VML - Vampire Modern Life

VML - Vampire Modern Life
siapa kalian?



Marie masih melihat Ardian mencoba menununtun kearah mereka


"Mba Raina. bisa aku nitip naila? saya harus harus menjemput para bedebah pelaku itu" kata Ardian memohon


"Makhluk Tua. Apakah kamu masi setuju?" Tanya raina tanpa peduli kehadiran ardian


"simpanlah disini. aku tidak tahu" kata Marie dengan nada jengah


"Ardian. taruh saja di kursi. dan maafkan teman mba ya. dia agak kasar tapi dia baik kok. tapi mba sarankan. jangan membuat masalah dengannya. mengerti?" kata Raina dengan tersenyum


Ardian selama ini tidak peduli dengan siapa teman raina tersebut tapi yang ia peduli adalah istrinya. selama istrinya aman. itu sudah lebih cukup


"Baiklah. Mba. Ardian pergi dulu" kata Ardian pamit sambil menaruh istrinya di bangku yang di bantu oleh elevyn


Ardian pun berlari ke mobil truck yang sudah ditunggu oleh para para juniornya tersebut.


"Apakah Dia yakin bisa melawan Saudarinya ?" Tanya Marie


"Apa? astaga. lagi-lagi kamu menggunakan mata mu itu. Maklhuk Tua?" tanya Raina


Marie hanya mengangguk sambil mengambil minuman kesukaan nya dari dalam tas


"Nona. apakah anda akan selamanya meminum darah?" Tanya Elevyn


Marie sedikit meragukan pertanyaan dari elevyn karena apa? dirinya pernah tidak minum darah 30 tahun lebih dan tidak menjadi masalah tapi kesukaan akan darah tidak membuatnya berhenti


"Tidak. Apalgi Darah Seorang Pendeta. bukankah itu lezat?" Tanya Marie sambil menjulurkan lidahnya keseluruh bibirnya


Raina yang sedang minum pun terbatuk-batuk mendengar itu


"Makhluk Tua. Jangan Menggoda ku. aku sudah tidak enak kau makan" protes Raina


Marie hanya tertawa melihat hal tersebut.


2 jam kemudian


"Kenapa Ardian tidak kembali ya? padahal aku sudah tidak mau lama disini, masih banyak hal yang ku urus seperti menagih uang sekolah anak murid-murid" protes raina yang tidak melihat Ardian kunjung kembali


"Nah Naila. bukankah kamu harusnya bangun? Mba tahu kamu sudah bangun 1 jam lalu" kata Raina


Naila yang mendengar hal tersebut sedikit terkejut


"H--hehe mba. Ya mba aku bangun" kata Naila dengan canggung


"Hahaha. aku tidak menyangka dirimu masi punya kepekaan yang tajam. pendeta bodoh" kata marie


"cukuplah diam. makhluk tua. tapi apakah kamu masi mau ?menampungnya? aku sudah tidak ada lagi urus disini" Tanya Raina


Naila melihat itu tidak mengerti dengan percakapan mereka seakan bukan tidak menggunakan bahasa indonesia atau bahasa inggris


"Kenapa? kamu bingung dengan bahasa kami? Naila?" tanya marie yang paham kebingungan


Naila hanya tersenyum canggung dan bingung


"Baiklah. Pendeta Bodoh. Aku akan menampungnya tapi dengan satu syarat" kata marie


"ya ya aku tahu. Aku sungguh menyesal bersahabat dengan Makhluk tua yang perhitungan seperti mu" protes raina tapi dengan senyuman khas mereka


Raina pun pergi dengan mobil ferari merah nya dan melaju kencang


"Elevyn. pesankan aku kamar tepatnya disebelah kanan kamar ku" titah marie


Elevyn hanya mengangguk patuh


"selama suami mu tidak ada mungkin aku harus membawa mu ke hotel. karena diriku yang akan menjaga mu. Jangan buat aku repot intinya" kata Marie


marie mengangkat Naila dengan seperti anak kucing menuju mobil lamborghini aventador nya


"bisakah kamu tidak untuk mengangkat ku seperti anak kucing? aku manusia lho" protes naila


"kau tahu? aku paling benci dengan manusia dan seharusnya aku tidak mensetujui menampung atau menjaga mu. sekarang kamu lebih baik bersyukur dan diam" kata Marie.


Marie pun mengangkat gigi dan menancapkan gas dengan perlahan menuju jalan raya.


selama perjalanan keduanya hanya terdiam dan hanya ditemani oleh suara radio mobil


"Kita mau kemana?" Kata Naila bertanya


"Hotel dimana aku tinggal" kata marie dengan dingin menjawab


Naila hanya mengangguk


15 Menit kemudian


Marie & Naila telah sampai di hotel dan marie memarkirkan mobil nya di basement sementara naila menunggu.


