
"Apal? Kita bahkan baru balik tadi pukul lima. Lalu pukul tujuh malam sudah diberi misi lagi?"Kata Shakila marah. "Maaf tapi kami mau tidur. Kami gak mau menjalankan misi dulu Mungkin besok." Kata Una menambahkan.
Shakila mengangguk angguk menyetujui Una. Lalu ketua berkata. "Tapi-" Dia sudah tidak didengarkan lagi. Una dan Shakila sudah beranjak pergi.
Ketua pun berkata lagi. "Tapi ini misi yang sangat penting. Dan hanya bisa dilakukan oleh kalian! Dan..." Tapi Una dan Shakila menghiraukannya. Mereka terus berjalan maju.
Dia pun berkata dengan agak marah. "Dan bayaran untuk misi ini 1T!" Shakila dan Una bebalik bersamaan. "Sa-satu T!? Kata Shakila. Ketua mengangguk-angguk.
Una berkata. "Ceritakan pada kami lalu kami akan melakukan apapun sesuai perintahmu." Ketua mendesah. "Denger gift 1T berubah sudah pikiran kalian." Una dan Shakila meringis.
Ketua pun menjelaskan tentang misi mereka. "Kalian tahu kan, sekelompok preman yang sudah membunuh ratusan warga di gang sepi?" Una dan Shakila mengangguk.
Ketua melanjutkan. "Retas semua informasi yang mereka punya lalu kirimkan padaku. Shakila berkata "Owh. Gitu doank? Gak sekalian dibasmi?" Ketua menjawab dengan ketar ketir. "Kagak weh! Nanti bisa-bisa mereka matinya sangat haqiqi!"
Shakila berkata sambil memainkan pisau ditangannya. "Owh. Kirain." Dia mulai beranjak pergi diikuti oleh Una. Mereka pun menuju gang sepi ditengah kota tempat dimana preman preman itu muncul.
Dia menghentikan mobil Sport nya sembarangan lalu berjalan dengan Una. Mata Una mendeteksi sesuatu. "Shak." Katanya menyelidik. "Aku tau." Balas Shakila dengan serius. Tiba tiba ada yang meninju Shakila dari belakang.
Dengan gesit Shakila menangkap tangannya lalu membantingnya ke tong sampah. Tak lama kemudian, sebuah mobil pick up dengan puluhan preman berhenti tepat dihadapan kedua bestie itu.
Una merogoh sakunya dan mengeluarkan pistol "Yoss! Mulai nihh!" Katanya mulai menembaki preman preman yang menyerang mereka.
Shakila bersalto beberapa kali kearah mobil pick up tersebut. Kemudian dia mendarat berjongkok di pinggir bak mobil pick up tersebut. Dia pun menodongkan golok kearah preman tersebut dan berkata.
"Mau kemana hmm?" Jiwa psikopatnya mulai muncul. Preman itu berkata sambil gelagapan. "Am-ampuni aku, kumohon!" Shakila yang matanya sempat bentrok dengan Una berkata.
"Hmm. Gimana ya?" Preman itu masih bergetar lemas. Shakila pun meneruskan kata-katanya. "Gini aja dehh, antarkan kami kemarkasmu, lalu kami akan mengampuni nyawamu. Preman itu mengangguk lemas.
Una melemparkan pistol kearah Shakila. Shakila menangkapnya kemudian membuang goloknya kebawah. Dia pun turun dari pinggir mobil pick up lalu menuntun preman itu ke kursi kemudi.
Mereka sudah berada dalam mobil pick up. Shakila menodongkan pistol kedahi preman itu lalu berkata. "Sebaiknya kau tidak berbohong pada kami atau kau akan tau akibatnya." Preman itu pun mengantarkan Shakila dan Una kemarkasnya.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, mereka akhirmya sampai. Ketiganya turun dari mobil. Preman itu bernapas lega setelah Una dan Shakila menjauh.
Tiba-tiba sebuah peluru mengenai jantung preman itu. Shakila meniup pistolnya yang habis dia gunakan untuk menembak preman tersebut. Preman itu berkata sambil sekarat.
"Tapi kau bilang kau akan melepaskanku? Ini tidak adil!" Una berkata. "Emangnya kalau kamu kita lepaskan kamu gak akan membocorkan informasi huh?" Sekarang mereka berada dimarkas preman itu.
Mereka pun Bersiap menjalankan misi untuk meretas semua sistem yang ada di dalam lalu mengirimkannya ke markas mereka.