Two Friends Reality

Two Friends Reality
Bab 4



Saat mereka sedang balapan tiba-tiba mobil yang mengajak Shakila balapan menabrak bang listrik di gang sepi.


Shakila pun menghentikan mobilnya. Una buru buru keluar dari mobil dan bernafas lega. Shakila menghampiri cowok tersebut.


Shakila pun berkata. "Kalau gini caranya aku yang menang. Dan dari awal juga kau dah ketinggalan jauh dibelakangku." Shakila menyadari bahwa muka cowok itu familiar.


Cowok itu berkata. "Yah kuakui aku kalah. Tapi jangan bilang bilang ayahku ya. Kamu tau kan, aku itu anak presiden negara ini?" Ucap cowok itu sambil pamer.


Rupanya dia itu anak presiden, dia bernama Vino Hibrireandifakujamarif Wahab. Biasanya dia dipanggil Vino.


Shakila pun tau siapa dia. Dalam hati, Shakila berkata. 'Cocok nih nambah penghasilan' Lalu Shakila berkata pada Vino. "Oh, pantas saja." Vino itu bertanya "Pantas apa?"


Shakila mulai mendekat beberapa langkah lalu memojokkan Vino ketembok. Dia mulai berkata sambil menyentuh pipi Vino dengan lembut. "Pantas saja. Kerena anak presiden kau setampan ini." Kata Shakila tersenyum.


Vino salting bukan main. "Ma ma-makasih." Katanya terbata bata.


Shakila berkata lagi. "Kau kan orang kaya mungkin kau punya uang untukku dan sahabatku, mungkin sekitar 20M untukku dan sahabatku?" Kata Shakila sambil mengelus pipinya lembut.


Cowok itu berkata. "Ka-kalau itu-" Shakila menyela ucapan cowok itu. "Kau tak punya uang itu?" Kata Shakila berpura pura memelas "Ten-tentu saja aku punya untukmu." Vino kemudian memberikan kartu Black Kard pada Shakila.


Shakila menerima kartu itu dengan senang hati. Shakila mundur dua langkah lalu berkata. "Makasih cowok ganteng. Kapan kapan lagi ya." Shakila kemudian membalikkan badan dan bergegas menemui Una yang berada di dekat mobil Sport mereka.


Mereka pun pergi menuju markas mereka "Hmm Seleramu gak buruk juga ya?" Kata Una "Gak sih aku gak suka sama dia. Aku cuma mau ambil ini." kata Shakila sambil mengayun ayunkan Black Kard miliknya.


Masih santai Una hanya menjawab. "Owh." Mereka hanya diam sepanjang perjalanan.


"Gimana kabar ayangmu?" Kata Shakila "Hmmm... Gak baik." Jawab Una cemberut. "Oh... Masih koma ya?" Tanya Shakila agak prihatin. "Ya Begitulah."Kata Una.


Ya. Una punya seseorang yang dia sukai, tapi entah kenapa dia tiba tiba koma. Una sangat menyukai ke cool lan cowok itu. Itulah kenapa ia menyukainya.


Shakila berkata "Kalau gitu, kapan kapan kita penggal kepalanya ya karena udah buat kamu sedih kek begini." Una kaget. "Ya janganlah! Omong-omong makasih dah mencoba menghibur." Jawab Una tersenyum.


Shakila pun berkata lagi. "Kasian bestie ku tidak pernah menggoda cowok. Cobalah itu sangat menyenangkan. Apalagi kita bisa dapet cuan yang banyak. Wkwkwkw..."


Una pun berkata. "Kapan- kapan aja deh kalau misalnya aku ketemu sama dokter cool." Tawa Una. "Gak genah kau." Ucap Shakila juga tertawa.


Una merasa dirinya sangat beruntung karena punya sahabat yang baik seperti Shakila. Ya, walau pun terkadang agak edan, tapi tetap saja jarang ada orang yang mau menghiburnya.


Una pun berkata. "Hei Kil." Shakila menjawab. "Hmm." Una meneruskan kata katanya. "Makasih yak kamu selalu menolongku dalam masalah. Yah, walaupun masalah itu kebanyakan yang buat kamu." Shakila menjawab. "Sama sama."


Tak terasa mereka sudah sampai di markas mereka. Disana, mereka diberikan sebuah misi penting...