
Tapi karena Una memiliki insting dan pendengaran yang kuat. Una dapat menangkis serangan itu Dia dengan cepat menarik perut Ryan dan menjadikannya sasaran tembakan Shakila yang baru.
Dorrrr! Peluru yang dilontarkan itu kini mengenal perut Ryan. "Uhukk--"Kata Ryan kesakitan. "Maafkan aku Ryan. Tapi aku tak mau jadi sasaran cewek brengsek itu." Kata Una dengan dingin dan mata yang mengancam ingin gelud dengan Shakila walau pun setiap kali mereka gelud pasti Shakila lah yang menang.
Ryan pun kehilangan kesadaran ditempat. Walau pun Una sempat marah dengan Shakila namun kini dia tak kuasa menahan air matanya. Shakila yang melihat penampakan itu langsung menghampirt Una dan memeluknya erat.
Dia takut kalau bestie nya akan menjadi sesuatu yang tak pernah diketahui oleh orang lain. Sesuatu yang sangat menakutkan. "Tak apa. Aku disini. Maafkan aku karena aku tak bisa mengerti perasaanmu waktu itu." Kata Shakila.
Una balas berkata. "Aku minta maaf karena tak memberitaukan misi ini kepadamu." Shakila heran dan melepaskan pelukannya. "Misi? Misi apa? Kenapa kau tidak mau memberi tauku?" Kata Shakila.
"Aku diberi tugas untuk membunuh Ryan dan Rei. Aku tak mau kau sakit hati karena aku akan membunuh pacarmu. Itu sebabnya aku tidak memberi tau siapapun." Kata Una.
Shakila terlihat sedikit sedih. "Kalau memang itu tugas organisasi aku tak ada masalah. Namun yang paling parah dia membunuhi kakakmu! Kei! Tidak kusangka dia akan melakukan itu. Walaupun, ya Mungkin aku menyukainya sedikit tapi tetap saja. Kita akan selasaikan misi ini bersama sama." Kata Shakila.
"Kau serius? Tapi Ryan itu pacarmu Apakah kau tak keberatan?" Kata Una tidak percaya. "Kau lebih penting bagiku. Dia adalah orang baru bagiku. Sedangkan kau, kau sudah bersamaku sejak lama! Dan kau selalu ada saat aku senang dan sedih. Jadi kenapa aku tidak membunuhnya hanya karena aku suka padanya? Dan yang memintanya adalah orang paling penting bagiku." Kata Shakila.
"Omong omong memangnya tidak apa kita tinggalkan dia disini? Dan kenapa kau menembakku hah!? Kata Una. "Itu tadi hanya gertakan. Salahmu sendiri tak mendengarkanku saat aku bicara padamu. Dan lagi pula, kalau seseorang akan menembakmu, bukankah itu harus menggunakan tank? Peluru seperti ini takkan mungkin mempan ditubuhmu." Kata Shakila.
Una mencibir. "Tapi apakah tak apa kita tinggalkan dia?" Kata Una. "Tak apa." Kata Shakila. "Kita sekarang harus fokus untuk mencari Rei." Kata Shakila lagi kali ini agak serius.
Una tau bahwa bestienya akan sedikit kecewa. Tapi ia juga tau bahwa satu menit lagi Shakila akan melupakan Rei karena dia mudah bosan pada seseorang. Mereka mulai memasuki wilayah gang sepi.
Saat mereka masuk ke gang sepi tiba tiba ada anak panah yang melesat kearah Una. Dengan gercep Shakila menghentikan waktu. Dia mengambil panah yang berada tepat menuju punggung. Una Belum sempat Shakila melihatnya. Una segera menyambar anak panah itu.
"Ini anak panah yang sangat tajam!" Kata Una melihat pucuknya. Dengan kuat Una menusukkan anak panah itu ketanah. Lima per enam bagian masuk kedalam tanah. "Wau ini luar biasa! Sangat cocok untuk dijadikan senjata baru! Apa kau lihat betapa kuat benda ini?" Kata Una antusias untuk membedahnya.
Shakila menepuk jidatnya. "Kau punya banyak waktu untuk mengembangkan anak panah ini. Tapi kita tidak punya banyak waktu untuk membunuh orang itu." Kata Shakila sambil menunjuk sesuatu. Seorang cowok dengan busur yang masih ada ditangannya yang mencoba membunuh Una kini membeku karena terhenti oleh waktu. Itu Rei! Mereka berdua mendekati Rei dan....