W A K T U

W A K T U
2 | Edgar dan Susu Coklat



Suara televisi pada pagi hari itu cukup mengganggu. Suara sibakkan koran dan Cicak Rawa milik Ayah beradu mulut dengan pembawa berita di televisi. Suara air dari kamar mandi. Suara penggorengan dari arah dapur.


Pagi ini cukup ramai dalam kebisingan yang menenangkan.


"Edel!! Mau sampe kapan kamu tidur?! Cepet bangun! Udah jam tujuh, matahari udah bangun! Edeeell!!"


Untuk yang satu ini, aku menarik kembali kalimatku sebelumnya.


Suara bunda tidak membuatku tenang sama sekali, "Bentar, Bundaa.. Ini bentar lagi bangun, kokk...."


Aku kembali menarik (paksa) selimut yang melingkari tubuhku hingga menutupi ubun-ubun. Berkas sinar matahari pukul enam sangat mengganggu, "Bentar... Bentar lagi..." sejenak aku menggumam pelan sebelum dengkuran halus menghiasi wajah berseriku saat tidur. Iya. Ini, kan, Princess. Jadi, harus serba syantik.


Bunda berkacak pinggang, "Ck. Edgar aja udah bangun dari tadi subuh! Kamu itu udah segede gini masih aja dibangunin. Edell.. Cepetan bangun!! Kamu nggak mau sekolah?! Cepet mandi! Terus makan!"


Kemudian terdengar langkah bunda menjauh dari kamar.


Tunggu.


Apa?


Bunda tadi ... bilang Edgar?


Bukannya Edgar itu sudah...


DUAAKK!!


aku memegangi lututku yang sedikit memar setelah terbentur pinggiran dipan kasur. Ternyata, inilah definisi sesungguhnya dari kata 'sakit tapi tak berdarah'.


Aku masih meringis memegangi lutut sembari mengeraskan suara desisan, berharap bunda akan berbalik dan membawakan apa pun itu untuk membuat lututku membaik.


"Sss.. Aww...," aku masih melirik lorong menuju dapur.


Sebelum sebuah tangan(?)—atau apalah itu, yang jelas benda kecil yang bergerak memegangi celana selututku. Menariknya perlahan, "Kak Edel? Sakit, ya?"


Suara itu.


Tidak.


Tidak mungkin.


"Kak? Ed laper. Ayok makan," aku menoleh ke arah sumber suara.


Seorang laki-laki kecil dengan tubuh putih bersih dan pipi gempal yang menggemaskan. Tangannya dibuka lebar-lebar, "Ed mau gendong,"


Oh, Tuhan. Aku ingin menangis.


Aku segera membukan lengan lebar-lebar saat tubuh kecil itu berjalan ke arahku. Aku tersenyum riang, memainkan pipinya sesaat sebelum mengangkat tubuh itu perlahan, "Utututu.. Ed laper, ya? Sini-sini,"


Kedua sudut bibir itu membentuk lengkung yang sempurna. Pipi yang menggemaskan itu bergerak naik-turun, Edgar tergelak-gelak saat aku berusaha menggelitiki perutnya.


Aku juga tertawa-tawa. Edgar terlalu manis dan menggemaskan untuknya saat ini.


Sebelum tawa yang berderai-deri itu berhenti tepat di depan cermin berukuran tanggung yang tergantung di tengah lorong.


"Edgar ... Sekarang tanggal berapa? Tahun berapa?" tanyaku dengan dagu yang bergerak ke arah Edgar dan mata yang masih melirik pada cermin.


Sudah kubayangkan kalian akan bingung dengan kening berkerut melihatku bertanya perihal dunia pertanggalan pada bocah berumur enmpat tahun.


Aku tahu itu.


Akan tetapi, Edgar berbeda.


Anak ini sudah terbiasa bangun mendahului subuh dan membangunkan bunda untuk menyeduh susu coklat setiap pagi.


Edgar juga selalu ingat tentang jam, hari, tanggal, bulan, bahkan tahun saat 'ini'. Di saat anak seusianya hanya ambil tahu soal siang untuk mereka bermain dan malam untuk mereka tidur, serta hari Minggu untuk jalan-jalan menuju taman kota, bermain bola, dan membeli permen kapas.


Ah, anak yang pintar. Ia bahkan sudah memahami pelajaran matematika dasar yang iseng-iseng aku ajarkan lima tahun yang lalu. Entah mendapat ilham dari mana, Edgar selalu mengerti pada setiap benda dan teori yang didengungkan di sekitarnya.


"Kak?" Edgar mengetuk pelan pipiku, "Kak Edel? Sekarang tahun dua ribu ... sebelas?"


Edgar mengernyit bingung melihat reaksiku yang mungkin sedikit berlebihan daripada yang kupikirkan. Mungkin mataku yang melotot hampir keluar atau bibirku yang ternganga lebar.


Aku mencari-cari kalender yang tergantung di dinding. Ah, benar, 2011.


Nah, sekarang,


TOLONG KATAKAN SIAPA PUN JIKA INI MIMPI!


