
hari dimana aku akan menikah sudah tiba,
dan pada saat ini pun aku masih tidak mengetahui siapa calon suami ku.
aku memang tidak lah perduli seperti apa rupanya,
aku sudah tak lagi memikir kan hal-hal yang harus ku lakukan kedepan nya nanti.
pernikahan ku saja semuanya di atur oleh kedua orang tua ku.
aku hanya lah sebuah patung yang tak lagi mampu ber ekspresi dan hanya diam membisu, dalam balutan kebaya warna putih dan hiasan make up.
mungkin bagi kebanyakan orang ini adalah hari terbahagia dan momen bersejarah yang amat di nanti-nanti.
tapi tidak dengan ku, ... aku bahkan tak merasa kan apa-apa, bahagia, sedih apapun itu tak lagi mampu ku rasakan.
aku tertunduk lesu dalam kamar pengantin ku,
fikiran ku melayang entah kemana, tatapan ku kosong tak lagi ber arah.
ingin ku menangis berteriak tapi aku benar-benar tak lagi mampu melakukan nya.
helaan nafas pun kiat berat, terasa berat di dada.
satu ketukan pintu dan ucapan salam dari seseorang di luar kamar ku.
membuyar kan kekalutan ku.
aku tak menoleh ke pada orang yang datang menghampiri ku.
aku masih tertunduk dan tak perduli kepada mereka.
"assalamualaikum zaujati" itulah yang ku dengar dari seorang pria yang tak ku ketahui siapa dia dan bagai mana rupanya.
aku tak menoleh sedikit pun dan tetap tertunduk dengan kekosongan ku.
tiba-tiba ada tangan kekar yang memegang puncak kepala ku aku sedikit tersadar saat ada sentuhan itu.
اللَّهُمَ اِنِّى اَسْاَ لُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرُمَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَاَعُذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَ
شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
entah lah apa yang iya ucap kan tapi aku sedikit merasakan haru yang tak dapat ku ucap kan.
aku tetap terdiam dan tak sedikit pun mendongak kan kepala ku.
setelah selesai laki-laki itu dengan apa yang ia lakukan dia pun menarik tangan nya kembali.
lalu datang lah kepada ku sosok perempuan paruh baya yang sangat aku kenal rupanya.
ternyata dia adalan ibu kedua ku yang sudah merawat ku dulu waktu kecil dan waktu orang tua ku sibuk kerja.
aku langsung memeluk nya dan menangis sejadi-jadi nya di pelukan orang tua yang aku anggap lebih berharga dari kedua orang tua ku sendiri.
sudah lama aku tak bertemu dengan nya.
aku meluap kan segala beban di haribaan nya.
beban ku beberapa hari ini akhir nya ter curah kan.
akhirnya aku menemukan pundak yang tepat untuk mencurah kan segala keluh kesah di hati.
setelah aku puas mencurah kan segala isi hati, .. aku pun memangdang wajah ibu kedua ku itu dalam-dalam.
kemana saja dia beberapa tahun ini.
bagaimana dia bisa meninggal kan aku.
pertanyaan bertubi-tubi yang ku lontar kan dalam isakan tangis ku.
bukan ibu gak sayang selly tapi ibu ingin orang tua shelly belajar untuk menjaga dan menjadi orang tua yang bisa mengurus anak.
tapi setelah pulang kembali ibu sangat miris melihat ke adaan mu seperti ini,kemana sally yang kuat dan hebat, kenpa malah kalah dengan keadaan?
ibu amat kecewa dengan orang tua mu.
tapi tau kah kau nak siapa suami mu sekarang? dia adalah pengganti ibu buat menjaga kamu kedepan nya kalau ibu sudah tak lagi mampu menjaga mu nanti.
dia yang akan mengganti kan ibu dan kedua orang tua mu untuk menjaga mu.
kalian sama-sama anak ibu dan ibu harap kalian bisa saling menjaga satu sama lainnya.
nak!! ... ibu titip anak ibu ini ... buat dampingi kamu kedepan nya, .... ingat lah pesan ibu kamu tidak boleh menyerah dengan takdir karna tidak selama nya takdir itu kejam ada kalanya takdir akan baik kepada mu dan kamu akan sangat-sangat bersyukur dengan adanya masa kelam mu karna dengan masa itu masa depan mu akan jauh menjadi lebih baik"
aku pun semakin menangis, memeluk nya.
dan masih tidak sadar dengan ucapan nya bahwa suami ku adalah sepupu ku sendiri.
aku pun tak tersadar lelap di pangkuan ibu kedua ku.
entah lah apa yang terjadi setelah itu.
bangun nya aku sudah tak lagi melihat orang dan
ruman ini kembali sunyi.
aku kembali termenung dengan masih berbalut kebaya.
masih tidak habis pikir apa yang terjadi hari ini, aku masih tidak percaya dengan semua hal yang terjadi tadi.
lamunan ku pun buyar saat ku dengar bunyi pintu kamar mandi ku terbuka dan keluar sosok laki-laki gagah, putih bersih, dan aku akui dia amat tampan.
dan shit nya lagi dia telanjang dada dan hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawah nya.
yang mampu membuat ku sedikit terlonjak, namun aku masih saja dengan sikap acuh dan tak perduli ku.
hmmm, ... ternyata laki-laki itu yah, ...
bisa di bilang suami ku itu adalah sepupu ku sendiri.
dulu kita sempat tinggal bersama saat aku masih di asuh ibu kedua ku kami berpisah saat aku umur 7 tahun dan dia 14 tahun dulu,
masih ku ingat dulu kita sering rebutan ibu dan sering bertengkar, dan pasti aku lah pemenang nya saat ku sudah mulai menangis dan ibu kedua selalu membela ku,
hahaha tak kusangka sekarang dia menjadi suami ku, ohh!!! takdir kau amat pandai mempermain kan hati seseorang.
aku tampa memperdulikan dia dan langsung melenggang masuk kamar mandi untuk membersih kan make up yang amat lengket ini.
dia yang lagi terduduk di sofa sebelah tempat tidur itu melihat tingkah acuh ku ini dengan helaan nafas dan sedikit menggeleng kan kepala.
entah lah apa yang dia pikir kan tentang ku, aku tak perduli.
aku pun menangis sejadi-jadi nya di dalam kamar mandi ku.
mungkin tak akan terdengar karna aku menghidup kan shower kamar mandi ku.
aku benar-benar hancur saat ini aku tak lagi mampu menahan nya.
kenapa ini semua harus terjadi pada hidup ku?,.
kurang malang apa nasip ku saat ku tak lagi bisa merasakan hangat belaian orang tua dan harus lagi menanggung perih dari orang yang ku sayangi.
kurang sengsara apa diriku, ... kenapa takdir begitu kejam kepadaku.
masih kurang kah beban ini masih adakah lagi hah!!!!
aku benar-benar meluap kan rasa kesal, amarah dan sedih ku saat ini.