
Oke ga usah lama-lama,
Langsung baca aja kauu...
(。’▽’。)♡
di kamar,
Klara tak henti-hentinya menatap sebuah buku yang tadi diberikan Dirga.
Dipikirannya saat ini adalah kenapa bisa Dirga mengetahui namanya.
“Ko bisa si dia tau nama gue? Gue juga harus nunggu setahun dulu baru bisa liat muka sekaligus tau namanya, itupun baru tadi gue tau nama dia... hmm aneh?”
Tak habis pikir dengan itu Klara pun melanjutakn niatnya untuk belajar.
Esoknya, seperti biasa Klara membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, tak lupa ia memasukan beberpa buku dan saat itu juga tangannya terhenti ketika melihat buku pemberian Dirga.
“Dia?”
Jam menunjukan pukul 06.30.
Klara pun melewatkan sarapan paginya dan lebih memilih tuk segera pergi kesekolah. Di halte seperti biasa ia menunggu bus/ angkot yang datang.
“Pakk” serunya seraya melambaikan tangan untuk menghentikan bus disana.
Melihat Klara, bus itupun berhenti tepat di depan halte tempat Klara berdiri. Seketika Klara mulai memasuki bus, betapa sukarnya ia saat mengetahui kondisi bus yang dipadati penumpang.
“Wahh berasa salah naik bus ini, penuh banget!”
Klara langsung masuk dan memilih tempat duduk disana. Sialnya hanya ada satu tempat duduk tersisa dan tepat di sebelahnya adalah sosok yang selama menjadi cinta sepihaknya, ya.. dialah Ardan, sosok pemuda populer namun terkenal dengan sikapnya yang dingin pada setiap wanita.
“Bodo ah, orang gue Cuma mau duduk” pekik Klara dalam hati dan langsung duduk di samping Ardan.
“Hah... kenapa lo lagi siii, emang dunia ini sempit banget ya? Ga di angkutan ga di sekolah kenapa gue Cuma liat lo hah? Bosen tau ga?!” cletuk Ardan tiba-tiba menoleh dilanjut dengan melepas kedua headset di telinganya.
“Maaf, bangkunya penuh gada lagi” jawab Klara cuek.
“Ko tiba-tiba cara bicara dia dingin? Biasanya kan kalo ke gue cara bicaranya halus banget” sepintas kalimat tersebut terbesit di kepala Ardan.
“Ah elah, pasti dia ngiranya gue masih ngejar-ngejar dia gitu? Maaf ini pengecualian karena gada bangku lagi” sedang di dalam hati Klara. Saat ini dia dengan tenangnya duduk di samping Ardan tanpa sepatah katapun.
Sesampainya di sekolah, mereka hanya jalan beriringan tanpa sepatah katapun.
“Klaraaa.....” teriak Cika seketika melihat Klara tengah berada tepat di ambang pintu. Kehebohannya tersebut berhasil membuat suasana kelas menjadi ramai.
“Ahh si cempreng bisik amat” cletuk Leo yang sedari tadi tengah asik berbincang dengan sohib-sohibnya.
“Iya tau nih si Cika”
“Maaf ya situasi darurat ini, tugas gue belom jadi, harus sergap cepat liat punya Klara”
“Yampunn rahasia orang tua kamu apa si? Ko bisa anaknya sebegitu enerjiknya..” culas Klara seraya ia meletakan tas miliknya di meja.
“Ahh dulu waktu nyidam emak gue tuh suka makan cabe makannya anaknya petakilan kek gue wkwk udah ah sini gue liat tugasnya yak”
“Auhh semalem ngapain?”
“Calling-calling sama doi dong sampe ketiduran pula hahaha”
“Ah dasar gue yang jomblo agak iri dengernya” keluh Klara seraya terkekeh dengannya.
“Sama gue juga..” cletuk Dirga yang tiba-tiba sudah berada di samping Klara.
Mendengar ini mata klara langsung membulat sempurna.
“Apa ini! ko dia ada disamping gue? Sejak kapan?”
“Hai Ra..” sapa Dirga dengan halusnya ditambah wajahnya yang sama tampannya dengan Ardan. Hal ini berhasil membuat pipi Klara merona begitu juga dengan Cika yang sama meronanya dengan Klara.
“Lo siapa” tanya Cika dengan polosnya.
