Twin Boys

Twin Boys
#8



Gimana?


Masih ada yang mau baca ceritaku?


(ㄒoㄒ)?


Tuliskan respon kalian di kolom komemtar dong...


Kalo ga pliss tinggalin jejak bintang di bawah...


Happy Reading....


.


.


.


.


.


Waktu mereka di SMA terus berjalan.


Kehidupan Klara disini semakin membaik, perlahan dia melupakan masa-masa pahitnya di sekolah yang dulu.


Sekarang hari-harinya disekolah dipenuhi tawa dan kebersamaan dengan teman-temannya.


Walau begitu, cintanya pada Ardan sampai saat ini belum terbalaskan, yang ada Ardan semakin membenci sosok Klara.


Hari-hari Klara selalu berbuat baik pada Ardan namun dia tetap tidak peduli dan berusaha menjauhi gadis itu. Cintanya benar-benar bertepuk sebelah tangan, anehnya Klara tetap bertahan dengan itu.


Klara yang bodoh...


Sampai pada suatu hari, sekolah mengumumkan hasil ulangan semester genap. Terlihat setiap kelas menerima hasil ulangan semua mapel. Klara yang menerima hasil ulangannya hanya tersenyum bahagia.


“Ahh nilai gue ko pas-passan banget si, Wih! Gila ini nilai lo semua Ra?” cletuk Nisa yang tiba-tiba melirik hasil ulangan Klara karena penasaran.


“Eh? Iya nih gue bersyukur banget hehe” ujar Klara yang tiba-tiba merasa tidak enak karena nilainya hampir mendekati sempurna. Semua mapel ia mendapat nilai sempurna hanya saja pada mapel bahasa Inggris nilainya 75.


“Lah? Yang lain 100 ko ini dapet 75?” tanya Nisa heran karena melihat nilai Klara.


“Ehehe sebenernya gue paling benci mapel bahasa Ingris, ga tau kenapa dari dulu gitu dan gue susah banget mahaminnya hehe” jawab Klara cengengesan. Ditambah saat itu juga Rosa berbalik dan menanyakan hal yang sama seperti Nisa.


Tak lama kemudian wali kelas mereka masuk dan mengumumkan ranking mereka. Dia sengaja mengumumkan rangkinya dari bawah ke atas.


“Oke, bapa akan mengumumkan nilai anak-anak yang masuk sepuluh besar, mulai dari 10. Silvi Angraeni, 9. Adanta dwi Purnomo, 8. Siptia Ningsih, 7. Muhammad Rian, 6. Nisa larasati, 5. Leo Ardiansyah, 4. Sinta Kristiani, 3. Widya Astriani, 2. Klara Puspita Ayu, dan selamat pada yang mendapat peringkat satu yakni Ardan Dwi Mahendra” ujar pak Joko tersenyum disambut para murid yang bertepuk tangan.


“Ra? Lo rangking dua, gila gue ikut seneng nih” cletuk Nisa tiba-tiba.


“Iya Ra, diem-diem lo pinter yah. Pantes tugas yang gue turun betul semua hehe” kara Rosa yang tiba-tiba berbalik.


“Temen siapa dulu guee..” pekik Nisa tersenyum bangga. Mendengar semua ini Klara hanya tersenyum gugup dan merasa tak enak pada teman-temannya.


“Bukan gue yang pinter, tapi pangeran gue. Dia rangking satu loh? Wahh senangnya” dalam hati Klara yang masih mengagumi sosok Ardan, yang sekarang menjadi trending topik para gadis karena ketampanan dan kepintaranya.


Sosok Ardan saat ini banyak dipuji dan dilirik para gadis, apalagi jika Ardan sedang bermain sepak bola, para gadis akan langsung bersorak ria mendukungnya. Berkat itu semua, dia menjadi pemuda populer di sekolah itu.


Sadar dengan ini nyali Klara untuk mendapatkannya semakin besar, dia terus berusaha dengan berbagai hal demi medapatkan hati seorang Ardan.


Hal ini terus berlanjut sampai mereka semua naik ke kelas dua.


Di kelas 11B.MIPA


Beruntungnya Klara satu kelas lagi dengan si Ardan, namun ia berpisah dengan teman sebangkunya yaitu Nisa dia masih berada di kelas 11A.MIPA. Hal ini berlaku disetiap kenaikan kelas, perkelas diacak kembali. Bukan karena nilai, namun benar-benar diacak secara adil agar para murid yang kurang bersosialisasi dapat mengenal luas dunia mereka.


“Klaraa! Sini duduk sama gue” cletuk Cika si enerjik yang tengah duduk di barisan tengah.


“Wahh” sedang Klara langsung berlari menghampirinya, sepintas ia melirik Ardan yang tengah duduk jauh di pojok belakang.


“Yahh ko duduknya jauhan sih?” dalam hati Klara merasa kecewa karena bangku mereka tak berdekatan.


Terlihat seorang pemuda yang duduk di bangku pinggir jendela tengah memperhatikan Klara diam-diam. Mungkin Klara merasa seperti ada yang memperhatikan, iapun melihat ke arah pemuda yang duduk bangku pinggir jendela itu.


Srashhh..


