VML - Vampire Modern Life

VML - Vampire Modern Life
Taruhan



Ardian bersama kakanya pun menuju perumahan Adik Dari istrinya tersebut


"Ardi. kamu yakin ini rumahnya?" Tanya Habian


"Tidak salah lagi. kak. Aku ingat pada waktu itu istri ku mengajak ku mampir ke rumahnya dan rumah warna putih itulah miliknya" kata Ardi menjawab untuk melepaskan keraguan habian. kaka nya tersebut


"Tapi kak. apakah kita menangkap orang tanpa izin perintah adalah hal yang melanggar aturan?" Tanya ardi yang sempat ragu melakukan penangkapan tanpa ada surat perintah


"Ardi. Pangkat mu Boleh Jendral ⭐ 1 tapi tolong pelajari lagi. ingat di. waalaupun kamu adalah seorang jendral dan bukan seorang panglima. Tapi Kamu harus tahu kamu itu adik ku. walaupun tanpa surat perintah pun kakamu ini akan menindak tegas apabila adik ku di ganggu" kata Habian


Habian sangat menyayangi adiknya walaupun berbeda insitusi dan pangkat yang berbeda tapi ardi adalah ardi. ardi tetap menjadi adik dan orang yang paling habian sayangi sebagai orang kaka yang bertanggung jawab.


"Dan bukannya pertanyaan itu yang harus kaka tanyakan? kenapa kamu membawa setengah kompi untuk menangkap seorang perempuan tanpa izin perintah?" Tanya Habian dengan nada menyindir ardi


Ardi yang mendengar balasan dari sang kakanya itu cukup membuat dirinya tertawa kecil


"Baiklah-baiklah. aku menyerah. kak. lalu kapan kita akan menangkapnya. aku melihat banyak penjagaan yang ketat" kata ardi


habian tidak langsung dan melihat keadaan kanan & kiri yang dimana habian hanya melihat rumah yang jaraknya berjauhan bisa dikatakan 2 - 3 meter dari rumah target


"Mungkin kita bisa menggunakan senjata untuk melumpuhkan nya tapi mungkin juga akan ada yg curiga mendengar suara tembakan. lebih baik kita lumpuhkan secara manual" kata Habian


Ardi yang mendengar itu mengangguk karena perkataan kakanya sedikit berlogika dan masuk akal.


"Ardi. terakhir kita taruhan itu kapan?" Tanya Habian tiba-Tiba


Ardi yang mendengar itu terkejut dan mencoba mengingat kehidupan laluny


"kalau tidak salah saat aku mencoba mendaftar jadi anggota TNI waktu itu" kata Ardi


"saat itu. kaka mengajak ku taruhan apabila aku gagal masuk TNI maka aku harus menaktir kaka bakso dekat monas tapi jika aku berhasil kaka lah yang menaktir ku" kata Ardi


"Benar. tapi apakah kamu mau taruhan lagi malam ini?" Tanya Habian


"Taruhan ? ayolah kak. kita sudah sama-sama dewasa. taruhan itu hanya anak kecil" kata ardi sedikit menolak usul dari kakanya


"Ardi. bagi kaka kamu adalah adik yang masih kecil. jangan membantah. ayo bertaruh dengan kakak kalau tidak berarti kamu adik kaka yang lemah" kata Habian dengan tersenyum


"Intan. kesini kamu" Perintah Habian


Perempuan bernama Intan itu pun maju dan bersikap sempurna hormat untuk kakanya tersebut


"Saya Intan. Siap Bertugas!" kata intan lantang.


"Ini intan. jagoan kaka yang akan ikut taruhan. mana punya mu?" Tanya habian dengan nada mengledek adikny


"Sheila. Maju kesini" kata Ardi lantang.


Sheila menuruti perintah ardi tersebut


"Siap Jendral!. sheila siap bertugas!"


Kata Sheila


Habian bertepuk tangan melihat ketegasan yang sempurna dilakukan oleh adiknya.


"Ardi. kaka akan bertaruh 10 Juta. siapa diantara kita berdua yang bisa melumpuhkan yang lebih banyak dia adalah memenangkannya" kata Habian


Ardi mendengar itu sedikit perpikir-pikir karena 10 juta juga tidak buruk tapi ardi tetap memikirkan dampak baik & buruknya


"Tidak perlu khawatir. adikku. mereka hanya berjumlah 20 orang saja" kata Habian


Ardi pun sepakat setelah mendengar jumlah musuh akan dihadapi keduanya


"baiklah. aku akan menerimanya. mohon kaka tidak marah ketika aku kalahkan" kata Ardi


"Adik. jangan sombong. hehe" kata Habian


...----------------...


...BYE...


...----------------...