Twin Boys

Twin Boys
#5



Jan lupa Klik Bintang di bawah pojok kiri


^o^


Enjoy for reading...


(。'▽'。)♡


"Pagii Ra.." cletuk Nisa ceria yang baru berangkat.


"Ah.. hai! pagi juga Nis" jawab Klara sama cerianya.


"Hei! dari lo berdua siapa yang udah selese ngerjain tugas fisika kemarin?" cletuk Rosa yang tiba-tiba menoleh kearah Nisa dan Klara.


"Belom/Udah" jawab Klara dan Nisa bersamaan.


"Ishh siapa yang udah, siapa yang belom si?" tanya Rosa heran.


"Gue udah ko hehe" Klara tersenyum manis.


"Ga da sejarahnya gue ngerjain tugas hitung-hitungan Ros ahahaha" jawab Nisa terkekeh.


"Gue liat tugas lo boleh kan Ra?" ujar Rosa tanpa dosa pada Klara.


"Boleh ko, nih.." dengan wajah cerah Klara memberikan bukunya begitu saja.


"Ets gue dulu! Gue liat ya Ra hehe" dengan cepat Nisa merebutnya dari tangan Klara.


"Oh! Boleh-boleh.." jawab Klara agak bingung karena bukunya sekarang diambil Nisa.


"Ahh kan gue dulu yang minta.." rengek Rosa.


"Elah bentar doang, nih mau gue foto biar cepet bambang" cletuk Nisa cuek yang masih sibuk memotret tugas Klara.


Alih-alih memperhatikan kedua temannya memperebutkan bukunya, Klara memilih memperhatikan sosok tampan yang tengah duduk tepat disampingnya. Siapa lagi kalo bukan Ardan, sekarang ia terlihat tengah asik bermain game di poselnya.


"Asem! Ko tiba-tiba diblakang si? **** gue tembak balik K.O lo! mapus!" yang sedari tadi Ardan berbicara dan mengumpat sendiri karena terlalu asik bermain game dan terus ditatap hangat oleh Klara.


"Hmm.. dia ga serem ko, main game gini keliatan manis banget kek anak kecil" dalam hati Klara yang saat ini bibirnya tersenyum menatap hangat pemuda tampan itu. Namun tampaknya Ardan tak menyadarinya karena terlalu asik bermain game.


Beberapa menit kemudian kelas dimulai, semuanya berjalan sewajarnya sampai waktunya mapel fisika dimulai.


"Wuhh.. untung gue udah, thanks ya Ra" cletuk Nisa menghela nafas lega karena tugasnya terselesaikan berkat Klara.


"Gak nyangka ni anak baik juga, kayaknya dia pinter deh.. diliat dari tulisannya ranjin dan jawabannya keliatan spesifik" dalam hati Nisa yang saat ini masih tersenyum pada Klara.


"Siang, anak-anak.." sapa bu Riska yang tak lain adalah guru Fisika disana.


"Siang bu.." jawab anak satu kelas kompak.


"Tugas yang ibu berikan kemarin sudah kan? Kalau gitu ibu persilahkan untuk maju mengerjakannya di depan, jika tidak ada ibu tunjuk ya.." kata bu Riska pada semua penghuni kelas.


Terlihat para siswa-siswi gugup dan mulai membolak balikkan buku catatan mereka. Semuanya berbisik-bisik saling menyuruh satu sama lain agar maju kedepan. Melihat hal ini Klara dengan tenangnya mengecek soal dan jawabannya sendiri.


"Sttt, lo ga mau maju Ra?" bisik Nisa temen sebangkunya.


"Emm ntar deh takutnya ada yang pengen maju, oh iya lo mau maju?" Klara malah bertanya balik.


"Tenang aja, jawaban gue pasti bener ko hehe" tambah Klara dengan senyum polosnya pada Nisa.


"Dia beneran pinter kan? Ko gue ragu si, tapi kayaknya dia beneran pinter deh" dalam hati Nisa masih tak percaya.


"Ya iya lah bener, fisika kan hobi gue dan soal kek gini mudah banget hehe" dalam hati Klara menyombongkan dirinya sendiri.


"Saya bu!" tiba-tiba Leo mengangkat tangannya dan maju kedepan. Saat ia menulis jawabannnya di papan tulis itu terlihat berbeda dengan jawaban milik Klara, berkat ini Nisa semakin curiga kalau-kalau jawaban Klara itu salah.


"Fiuhh untung tadi ga jadi maju" dalam hati Nisa.


