
Okeyy lanjut part 2..
Disini alurnya dah mulai jelas hihi..
Beberapa teka-teki sudah mulai terpecahkan..
Kuyy baca..
Happy reading...
Seketika saat Klara sedang menangis dengan posisi jongkok, tiba-tiba seorang pemuda juga ikut berjongkok didepannya.
Di memberi sebuah sapu tangan untuk menghapus air mata Klara.
“Nih..” ucapnya dengan lembut pada Klara.
“Hmm? Tiba-tiba aroma tak asing ini, wangi coklat ini? beneran dia?” Klara menyadari aroma parfum coklat dari si pemuda ditambah ia mendengar suaranya yang merdu membuatnya ingin mengangkat kepalanya.
Saat Klara menganggkat kepalanya, tiba-tiba saja pemuda itu langsung membersikan air mata yang bercucran di wajah mungil gadis itu menggunakan sapu tangan tadi.
“Jan nangis ntar cantiknya ilang” ucapnya tersenyum manis, hal ini berhasil membuat jantung Klara berdegup kencang.
Degh!..degh.degh..degh.degh..
“Ya udah, gue pamit pulang dulu yah..” cletuk pemuda itu lalu berdiri dan perlahan pergi menjauh darinya.
“Tunggu! Tunggu..” melihat ini Klara tak tinggal diam. Rasa penasarannya akan sosok pemuda beraroma coklat itu sekarang tepat dihadapannya.
Mendengar ini si pemuda berhenti dan menoleh kearahnya.
“Makasih” ucap Klara tersenyum manis dengan matanya yang masih berlinang karena ia sedang menahan tangisnya.
Melihat ini si pemuda mengangguk dan ikut tersenyum manis pula. Seketika suasana hati Klara yang tadinya mendung berubah cerah seperti mentari pagi, ditatapnya punggung pemuda itu dengan tatapan hangat.
“Kau yang seperti itu, seperti bunga terompet yang membawa kemulyaan pagi. Dimana setiap mekarnya bunga itu membawa perhatian dan kasih sayang. Dulu dirimu yang belum mekar membuatku penasaran dan sekarang kau sudah mekar. Hal itu membuatku bisa melihatnya dengan jelas, wajah tampan yang penuh dengan kehangatan....” cakap Klara dalam hati, sedari tadi ia masih berdiri disana menatapi punggung si pemuda yang perlahan menjauh darinya.
“Yah aku masih mengigat jelas saat-saat itu, saat dimana aku mulai mencintaimu sampai hatiku sakit. Setiap hari kau adalah cinta pertamaku, aku terus menunggumu seperti mentari di musim hujan. Hatiku terasa aneh tiap kali angin bertiup, didepanku kau ibarat pelangi yang hanya singgah sebentar lalu hilang lagi. Tapi sekarang, sekarang sepertinya akan berbeda ” gumam si pemuda yang sedari tadi melangkahkan kakinya dengan santai, begitu juga dengan wajahnya yang terus tersenyum seakan ia mengucap rasa syukur melalui senyuman tulus diwajahnya.
Malam harinya setelah makan malam bersama dengan keluarganya, Klara langsung beranjak ke kamar begitu saja. Dia langsung membuka notebook miliknya, dibukanya perhalaman melihat setiap hasil karyanya yakni, semua yang berhubungan dengan sosok yang setahun ini membuatnya penasaran, yah.. pemuda beraroma coklat itu. Halaman pertama telihat saat dia duduk di bawah pohon, halaman selanjutnya terlihat dia sedang menaiki sepedanya, lalu dibaliknya lagi terlihat punggung seorang pemuda yang tengah duduk di taman sekolah.
Melihat semua ini Klara tersenyum, sekarang ia berencana menggambarnya saat ia berjonggkok tepat didepannya tak lupa dengan senyum manis yang terukir diwajah tampan itu.
“Wahh gambarmu bagus banget nok, ko gak pernah kasih tau Ibu kalo kamu jago gambar” Kata Ibunya tiba-tiba yang sedari tadi penasaran apa yang membuat anak gadisnya itu buru-buru masuk ke kamar.
“Mati aku, Ibu liat!” seketika Klara langsung menutup bukunya.
