VML - Vampire Modern Life

VML - Vampire Modern Life
Cemburu



setelah makan. raina pun minggir dari elevyn & Marie karena ia ingin menelpon Naila orang yang sebelumnya mereka obrolkan


Raina: Halo Naila. kamu sibuk?


Naila: Tidak. Kenapa? kak


Jarak Raina dan Naila jika dari fisik adalah raina yang lebih muda akan tetapi naila sendiri tahu jika raina bukanlah manusia yang biasa dan telah hidup 240 tahun karena semua itu terjadi karena sebuah insiden.


Raina: Kamu bisa datang kesini? ada teman-teman kaka yang mau ketemu sama kamu. bisa?


belum ada jawaban dari sang menelpon tapi ada seorang pria bersuara


"Siapa itu dek?" Tanya pria disebrang ini


"Eh mas. ini Kaka Raina mau ngajak ketemu. Ingatkan kaka raina? yang ngebantuin aku buat jodoh-jodohan pas dulu kita masih ngantor 3 tahun lalu" jelas Naila


Ardi mengangguk dengan melanjutkan kegiataannya mengganti baju


Raina: Oi naila. jadi bisa ngak? malah ngobrol ama ardi


Ardi adalah suami dari Naila dan kisah romantis mereka bagi raina sebenarnya bisa dijadikan sebuah kisah cinta dalam novel umumnya


Ardi yang mendengar itu mulai duduk disamping istrinya dan merebut handphone milik naila


Ardi: Ya Mba raina. istri saya akan kesana bersama saya


lalu ardi mengembalikan handphonenya kepada sang pemiliknya dan sementara naila? dia hanya geleng-geleng melihat tindakan suaminya


Naila: Sudah dengar kan kak? hehe


sedikit canggung bagi naila jika yang menjawab adalah suaminya bukan dirinya


Raina: Baguslah. Datanglah ke fried chicken bambang. ditempat biasa kita ketemuan


Naila: Baik kak!


Kedua sambungan tlpn itu pun terputus dengan raina yang memutuskannya


"Bagaimana? Dia bisa datang?" Tanya Marie


"Datang. dia bakal sama suaminya" kata raina dengan santainya kembali duduk


akhirnya ketiganya memesan kembali tapi bukan makanan melainkan minuman yang ber jus karena juga untuk mengulur waktu agar naila dapat bertemu dengan mereka.


3 jam kemudian


sebuah mobil yang bisa dikatakan mobil keluarga dengan merek Leutza dan keluar dengan Pertama kali terlihat di mata marie sebuah pria dengan pakaian loreng-loreng hijau hitam dan gagah berani membukkan pintu untuk seorang perempuan.


"Mas. itu teman ku. kamu duduk disana" kata perempuan berhijab hitam dengan pakaian kasual kantoran


"ok dek. mas akan tunggu disana" kata pria itu sambil menunjuk bangku merah yang kosong.'i


Raina melihat Sesosok perempuan yang tampaknya itu adalah Naila & Ardi tetapi ia heran kenapa suaminya naila harus pisah tempat duduk


"Lho. suami mu kenapa gak disini aja?" Tanya raina dengan bingung


Naila melotot dengan tajam


"kak raina. lihatlah pakaian teman-teman kaka & termasuk kaka sendiri. Pakaiannya yang hot-hot dan body goal nanti aku takut suami ku malah nakal mata" kata Naila dengan nada cemas


lalu apa tanggapan ketiganya? ya jelas tertawa karena mereka tertawa melihat kekhawatiran berlebih oleh naila sendiri


"sudah-sudah. Naila. ini kedua sahabat sekaligus teman hidup karier ku" kata raina menunjuk kepada marie & elevyn


"Kenalkan dia dari sebelah kiri mu itu adalah Marie Lione Von Biana. dia sama umurku hanya beda ras" kata raina memperkenalkan marie kepada naila


"dari sebelah kanan dari mu. itu adalah elevyn la jua. dia keberbangsaan spanyol tapi dia sudah menetap disini 15 tahun jadi dia mengerti bahasa kita. rasnya sama seperti mu" kata Raina memperkenalkan elevyn kepada naila


"Elevyn" kata Elevyn mengulurkan tangannya dan keduanya berjabat tangan


"Marie" kata marie sambil mengangkat tangan dengan nada bosan


KLAK


raina menginjak kaki marie dengan sedikit kekuataan sucinya dan alhasil marie kesakitan


"awch. pendeta bodoh, apakah kamu mau membunuh sahabat mu sendiri?" Tanya marie sambil mengaduh


'Yang sopan' telepati raina kepada marie dengan tatapan sopan


elevyn & marie yang melihat itu jelas lebih bingung


"Haha. lupakan. naila. kamu sudah makan?" Tanya raina


"udah kak" naila dengan anggukan canggung.


Kreek


Marie berdiri dan sambil membawa pisau bersama nya dan menuju suaminya ardi


"lho. kak? mau apain bawa pisau ke suami ku?" tanya naila dengan sedikit panik


"Tenanglah" kata Raina yang paham gerak gerik marie.


