Twin Boys

Twin Boys
#1



“Aku ya aku, ini diriku! Lo berhak jadi apa yang lo mau!” cletuk seorang gadis tengah bercermin dengan memasangkan dasi di kerah seragam barunya, wajahnya sekarang dipenuhi semangat.


“Klaraaa turunnn, sarapan nak!” teriak seorang Ibu dari lantai bawah.


“Iya bu, sebentar lagi” sahutnya, lalu cepat-cepat mengambil tas barunya.


Keluarga kecil yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan dua anak itu saat ini tengah sarapan. Sang Ibu yang telihat masih sibuk menyajikan berapa lauk. Sedangkan si Ayah yang dengan santainya meminum segelas kopi.


“Habisin susunya biar kamu pinter disekolah” kata sang ayah pada anak laki-laki tersayangnya yang tak lain adalah adik Klara, dia sekarang duduk di bangku kelas dua SMP. Sedangkan Klara dengan tenang memakan sarapannya tanpa suara.


“Karena sekarang kamu SMA, jadi kan pulangnya sore. Nih Ibu bikin bekel, dibawa yah..” ujar sang Ibu lembut pada Klara. Dia hanya tersenyum dan mengangguk padanya.


“Udah gede gitu ko dibawain bekel, harusnya Dika aja yang dibawain bekel” cletuk si Ayah, karena sejatinya ia tak begitu menginginkan sosok anak perempuan.


“Tadi Dika sudah dibuatkan, tapi anaknya ndak mau” jawab si Ibu ketus sembari membereskan meja makan.


“Kamu itu! Klara kan udah gede jadi, ga usah dimanjain” ujar si Ayah lalu menyeruput kopinya.


“Sampeyan iki, Klara iku anak gadis jadi wajar pa” jawab si Ibu.


“Justru anak perempuan jangan dimanja, besok juga jadi istri orang, jadi harus mandiri bu” jawab si Ayah dengan nada yang semakin menaik.


“Dari dulu sampeyan iki gak pernah perhatian sama Klara, mbok ya sikapnya lembut sedikit. Eling pa Klara iku anakmu juga!” nada sang Ibu menaik.


“Bu, Ibu ini terlalu manjain dia” cletuk si Ayah seraya meminum kopinya lagi.


Braakk!


“Bu, Klara brangkat. Permisi” mendengar ocehan kedua orang tuanya, selera makannya hilang, seketika Klara langsung berdiri dan pamit pergi kesekolah.


“Tuh! Gara-gara kamu dia jadi anak ga sopan!” bentak si Ayah menatap tajam Klara. Sedangkan Klara tak memperdulikannya, dia berjabat tangan pada mereka lalu pergi begitu saja.


Pagi itu, Klara keluar rumah dengan suasana hati yang kurang bagus. Dia berjalan cepat tanpa memperdulikan lingkungan sekitar.


“Cih, gue juga gak butuh sosok ayah tuh..” gumamnya dalam hati yang semakin kesal karena kejadian tadi. Sekarang ia sedang menunggu angkutan umum di pinggir jalan.


Sesaat Klara akan menaiki angkutan umum, tangan yang lebih besar dan panjang dari Klara mendahuluinya meraih pinggiran pintu angkutan itu.


Degh!


“Cepet masuk dong! Buru-buru nih” suara seorang pemuda yang berada tepat dibelakangnya, kini dada bidangnya menyentuh kepala Klara. Hal ini membuat pipinya merona, seketika Klara langsung cepat-cepat naik angkutan itu diikuti si pemuda. Saat duduk, terpampang jelas sosok pemuda tampan tengah duduk tepat dihadapannya.


“Gila! Dia bukan model kan?” gumam Klara dalam hati terpukau melihat ketampanannya. seketika itu juga emosi yang ia bawa dari rumah hilang bak ditiup angin.


Diam-diam Klara memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dia hanya diam membeku memperhatikannya, sampai tingkah lakunya itu disadari oleh si pemuda.


“Apa lo liat-liat!” cletuknya menatap dingin Klara.


“Eh maaf! Ga ko, bukan gitu. Tapi kayaknya kita satu sekolah deh” jawab Klara gugup dengan senyum terpaksa seraya menggaruk pipinya yang tidak gatal. Dia berkata seperti itu karena melihat lambang almamater yang sama.