"Hmm dia pake cara itu ya, ribet amat mending cara gue pendek dan simple jadi ga perlu panjang lebar gitu, buang-buang isi spidol aja hehe" dalam hati Klara terkekeh karena ia sudah paham betul tentang soalnya.


"Oke cukup, terimakasih silahkan duduk" ujar bu Riska, lalu melihat jawaban Leo yang memenuhi seluruh papan tulis itu.


"Eh Ra kayaknya Leo anak pinter deh, liat jawabannya banyak kek gitu. Gue yang liat aja pusing" bisik Nisa pada Klara yang menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hehe, jawaban pajang belom tentu bener kan?" cletuk Klara tersenyum. Hal ini membuat Nisa menyeringatkan satu alisnya.


Sedangkan Ardan yang mendengar ocehan mereka berdua hanya terkekeh.


"Crewet" cletuk Ardan seraya memperhatikan jawaban Leo di papan tulis.


"Hmm kerja bagus Leo, awalnya sudah betul namun pertengahannya sampai akhir salah nih, ada yang mau perbaiki?" tanya bu Riska yang masih berdiri di depan kelas. Dan tak disangka Klara dan Ardan mengangkat tangannya bersamaan.


"Woahh ada dua anak, tapi keduluan yang cowo. Kalo ga salah Ardan ya?" tanya bu Riska menunjuk Klara. Mendengar ini dengan santainya Ardan berdiri dan beranjak maju ke depan kelas. Melihat hal ini Klara terpaku melihat Ardan berjalan ke depan kelas sedang Nisa terkekeh melihat Klara.


"Hmm pangeran gue maju.." dalam hati Klara berdecak kagum melihat Ardan.


Seletelahnya Ardan langsung menghapus jawaban Leo dan menulis jawabnnya. Dengan telaten ia menulis jawabannya yang simple dan mudah dipahami. Melihat ini bu Riska mengerutkan dahinya.


"Ardan, kamu bisa jelaskan kenapa jawabanmu?" ujar guru itu pada Ardan.


"Eh! Ko jawabannya sama kek punya Klara?.." dalam hati Nisa yang masih mencocokan jawaban Klara dengan jawaban yang Ardan tulis didepan.


"Oke bu, jadi biasanya rumus ini kan panjang seperti yang dikerjakan Leo tadi, saya pernah membaca buku dan ada rumus singkatnya seperti yang saya kerjakan ini. Dari pada rumus panjang itu, rumus ini lebih singkat dan mudah dipahami. Kita juga bisa mengaplikasikannya menggunakan rumus yang panjang itu hanya tinggal memindahkannya seperti ini" Ardan menjelaskan seraya menulisnya dengan detail dan ia mengaplikasikan rumusnya menggunakan rumus panjang itu.


"Oke! Jawabannya betul banget, kamu boleh duduk ganteng" cletuknya mempersilahkan Ardan duduk dan Ardan menurutinya.


"Belajar dimana lo? Ko bisa kek gitu? Keren broo" bisik teman sebangku Ardan kepadanya yang baru menduduki bangku sedang Klara yang sedaritadi masih memperhatikan Ardan dengan senyuman bodohnya.


"Anak-anak lihat ini, yang dikerjakan teman kalian itu benar yah. Jadi ini cara singkatnya dan ini cara panjangnya. Kalian boleh milih cara yang menurut kalian mudah dipahami, jika ada yang salah perbaiki jawaban kalian, setelah itu Ibu akan memberikan tugas baru" cletuk guru itu menjelaskan.


"Asyik! Ini sih namanya jodoh, bisa-bisanya dia pake rumus yang sama kek punya gue hihi" gumam Klara yang sedaritadi masih menatap diam-diam sosok Ardan. Sedang Nisa teman sebangkunya yang melihat ini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hei! Ra jawaban lo ko bisa sama kek punya Ardan?" cletuk Rosa yang tiba-tiba menoleh kearah Klara. Namun, Klara sepertinya tak menggubrisnya ia masih fokus memperhatikan pemuda tampan itu.


"Stttt, dia lagi kasmaran jan diganggu hihi" bisik Nisa terkekeh pada Rosa. Melihat ini Rosa ikut terkekeh dan membalikan badannya ke depan.


Bel istirahat pun berbunyi, seketika anak-anak mengerumuni Ardan karena apa yang dilakukanya tadi di depan kelas lagi.


"Ar? Lo ko bisa nemuin jurus singkat gitu?" tanya Sinta yang berdiri tepat disampingnya.


"Kerja bagus bro, berkat lo kita jadi ga usah pake rumus sepanjang jalan tol itu" cletuk teman sebangkunya.


"Eh ko lo bisa si?" tanya Rosa yang menoleh kearahnya.