"apakah kamu ardi suami dari naila?" kata marie bertanya didepan


Sedangkan Ardi yang sedang sibuk-sibuknya melihat handphone nya terkejut melihat bayangan dan menampilan marie yang cukup laki manapun berdesir


"Ya mba. benar" kata ardi lemah lembut


"Kamu seorang anggota?" Tanya marie


"Benar kak" kata ardi menjawab


"Pangkat?" Tanya marie


"Brigadir 2. mba" jawab ardi dengan lemah lembut


"katakan dengan tegas. siapa kamu?" kata marie dengan nada seorang pelatih


Sontak Ardi yang mendengar itu langsung berdiri tegak sempurna


"SIAP Salah!. Nama saya Ardi firmansyah. suami dari naila arto kumajaya" kata Ardi dengan tegas ala prajurit


"Bagus. apakah kamu bisa melempar sebuah pisau?" Tanya Marie


"SIAP. bisa!" jawab ardi dengan lantang


lalu bagaiman reaksi orang sekitar? tentu mereka penasaran


marie memberikan pisau berukuran sedang


"Lemparkan Pisau ini di arah jam 3 dengan tanpa melihat apakah bisa?" Tanya marie


"Izin Mengoreksi! banyaknya masyarakat yang berlalu lalang. tidak bisa" kata ardi menolak


Marie pun memutar ke arah jam 3 yang ia maksud sebelumnya lalu melempar pisau dengan cepat


"Arrrgggh" kata pria muda yang mengjinjing tas di pundaknya


tanpa berdosa pun marie kembali ke tempat meja nya dan meninggalkan ardi yang bersikap cepat menolong orang yang tertusuk.


Marie yang melihat itu sedikit geram


"Kenapa kamu membantu orang lain yang membuat kita terbunuh?" Tanya marie dengan santai minum jus merah


"Membunuh? bukankah mba sendiri membunuh pria ini?" Tanya Ardi dengan marah


dengan malas marie menatap raina dengan kode untuk melanjutkan alasannya yang ia bicarakan sebelumnya


"cek tas nya. ardi" titah raina


Ardi hanya bisa mengangguk


Ardi pun membuka tas berwarna hitam dan Dengan mata melotot ia kaget apa yang ia lihat


"Minggir Cepat Minggir!!!!" Kata Ardi langsung mengambil tas tersebut


Naila yang panik melihat suaminya berlari cepat dengan membawa tas ranselnya tapi dihalangin


DUAAR


Suara ledakan besar itu terdengar dan naila mendengar itu langsung terduduk di lantai


"M--Mass?" Tanya Naila tanpa ada yang menjawab.


semua orang mendengar itu langsung berlindung dan sementara pembawa tas itu sudah di ikat sedari tadi oleh marie


"Siapa menyuruh mu?" Tanya Marie.


"Percuma. Tidak akan ku beritahu siapa" kata Pelaku menolak menjawab.


Pisau yang masi tertajam pun marie masukkan lebih dalam


"Arrrggghh!!" Teriak pelaku tersebut.


"Dia gak akan ngaku" kata ardi yang berlumuran dengan Tanah


Naila yang melihat itu sontak langsung memeluk sang suami


"M--mass. kamu jahat. jahat. aku takut mas kamu menghilang" kata Naila nangis di dada ardi


"maafkan mas. dek. mas akan berusaha tetap di sisi kamu" kata ardi dengan tersenyum


"Ar--Ardi. seharusnya kamu sudah mati!" kata pelaku itu yang tidak terima ardi masih hidup


"bukankah itu lucu? will? aku beruntung menemukan lapangan yang kosong untuk membuang bom yang kau ledakkan itu gagal?" Kata Ardi melepaskan pelukan dengan istrinya lalu mendekat & melototi mata nya


"kau kenal dia? di?" Tanya raina


ardi mengangguk lalu memfoto wajah willy sebagai bukti wajah pelaku


"kenal mba. Dia seorang pembully di sekolah sma. dulu aku sering dibully olehnya karena katanya aku sering dekatin perempuan yang ia suka tetapi setelah lulus aku pindah ke jogja dan bekerja kantoran sebelum masuk jadi Anggota TNI. Dan diwaktu itu juga aku gak nyangka akan bertemu dengan nih(pelaku/will) dan ketemu mba raina dan istriku. naila. dan beberapa bulan. aku menyukai naila seperti yang mba ketahui lah di kantor 3 tahun lalu" kata Ardi


"Baiklah. bisa kalian berhenti dari acara reuni? sekrang ardi. dia gak mau jujur siapa yang suruh. apakah saya perlu melakukan sesuatu agar dia mau buka mulut" kata marie memotong cerita ardi


"Entalah. atau will. apakah kamu melakukan ini karena cemburu kepada saya karena berhasil menikah dengan Mba Naila. bukankah saya sudah katakan. Mba naila lah yang memilih & bahkan dia lah yang melamar saya dan waktu juga itulah harga diri saya sebagai lelaki jatuh dan tidakpuas pun saya melamar balik mba naila. bukankah saya sudah menceritakan hal itu pas 3 tahun lalu. apakah tidak senangnya dirimu melihat kami bahagia?" kata Ardi dengan nada tegas tapi emosi terkontrol dengan baik


...----------------...


...BYE...


...----------------...