“Jutek! Oke gapapa, bicara aja toh ga da salahnya” dalam hati Klara.


“Oh iya” ujar si pemuda cuek, sekilas melirik Klara lalu mulai memainkan ponselnya. Klara yang melihat ini menghela nafas panjang lalu ia menolehkan kepalanya ke arah jendela.


Setelah itu mereka tak saling bicara, sampai angkutan itu berhenti tepat di gerbang SMA 1 NUSANTARA Jakarta. Mereka berdua turun dari angkutan lalu berjalan masuk ke gerbang sekolah. Pemuda itu mendahului Klara masuk, sedang Klara hanya berjalan dengan santainya.


“Ayo temuin kisah cintamu disini Klara!” gumamnya dalam hati, sejenak ia berhenti di ambang gerbang sekolah dan memperhatikan gedung SMA 1 NUSANTARA.


Seperti biasa, tahun ajaran baru diawali dengan upacara dan perkenalan. Selanjutnya para murid baru diajak berkeliling sekolah oleh para anggota OSIS. Semuanya berjalan lancar, sampai Klara berhenti di depan mading untuk mencari namanya masuk di kelas mana.


“Hoo ini! 10A.MIPA” cletuk Klara menununjuk namanya yang tertera di mading.


“Permisi.. gue juga mau liat dong” dari belakang terlihat sosok anak perempuan tomboy dengan kuncir kuda menepuk bahu kanan Klara.


“Eh! Iya silahkan..” Klara tersenyum dan mundur dari depan mading.


“Makasih” ujarnya tersenyum pada Klara.


Setelahnya Klara langsung berjalan menuju kelas. Sesaat ia sampai tepat di ambang pintu kelas, Klara berhenti sejenak memandangi ruang kelas barunya berharap kejadian kelam itu tak terulang kembali, sampai saat seorang pemuda tengah berdiri tepat dibelakangnya.


“Minggir!”.


“Eh!” tubuh Klara tersentak, matanya membulat.


“Suara ini lagi! Dia?” dalam hati Klara.


“Lo budeg yah? Dibilang minggir juga!” ketus seorang pemuda yang tadi bertemu di angkutan dengan Klara.


“Ma-maaf, silahkan”  Klara menyampingkan badannya, mempersilahkannya masuk ke kelas terlebih dahulu. Dengan cueknya si pemuda berjalan melewatinya begitu saja.


“Si ganteng lagi...” dalam hati Klara yang saat ini tengah menatap si pemuda tinggi nan tampan itu dengan tatapan mata penuh binar.


Setelah itu Klara masuk dan memilih tempat duduknya. Namun tempat duduk yang ingin diduduki Klara sudah dihuni dan sebagian besar bangku disana sudah terisi. Sekarang hanya tersisa bangku pojok dekat jendela nomor tiga dari depan.


“Rencana gue duduk didepan pun gagal..” gumamnya cuek lalu duduk begitu saja tanpa memperhatikan sekitar.


“Eh! Iya silahkan” sedari tadi Klara yang duduk di pojok tiba-tiba bergeser untuk mempersilahkannya duduk disana.


“Thanks bro, tempat duduk di pojok emang paling enak! Favorit gue banget” ujarnya dengan penuh semangat seraya menaruh tasnya. Sedang Klara hanya duduk tersenyum memperhatikannya.


“Kayaknya dia anak yang ceria, semoga dia bisa jadi teman baik” gumam Klara dalam hati.


“Eh iya, kenalin gue Nisa Larasati. Panggil aja Nisa hehe, lo siapa?” tanya dirinya pada Klara dengan wajah ceria.


“Hah! Ini nyata kan! Baru kali ini ada yang ngajak gue bicara ramah kek gini ini” gumam Klara dalam hati. Pasalnya sedari dulu dirinya hanyalah seorang korban bullying dimana dirinya menjadi sosok pendiam dan susah bersosialisasi.


“Hai Nisa, gue Klara. Klara Puspita Ayu” jawabnya tersenyum manis pada gadis tomboy yang sekarang menjadi teman sebangkunya.


“Oke, kita jadi temen sebangku sekarang hehe”.


“Iya nih”.


Setelahnya seorang guru memasuki ruang kelas itu. Penampilanya yang  jadul berkumis tebal dengan perut buncit membuatnya terlihat lucu ditambah kaca mata bulat  yang terpasang diwajahnya.