Saat Klara menoleh ingin melihat sosok pemuda itu tiba-tiba saja angin berhembus menerbangkan gorden disana, alhasil wajah pemuda itu tertutup olehnya.


“Aihh siapa si? bikin penasaran” ujar Klara dalam hati, seketika ia akan menoleh lagi guru langsung masuk alhasil Klara tak sempat melihat pemuda itu.


“Heh? Ilang? Dia setan yak?” cletuknya tanpa sadar dan didengar oleh Cika, karena dia teman sebangkunya sekarang.


“Hah setan? Mana?” pekik Cika heran.


“Ahh bukan-bukan, tadi pikiran gue lagi gak fokus gara-gara nonton flm horor semalem hehe”


“Ishh kirain apaan, oh iya keknya kalian emang jodoh deh. Buktinya lo sekarang satu kelas lagi sama si Ardan”


“Yah tapi dia duduk jauh di belakang”


“Eyy gapapa, emang lo mau nyerah sama usaha lo dari pertama dulu?”


“Engga dong, gue masih konsisten. Tapi keknya gada harapan deh”


“Heh kenapa?”


“Yah akhir-akhir ini sikapnya mulai ga asik, kalo masih dingin si gue maklumin tapi sekarang omongannya jadi pedes banget, bikin gue mau nangis aja” ujar Klara tiba-tiba matanya berlinang karena usahanya mendekati sosok Ardan selama ini sia-sia yang ada Ardan malah semakin benci padanya.


“Auhh cup..cupp cup.. gue dukung lo semangat, dulu gue juga ngejar-ngejar pacar gue lama-lama dia luluh juga. Buktinya gue udah pacaran sama dia semenjak smp hehe keren kan gue” kata Cika berusaha menghibur sahabatnya berdasarkan pengalaman hidupnya.


“Wahh lama banget dong, kerennn” ujar Klara tiba-tiba tersenyum dan merasa masih ada harapan.


Jam pulang Klara dengan tenangnya berjalan melewati koridor mencari sosok Ardan. Ditentengnya sebuah coklat dengan pita biru.


“Oke gue putusin bakal nembak dia sekarang, setelah setaun ngejar-ngejar dia tanpa kepastian. Apapun jawabannya nanti, gue ga peduli entah diterima ato ditolak, gue bakal trima apa adanya. Kumohon kali ini aja pangeranku Ardan mau nrima gue apa adanya” dalam hati Klara membara api semangat.


“Ardan! Tunggu..” melihatnya tengah berjalan di taman sekolah Klara langsung berlari dan memanggilnya. Mendengar ini Ardan membalikan badannya melihat sosok gadis mungil tengah berlari menghampirinya.


“Apaan” jawab Ardan cuek, sedang Klara tersenyum dengan pipi yang bersemu merah jambu karena malu ditambah jantungnya sekarang bergegup sangat kencang.


“Nih.. Ardan lo tau kan kalo selama ini gue suka sama lo, jadi gue mau denger respon dari lo gimana..” diserahkannya coklat itu pada Ardan dengan wajah tertunduk karena malu. Melihat ini Ardan mengambil coklat itu dengan kasar tanpa ekspresi.


“Ni anak oon yah, ck” dalam hati Ardan.


“Gue mohon pliss...” dalam hati Klara berharap besar pada Ardan.


“Heh! Lo sadar apa yang gue lakuin ke lo selama ini? gue tau lo suka sama gue dan itu bikin gue risih! apalagi banyak anak-anak yang tau kalo lo berusaha ngejar-ngejar gue dan gue benci itu. Lo pikir gue suka coklat gitu?” kata Ardan mengangkat coklat yang diberkan Klara.


Melihat ini Klara hanya mendongak memperhatikan coklat itu dengan wajah bingung, seketika Ardan langsung melemparnya ke bawah dan diinjaknya coklat itu menggunakan kakinya.


“Diinjek?Klara semua usaha lo selama ini sia-sia” dalam hati Klara yang sekarang ia berusaha menahan tangisnya.


“Padahal nilai lo hampir ngejar gue, tapi bisa-bisanya sikap lo oon gini si” pekiknya seraya pergi meninggalkan Klara begitu saja.


Sekarang taman sekolah itu mejadi saksi bisu penolakan cinta Klara. Terlihat disana Klara hanya berdiri membatu menatapi coklat yang sudah hancur diinjak Ardan.


“Jahat banget si, kalo iya mau nolak seenggaknya pake cara halus dong hisk” kata Klara yang perlahan tangisnya mulai pecah disana.


***


Okeee akhirnya part 1 selesai juga....


Gimana udah mulai Jelas kan jalan ceritanya?


Makin seru ga?


♪☆\(^0^\) ♪(/^-^)/☆


Aku kasih cuplikan part duanya yah...


(๑・ω-)~♥”


###


Seketika saat Klara sedang menangis dengan posisi jongkok, tiba-tiba seorang pemuda juga ikut berjongkok didepannya. Dia memberi sebuah sapu tangan untuk menghapus air mata Klara.


“Nih..” ucapnya dengan lembut pada Klara.


###


Gimana-gimana?


Udah mulai seru kan?


Di part dua bakal ada banyak momen moment


uwuw (づ ̄ ³ ̄)づ