“Ibu? Ngagetin aja, dari kapan Ibu di blakangku” cletuk Klara yang masih kaget karena ibunya tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya.
“Oh baru tadi nok, nih Ibu bawain susu buat kamu”
“Wahh kan tadi abis makan bu..”
“Hah.. badanmu kecil pendek gini, anak gadis temen-temen Ibu tuh tinggi montok-montok lagi, masa anak Ibu engga. Diminum ya nok..” dengan menghela nafas Ibunya memaksanya meminum susu tak lupa dengan senyuman tulus diwajahnya.
Tak tega melihat Ibunya, Klara pun menurutinya.
Esoknya disekolah, Klara melangkahkan kakinya dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan. Terlihat Klara memberikan senyuman manis pada setiap murid yang dilewatinya dan menyapanya dengan hangat. Entah mengapa virus enerjik milik Cika berpindah padanya.
“Imutnya” cletuk si pemuda tersenyum dan terkekeh melihat tingkah Klara.
Dimata pemuda itu, Klara terlihat seperti gadis kecil nan imut.
Saat sampai di depan pintu kelas Klara berhenti, ia merasa heran kenapa pintu kelasnya ditutup.
“Lah ditutup, gue kepagian ya?” gumamnya seraya mengucek matanya karena gatal.
Saat itu juga tangan yang lebih panjang darinya meraih gagang pintu itu, hal ini membuat tubuh mereka saling berdekatan.
“Ko ga masuk?” kata pemuda itu dengan polosnya, hal ini membuat pipi Klara merona sekaligus kaget dengan keberadaan si aroma coklat yang tiba-tiba.
“Hm? Ko lo disini, ngapain?” tanya Klara tanpa tahu apa-apa, sedang si pemuda tersenyum mendengar pertanyaan Klara.
“Bukannya kita sekelas?” tanya pemuda tampan itu menunjukan senyum manisnya lagi pada Klara. Lagi dan lagi pipi Klara merona hampir disetiap ucapan si pemuda.
“Oh iya-ya, ya-yaudah masuk aja hehe” jawab Klara gugup ditambah wajah yang masih merona karena malu.
“Dia satu kelas sama gue? Oh! Jangan-jangan dia cowo yang kena tiupan korden waktu itu!” dalam hati Klara yang sekarang sedang menuju bangkunya.
...
Saat jam pelajaran pun mata Klara gatal ingin melihat sosok pemuda beraroma coklat itu, dia tengah duduk memperhatikan guru yang sedang menjelaskan di depan.
“Hm dia lagi apa sekarang” dalam hati Klara yang sekarang langsung menoleh menatapnya, saat ini dia terlihat ranjin dengan tangannya yang sibuk mencatat.
Melihat ini Klara tersenyum, sadar jika dirinya sedang diperhatikan, pemuda itu langsung menatap balik Klara dengan polosnya seakan bertanya kenapa melihatku. Sedang Klara langsung memalingkan wajah dan membuka buku catatannya seolah tak terjadi apa-apa.
Jam istirahat, Cika gadis penuh enerjik itu mengajak Klara pergi ke kantin. Karena ingin bertemu dengan teman-teman yang lain disana.
“Ra kantin kuy, kita bakal bareng lagi sama Si Rosa, Nisa, and Sinta hehe”
“Oke yuk!” jawab Klara sama cerianya karena tak sabar ingin bertemu teman-teman sekelasnya yang dulu.
“Gue kira lo bakal sedih berkepanjangan soal kemarin, nyatanya lo gampang banget move on yah, bisa-bisanya sekarang lo senyum seceria itu seakan gak terjadi apa-apa padahal kemarin lo nangis sendirian di tengah taman” gumam si pemuda tersenyum yang sedaritadi memperhatikan Klara.
Di kantin suasana menjadi ramai ketika mereka berlima bertemu, bak sebuah reuni teman lama padahal mereka hanya pisah kelas saja. Mereka langsung memesan makanan dan minuman dilanjut cerita dari masing-masing kelas.
“Gimana lo, kan sekelas lagi sama si Ardan. Ada kemajuan ga?” pekik Nisa dengan raut wajah penasaran.
“Gue ditolak” cletuk Klara dengan senyum ceria diwajahnya. Melihat ini Nisa langsung menyentuh jidat Klara seakan bertanya kamu sehat kan.
