
setelah puas dengan apa yang ku rasakan, dan sudah mampu sedikit mengurangi rasa rindu yang tak pernah teruntai.
aku membasuh muka ku agar izal tak curiga, walau mata ku agak bengkak.
aku kembali ke kasur hendak tidur karna amat lelah.
"sudah nangis nya" ucap izal amat dingin.
"siapa sih yang nangis!!" aku mengelak.
"sampai kapan kamu terus-terusan begini hmm?" suara nya agak meninggi membuat ku tak mampu mendongak kan kepala apalagi menjawab nya.
"aku tau kamu nangis bukan masalah keluarga mu, tapi karna laki-laki ******** itu kan?" setiap kata nya ter selip amarah walau tak di ucap kan dengan nada rendah.
"apasih lu ngomong kek gitu!! siapa juga yang di maksud ********!!" aku sedikit marah karna dia menyebut ********.
"hah!! hahaha segitu nya kamu yah, gak terima gue sebut tuh cowok ********?" kini muka izal berubah menjadi sinis dan memerah.
"sebut aja dimana tempat tu laki-laki, gue bawain buat kamu" ucap nya lagi.
"auk ah apaan sih!! gue mau tidur capek!!" aku membaring kan badan membelakangi izal yang duduk di sofa.
"hmmm jangan pernah lagi yank!! atau liat aja kekuatan seorang Raizal Fahmiansyah" terdapat ketegasan dan sarat ancaman di setiap bait kata nya.
aku hanya ter lungkup dalam selimut, air mata yang sedari tadi mengalir menambah perih di
di dada.
aku ingin teriak se kencang-kencang nya saat ini tapi aku berusaha se kuat tenaga agar aku tak sampai bersuara.
seperti nya izal tak lagi ada di sofa dan aku memberani kan ber balik arah.
dan benar saja aku tak menemui izal.
aku bingung karna jika dia keluar kamar otomatis ada bunyi pintu.
"kemana tuh orang yah" pandangan ku terus mencari tampa ber geser dari tempat tidur ku.
hingga mata ku tertuju pada bayangan di jendela balkon.
ternyata izal berdiri di luar sana, aku yang tak ambil pusing memilih tidur dan membenar kan posisi senyaman mungkin karna dari tadi posisi ku amat gak nyaman dan bikin gerah.
tapi saat ku memejam kan mata aku ter alih kan oleh bau sesuatu yang asing di rumah ku tapi lumrah di luaran sana.
aku yang penasaran dari mana asal nya memutus kan untuk bangkit dan mencari asal nya.
yang memang fokus ku sudah tertuju ke suatu tempat ya itu balkon kamar ku tempat izal berada.
aku mengendap-endap seperti pencuri agar tak ketahuan.
dan mengintip di balik tirai jendela kamar ku.
benar saja ternyata izal sedang ber sender pada dinding balkon sambil sambul merokok.
bahkan aku temui di samping nya sebuah botol yang aku tak tau namanya karna memang aku tak pernah melihat nya.
tapi fikiran ku sudah menebak kalau itu minuman keras.
aku sedikit kaget dan tidak percaya dengan apa yang ku lihat.
bagaimana se orang izal yang ku kenal penurut bahkan tak mengenal hal seperti itu bisa menjadi yang sekarang.
dan sejak kapan dia seperti itu?, setiap pertanyaan yang ber kecamuk dalam fikiran ku.
tiba-tiba izal menoleh, untung saat itu aku keburu ber sembunyi.
aku tak lagi ambil pusing dan kembali memilih memejam kan mata walau harus di paksakan.
tersengar suara langkah kaki yang semakin mendekati ku atau hanya perasaan ku.
aku sedikit takut tapi tidak bisa membuka mata ku karna tidak ingin dia tau.
aku semakin takut saat ku rasakan ada aroma tembakau dan bau alkohol yang amat menyengat tepat berada di samping ku.
aku merasakan ada tangan yang menyentuh puncak dahi ku.
yang amat membuat detak jantung ku tidak karuan.
"good night lily.... Jangan nangis lagi, kamu jelek kalau lagi nangis hehehe" ucap izal seraya mengecup dahi ku, aku tak tau dia melakukan nya sadar atau sudfah ter pengaruh oleh minuman nya.
aku hampir sepontan menggerak kan tangan ku agar mendorong izal jauh-jauh, tapi entah kenapa kata-kata dan sentuhan izal mampu membuat ku yang kacau menjadi tenang, hingga tampa ku sadari aku terlelap dalam lembut nya belaian izal yang tak ku ketahui sampai mana dia menyentuh ku saat aku terlelap.