Twin Boys

Twin Boys
#3



Jan lupa like-nya terimakasih...


(。’▽’。)♡


“Emm.. perpus disini asik ga ya?” gumamnya dalam hati seraya berjalan menyusuri koridor sekolah. Dia melihat sekeliling, ditatapnya satu persatu ruangan yang ia lewati.


“Ketemu!” cletuk dirinya girang menujuk pintu perpustakaan itu. Tanpa pikir panjang ia langsung masuk dengan penuh semangat.


“Woahhhh” mulutnya menganga ketika melihat rak-rak tinggi penuh buku itu. Dia langsung berlarian menyusuri rak buku, melihat satu per satu buku disana.


Gadis ini sangat suka membaca, perlahan Dia mulai menyisir satu-persatu buku disana.Matanya kini tertuju pada sampul buku berwarna merah jambu.


“Morning Glory?? apa sih?” lanjutnya beranjak menuju tempat duduk.


Saat Klara menarik sebuah bangku menggunakan kakinya namun sepertinya, Klara menyeretnya terlalu jauh, hal ini tak disadari olehnya, dikarnakan kedua bola matanya masih antusias menatap buku itu. Lantas dia masuk ke sela-sela meja dan kursi itu. Saat ia hendak duduk, tiba-tiba seorang pemuda mendekatkan kursinya agar Klara tidak jatuh, karena si gadis langsung duduk begitu saja tanpa melihat keadaan sekitar.


Saat itu si pemuda menundukan badannya seraya mendorong kursi bersamaan dengan Klara yang langsung duduk begitu saja tanpa tahu apa-apa.


Degh..Degh.Degh..Degh


Berkat hal itu tak sengaja pipi mereka bersentuhan ditambah aroma tubuh si pemuda yang manis bak coklat. Hal ini mebuat jantung Klara berdegub tidak karuan.


“Makasih” cletuk Klara tersenyum tanpa menoleh kepadanya karena pipinya yang semerah jambu. Sedang si pemuda langsung berjalan pergi tanpa sepatah katapun seketika itu juga Klara menoleh dan hanya berhasil melihat pungung lebar si pemuda.


“Hmm semanis coklat, Ardan.. kau kah itu?” gumamnya tersenyum dengan memiringkan kepalanya dilanjut ia mulai membuka buku dan mulai membacanya.


Sedang Nisa sekarang tengah mengisi folmulir, karena ia ingin mengikuti club pencak silat. Dia mengisinya dengan penuh semangat.


“Akhirnya takdir mempertemukan kita kembali!” dalam hatinya sangat antusias ingin mengikuti pencak silat.


“Hei, ikut juga?” cletuk seorang pemuda yang berdiri tepat disamping Nisa.


“Oh! Hai.. iya nih..” jawab Nisa yang masih sibuk mengisi fomulir.


“Gue juga mau ikut, btw minta fomulirnya dimana?” tanya pemuda itu.


“Tuh, masuk aja ntar mereka kasih fomulirnya” jawabnya cuek.


“Ok. Thanks, Gue Yogi dari kelas 10A.IPS, kalo lo?” katanya memperkenalkan dirinya begitu saja.


“Gue Nisa” jawabnya pergi meninggalkannya begitu saja karena ingin segera menyerahkan folmulir itu.


Melihat ini Yogi, si pemuda blasteran Belanda dengan tampilan bad boy itu hanya tersenyum dengan terus memperhatikan gerak-gerik Nisa.


Sepertinya Klara terlalu asik membaca buku ditambah earphone yang menutupi kedua telinganya sampai-sampai bel berbunyi pun ia tak dengar. Sedangkan Nisa yang sudah duduk di kelas sedari tadi mencari-cari Klara.


“Eh Ros, lo liat Klara gak?” tanya Nisa menepuk bahu Rosa yang duduk di depannya.


“Hm? Engaa..” jawabnya seraya menoleh kearah Nisa.


“Ni anak kemana si? Bel udah bunyi juga” gumam Nisa yang saat ini mencemaskan teman sebangkunya.


Sampai jam pulang Klara masih berada di perpus. Sedangkan di kelas Nisa cepat-cepat membereskan tas dirinya dan tas Klara kemudian dia keluar mencari sosok Klara.


“Ampun nih anak! Sampe jam pulang, ngapain aja si? Oh iya dia bilang ke perpus gue kesana deh” gumamnya dalam hati seraya beranjak keluar kelas.


“Hai Nis! Balik bareng yuk..” cletuk Cika yang mengejar dirinya.