“Hah! Serius! Dia kan udah lama lo perjuangin Ra, inget ga yang waktu itu Ardan nyuruh lo pura-pura jadi pacarnya buat alesan dia nolak cewe lain?” pekik Rosa memastikan apakah temannya itu tidak apa-apa.
“Ahh jujur waktu itu gue seneng banget soalnya bisa ngusir salah satu saingan gue wkwk tapi nyatanya gue sendiri juga ditolak hehe” jawab Klara santai tanpa beban.
“Ko sikap lo gini si? Kebanyakan cewe kalo abis ditolak ato diputusin kan galau gitu..” kata Sinta penasaran.
“Emm gue gada pemikiran gitu si, abis kalo ditolak ya udah mau gimana lagi. Lebih baik mundur kan, di dunia ini masih banyak cowo yang lebih ganteng dari Ardan” pekiknya dengan senyum lebar diwajahnya.
“Buktinya cowo semanis coklat itu, dia lebih ganteng dari si Ardan hehe,walaupun jauh di dalem masih tersisa ruang untuk Ardan” dalam hati Klara yang masih memikirkan sosok pemuda beraroma coklat itu.
“Waw ekspresi tak terduga, lo itu bener-bener yah ahahaha” seketika tawa teman-temannya pecah ketika melihat reaksi Klara yang bertolak belakang setelah di tolak seorang pemuda yang setahun ini ia kejar.
..
Jam pulang, Klara berencana pergi ke toko buku. Dia ingin membeli beberapa buku biologi untuk tugasnya kali ini. Sampai disana Klara langsung memilih-milih buku, lagi-lagi buku yang Klara pilih terletak di tempat tinggi.
“Hahh nyesel punya badan pendek deh, kalo kek gini nih susah” cletuknya yang sedari tadi berusaha meraih buku itu. Tak lama kemudian tangan yang lebih panjang darinya mengambil buku yang sedari tadi ingin Klara ambil.
“Wah... ceritanya diambilin nih hihi” dengan penuh percaya diri Klara langsung berbalik dan mengucap “Makasih yah” tak luput dengan senyum cerah diwajahnya.
Sedang si pemuda hanya mengangkat satu alisnya.
“Hah! Dia lagi, ahh bisa-bisanya sampe sekarang gue belom tahu namanya” gumam Klara terkejut saat melihat sosok pemuda di belakangnya, benar pemuda itu adalah pemuda beraroma coklat.
“Makasih buat apa” tanya pemuda itu tidak peka. Sebenarnya dia juga butuh buku itu untuk mengerjakan tugas yang sama dengan Klara karena mereka satu kelas kan.
“Dia gak bermaksud nyerahin buku itu yah, akrrh bikin malu” dalam hati Klara yang sekarang ia diam menundukan kepalanya karena malu.
“Dia ngira gue ngambilin ini buat dia kah?” dalam hati si pemuda berpikir.
“Nih...” tiba-tiba pemuda itu menyerahkan buku itu pada Klara.
“Eh, ko dikasih kek gue?” tanya Klara kebingungan.
“Bukannya tadi lo berusaha ambil buku ini kan Ra?” tanya si pemuda.
“Eh dia tau nama gue dari mana, gue aja belom tau nama dia. Ko tiba-tiba gue jadi gak enak sama dia yak” pekiknya dalam hati yang masih kebingungan.
“Ah gue rasa lo yang lebih butuh buku itu. Oh iya, ko lo tau nama gue?” tanya Klara tiba-tiba.
“Oh! maaf gue belum ngenalin diri dengan baik. Salam kenal Klara, gue Dirga” katanya pada klara dengan suara indahnya.
Degh!
Lagi-lagi perkataannya membuat jantung Klara tersentak kaget dan pipinya merona.
“Oh hay..” jawab Klara dengan gugup. melihat ini si pemuda pun tersenyum, tentu Klara juga membalas senyuman manis si pemuda.
Saat sebuah toko buku berhasil menjadi sebuah moment. Moment dimana dua insan yang saling menatap seraya saling melempar senyuman.
Akankah benih-benih cinta yang mereka tabur akan tumbuh?
Kuyy ikutin teruss ceritanya..
Love U all..
(๑・ω-)~♥”
Jan lupa like and coment...