
Gelap Tentu saja gelap. Apakah aku akan menemui ajalku?? Akankah aku bertemu malaikat maut?
Tapi di tengah-tengah pikiran absurd ku, aku terbangun karena ada yang melemparkan pedang kearah ku. Kurang setengah meter lagi pedang itu akan menusuk ke jantung ku. Aku pun tebangun, lalu menoleh ke arah kiriku.
Lalu terlihat seorang cowok. Dia cool tapi cute, lalu dia yang mula-mula tidur kemudian berdiri
menghadapku. Dia tersenyum sinis. Kemudian dia menendangku pelan "Oh, dah bangun kau?"
Aku pun tersadar dari imajinasiku "Ternyata kaul? Kupikir ada cogan kampfreet!!! Una mendesah.
"Se ganteng itukah aku di matamu?? Wkwkwkw..." Shakila berusaha menahan tawanya. "Mimpiku ketemu cogan pupus sudah. Malah ketemu orang gak genah." Kata Una.
"Ihh.... Jahat bestie ku! Dah lah, males aku ngomong sama kamu. Gimana kalau sekarang kita fokus aja untuk mencari jalan keluar??" Kata Shakila mulai berbicara serius.
"Hah? Gimana? Bukannya kita dah keluar?" Una bertanya dengan polosnya. "Keluar matamu! Kau aja kesetrum sampek pingsan! Mau keluar dari mana??" Shakila berkata sambil marah.
"Ya sorry, kan aku gak tau. Ada ide gak kamu, biar kita bisa keluar dari sini?" Shakila berpikir sejenak.
"Ada sih Tapi agak-"Una menyela. "Ya, aku tau kalo kamu ngide itu pasti agak edan! Makannya aku tuh nanya kamu dengan penuh pertimbangan panjang kali lebar kali tinggi. Alesannya..... Ya karena aku lagi males mikir. Hehe."
Shakila pun menjelaskan rencana mereka "Ya kan, mesti kalo kamu yang bikin rencana itu agak edan dikit! Tapi kalo ini namanya edan beneran woiiiii! Oke, jadi kita pasangi pelindung pake bom biar duarrrrr gitu, kan??" Tanya Una. Shakila mengiyakan.
"Kalo untuk bom nya aku mungut dari para makhluk luar angkasa. Gak tau sih buat apa. Mungkin buat membantu kita keluar dari reruntuhan ini? Hehehe. Kata Shakila.
"Turuuuuu!!! Terus kamu minta di tempeleng ya? Ayo bantu aku. Mata mu kalau bisa di copot sini kucopot aku cuma butuh matamu bukan jiwa mu." Sindir Shakila.
"Mata ku gak akan berguna kalau aku tidak berjiwa. Masak gitu aja gak tahu!" Sindir Una balik.
Shakila hanya menganga. Mereka pun langsung mencari bom bom yang tersisa di reruntuhan. Setelah terpasang mereka langsung meledak kan nya. DUAR! Lalu meledaklah bom nya.
"Akhir nya keluar juga!" Tawa Una. Setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya mereka sampai di markas organisasi.
"Akhir nya kalian pulang aku mulai khawatir kalian mati" Ucap ketua. "Aman aman" Ucap Shakila. "Jadi apa hadiah yang sudah anda janjikan bos?" Tanya Una menyelidik.
"Oh iya. Awas sampai jelek, kami hampir mati ter bom." Ancam Shakila. "Kalo jelek ku potong leher mu!" Ancam Una juga.
"Tenang para cowok hadiah nya adalah..... Sebuah mobil sport warna hitam yang di hadiah kan dari istri presidan karena beliau menyukai cewek tomboy yang keren banget kayak kalian. Sampai sampai gak ada cowok yang berani natap kalian Ihoh" Kata ketua.
Shakila menatap nya dengan sinis. "Ngomong lagi ku potong lehermu disini sekarang." Mereka pun menuju mobil nya. Gak ada gaji tambahan?" Sindir Una. "Sudah dikasih gaji 5M di tambah mobil sport Ihoh. Itu sudah sangat Haqiqi!"
Mereka akhirnya berjalan jalan dengan mobil nya (Shakila yang nyetir Una yang ketar ketir) Saat itu ada yang menantang Shakila balapan. " Woi, balapan yokkk. Kalo gak takut kamu!!!" Kata orang yang menantang Shakila balapan. "Siapa takut!!!" Kata Shakila.
Shakila menginjak pedal gas, lalu melesat dalam balapan. " Shakila, kau gila ya! Aku bisa mati. Kalau mau mati jangan ngajak orang! Dosamu nanti tambah banyak lohhh!" Tiba tiba....