Kenapa semuanya terlihat sangat realistis?


Huft, sepertinya hari ini akan menjadi mimpi yang panjang.


"Ed nggak salah, kan?" nadanya terdengar lirih dalam gendonganku.


"Nggak, kakak cuma habis mimpi," aku tersenyum, kembali mencubit pipi Edgar.


"Nah, kayaknya tadi ada yang Bunda suruh mandi terus makan, tapi malah mainan di sini,"


Oke, suara bunda terlihat menyeramkan untuk sapaan di pagi hari. Dan, aku sudah mandi. Bunda saja yang terlalu berpikiran negatif.


"Cepet makan!" titah Baginda Ratu. Kami tertatih-tatih melesat menuju ruang makan.


Di meja makan itu, para nasi sudah menjadi fosil di perut dan lauk-pauk tinggal menyisakan minyak di piring.


Edgar masih berfokus pada susu coklat dan mainan pesawat kertas yang baru saja ayah buatkan dari kertas pamflet.


Di antara kepul teh dan susu coklat itu, ayah menyesap tehnya. Sebelum tangannya terangkat membuat kami tersenyum. Ayah selalu bercerita di pagi hari. Tentang apa saja. Mulai dari presentasi perekonomian Indonesia sampai badut di acara televisi yang kami tonton. Ayah bercerita dengan semangat menggebu-gebu. Kami—aku dan Edgar—menyimaknya dengan mata berbinar-binar.


Haruskah aku katakan aku rindu dengan pemandangan ini? Dengan berkas sinar matahari dan daun-daun yang menelisik pohon trembesi di tengah kota. Dengan Edgar yang meracau galak karena mainannya tak sengaja kusenggol. Dengan segala aroma pagi yang terlalu hangat.


Sayang, ini cuma mimpi


.


.


.


"Pagi,"


Sebuah suara membuatku tersenyum kikuk—antara muak dan tidak tahu membalasnya dengan cara yang seperti apa, "Hai!"


Katarine menaruh tasnya di depan bangkuku. Seperti biasa. Ah, aku jadi bertanya-tanya. Dari seluruh mimpi di atas langit, kenapa harus hari ini? Kenapa harus tempat ini? Kenapa harus—


Bayangkan, dari seluruh grafik sinus di kehidupanmu, sekarang adalah sudut 270°! Sudut terendah yang nilainya minus.


Kenapa harus tempat ini?


Argh, ingin rasanya menggaruk tembok tapi temboknya bilang ia tidak sedang gatal.


Au ah, dark.


"Selamat pagi, anak-anak," Pak Darto memulai pagi ini dengan seulas senyum tipis. Guru itu terlalu muda dan sabar untuk mengajar kelas dengan beberapa siswa yang kelebihan energi, "Ada yang tidak mengerjakan tugas kemarin?" sapaan keduanya hampir membuat jantungku mencelos.


"Eh," aku berbisik pada siswa jangkung yang duduk di sebelah kananku, Vivin," Elo—maksudnya kamu, udah ngerjain tugas?" tanyaku hati-hati.


Vivin mengangguk ragu dengan pandangan menelisik ke seluruh tubuhku. Sombong sekali. Sepertinya aku salah tanya orang.


Ah, iya! Pak Darto adalah tipe guru yang selalu mencocokkan tugas dengan cara membahasnya di depan kelas. Jika aku terus maju ke depan papan tulis, ia tidak akan sangsi bahwa aku sudah mengerjakan tugas.


Aku lantas mengangkat tangan tinggi-tinggi.


"Iya, Edelweis?" Pak Darto menurunkan kacamatanya. Aduh, ganteng.


"A-anu, Pak. S-saya mau ngerjain tugasnya, hehe," aku beralih menggaruk tengkuk. Entah kenapa, hawa ketampanan itu membuatku gugup. Hei, kau ini sedang menjadi siswi polos kelas 3 SD!


"Ah, bagus. Ayo maju!" katanya mempersilakan.


"Edel? Kenapa malah bengong?"


"A-anu, saya lupa soalnya, Pak,"


Saat itu juga aku ingin menubrukkan diri ke tiang bendera.


.


.


.


Pelajaran olahraga saat matahari menggantung membentuk sudut 0° dengan kepalamu. Kupikir kau juga akan sependapat denganku jika aku bilang hal ini tidak terlalu baik dilakukan.


Pelipisku penuh keringat dan perutku terus mendengkur sejak lima menit yang lalu.


"Tangkap!" sebuah bola menyusul setelah suara itu menggema di lapangan.


Aku terlalu banyak berpikir sampai-sampai bola itu mendarat tepat di dahiku. Lagi-lagi sakit tapi tak berdarah.


Tunggu.


Aku menoleh ke belakang. Tempat mobil silver terparkir tenang. Mobil itu milik Bu Ida, wakil kepala sekolah yang kolot dan displin.


Mobil itu masih tertidur.


Aku terlalu sibuk mengurusi segala kenang yang terbangun dari kening sampai darah yang diam-diam mengalir dari jidatku tidak terasa perih.