“Gue Dirga, salken yah..” ucapnya dengan ramah tak ketinggalan senyum manisnya.
“Wahh ko lo sebelas duabelas sama si Ardan si, bedanya si Ardan tuh dingin dan lo kebalikannya” cletuk si Cika dengan polosnya, pasalnya wajah mereka berdua terlihat mirip bahkan sangat hanya saja dandanan mereka yang berbeda. Jika Ardan berpenampilan badboy sedangkan Dirga berpenampilan sweetboy.
“Ga ko kata siapa kita mirip!” tiba-tiba Ardan dan Dirga kompak mengatakan hal yang sama, hal ini membuat pandangan seluruh kelas tertuju pada keduanya.
“Eh? Kalo diperhatiin lagi Ardan sama Dirga ko bisa mirip banget gitu ya? Gue kira Cuma tinggi mereka aja yang sama ternyata dari ujung kepala sampe ujung kaki?” dalam hati Klara semakin penasaan.
“Ra kuy cepetan, beresinnya ntar aja...” rengek Cika yang tak sabar ingin segera pergi ke kantin.
“Sabar Cik, gue rapiin dulu biar ga brantakan” sedang dengan santaynya Klara membereskan mejanya.
“Ahhh lamaaa bebbb” rengek Cika lagi.
“Ayo ayo ayo wkwkwk”
Setelahnya mereka pergi ke kantin, seperti biasa mereka memesan makanan dan memilih tempat duduk.
“Oy Klara...” teriak Nisa dari kejauhan dengan tangan yang menenteng jajanan.
“Hayy.. sini..” jawab Klara melambaikan tangannya. Seketika mereka bertiga duduk bersama dan saling menceritakan kisahnya.
“Eh tau ga Nis, ada yang aneh di kelas kita ya kan Ra?” pekik Cika.
“Hm mm iya..” besamaan dengan anggukan Klara.
“Apa.an” jawab Nisa dengan santainya seraya memasukan bakso bakar ke mulutnya.
“Nih si Ardan tau kan lo?” tanya Cika.
“Oh dia? Kenapa macem-macem dia sama Klara? Ntar gue labrak tu anak”
“Bukan Nis, kayaknya dia punya kembaran..” jawab Klara disertai anggukan oleh Cika.
“Hah?” mendengar ini salah satu alis Nisa terangkat.
“Iya nis, lo tau kan cowo aroma coklat yang sering gue gambar?”
“Ahh yang lo ga pernah gambar mukanya itu?”
“Betulll”
“Lo gambar Ra? Ko gue ga tau?” tanya Cika tiba-tiba.
“Ntar gue tunjukin beb, nih ternyata muka dia mirip pake banget sama si Ardan”
“Sumpah?”
“iyaa..”
Setelahnya tak ada yang istimewa, mereka kembali mengikuti pelajara seperti biasa. Sampai waktu menujukan jam pulang.
Terlihat saat guru berkata “Oke anak-anak kita lanjutkan besok, silahkan kemasi barang kalian” seketika itu juga para murid disana mengemasi barang-barang mereka.
“Gue duluan ya Ra, soalnya ayang beb gue udah nuggu di depan wkwk bye sayang” cletuk Cika yang dilanjut ia langsung berlari keluar kelas.
“Ah elah dasar” sedangkan Klara yang melihat ini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Saat ia hendak berjalan menuju pintu kelas, tiba-tiba saja tangan panjang menarik tas yang ia kenakan. Reflek badan Klara berbalik karena tasnya ditarik.
“Haii..” katanya yang saat itu juga terpampang jelas wajah Dirga dihadapannya. Sedang Klara hanya terdiam dengan kedua mata yang membulat sempurna.
“Ya?” satu kata terucap dengan bodohnya karena kaget.
“Mau keluar bareng?” tanya Dirga tersenyum manis.
“Haa” lagi dan lagi Klara dengan ekspresi bodohnya.
“Udah ayo..” melihat Klara yang terdiam, Dirga langsung menggandengnya begitu saja.
“Wahh jantung gue...” dalam hati Klara.
Sedang Ardan yang masih duduk di bangkunya hanya memperhatikan mereka berdua dengan tatapan tak mengenakan.
(*^3^)/~♡
Okeyy...
Gimana-gimana...
Seru ga seru ga....
Adakah yang menunggu kelanjutan dari cerita ini?
Oke jan lupa like and coment yaaa...