
Setelah mereka menghabisi Rei dan Ryan, Una dan Shakila pulang kerumah untuk istirahat sejenak. Sebenarnya bukan istirahat sejenak namun bekerja sejenak.
Una mengembangkan panah milik Rei, sedangkan Shakila meretas data organisasi Waldstroad karena melakukan banyak pembunuhan maupun pelecehan terhadap ratusan orang di dunia. Itu misi tersendiri untuk Shakila.
"Yei! Selesai juga akhirnya!" Kata Una ceria. "Shak, tau gak?" Kata Una. "Ya kagak lah! Kau aja belom cerita. Gimana mau tau!" Kata Shakila ketus karena merasa terganggu.
"Jadi, panah ini sudah kutingkatkan kekuatannya menjadi dua puluh kali lipat dari sebelumnya. Panah ini juga sangat ringan dan beratnya sudah kusesuaikan sehingga hanya mempunyai berat setengah gram. Panah ini juga sangat fleksibel dan bisa kita tekuk. Jadi kalau mau dibawa disaku tinggal tekuk kayak gini." Kata Una sambil menekuk panahnya jadi enam bagian dan memasukkan kedalam sakunya.
"Bagus kan?" Katanya bangga. "Hmm..." Jawab Shakila. Mereka kembali bekerja ketempat masing masing. Lima menit kemudian, ada yang menelepon Shakila.
Dia awalnya tak mau mengangkatnya tapi setelah melihat bahwa yang meneleponnya adalah Ravael, anak motor dari geng nya, dia langsung mengangkatnya. "Ngapa sih!?" Kata Shakila.
"Gawat Shak. Anak geng motor yang ketuanya Vero itu nantang kita balapan. tapi katanya ketuanya yang harus balapan ama dia. Kalau gak geng kita harus ngaku kalah." Kata Ravael.
Shakila yang mula mula kesal karena ditelepon Ravael ditengah tugasnya menjadi hacker, kini tambah marah karena masalah geng motor nya. Puncak kemarahan Shakila sudah berada di dasar laut.
"Ku kesana sekarang." Kata Shakila mamatikan telepon. "Sialan tuh Vero!" Kata Shakila buru buru mengambil kunci motornya dan bergegas keluar. "Mau kemana Shak!?" Kata Una.
Shakila berkendara dengan kecepatan 200 KM/Jam karena jarak lombanya yang cukup jauh. Una yang dibelakang segera mabuk berat. "Shak pelan pelan!!!" Kata Una teriak.
Namun Shakila tak merespon dan terus menaikkan kecepatan. Sesampainya disana, Una segera turun membiarkan urusan Shakila. "Wihh, cewek cantik nih. Sekarang kek nya aku gak mau uang deh. Kalau aku menang dia jadi pacarku." Kata Vero menunjuk Shakila.
Dia kemudian hendak menyentuh dagu Shakila. Shakila menendang kaki kanannya keatas sangat lurus hingga membuat tangan Vero tertendang sangat kuat. "Jangan kasar kasar donk!" Kata Vero sambil meringis.
Shakila tersenyum devil. "Kalau aku yang menang, kau akan jadi pemuasku." Kata Shakila. "Hah!? Maksudnya!?" Kata Vero kaget. Dia tak menyangka kalau itu akan keluar dari mulut Shakila.
"Kelamaan! Mulai balapannya sekarang!" Kata Shakila. Balapan pun dimulai. Shakila melaju dengan kecepatan 273 KM/Jam sedangkan Vero 135 KM/Jam. "Buset! Tuh cewek apaan! Cepet banget!" Kata Vero kaget.
Shakila terus melesat, dan tau tau melewati garis finis. "Habis ini aku minta kau kerumahku." Kata Shakila. Vero masih tak percaya dia kalah. Selama ini dia tak pernah dikalahkan oleh siapa pun.
Namun kini, dia dikalahkan oleh seseorang. Lebih buruknya lagi, itu seorang cewek! Una hanya bisa geleng geleng kelapa karena Shakila. Memang sudah biasa dia meminta hal itu, namun aura nya kali ini berkata aku akan malahapmu. Pikir Una.
Shakila melemparkan alamat rumahnya pada Vero. "Ingat, kau akan jadi pemuasku. Bersiap-siaplah." Kata Shakila tersenyum. Dia kemudian pergi bersama dengan Una.