“Oh, tapi gue mau cari Klara dulu” jelas Nisa.


“Hai.. Haii.. gue duluan yaa..” pamit Sinta melambaikan tangannya pada mereka berdua.


“Iya hati-hati” jawab mereka berdua kompak.


“Eh iya dari tadi dia gak keliatan, dimana si?” tanya Cika.


“Tadi si bilang ke gue katanya ke perpus, gue mau coba kesana nih”.


“Oke gue ikut yah” mereka berdua akhrinya pergi menuju perpus sekarang.


Ardan yang mendengar ini pun tak terlalu memperdulikannya. Style-nya saat ini terlihat keren dengan rambut sedikit acak-acakan dan hoddie merah yang terpasang dibadan bidangnya ditambah kaki panjangnya menggunakan spatu sport berwarna putih membuatnya terlihat seperti seorang idol. Dia beranjak pulang dengan santainya.


Sampai di perpus mereka berdua hanya menganga melihat Klara yang tengah tertidur dengan pulasnya ditambah tumpukan buku disekelilingnya.


“Gila! Dia baca itu semua?” cletuk Cika menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tuk!


“Wahh ni anak bener-bener” cletuk Nisa tak sengaja menjatuhkan tas Klara yang selama ini ditentengnya karena kaget melihat Klara saat ini.


Melihat ini Cika memungut tas Klara yang dijatuhkan Nisa lalu menggandeng Nisa yang masih berdiri membatu menatap Klara. Sedangkan Klara masih tertidur di meja penuh buku itu.


“Hey! Mau sampe kapan lo tidur” Nisa berusaha membangunkan Klara yang sedaritadi masih tertidur dengan lengan yang digunakan sebagai bantalan.


“Klara, lo mau nginep disini?” tanya Cika seraya perlahan mengoyang-goyang bahu Klara.


Perlahan Klara mulai membuka matanya karena sedari tadi dua temannya itu berusaha membangunkannya.


“Hhm?” cletuk Klara yang masih setengah sadar.


“Heyy ini udah waktunya pulang Ra” kata Nisa terkekeh melihat Klara.


“Iya nih, bisa-bisanya lo tidur disini?” tanya Cika yang sama terkekehnya.


“Hah! Pulang? Seriusan!” seketika kedua bola matanya membulat sempurna, Klara langsung berdiri karena kaget.


Berkatnya mereka berdua mengeluarkan tawa recehnya, sedang Klara kembali duduk dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena kebingungan.


...


“Ahahaha.. bisa-bisanya lo ketiduran gitu si, gila ya baca buku sebanyak itu” kata Cika yang tak bisa menahan tawanya.


“Lo kutu buku yah..” ujar Nisa menahan tanwanya.


“Yah bisa dibilang gitu sih, haha parah banget yah..” jawab Klara gugup karena malu.


“Ga salah si, tapi berlebihan itu ga baik Ra..” ujar Nisa.


Setelanya mereka bertiga berpisah tepat depan gerbang sekolah karena kendaraan mereka berbeda. Nisa pulang menggunakan motornya, Cika pulang mengguakan ojek, sedangkan Klara pulang menggunakan angkutan umum.


..


Klara duduk berpangku tangan di jendela angkutan itu. Hal yang terbesit dalam pikirannya saat ini adalah pemuda di perpus tadi.


"Siapa.."


...


Esoknya seperti biasa Klara berangkat menggunakan angkutan. Saat ia mulai memasuki gerbang sekolah.


Serrrrr....


Seorang pemuda menggunakan sepeda melewatinya begitu saja, aroma tubuhnya seperti tak asing bagi Klara.


“Hmm.. kayaknya gue kenal wangi ini..” ujarnya dengan mata terpejam dan tersenyum seolah dia menikmati aroma coklat dari si pemuda.


Seketika itu juga Klara menatap punggung pemuda beraroma coklat itu yang perlahan menjauh darinya.


“Sepeda? hm Ardan bukan si? tapi Ardan gak pake parfum wangi kek gini” cletuk Klara penasaran seraya berjalan menuju kelasnya.


Singkat cerita saat bel berbunyi. Terlihat para murid mulai keluar dari kelasnya.


“Ra! kantin yuk laper nih.. pagi-pagi udah disuguhin angka aja, nguras tenaga banget..” rengek Nisa pada Klara.


“Eh? gue kira lo suka mtk, soalnya keliatan serius banget tadi.” tanya Klara dengan polosnya.