"Kan dibuku ada, tinggal dipahamin kan?" jawab Ardan cuek dan mulai memainkan game diponselnya.


"Lo anak pinter yahh" cletuk Nisa tiba-tiba ditambah anggukan Klara yang tersenyum manis padanya.


"Jelas lah udah keliatan dari muka kalo pangeranku ini cerdas hehe" dalam hati Klara merasa senang.


"Semua manusia itu pinter gak ada yang bodoh, kalo pun dia bodoh itu karena dia males dan ga mau usaha" jawab Ardan dingin seraya berdiri menjauh dari teman-teman yang mengerumuninya.


"Ishh dingin banget, tapi entah kenapa dia keliata cool si?" tiba-tiba Cika berbicara seperti itu seraya berjalan mendekati Klara yang tengah duduk dengan wajah ceria.


"Cool! emang dia es?" kata Nisa terkekeh mendengar omongan Cika. Mendengar ini tawa yang lain termasuk Klara juga pecah.


"Kalo aja dia murah senyum pasti bukan sekedar es tapi es krim karena manis" tambah Rosa berusaha melanjutkan candaannya dengan penuh keceriaan diwajahnya. Berkat itu suasana kelas menjadi ramai membicarakan sosok Ardan.


Tak lama setelah itu separuh dari mereka pergi ke kantin dilanjut yang lainnya juga meninggalkan kelas karena urusan pribadinya.


"Ra, gue mau ke klub dulu ya" kata Nisa pada Klara.


"Oh? Lo jadi ikut pencak silat kemarinn? Kerenn!" jawab Klara riang.


"Lo mau ikut juga ga? Mumpung masih baru nih, oh iya keren tau kalo cewe bisa bela diri" Nisa berusaha mempengaruhi Klara agar mengikuti club pencak silat bersamanya.


"Kayanya gue ga ada bakaat buat itu hehe, lo liat sendiri badan gue aja lebih pendek dari lo. Waktu itu juga udah pernah nyoba ikut karate dan cuma bisa bertahan 3hr hehe" jelas Klara yang sejatinya tak terlalu tertarik pada ilmu bela diri.


"Ahh sayang banget.." keluh Nisa.


"Maaf Nis.." ujarnya dengan muka memelas pada Nisa.


"Ya udah gapapa, gue tinggal dulu ya bye.." Nisa langsung pergi begitu saja karena pencak silat sudah menjadi hobinya dari dulu.


Sedang Klara sekarang pergi sendiri menuju kantin, disana dia tengah membeli ice coklat favoritnya.


"Owh iya de, silahkan" cletuk pedagang dikantin seraya memberikan ice itu pada Klara. Saat Klara sedang menerimanya tiba-tiba ia mencium aroma parfum coklat.


"Hm? Bau ini!" tanpa pikir panjang Klara langsung pergi mengikuti aroma coklat tersebut.


"Dek? Ini esnya belom diambil?" teriak teriak pedagang itu karena Klara sudah membayarnya.


"Bang kasih ke aku aja, ntar aku yang kasih ke dia. Dia temen sekelasku soalnya" kata Sinta yang menerima Ice coklat.


"Dia pergi kemana si? Ko lari gitu?" Sinta berbicara sendiri sembari menyeruput es milik Klara yang berlari menjauh begitu saja.


Langkah Klara terhenti di taman sekolah "Hah.. hah.. yahhh ko ilang lagi, siapa si dia?" pekik Klara terengah-engah yang sedaritadi berlari mengejar pemuda beraroma coklat itu. Dia menoleh kesana-kemari mencari sosok si pemuda beraroma coklat.


"Wahh cepet banget ngilangnya, perasaan dia jalan kesini, kan dia tinggi jadi gue tau, apa gue salah?" dia terus meracau sambil berjalan, Klara berhenti tepat di depan sebuah tanaman menjalar dan dipenuhi bunga terompet berwarna putih.


"Wih cantiknya.." langkahnya terhenti di taman ketika melihat bunga-bunga cantik itu, seketika ia lupa untuk apa tujuannya kemari.


Dia terus menatapnya dengan penuh senyuman.


"Rara kenapa ini namanya bunga trompet?"


"Kan bentuknya kaya trompet bodoh!"


Tiba-tiba Klara teringat aka memorinya bersama seorang anak.


....


Etss sampe sini dulu ya..


tunggu sampai Minggu depan hehe..


kira-kira memori tentang apa ya?


ikutin terus ceritanya yaww..


kalo boleh masukin ke reading list hehe..


(♥ω♥*)


Thanks you udah mampir ke ceritaku...