
Gimana ceritanya?
Gak seru ya? -_-||
Gapapa aku bakal tetep lanjutin ceritanya ga tau kenapa aku suka banget nulis cerita ini (灬♥ω♥灬)
Happy reading guys...
.
.
.
.
.
Dari jauh terlihat Klara berlari dan melewati Ardan begitu saja. Klara seperti ini karena sedang terburu-buru.
"Ck!" Ardan mengeluarkan smriknya saat melihat Klara berlari melewatinya begitu saja.
"Pagi-pagi udah rusuh gitu dasar parasit" Gumam Ardan dalam hati.
“Ahh ko bisa lupa sii buku mtk gue ketinggalan di laci, mana tugasnya belom selese lagi..” gumamnya dalam hati.
Saat sampai di kelas, Klara langsung menggambil bukunya yang tertinggal di laci, dengan nafas yang masih terengah-engah karena berlari dia langsung mengerjakan tugasnya dibuku itu.
“Wih tumben baru ngerjain Ra?” cletuk Nisa yang baru datang dengan santainya. Terlihat Ardan yang berjalan di blakangnya langsung duduk di bangkunya tanpa ekspresi.
“Ahh gue kelupaan nih, bukunya ketinggalan jadi baru gue kerjain” jawabnya dengan tangan yang masih sibuk menulis jawabannya.
“Gila ngerjain matematika ga mikir ya? Bisa-bisanya dia ngerjain soal matematika kek lagi nyalin tulisan ngebut gitu, anehnya setiap tugas yang gue salin dari dia bener semua. Rahasianya apa si dia?” gumam Nisa heran Karena melihat kecepatan Klara dalam menyelesaikan tugas matematikanya.
Tak heran Klara seperti ini karena memang sedari lahir dia menyukai hal-hal yang berhubungan dengan Ilmu Mutlak dan seni. Yah, Klara tak sesempurna itu, kelemahannya ada pada bahasa asing. Klara sangat mahir dalam mempelajari sesuatu tapi ia kesulitan dalam mempelajari bahasa terutama bahasa Inggris.
“Selesai!” Klara menghelas nafas panjang, bersyukur tugasnya telah terselesaikan.
“Elah jam pelajarannya kan nanti abis olahraga, btw gue liat yah. Sebenernya gue juga belum ngerjain sama sekali soalnya males banget” cletuk Nisa cuek dengan permen karet dimulutnya.
“Nis kayaknya lo lebih cocok jadi anak IPS deh, ko lo masuk IPA. Em bukan itu maksud gue, soalnya lo anaknya santuy banget hehe” pekik Klara heran karena sudah tiga hari berturut-turut ia tak pernah mengerjakan tugasnya dan hanya menyalin jawaban miliknya.
“Ahahaha.. gue juga mikir gitu Ra. Sebenernya gue juga pengen masuk IPS tapi apa daya nyokap gue maksa masuk IPA. Maklum lah bokap sama nyokap itu dokter jadi, mereka pengen anaknya ngikutin jejak kariernya” Nisa menjelaskannya seraya menyalin jawaban Klara.
“Owhh gitu ceritanya, wih enak dong jadi anak dokter pasti tiap hari lo makan-makanan sehat pantes badan lo atletis gini hehe” Klara merasa kagum padanya karena Nisa adalah gadis bertubuh tinggi dan berisi.
“Ahaha bandan gue gini karena gue sering latihan silat, kata siapa jadi anak dokter enak yang ada kesepian dirumah sendirian, kan tau sendiri hampir 24 jam dokter di rumah sakit terosss ditambah kalo dia jadi relawan bisa-bisa baru pulang dua sampe tiga bulan ato lebih lama dari itu Ra” jelas Nisa yang masih sibuk menyalin jawaban Klara.
“Wahh tapi kerjaan ortu lo keren yah, oh iya kemarin gue sama Rosa kan ke student mart disana gue nemu buku ini. gimana lucu kan?” cletuknya menunjukan notebook yang baru dibelinya kemarin.
“Wih lucu tuh, warna putih manis banget ada bunga-bunga kecilnya lagi” selesai menyalin tugasnya mata Nisa terpaku pada notebook milik Klara.
“Oh iya kemarin gue liat pulpen karakter, nih mirip sama lo kan. Kalo ini punya gue bentuknya permen coklat. Ujarnya seraya memberikan pena karakter berbentuk kuda poni lucu itu.
“Heh lo pikir gue kuda? Ahahaha imut banget nih, buat gue nih?”
