
aku masih sibuk mengering kan rambut ku karna memang panjang.
"kamu mau lanjut kuliah gak yank?" tanya izal tiba-tiba.
aku kemaren memang sekolah, tapi berhenti karna aku tidak ingin melanjut kan sekolah ku, karna tuntutan kerja papa ku yang mengharus Kan kami sering pindah-pindah rumah dulu.
dan otomatis akusering pindah sekolah.
"hmm entah aku gak suka sekolah" aku masih sibuk dengan rambut ku.
sebenar nya aku amat malas untuk sekolah lagi. karna jujur saja selain karna aku yang sering pindah-pindah sekolah, aku trauma karna sering di bully dulu dan itu terjadi sampai aku SMA.
karna aku orang nya tidak suka bergaul dan acuh terhadap penampilan walau pun aku dari keluarga berada, tapi aku tidak suka bersolek dan mengikuti mode modern seperti anak pada umum nya.
aku amat acuh dengan penampilan ku dan terbiasa apa ada nya.
"aku akan memasuk kan mu ke kuliah agar kamu tidak selalu di rumah, apa kamu ingin seperti ini terus" ucap izal meyakin kan ku.
"baik lah tapi jika gue gak suka, gue bakal berhenti dan tidak lagi mau mencoba yah" ucap ku.
"baik lah aku akan memilih kan mu tempat kuliah yang terbaik disini" ucap nya tersenyum.
"baik lah terserah lu aja" aku langsung bangun dan bergegas ke bawah karna aku amat lapar.
aku masih kasar dalam bicara karna sudah terbiasa di kehidupan lingkungan teman-teman ku, dan di satu sisi aku memang tidak suka sama izal jadi aku tidak bisa bicara baik sedikit pun dengan nya.
sesampai nya di bawah aku menemukan ibu kedua ku sekaligus mertuaku lagi menyiap kan sarapan yang di bantu bibi.
"pagi ibuk" aku memeluk ibu kedua ku ini karna jujur aku masih amat rindu dengan nya.
"pagi sayang..., kemana suami mu?"
"dia masih ngurusin kerjaan nya buk mungkin karna kemaren-kemaren dia gak masuk dan sibuk sama acara pernikahan, jadi pekerjaan nya numpuk" alasan ku karna aku tau kalau aku tidur pisah sama izal dia pasti mengomeli ku sepanjang hari.
"mama dan papa mu sudah pergi dari tadi pagi" ucap ibuk izal.
"iya gak apa buk, selly biasa juga di giniin" aku tak lagi perduli kemana orang tua ku itu pergi.
karna aku sudah terbiasa hidup sendiri tanpa sosok orang tua.
"sudah tidak usah di pikirin sekarang kamu ada izal yang menemani mu, menjaga mu, dan melindungi mu saat ini" dia memeluk ku.
aku melihat dia menetes kan air mata dan menyembunyi kan dari ku.
semiris ini kah hidup ku hingga orang lain saja sedih melihat ku.
"sudah makan kamu dulu, ibuk panggilin ayah izal dulu"
"ya ampun ayah disini!!!" aku melupakan sosok pengganti ayah bagi ku itu.
karna pas di nikahan ku aku tidur karna rasa syok ku dan bangun pas sudah orang-orang tak ada.
"ayah dimana buk? biar selly yang panggilin" antusias ku.
"itu di teras depan dia lagi duduk baca koran"
aku langsung berlari manghampiri nya.
"ehh kenapa? pagi-pagi kok nangis toh ndok..ntar ilang cantik'e" ucap nya.
"ayang gimana sih kok bawa ibuk jauh dari selly...ayah jahat!!" kesal ku di tengah tangisan.
"loh kan ayah di tuntut kerjaan toh ndok...! udah ojok nangis-nangis"
"drama pagi-pagi" ucap izal tiba-tiba dia sudah siap dengan jas abu-abu dan tas hitam di tangan nya.
"mau kemana lu, ... eh hehehe maksud nya kamu yank?" aku lupa disini ada ayah kalau dia tau aku gak baik sama izal dia bakalan sedih.
"kerja lah yank kan udah siang ini" ucap nya nyengir karna senang melihat ku bersikap baik saat ada ayah nya, dan dia mengambil keuntungan dari itu.
"gak makan dulu?" tanya ku lagi sebenar nya malas nanya-nanya gitu tapi aku gak mau ayah tau aku tidak suka dengan pernikahan ini.
"tidak, .. aku nanti makan di kator ini banyak kerjaan, kalau kamu main entar ke kantor aja yank, sekalian bawain aku makanan" sambil memain-main kan alis nya menggoda ku.
"untung ada ayah kalau nggak huhhh!!!" aku amat kesal dan ingin sekali mengatai nya tapi aku tidak berani karna ada ayah.
" gak deh yank hehehe aku nanti mau di rumah aja temenin ibuk" aku beralasan.
"ya udah tidak apa-apa aku pamit kerja dulu yank" ucap nya lalu mengulur kan tangan nya pada ku.
aku terpaksa meraih tangan nya dan mencium punggung tangan nya.
"awas aja kau cunguk ntar malam" ucap ku pelan di telinga nya.
"huuuu takut...... tapi aku rela kok kalau kamu yang apa-apain aku yank" dia balik berbisik dan tersenyum riang.
"ya udah tah aku pamit dulu" dia pun pamit pada ayah dan pergi dengan supir pribadi nya.
aku yang amat kesal di buat nya hanya mampu mengumpat dalam hati.
"kalian kok masih disini ayuk makan" ibuk menyuruh kami sarapan pagi.
"iya buk" ucap ku masuk sambil merangkul lengan ayah.
lengan yang sudah tak sekuat dulu.
dan kulit nya mulai berkerut.
masih teringat jelas dia lah yang menggendong ku saat aku menangis.
di punggung yang sudah bungkuk aku dulu nya duduk di sana tertawa ria melupakan segala nya.
aku sangat sedih meliahat mereka sudah tua tapi aku belum bisa membuat mereka bahagia.
makanya aku berusaha sekuat mungkin bahagia dengan izal agar mereka juga bahagia.
walau aku tak tau sampai kepura-puraan ini bertahan.
entah lah aku tak ingin melihat mereka kecewa terhadap ku.
aku rela seperti ini terus asal mereka bahagia.