Two Friends Reality

Two Friends Reality
Bab 2



Lubna mengambil kedua pistol yang berada di kedua sakunya. la menarik pelatuk pelatuknya lalu berkata. "Cek dulu ya?" Shakila pun menjawab. "Oke." Dia pun mengangkat satu tangan nya lalu kemudian menjentikkan jarinya.


Seketika itu waktu Kembali berjalan. Lima detik setelah waktu berjalan, pintu bergeming. Para makhluk luar angkasa itu membobol pintu masuk.


Lubna tersenyum sinis. Dihadapannya sekarang terdapat ratusan para makhluk luar angkasa.


Di barisan paling depan, berdiri makhluk luar angkasa yang di satu tangan nya memegang sebuah tongkat. Dia berbentuk bundar. Dia atas kepalanya terdapat sebuah mahkota.


Una dan Shakila sama-sama terkejut. Mereka pikir makhluk luar angkasa yang dilawannya akan lebih kuat Una meledek "Ternyata pemimpinnya burik! Wkwkwkw." Shakila pun menimpali "Kayak yang ngomong." Una pun melirik kearah Shakila. "Oh ya??" Shakila tersenyum agak panik.


Una pun mulai menyerang makhluk luar angkasa itu. Dengan kecepatan dan gerakannya yang lincah, Una berhasil menghindari serangan makhluk luar angkasa itu dengan mudah. Dia pun tersenyum sinis. "Pemimpin nya yang burik yang terahkir!" Katanya.


Shakila pun bangkit dari kursinya lalu ikut menyerang. Gerakannya sangat gesit dan cepat. Dalam waktu kurang lebih sepuluh detik, dia berhasil mengalahkan lima puluh makhluk luar angkasa. "Bagi dikit lah Na, pelit amat!" Kata Shakila sambil menggeram.


"Kalau mau begitu harusnya kamu dari tadi ikut lawan. Nungguin kamu bisa-bisa kita mati!" Protes Una tak mau kalah. Dia kemudian menjentikkan jarinya ke kepala Shakila.


"Aduh!" Rengek Shakila saat dijitak oleh Una sambil memegang dahinya. Kini dia hanya berlari sambil menganyunkan pedangnya ke samping kanan dan kiri hingga memenggal kepala ratusan makhluk burik itu.


"Belagu-belagu gini ada prestasi dek!!" Ledek Shakila lagi tak mau kalah. Mereka akhirnya saling menyindir satu sama lain hingga Una lupa bahwa dia telah memasang bom disitu.


'Tit, tit, tit' Shakila mendengar suara aneh. "Una suara apa itu??" Tanya Shakila polos. "Oh itu... Itu bom." Jawab Una dengan santai. "Gila kau Na?? Masang bom gak bilang bilang!" Kata Shakila menggeram. "Sorry. Lupa hehe. Sudah, mending kau tolong aku dengan pedangmu itu!" Kata Una.


Shakila pun menyerahkan pedangnya. Shakila bertanya pada Una. "Emangnya buat ap-" Duarrrrrrr!!!!! Belum juga Shakila melanjutkan kata katanya gedung itu meledak.


Semua yang ada di gedung itu sudah hancur beserta penghuninya. Hanya mereka yang selamat karena Shakila menggunakan pedangnya untuk melindungi mereka berdua."Una!" Geram Shakila.


Una hanya bisa meringis memandang bestie nya "Sorry... Lupa aku. Beneran!" Katanya menyesal.


Shakila memberengut. "Sudahlah... Misi kita untuk meretas computer sudah selesai, dan kita sendiri juga tidak apa-apa. Pasti organisasi juga akan senang dengan misi kita yang berjalan dengan mulus. Ayo kita segera laporkan!" Kata Una yang sudah berlari keluar dari reruntuhan.


Shakila mengejar Una yang sudah berlari. "Una, tunggu woiii!" Katanya. Tapi, tepat saat Una berlari keluar dari reruntuhan, terlihat samar-samar sebuah pelindung yang menutupi area reruntuhan.


Shakila yang melihat hal itu merasa aneh. Dia kemudian menyadari bahwa itu adalah jebakan. Dia pun mencoba memperingatkan Una. "Woii... Una, tunggu!" Katanya. Namun sudah terlambat. Una yang sudah menyentuh pelindung itu seketika tersetrum. "Ahhhhh!!!" Katanya. Dia kemudian jatuh ketanah "Tidak! Una!!!!!"