“Gue gitu karna nahan laper ahahahaha. Woahh urusan mtk gue nyerah, soalnya itu kelemahan gue hehe” jawab Nisa cengegesan tertawa garing.


“Oke-oke yuk, kita beli makanan pedes biar seger!’ cletuk Klara yang ikut terkekeh melihat temannya sebangkunya.


Terlihat seorang pemuda yang tengah berdiri dari balik jendela sedang memperhatikan Klara yang tengah asik berbincang riang dengan teman sebangkunya itu. Tak lama kemudian Klara dan teman-temannya beranjak dari kelas pergi menuju kantin.


“Syukurlah..” cletuk si pemuda tersenyum yang sedaritadi tengah memperhatikan Klara dari kejauhan.


Di kantin seperti biasa mereka makan dengan penuh tawa dan candaan.


“Eh gue mau ke perpus dulu ya” pamit Klara pada mereka semua, sebenarnya Klara penasaran akan sosok pemuda beraroma coklat itu. Dia berharap di perpus nanti bisa bertemu dengannya dan akan berkenalan dengan baik.


“Tumben, disana kan ngebosenin” cletuk Sinta seraya menyuap sesendok bakso kemulutnya.


“Ish lo belum tau Klara ya? Kemarin juga dia tidur disana sampe jam pulang” cletuk Nisa terkekeh.


“Eh iya kemarin, maaf lo jadi nyariin gue hehe” Klara tertawa garing.


“Klara seorang kutu buku tau gak” kata Cika terkekeh kerena mengingat kejadian kemarin.


“Emm ga si, gue mau cari tau sesuatu hehe, ya udah gue duluan ya dahh...” cletuknya lalu pergi begitu saja.


Saat klara sedang menyusuri koridor, sekilas dia melihat halaman sekolah. Disana banyak pemuda yang sedang bermain sepak bola, merasa tertarik dia pun mengurungkan niatnya pergi ke perpus. Lalu ia menuju halaman sekolah.


“Haahh.. sukurlah, lihat ini! baru tau kalo sekolah semenyenagkan ini. Woahh lihat para makhluk eksotis itu. Ardan? Rambutnya yang basah gara-gara kringat keliatan sexy bat.. itu juga si Leo manis banget duduk di bawah pohon sambil main gitar, gak heran dia dikerumunin cabe-cabean. Ohh! Punggung itu lagi? Dipikir-pikir ko mirip sama punggung si Ardan my be itu kan cuma punggung Ra..” yang sedaritadi Klara duduk di bangku taman sekolah dengan wajah penuh senyuman memperhatikan sekelilingnya, seolah dia sedang berada didalam fantasinya sendiri.


Namun ekspresi wajahnya berubah penasaran saat ia melihat punggung seorang pemuda yang tengah duduk di bawah pohon.


“Siapa si? Kek kenal deh, si wangi coklat yang waktu itu naik sepeda, bener dia bukan si?” gumam Klara yang perlahan mendekati si pemuda untuk memastikan.


"Ketemu" cletuk Klara lirih dengan senyum cerah yang terpampang jelas diwajahnya.


Sekarang tangannya hendak meraih punggung si pemuda yang saat ini duduk memblakanginya. Namun saat ia hampir sampai, tiba-tiba saja sebuah bola terbang tepat kearah wajahnya.


Bugh!!!


Hal ini membuatnya pusing karena hantamannya cukup keras. Para sisiwi yang melihat ini berteriak membuat pemuda itu menoleh kearah Klara, namun saat itu pandangan Klara mulai kabur dan badannya tumbang seketika. Terlihat darah segar keluar dari hidung Klara yang saat ini ia tergletak di tanah begitu saja.


Tak pikir panjang si pemuda yang tengah duduk di bawah pohon langsung berdiri dan dia menggendong membawanya menuju Uks, para pemuda yang sedang bermain bola berhenti seketika karena kejadian ini.


Merasa tubuhnya sedang diangkat seseorang, Klara menyrengitkan jidatnya seolah ia ingin bangkit tapi tubuhnya menolak.


"Arrdann.." satu kata terucap tanpa suara saat tahu bahwa kini seorang pemuda tenggah menggendongnya.


Eittss.. sampe disini dulu yaa..


(´∀`)♡


Penasaran?


Asik ga ceritanya?


Bikin greget ga?


Ikutin terus ceritanya and recomend ke temen-temen biar banyak like cepet up juga hehe...


Terimakasih...


~♥~