"Kenapa kamu bengong saja disana? kemarilah" kata marie yang setelah kembali dari basement


naila pun mengangguk dan melihat sekililingnya dengan bingung


"Nona Marie. Nyonya Elevyn memerintahkan untuk ku memberikan kunci kamar untuk anda" kata Pelayan resepsionis atau bernama Ratna itu


"Terimakasih" Singkat Marie dan mengambil kunci itu


"sedari tadi aku melihat mu kebingungan. apakah seorang naila dengan identitasnya adalah kakek terkaya di dunia adalah sebuah kebohongan? karena aku melihat mu seperti pertama kali melihat sebuah hotel" kata marie


Naila sedikit tersentak mendengar hal tersebut


"Bagaimana kamu tahu identitas asli ku? apakah mba raina memberitahu mu?" Tanya naila


marie mengangkat alis sebelahnya ketika mendengar sahabat nya dipanggil oleh seseorang dengan Mba


"sampai mana hubungan pertemanan kalian? Hingga memanggil nya dengan sebutan hal tersebut?" kata Marie bertanya


"atau Kamu sudah mengetahui identitas Sahabat ku itu?" Tanya marie


Naila takut ketika marie mengetahui sebelum dirinya mengatakan suatu pernyataan


"Diam? baguslah. seharusnya manusia seperti mu memang pantas diam. jangan mencoba memberitahu apa yang kamu ketahui ke publik atau bahkan ke suamimu. Aku yakin membunuh mu adalah semudah aku menghidupkan orang lain" kata marie mengancam


Naila sedikit takut dan ragu soal marie dapat menghidupkan orang lain.


TING!


Keduanya keluar dari lift dan Menuju pintu berwarna pintu dengan angka 810.


"ini kamar mu" kata marie dengan datar.


Marie menjalankan semua lampu dan ternyata ia melihat raina


"Aku tidak tahu kamu tergesa-gesa ternyata ingin berdua dengan naila. bukankah begitu pendeta bodoh?" Tanya marie


"Lho Mba Raina? kenapa bisa disini? dan tunggu. bukannya pintu kamar terkunci?" tanya naila dengan bingung


"Makhluk Tua! Itu semua gara-gara mu. kamu membunuh orang lain aku yang terkena imbasnya. Ayahnya datang kepada ku ketika aku sampai dan memaksa untuk aku mengakui bahwa itu kasus pembunuhan" kata Raina


"Hahaha" kata Marie


Tentunya marie tertawa mendengar sahabatnya seperti menderita padahal tidak


"Kenapa? apakah kamu mencoba menahan agar tuhanmu itu tidak mencabut kekuataan suci mu?" tanya marie dengan mengejek


Raina hanya kesal dengan ucapan marie yang memang sedikit benar dan sedikit salah


"Kekuataan ku tidak berasal Dari tuhan" kata Raina mencoba mematahkan tawa dari marie


"Tentu-tentu. aku tahu itu. kamu mencoba membodohi beberapa orang eropa sana untuk berdoa & menjadikan mu Tuhan mereka. itulah efek kekuataan suci mu akan bangkit dan bertahan" kata marie


"Ayolah Makhluk Tua. apakah kamu tidak mau berdoa kepada ku?. Haha" kata Raina tertawa


"Berdoa kepada mu? atau pembunuh mu saja lebih lezat" kata Marie dengan Tersenyum


"dasar kau psikopat" kata Raina dengan kesal


"Baiklah-baiklah. Pendeta Bodoh. tapi jangan lupa. kamu pernah membunuh 1 juta manusia hanya untuk membangkitkan kekuataan suci mu tapi gagal. Hahaha" kata Marie tertawa


Raina mendengar itu seperti sebuah pedang tertusuk di jantungnya


"M--maaf mba raina. aku masih disini. tolong jangan lupakan" kata naila akhirnya berbicara


Raina dengan terkejut tidak menyangka sahabatnya itu menepati janjinya


"Aku tidak percaya kamu menetapi janji mu? makhluk tua" kata raina


"aku ini makhluk yang menetapi janji tidak dengan manusia rendahan itu" kata Marie


"rendahan itu tetap menjadi komsumsi untuk mu hidup. sadarlah" kata Raina


"Baiklah. Lalu bagaimana? apakah kamu bisa membunuhnya?" Tanya marie


"Tentu tapi aku tetap tidak tega jika membunuhnya. aku belum siap melihat wajah anak itu menangis" kata Raina


"Jangan sampai aku yang membunuh mu lho pendeta bodoh" ancam marie dengan senyuman nakal


"naila. apakah sahabat mba ini menyulitkan mu?" tanya raina


"Tidak Mba Raina. Tapi naila bingung dan bertanya-tanya tentang siapa dan kenapa kalian bisa saling berteman. siapa teman mba itu? dan apakah dia tahu tentang umur asli mba?" Tanya Naila


"Hei pendeta bodoh. apakah serius kamu dipanggil tersebut? aku tidak percaya mendengar hal tersebut. hahaha" kata Marie tertawa


sedangkan naila berkerut wajahnya ketika mendengar orang yang dihormati dan sekaligus sudah dianggap kakak tertuanya dipanggil dengan sebutan pendeta bodoh walaupun dirinya tidak tahu


"Diamlah makhluk Tua" tegas raina


"Naila. siapapun teman mba. kamu harus tidak tahu itu. karena dia membenci jika privasinya dilanggar" kata Raina


Naila hanya mengangguk paham.


...----------------...


...BYE...


...----------------...