
Marie keluar dari kamar naila dan Kini marie memandang perkotaan Jakarta
'Apakah perkataan ku terlalu kasar?' gumam marie
Tak biasanya marie memikirkan perasaan orang lain semenjak 2 abad telah hidup
-sisi lain
Kaka adik itu telah memikirkan strategis masing-masing dalam melumpuhkan para penjaga
"kamu siap? Ardi?" Tanya Habian
"Tentu aku kak!" kata Ardian
"baiklah. Kaka akan mengingatkan mu untuk yang kalah akan taktir kaka makan bakso selama seminggu kedepan" kata Habian
Ardian tidak masalah dengan hukuman yang kalah tapi yang ia khawatirkan adalah bagaimana dia bisa menangkap pelaku yang melukai istrinya tanpa membunuh pelaku tersebut karena ia tahu sikap kakanya itu tersebut yang ganas apabila sang adik diganggu atau dilukai.
"Intan. Jangan mengecewakan saya!. Buktikan kalau kepolisian dapat lebih mampu daripada TNI dalam menangkap pelaku!. Ayo Buktikan!" kata Habian menyemangati Intan.
"Sheila. Kamu dengar itu? Dalam hal ini Harga Diri TNI bersama mu. Ayo kita buat TNI terus seperti pohon yang dikeliling oleh Angin topan tanpa terhempas!" kata Ardian dengan lantang
"BAIK!" kedua perempuan tersebut.
Ardian & Habian pun melihat kedua perempuan yang menurut mereka sudah sangat diandalkan hanya bisa menunggu kabar baiknya.
"Kamu mau teh? Ardi" Tanya Habian menawarkan Teh
'apa!? Minum teh disaat menangkap pelaku? Aduh kaka ku terlalu santuy tidak tertolong!' gumam ardian terkejut
Ardian hanya tersenyum mengangguk karena sebagai adik tentu tidak enak menolak tawaran dari seorang kakak nya
"Ardi. Gimana kamu di TNI? Apakah lancar?" Tanya Habian
"Baik kak. Nama ku mulai di Kenal berkat kejadian 2 tahun 5 bulan yang lalu. Saat ini pangkat ku adalah Jenderal Mayor(⭐ 2) dan menurut itu sudah cukup untuk para prajurit sedikit menghormati ku. selain Pangkat setidaknya aku menerima beberapa Tunjangan itu udah lebih baik daripada sebelumnya" kata Ardi menjelaskan kondisinya
Ardi tidak berbohong tentang kondisinya semenjak dinaikan pangkatnya sebagai Mayor Jenderal (⭐ 2) dan kehidupannya menjadi lebih baik dan dirinya berbanyak syukur atas Tuhan yang telah memberikan kenikmatan tiada tara
Habian hanya mengangguk-ngangguk saja mendengar kondisi dari sang adiknya tersebut.
rrddt
Rrddt
salah satu talk tolkie milik Ardian berbunyi
"kabarkan situasi" kata Ardian menjawab sheila
"Maaf Sir! Pelaku tampaknya telah melarikan Diri dan hanya tertinggal TV yang menyala tentang berita anda yang telah menyelamatkan banyak orang tapi juga beritakan anda selamat dan pelaku pria sebelumnya tertangkap dan saya yakin ini menjadi alasan pelaku perempuan telah kabur" kata Sheila
BRAK
Gelas yang diberikan Habian itu pecah berkeping-keping dan itu membuat Habian sendiri terkejut
'Sialan Para Media itu tidak mau sedikit diam!' gumam Ardian mengutuk para media
"Sheila kembali lah bersama intan dan Kita akan bekerjasama dengan kepolisian dalam menangkap pelaku kedua!" titah ardian segera
"Baik Sir!" balas sheila.
"Ardian. Ada apa?" Tanya Habian
Habian tidak mendengar pasti suara sheila dalam talk tolkie karena jaraknya dirinya & talk tolkie yang cukup 5 langkah dan suara kresek-krsek membuat semuanya tidak jelas untuk didengar
BRAK
Sama halnya dengan ardian. Habian kesal mendengar hal tersebut
"para media bodoh itu selalu mengercokkin para units keamanan!" kata Habian dengan blak-blakkan kesal
Ardian setuju dengan hal tersebut karena beberapa bulan lalu ada sebagian kecil media yang mencoba mengintervensi dan pemberitaan berlebihan saat latihan bersama dengan Negara lain
"Kalian! Tangkap dan bawa hidup-hidup pelaku itu. Saya Ardian Fasyah Memerintahkan kepada kalian untuk segera menangkap pelaku bernama Mely tersebut!" titah Ardian langsung kepada semua 25 prajurit yang berada disana
"BAIK Sir!" jawab Semua prajurit yang disana dengan lantang dan gagah berani
-sementara lain
"Sial. Sial. Sial. Will segala gagal!" kata perempuan berumur 23 tahun tersebut
"Nona Mely. anda mau kemana?. Apakah kita harus keluar negeri?" tanya pak supir milik perempuan tersebut
"Keluar negeri? Lewat mana bodoh! Bandara tentu sudah memasang wajah ku!" kata perempuan yang bernama Mely itu berteriak angkuh
"M--Maaf Nona tapi kita harus kemana?" Tanya Pak supir
"Pergi saja ke jakarta Utara. Disana saya akan bertemu dengan teman saya yang bisa membawa kita pergi dari indonesia. Cepat Jalan!" Titah Mely.
Mobil Milik adalah Alphard yang ditutup oleh hordeng disetiap jendela tetapi matanya dapat melihat sedikit tentang wajah-wajahnya terpasang jelas di billboard dan gedung-gedung tertentu bahkan dipemberitaan sudah jelas
"Jika will tidak gagal pasti aku sudah menikmati Harta Anak Haram itu. Dasar Pria gak berguna!" sumpah serapah dikeluarkan dari mulut mely.
BUK!
"Aduuuhh!! Kenapa sih? Kalau ngrem tuh jangan mendadak. Sakit Tau!" kata Mely dengan mengaduh
"M--Maaf Nona tetapi didepan sana ada jaringan kepolisian yang memperiksa setiap pengemudi. Bagaimana ini?" Tanya Sang Supir
Mely yang melihat itu semakin dibuat pusing dan perpikir melihat jalan untuk kabur dari jaringan kepolisian itu
"Disana! Ya disana. Kamu bisa ambil kanan. kita putar balik saja dan nanti kamu ambil lewat jakarta selatan saja lalu kita ke timur dan baru kita ke utara" kata Mely
Mobil kembali berjalan dengan sen mobil menuju kearah kanan.
Mely tidak bisa tidur karena dirinya takut ketika bangun dirinya sudah di jeruji besi.
"Cepatkan sedikit dong!" Titah mely
Mely ingin cepat keluar dari negeri ini dan dirinya sudah dianggap buron
Sang supir hanya setia dengan anggukan nya saja.
Mely membuka Handphone yang dimana sudah dimodifikasi selalu berlokasi di Australia
Mely terkejut membaca salah satu berita tentang Pihak TNI menganggap dirinya adalah salah satu buronan Negara yang harus segera ditangkap
'Sial! Gimana ini? Apakah aku bisa kabur?' Gumam Mely dengan kesal
...----------------...
...BYE...
...----------------...