Twin Boys

Twin Boys
#4



Jan lupa klik bintang di pojok bawah..


~♥~


"Woy! Siapa si yang tadi tendang bola, anak orang tuh" cletuk salah seorang pemuda yang bermain bola itu.


"Gue!" cletuk Ardan seraya mengibaskan rambut yang basah karena kringat.


"Tanggung jawab sono.." ujar salah satu dari mereka.


"Haha ******! dari kemaren lo diem-diem liatin gue terus kan risih, dikira gue bakal liatain balik? Ck!" dalam hati Ardan dan ia sama sekali tak peduli dengan Klara.


"Lagian dia gapapa, udah dibawa tuh sama dia" Ardan menunjuk pemuda misterius yang saat ini tengah menggendong Klara.


"Yah udah lanjut yuk.." cletuk salah satu teman Ardan, mereka melanjutkan permainan sepak bola itu.


Sedang pemuda itu masih berlari menggendong Klara yang masih setengah sadar karena pusing. Selama itu Klara menyrengitkan matanya memandangi pemuda misterius itu.


Namun apa daya pandangannya saat ini masih kabur, ditambah silulet menghalangi wajah pemuda itu. Padahal ia ingin sekali melihat wajah si pemuda beraroma coklat itu.


"Dia.. si wangi coklat itu kan?" dalam hati Klara.


Sesampainya di Uks, pemuda itu meletakannya di ranjang lalu pergi begitu saja. Dokter disana langsung menangani Klara yang sekarang hidungnya penuh dengan darah karena hantaman bola. Beberapa menit setelahnya Klara duduk dengan kondisi sebelah hidung yang disumbat kapas karena mimisan. Dia mengerutkan dahinya, karena penasaran siapa pemuda beraroma coklat itu.


Brak!


"Klara! Lo gapapa?" teriak Cika yang langsung masuk ke Uks begitu saja. Meliat ini Klara hanya tertegun kaget.


"Yaampunnn Klara! ko sampe mimisan gini si?" dibelakang Cika, terlihat Nisa yang sama cemasnya.


"Gue udah gapapa ko, tau dari mana gue di Uks?" Klara bertanya tanpa dosa.


"Jadi ini rasanya dikhawatirin temen, hal yang selama ini gue mau terjadi juga.." dalam hati Klara yang sekarang memasang senyum diwajahnya.


"Tau ga, beritanya nyebar cepet banget, dan lo tau siapa yang lempar bola ke arah lo?" tanya Cika antusias yang sedaritadi duduk disampinya.


"Iya Ra, si Ardan itu juga ga peduli sama lo, gila tuh anak menang tampang doang sebel gue" cletuk Nisa agak emosi.


"Ardan? Serius?" sedang Klara masih tak percaya.


"Ardan? Gak mungkin lakuin ini kan?" dalam hati Klara masih tak percaya.


"Iya masa ga percaya sama temen sendiri si" jelas Cika.


"Kalian tau dari mana?" tanya Klara.


"Aduhh Klara, lo kudet banget sih, sekarang kan ada hp. Nih liat, waktu itu ada yang gak sengaja ngrekram kejadian ini dan boom videonya langsung nyebar" jelas Cika seraya memperlihatkan layar ponselnya kepada Klara. Sedangkan Klara hanya mengangguk dengan polosnya.


"Nih si Ardan emang ganteng tapi kayaknya sifatnya gak seganteng mukanya deh, soalnya anak yang sealumni sama Ardan bilang dia anaknya dingin dan dia paling gak suka kalo ada cewe yang ngejar-ngejar dia" tambah Cika menjelaskan.


"Gak mungkin Ardan kek gitu! Apa sikap gue yang kemarin ngeganggu dia? Gak mungkin kan?" dalam hati Klara masih tak percaya, karena bisa dibilang Klara mulai menaruh rasa padanya ditambah saat itu Ardan mengucap kata "Makasih" padanya.


"Wahh ni anak!" ujar Nisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedang Klara hanya diam dengan tatapan sendu.


"Ra? Lo gapapa kan?" ujar Nisa yang tak tega melihatnya, pasalnya dia tau kalau Klara menyukai sesosok Ardan, saat pelajaran biasanya Nisa melihat Klara curi-curi pandang pada sosok Ardan.


"Gue suka sama dia" cletuk Klara tanpa sadar dengan wajah polosnya.


"Whaatttt!! Gila? jadi lo selama ini beneran suka sama si Ardan? Ra lo ga salah ngomong kan?" pekik Cika dengan nada kaget.


Mendengar ini Klara hanya mengangguk tersenyum dengan polosnya.


"Yah.. kalo udah naro rasa emang susah, semangat ya Ra! Cuma ini yang bisa gue lakuin" ujar Nisa menepuk bahu Klara dan dibalas senyuman manis olehnya.


Mereka bertiga beranjak dari Uks menuju kelas. Karena Klara yang sekarang sudah agak baikan walaupun hidungnya terlihat merah karena hantaman bola tadi.