“Iya itu buat lo, gue beli itu soalnya mirip sama lo hehe. Lo kan tinggi, keren, keliatan berwibawa kek kuda ditambah rambut lo sering dikuncir kuda hehe”
“Anjir ada-ada aja lo hahahaha, btw thanks bro”
Setelahnya mereka pergi menuju lapangan karena hari ini jadwal mereka berolahraga. Seketika wajah Klara berubah sukar.
“Lo kenapa Ra” cletuk nisa yang berjalan disampingnya.
“Ahh gue paling males olahraga Nis” keluhnya seraya menghela nafas panjang.
“Pantes badan lo pendek gini, enak tau kan diluar kelas jadi ga bosen”
“Jan bilang lo takut bola, gara-gara waktu itu lo kena bola?”
“Bukan cuma waktu itu, dari dulu juga gue sering jadi sasaran empuk bola terbang” keluhnya lagi.
"Masa sih?"
“Ga heran si, waktu sekolah dulu mereka malah sengaja nglempar bola ke gue. Dikira gue gawang apa ck” dalam hati Klara yang tiba-tiba teringat masa-masanya dulu yang sering kena bully di sekolahnya dulu.
Sesampainya mereka di lapangan mereka langsung berbaris dan melakukan pemanasan.
“Oke hari ini kita akan bersenang-senang dengan bermain game, sekarang kita main softball. Silahkan kalian bagi menjadi dua tim dan undi pake koin, yang menang tim mereka yang main duluan” jelas guru olahraga disana.
“Iya/baik pa” jawab para murid seraya membuat dua tim.
Sepertinya Klara kurang beruntung soalnya ia tak sekelompok dengan Ardan, hal ini mebuatnya agak sedih. Saat itu Tim Ardan kalah jadi mereka yang berjaga, giliran Ardan mendapat posisi untuk melempar bola itu.
Semuanya berjalan lancar dan seru, mereka bersorak ria saat tim lawan mulai berlari melewati base-base disana.
Sekarang giliran Klara, saat kakinya sudah menginjak home base dan tangan yang memengang tongkat untuk memukul bola seakan dia siap dengan semua itu. Seketika Ardan yang berada repat di hadapannya sekarang tengah bersiap melempar bola kearahnya.
Namun, Klara teringat kejadian kemarin saat bola yang ditendang Ardan mendarat tepat di wajahnya. Hal ini membuat Klara berkeringat dingin dan jantungnya berdegup kencang karena takut dan was-was.
“Sial! kenapa harus Ardan yang nglempar bola si?" Guman Klara dalam hati yang semakin gugup ketika Ardan memperlihatkan smirk padanya. Seketika Klara menelan salvianya karena gugup.
Passs...
Bola tenis itu dilambungkan begitu saja oleh Ardan, hal ini membuat Klara semakin gugup matanya terus memandangi bola tenis yang tengah melambung diatasnya.
Saat bola itu mulai mendekatinya, mata Klara langsung terpejam dan mengayunkan tongkatnya asal-asalan karena ia terlalu takut pada bola.
Berutung pukulannya tepat mengenai bola dan melambungkannya cukup jauh. Hal ini sangat menguntungkan timnya berlari melewati setiap base sampai ke home base kembali. Melihat ini tim Ardan berusaha mengambil bola tenis yang terlempar cukup jauh.
“Padahal badannya cebol, keliatan lemah, tapi ko pukulanya bisa jauh gitu?” gumam Ardan yang tertegun melihat aksi Klara kali ini.
Berkat itu tim klara berhasil memenagkan pertandingan, setelahnya dilanjut beberapa permainan. Selesai dengan olahraga mereka semua beristirahat, terlihat beberapa siswa masih asik bermain sepak bola sedangkan para siswi berlarian menuju kantin.
“Ra lo keren bat tadi, bolanya bisa nglambung jauh gitu” cletuk Nisa seraya mereka pergi menuju kantin.
“Beruntung banget gue Nis, tadi juga itu ga sengaja tau. Sebenernya waktu itu mata gue merem karena takut dan gue mukul tongkat itu ngasal eh taunya bolanya kena deh hehe”
“Yah beruntung bolanya gak kena muka lo. Liat tadi kan senyum si Ardan gimana?"
“Iya liat ko, tapi keren kan?” Klara yang bodoh, sepertinya dia tidak menyadari kalau Ardan tidak menaruh rasa sama sekali padanya sedangkan rasa yang diberikan Klara pada Ardan semakin hari semakin besar. Melihat ini Nisa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
.
.
.
.
.
Bagaimana?
Apa menurut Kalian Ardan benar-benar membenci dan tak menganggap keberadaan Klara?
Dan bagaimana dengan pemuda misterius itu? kapankah Klara dapat bertemu dengannya dan bisa melihat wajahnya dengan jelas?
Ikutin ceritanya terus ya....
Jan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar dan kasih bintangnya plis...