TWO LOVERS IN ONE HEART

TWO LOVERS IN ONE HEART
family drama



izal pun melenggang masuk ke dala kamar dan menaruh segala alat kerjanya.


dia menghempaskan tubuh nya di kamar karna amat lelah.


"hmm... kemana yah dia" gumam izal karna tak menemui selly di dalam kamar.


dia mendengar suara air mengalir dari salam kamar mandi.


"seperti nya lagi mandi" izal pun memejam mata nya dan tampa iya sadari dia pun terlelap di atas kasur dengan pakaian yang masih lengkap.


"dududu... hemmmm" selly keluar kamar mandi sambil mengering kan rambut dengan handuk.


"astaga...!!!!" aku sedikit kaget melihat seseorang di atas kamar ku, karna aku belum terbiasa dengan hadirnya izal.


"eh kunyuk!! ngapain lo di atas kasur gue minggir ih" aku menggoyangkan badan nya namun dia tak bergerak sedikit pun.


"kunyuk...!!! bangun gak atau gue seret nih" aku sangat kesal karna izal tak bangun bahkan tambah meringkuk dalam selimut.


"auk ah..." aku malas membangun kan nya.


aku melanjuat mengering kan rambut dan memakai baju tidur.


"ya elah gue kudu tidur di sofa dong ini" aku amat kesal, tapi aku juga tak bisa satu kamat dengan nya.


"hmmm ya sudah lah buat malem ini doang ya kunyuk huh" aku duduk di sofa dan memain kan laptop ku.


untuk menulis novel, yups kegiatan sampingan ku selama ini adalah membuat novel, karna hanya di atas lembaran putih ini semua harapan, cita dan keinginan bisa di hidup kan walau hanya sebatas kata tapi mampu memuaskan hati.


saat aku menulis novel ku teralih kan bunyi notifikasi chat grub.


"hemmm ada apa ini lagi rame bener" aku sambil membuka chat grub by WA.


aku pun terbawa suana nya lagi saat aku sudah lama tak lagi hadir.


banyak yang mengatakan rindu walau hanya sebatas maya.


hati masih terasa perih mana kala aku memasuki tempat dimana awal mula cerita kelam ini.


masih amat jelas sisa-sisa keberadaan nya.


aku amat menjahui hal yang bisa membuat ku teringat dengan nya lagi.


"hmmm jadi males nulis" aku melempar kan telfon ku ke sofa dan beranjak ke dapur untuk mencari cemilan.


"mana suami mu?!" saat ku di ruang tengan ku temui papa dan mamaku lagi duduk dan masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"tidur!! " jawab ku singkat karna malas meladeni pembicaraan mereka.


" gak pernah di ajarin sopan santun tuh ma orang tua ku dulu" aku berlalu ke dapur.


"dasar anak gak tau di untung!!! kita kerja begini juga buat masa depan mu!" mereka masih mengomel.


"bisa gak mah sehari aja jangan bertengkar!! anak mu itu butuh perhatian bukan materi saja, kan ayah sudah bilang mamah berenti bekerja,


papa bisa nafkahin kalian berdua" sebenar nya papa ku masih sedikit ada per hatian terhadap ku.


"enak aja yah papa mau kerja mama di rumah kek pembantu ngurus rumah ma anak, terus papa bisa se enak nya di luar rumah" mama ku memang tidak mau kalah.


"wanita itu harus nya di rumah jaga anak, ngurus rumah ma, bukan ikutan kerja!!" mereka pun masih adu argumen.


"heh wanita karir tuh hebat pa, gak gampang di tindas suami, dan mama juga gak mau yah di kurung dalam rumah terus" jawab mama gak mau kalah.


"kalian bisa gak sih gak berantem!!!" aku yang sudah muak dengan pertengakaran mereka yang setiap harinya aku dengar.


"kamu dah berani bentak mama!! di ajarin siapa kamu hah!!" teriak nya.


"astogfirulloh ada apa ini?" ibuk yang mendengar keributan langsung datang menghampiri.


aku langsung memeluk ibuk tak tahan dengan semua nya.


"ini ada apa? kenapa kalian masih saja seperti ini?"


"aku yo kesel mbak yu.. aku iki kerja juga buat senengin selly tapi dia seperti itu sikap nya" adu mama ku.


"kalian itu sebagai orang tua bagaimana sih? kalian fikir dengan materi semuanya beres?" ucap ibuk menasehati.


"bukan gitu mbak yu.. mbak juga tau semuanya butuh uang aku gini juga buat masa depan selly, dan mas terus-terusan larang aku kerja, aku kan gak mau ngelepas pekerjaan ku yang sudah ku rintis dari dulu" disini mama ku sebagai adik dari ibu izal sangat patuh dan hanya ucapan ibu yang mama dengar.


"ya kan memang bener mbak yu, wanita itu harus nya jaga rumah, jaga anak" ayah tak mau kalah


"kalian hanya mikirin pekerjaan saja? tampa mikirin anak kalian ini...!!?" sambung ibu.


"udah-udah toh buk... gak baik begini" ayah menengahi.


"kalian ini opo gak malu masih koyok bocah" semuanya hening saat ayah turun bicara.


"kenapa bu?" izal yang ikutan terbangun mendengar keributan kami.


"gak apa-apa kau bawa istri mu ke atas dulu" aku yang memang sudah menangis dari tadi di pelukan ibu.


"iya bu," aku pun di rangkul izal menuju kamar.