Saat mereka sampai di ambang pintu kelas, sorot mata penghuninya tertuju pada Klara seakan mereka bertanya, apa kamu tidak apa-apa? Melihat hal ini Klara hanya tersenyum seraya berjalan menuju bangkunya. Dan tepat saat Klara duduk sorot mata tajam melihat kearahnya yakni Ardan. Mengetahui hal ini Klara berpura-pura tak melihatnya, berusaha mengabaikannya.


Saat Klara meraba lacinya untuk mengambil buku, bukannya buku yang dia dapat melainkan obat pereda memar. Karena memang pipi kirinya bengkak dan berwarna merah akibat hantaman bola tadi.


"Hm? dari siapa?" dalam hati Klara lalu memasukan obat itu lagi dan mengambil bukunya.


Sampai bel pulang sekolah berbunyi, siswa-siswi disana mulai mengemasi barangnya tak terkecuali Klara yang saat ini menatap tajam sosok pemuda di sampingnya itu.


"Gue paham Ardan diem-diem naro obatnya dilaci buat gue kan? tapi katanya dia sengaja nendang bola ke muka gue.." dalam hati Klara saat ini.


"Apa lo liat-liat gue!" pekik Ardan seraya memakai jaket merah kesayangannya. Namun, Klara tak memperdulikannya dan tetap menatap tajam dirinya.


"Ishhh bener kaga si? pikiran gue bilang bukan karena jelas-jelas sikap dia jutek gini. Tapi hati gue bilang dia cuma nyembunyiin perasaannya buat gue" dalam hati Klara yang saat ini maseih kebingungan.


Beberapa menit kemudian kelas itu mulai kosong hanya ada Ardan, Klara, dan Nisa saja disana. Ardan dan Klara yang saat ini masih saling menatap tajam, sedang Nisa masih sibuk dengan ponselnya. Nisa sengaja melakukan ini karena khawatir jika Ardan akan melakukan sesuatu pada Klara.


"Lama-lama lo nyebelin yah" cletuk Ardan berjalan satu langkah mendekati Klara.


"L-lo yang nglempar bola ke muka gue kan?" tanya Klara yang masih duduk dengan tatapan ragu.


"Hm? Lagian gue ga sengaja cebol!" jawab Ardan dengan pedasnya seraya memasukan kedua tangan ke dalam saku jaketnya yang saat ini masih berdiri tepat dihadapan Klara.


"Hah?" Ardan terkekeh mengangkat satu alisnya.


"Gue udah liat videonya, sebenernya apa yang buat lo lakuin ini ke gue?" pekik Klara dengan nada menahan emosi.


"Sial, lo ngomong apa si Ra. Bisa-bisa dia tambah ilfil sama lo! Masa bodo ini gue yang sekarang dan gue yang sekarang gak selemah yang dulu!" dalam hati Klara yang tak ingin berurusan dengan Ardan namun ia muak diperlakukan seperti ini karena sosok dirinya yang dulu.


"Hm kenapa ya? Karena lo parasit" pekik Ardan menundukkan kepalanya yang saat ini wajah mereka hanya selang 15cm saja, dengan kedua tangan Ardan yang masih di dalam saku jaketnya.


Degh!


"Gawat, situasi yang sama kek dikantin" dalam hati Klara saat ini jantungnya berdetak tak karuan. Kedua mata Klara membulat sempurnya karena tiba-tiba wajah tampan itu berada tepat dihadapannya.


"Kenapa? Ga trima?" Tanya Ardan dingin, karena tak ada jawaban dari Klara, Ardan mulai mengangkat kepalanya lalu berbalik mejauh dari hadapan Klara.


"Gu-gue bukan parasit!" cletuk Klara tiba-tiba, hal ini membuat Ardan tersentak dan menghentikan langkahnya sejenak dengan menoleh melihat Klara menunjukan smriknya, lalu dengan langkah panjang ia pergi begitu saja.


Setelah Ardan menghilang dari kelas yang sekarang hanya tinggal Klara dan Nisa saja. Klara langsung menghela nafas panjang.


"Gila! Situasi apa tadi Ra? Gue juga ikut deg-degan" cletuk Nisa yang sedari tadi duduk di belakang Klara sambil memainkan ponselnya.


"Hahhh... Nis, jantung gue masih normal kan?" cletuk Klara mengeluh pada Nisa.


"Lagian lo juga pake acara nyuruh minta maaf segala, **** suaranya tadi dingin banget. Dia serem kan Ra?" tanya Nisa pada Klara yang saat ini masih memegani dada kirinya merasakan detak jantung yang masih berdegup kencang karena kejadian tadi.


"Dia keliaran cool banget! Bener-bener kek cowo-cowo keren di dalem komik" jawab Klara dengan mata penuh binar ditambah tangan yang masih memegangi dada kirinya itu.


"Ya ampunnn.. orang lagi kasmaran emang aneh yah, yaudah balik yuk" Nisa terkekeh melihat Klara yang seperti itu, ia langsung menggandenganya pergi keluar kelas.