Jika hari ini adalah kenyataan, kurang lebihnya seperti ini.


Hari ini adalah hari Senin yang memuakkan. Katarine marah karena aku tidak menyapanya balik saat pagi hari.


Aku tidak mengerjakan tugas dari Pak Darto karena sama-sekali-tidak-paham materinya. Lalu, teman-temanku dengan takzim dan tawa yang tertahan melihatku terbata-bata menyanyikan lagu Indonesia Raya.


Siangnya, loker mejaku penuh dengan sobekan kertas yang isinya seperti ini:


"Dasar anak buangan!"


"Haha, rasakan itu!"


"Memang enak tidak punya teman?"


Dan selusin kata-kata sampah lainnya. Untung aku sabar, tq.


Dan hari itu bertambah muak dengan pelajaran terakhir, olahraga. Aku yang kelimpungan membawa bola ke sana ke mari tidak menyadari ada bola yang melewatiku menuju mobil silver milik Bu Ida.


Mobil itu berbunyi biip-biip tanpa henti.


Bu Ida naik pitam.


Diundanglah aku menuju ruangan terdingin se-antero sekolah, "Kenapa kamu bisa ngelamun pas ada bola kena mobil Ibu?" suaranya selalu tinggi beberapa oktaf di atas rata-rata.


Oh, sial.


Hari Senin yang benar-benar sial.


"Edel? Edelweis? Kamu nggak apa-apa?" suara meneduhkan itu datang entah dari mana saat suara Bu Ida samar-samar menghilang.


Apa ini surga?


Pak Darto menghembuskan napas lega saat tahu aku mengerjapkan mata. Jadi, di surga itu ada Pak Darto juga?


Wow.


"Ini ... surga, ya?"


Aku segera mengatupkan bibir saat teman-teman sekelas menertawai perkataanku sebelumnya.


Dasar teman-teman lucknut! Gue panggilin Saitama kelar juga, lo!


Ck, lagi sakit juga.


Aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal di pelipis.


"Ck, jangan dicopot," kali ini Valen yang angkat bicara. Perempuan mungil itu kembali memasang plester pada pelipis.


Hari ini, aku tersenyum lega. Bahagia yang simpang siur antara kenyataan bahwa hari ini tidak se-sial sebelumnya dan kenyataan bahwa keadaanku tidak se-menyedihkan seharusnya.


Sampai-sampai aku lupa bahwa dua kata 'kenyataan' sebelumnya hanyalah sebatas mimpi.


.


.


.


Senyum Edgar luntur ketika mendapati plester besar menempel di kepalaku. Anak itu mengerutkan keningnya dengan gaya menelisik seperti orang dewasa.


Aku mendecih singkat melihat tingkahnya itu. Sebelum berlari kecil mendekat ke arahnya. Aku berjongkok menyamai tingginya yang belum genap meraih angka satu meter.


"Kakak kenapa?" pertanyaan klasik muncul sore ini. Edgar selalu rajin menungguiku di beranda rumah saat adzan asar tiba dan pemuda kecil itu selalu tahu jika aku akan datang bersama ayah.


"Tadi maen bola, terus jatoh," kataku menirukan gayanya.


Edgar mendecak lalu tangannya terangkat menyentuh dahiku, "Sini Edgar bantuin,"


Tangan mungil itu gesit juga meraih plesterku. Tangannya yang bebas mengeluarkan kotak susu dari balik punggung.


Perlahan ia tancapkan sedotan ke dalam kotak itu. Aku pikir ia akan meminumnya sampai tandas atau membaginya setengah denganku.


Tapi kadang aku lupa Edgar cuma anak laki-laki berumur empat tahun.


Ia tidak meminum susu coklat itu. Ia mengguyurkannya ke seluruh permukaan plesterku.


"Edgar tadi liat di tipi kalo semua luka bisa diobatin pake susu coklat!"


Hesemeleh, hesemeleh. Muntah pelangi aku, Dek.


Celaka.


Tangan Edgar hendak meraih dahiku. Pasti ia akan menempelkannya kembali di dahiku.


Aku segera pergi ke dalam rumah. Sebelum lukaku bertambah parah dengan susu coklat yang terkontaminasi kata-kata Edgar.


Edgar tidak kehilangan akal. Dia berlari mengejarku. Setelah tidak kunjung mendapatiku, ia terjatuh.


Lalu, (pura-pura) menangis, "Huwaaaa!!! Bundaaaa!! Kak Edel nakallll!"


Datanglah bunda yang hobinya memarahiku jika Edgar kenapa-kenapa.


Oke, aku meraih tisu lalu mencomotnya dengan saus kacang. Rasanya cukup enak untuk menutupi rasa ingin kaburmu ke dalam isekai.


🐾🐾🐾


Tbc.


Ada nggak yang punya adek kayak Edgar?:v Yang kelakuannya sok-sokan kayak orang dewasa tapi aneh bin ajaib.


Mari sama-sama membuat perkumpulan kakak-kakak yang tersakiti/hiks/


Salam pagi sehangat susu coklat milik Edgar,


Lara.