“Selamat pagi anak-anak, perkenalkan nama saya Joko Punomo. Untuk  satu tahun kedepan bapak yang akan jadi wali kelas kalian. Oh iya, karena ini kelas pertama kalian jadi, hari ini tidak akan ada KBM. Tapi besok.. KBM sudah mulai rutin seperti biasa ya.  Nah gak perlu basa basi, bapak sudahi saja. Sekarang tinggal kalian satu per satu berdiri memperkenalkan diri kalian masing-masing”


“Baik pa” jawab anak-anak serentak.


Merekapun mulai memperkenalkan dirinya satu persatu. Memang memakan waktu cukup lama namun sepertinya anak-anak menikmatinya, ditambah suasana kelas yang agak ramai tapi mengasikan.


“Perkenalkan nama saya Nisa Larasati panggil aja Nisa, asal sekolah saya SMP Cendrawasih Bandung. Salam kenal semua” perkenalan yang singkat namun sangat ceria.


“Hai Nisa..” kompak seluruh penghuni kelas menyapa balik dirinnya.


“Sttt bro giliran lo” bisik Nisa pada Klara.


“Pe-perkenalkan nama saya Klara puspita Ayu, kalian boleh panggil saya Klara. Dan asal sekolah saya dari SMP Negri 1 Tanjung Jakarta. Salam kenal semua” Klara tersenyum manis yang awalnya ia merasa gugup, perlahan kepercayaan dirinya muncul ketika semua penghuni kelas memperhatikannya dengan tatapan normal.


“Woah gila dari Negri 1 Tanjung loh dia!” cletuk salah seorang anak dikelas.


“Wihh itu kan sekolah elit, dia anak orang kaya ya?” bisik salah seorang anak.


“Tampangnya emang biasa-biasa aja, tapi dari SMP favorit sejagat itu? Gila!”


“Iya! bahkan anak-anak artis banyak yang sekolah disana, keren banget dia”


Semua anak-anak berdecak kagum pada Klara. Karena sekolahnya yang dulu adalah salah satu SMP terfavorit, dimana anak-anak pintar dan kaya berkumpul disana. Ditambah banyak anak-anak dari keluarga terpandang bersekolah disana. Tentunya Klara bisa masuk disana berkat nilainya selama ini.


“Wihh bro, lo beneran dari sana?” ujar Nisa yang duduk mendongak  kearah Klara.


“I-iya hehe, aku anak biasa-biasa aja ko” cletuk Klara gugup dan dia langsung duduk begitu saja.


“Apa ini? tiba-tiba saja semuanya berbalik 180° dari kehidupan gue yang sebelumnya” dalam hatinya merasakan perasaan senang sekaligus kaget.


Selanjutnya giliran pemuda yang duduk tepat disamping Klara, sedari tadi dia menenggelamkan kepalanya di meja. Dengan santainya ia berdiri untuk memperkenalkan dirinya.


"Wahh liat dia!"


"Gila, ganteng banget!"


"Liat dia, kayaknya kelas kita bakal terkenal deh"


"Ish idaman gue banget!"


Saat pemuda itu berdiri, seketika itu juga sorot mata seluruh kelas tertuju padanya. Banyak dari mereka berbisik dan mengagumi sosok pemuda itu.


Mendengar anak-anak yang berbisik Klara menoleh ke samping dan melihat pemuda itu tengah berdiri untuk memperkenalkan dirinya, bukan wajah melainkan tangan si pemuda yang sedari tadi memainkan jari-jarinya yang terus mengetuk-ngetuk meja.


“Hallo semua, perkenalkan saya..


..


\(-ㅂ-)/ ♥ ♥ ♥


Hallo lagi...


Gimana seru ga ceritanya?


Bikin penasaran kah?


Kalo kalian penasaran sama kelanjutan ceritanya klik Like and Coment ya..


Soalnya aku mau tau respon kalian hehe..


Aku bakal lanjuttin ceritanya kalo udah ada 5 like. Semoga aja si bisa lebih dari 5 like plus ada coment juga hehe.


Salam kenal semuaa~


♡⃛◟( ˊ̱˂˃ˋ̱ )◞⸜₍ ˍ́˱˲ˍ̀ ₎⸝◟( ˊ̱˂˃ˋ̱ )◞♡⃛