhnya menjauh.
Sayangnya, aku malah kehilangan keseimbangan dan jatuh di tengah kantin dengan tidak hormat.
"Eh? EH?! EDEL?! Astaga," Senja segera menghampiriku dan menarik tubuhku sebelum semua manusia di kantin menertawaiku.
Senja membawaku dalam gendongannya, "UKS dulu. Nanti gue anter mie ayam pangsit ke depan lo," katanya. Suaranya jauh lebih berat dan dalam untuk seorang Senja. Pemuda ini khawatir.
Oh, sungguh. Beginikah rasanya dikhawatirkan oleh seseorang?
Namun, aku hanya bisa tersenyum lemah. Tidak mengangguk atau mengiyakan.
Senja menatapku, "Lo nggak pa-pa, kan?"
Tiba-tiba bayangan lima orang mendekat ke arahku. Aku tidak sempat mendongak karena takut. Suara Katarine terlalu penuh penekanan.
"Kamu tau? Harusnya aku yang jadi perwakilan baca puisi buat sekelas," katanya menunjukku dengan marah, "Kalo kamu nggak tiba-tiba maju baca puisi jelek itu di depan Bu Tari tadi!"
Aku meringkuk. Orang ini terlalu berambisi menjadi 'ratu' dan menjadi nomor satu untuk segalanya.
Sayangnya, aku terlalu pengecut untuk melawannya. Aku cuma harus mengalah dan menunduk saat ia melambaikan tangan dari panggung yang harusnya aku duduki.
Sampai Katarine mengacaukan panggungnya sendiri dengan menginjak kabel mikrofon dan kertas kecilnya ketahuan juri.
Berakhirlah hari ini dengan Katarine, Vivin, Valen, Citra, dan Fira mencegahku untuk pulang.
Aku bahkan bisa memikirkan hal-hal buruk lainnya sebelum mereka ...
"Jangan!!!" teriakku tiba-tiba.
Aku mengerjapkan mata, pusing ini mulai terasa dan seluruh badanku gemetar hebat.
"Edel? Edel nggak pa-pa gue di sini," Senja mengeratkan pelukannya.
Dan itu menjadi kalimat terakhir sebelum gelap menguasaiku.
.
.
.
Rasanya empuk.
Mungkin aku bisa merebahkan diri beberapa menit lagi. Tidak kusangka UKS sekolah memiliki kasur se-empuk ini. Aku jarang mengunjungi UKS, jadi tidak tahu.
Aku siap berciuman dengan mimpi saat suara-suara bising itu menggangguku.
"Air! Air!"
"Itu kepala sama lututnya berdarah cepetan dikasih plester!"
"Ck, panas-panas gini malah disuruh lari."
"Itu cepetan, Kak!"
Aku membuka mata perlahan. Banyak orang yang mengerubungiku. Suaranya seperti dengungan lebah.
Ada seorang penjaga UKS yang menyentuh dahiku, sepertinya kakak kelas.
Ada murid lainnya yang ... tunggu. Kenapa pula ada Katarine dan Vivin di sana?!
Katarine mendekatiku, memasang wajah memelas. Ck, dia bakat sekali menggunakan wajahnya sebagai topeng seribu muka.
"Kamu nggak pa-pa, Edel?" tanyanya.
Aku mulai merasa mulas kembali. Mukai tidak bisa membedakan antara kenyataan, mimpi, dan halusinasi berkepanjangan.
Jangan bilang jika sekarang aku menjadi siswi SD lagi?
Oh, semesta, aku salah apa?
🐾🐾🐾
Tbc.
Maaf lama post-nya:"((
Bonus : Puisi Edel waktu di depan kelas:)
Mentari
Cahaya itu menguningi gedung-gedung kotak di tengah kota
Terlalu panas,
Terlalu terik.
Senja itu membutakan mata dari seribu warna
Terlalu merah,
Terlalu menyala.
Tapi fajar selalu datang di awal
Memikat semangat
Dentum senyummu lebih cerah di pagi hari
Hari itu,
Aku berpikir, segala pagi selalu menyemangati siang, sore, dan malammu.
-Edelweis Alfa.
(Terlalu bagus buat anak kelas 3 SD:"")
Ada yang tau maksud puisi itu apa?