Malamnya saat Klara sedang duduk di meja belajarnya, dia terlihat serius mengerjakan tugas sekolah tadi siang. Namun tiba-tiba dia teringat sosok Ardan, "parasit" kalimat Ardan itu selalu terngiang di kepalanya dan membuatnya tak fokus pada tugasnya.


"Ishh ko bisa si dia keliatan keren gitu, dua kali mukanya terpampang jelas di hadapan gue" Klara yang saat ini terus tersenyum berbicara sendiri. Namun, tiba-tiba dia memikirkan kalimatnya itu.


"Hmm bener juga, blakangan ini kadang gue sengaja deket-deket dia. Mungkin Ardan risih" dalam hati Klara tiba-tiba membuat senyuman diwajahnya menghilang. Diapun melanjutkan mengerjakan tugasnya.


Sekitar satu jam Klara menyelesaikan tugasnya, dia langsung beranjak ke luar kamar mencari kudapan untuk dimakan. Karena tugas fisika tadi membuatnya lapar. Saat ia sampai di dapur, Klara membuka Kulkas dan matanya tertuju pada sesuatu. Dia mengambil susu strobery dan coklat yang sedaritadi ia pandangi. Dia membawanya ke kamar karena ingin memakannya disana.


"Hmm coklatt" gumamnya tersenyum dan bergegas pergi ke kamar. Di kamar ia meminum susu kotak rasa strobery dilanjut ia mulai mebuka coklat kesukaannya itu.


"Coklat ini hmmm... omong-omong bau coklat.." Klara terlihat sedikit berpikir dan berbicara sendiri saat ia mulai mencium bau coklat yang digenggamnya.


"Ahhh si cowo coklat! Dia udah beberapa kali nolong dan bantu gue, anehnya gue ga sempet liat wajahnya" cletuknya girang dan langsung beranjak ke ranjangnya.


"Badan setinggi Ardan, rambut hitam lebat sama kek Ardan tapi rapi, trus aroma coklat?" gumamnya seraya menatap coklat yang sudah digigit olehnya.


"Gue bersyukur sekarang, karena kehidupan di sekolah udah berubah dan gak kek dulu lagi. Gue udah gak dirundung lagi, yes! Ditambah ada sosok pangeran dikelas dan dia duduk tepat disamping gue. Duh senangnya.. Ardan gue bakal dapetin hati lo!" gumamnya dalam hati seraya tersenyum manis memeluk bantalnya dan tidur.


Esoknya seperti biasa Klara berangkat menggunakan angkutan umum. Sampai di sekolah ia langsung menuju kelasnya. Seperti biasa saat pagi ia meletakan buku-buku dan alat tulis dilaci meja miliknya.


Saat Klara sedang asik meletakan barang-barangnya di laci. tiba-tiba tangannya menyentuh obat pereda memar.


"Eh yang kemarin ketinggalan.." cletuknya, dia pun segera membuka dan mengobati luka memarnya yang sekarang sudah berubah warna menjadi keunguan.


"A'aa shh.." saat ia mengoleskan obatnya ia sedikit merintih karena masih sakit. Terlihat seorang pemuda yang memiliki perawakan sama persis seperti Ardan namun penampilannya lebih rapi itu tengah berdiri dari balik jendela dan terus memperhatikan Klara tengah memakai obat pemberiannya.


"Dia memakainya.." ucapnya tersenyum lalu pergi begitu saja.


"Ahh ini obat pasti dari Ardan, gue tau di depan anak-anak dia judes karena malu mungkin hehe makasih pangeranku..." dalam hati Klara yang saat ini dengan senang hati memakai obat itu.


Tak lama kemudian Sosok Ardan datang dan langsung duduk begitu saja. Sedangkan Klara dengan bodohnya memberikan senyuman pada Ardan. Melihat itu Ardan hanya memutar bola matanya karena malas.


"Heh kalo mau senyam-senyum ngaca dong! ga nyadar muka lo kek kanvas rusak" pekik Ardan jutek seraya memainkan ponselnya.


"Muka gue bukan Kanvas, Oh iya makasih obatnya..." cletuk Klara riang.


"Haha muka lo kemaren merah sekarang ungu campur biru gitu kek lukisan jelek tau gak!" pekik Ardan jutek namun sedikit tertawa melihat wajah Klara yang memar.


"Eh dia ketawa.. manisnya..." dalam hati Klara.


"Obat dari gue? haha ni anak sedeng yah apa *****?" sedang di dalam hati Ardan yang masih tak memperdulikan kehadiran Klara.


"Hmm lo tau caranya senyum juga" cletuk Klara tersenyum manis dilanjut ia berbalik dan mulai membaca novel yang ia bawa dari rumah.


Mendengar hal ini sepintas Ardan menoleh menatapnya yang sedang fokus membaca buku novel. Tak lama setelah itu Ardan kembali fokus pada layar ponselnya.


Gimana..Gimana...?


Seru gak?


Mau dilanjut ga nih ceritanya....


Walaupun gak kasih vote tapi kalian udah mampir ke ceritaku...


makasih ya....


~♥~