
Pagi yang cerah,
Saat itu terlihat Klara dengan santainya berjalan melewati koridor menuju kelas. Terlihat pula Dirga yang diam-diam berjalan di belakangnya.
”Apa ini? mau dilihat dari manapun dia terlihat manis dan imut” gumamnya tersenyum sembari memperhatikan Klara berjalan dari belakang.
“Hai.. Cik..” sapa Klara dilanjut ia meletakan tasnya diatas meja.
“Pagi bebeb” sahut Cika dengan girang.
Pagi itu dipenuhi canda dan tawa para murid, tak lama setelah itu terdengar langkah guru berjalan dari koridor depan.
“Stttttt guru woy” bisik salah satu anak memberi kode jika akan ada guru yang memasuki kelas mereka. Dilanjut dengan yang lainnya mulai berlarian menuju meja dan menyiapkan buku mereka, setelah itu pelajaran dimulai seperti biasa.
Jam istirahat,
Terlihat Klara tengah berjalan menuju perpus, ia hendak mengembalikan buku yang dipinjamnya minggu kemarin.
“Misi ibu, saya mau ngembaliin buku hehe” sapa Klara pada penjaga perpus.
“Oh baik, abis ini bukunya ditaro di tempatnya lagi ya” jawabnya dilanjut dengan anggukan Klara tanda iya.
Sekarang Klara berjalan menyusuri rak-rak buku yang berbaris dengan rapihnya, dengan teliti ia mencari jenis buku yang sama dengan buku yang ia pinjam.
“Sttt perasaan kemaren gue ambil disini deh” ucapnya seraya memiringkan kepalanya karena bingung.
“Ah lama, tinggal taro gini aja” cletuk Ardan yang tiba-tiba berada di belakangnya, tak berhenti disitu si Ardan langsung merebut buku yang di pegang Klara dan menaruhnya di sembarang rak begitu saja.
“Hih! Sejak kapan lo di blakang gue?” sedang Klara hanya diam dengan tatapan yang membulat.
“Kenapa lo, ga ke biasanya?” tanya Ardan, mendengar ini Klara mengirutkan tatapannya dan secara sadar dan tidak sadar gadis satu ini memegang jidat Ardan.
Mungkin karena tinggi badan Ardan yang kalah jauh dengan Klara, alhasil gadis satu ini menjijitkan kakinya.
Melihat ini si Ardan hannya diam dan menatap wajah mungil gadis itu.
“Lo sakit yah?” lanjut Klara. Mendengar ini sukses membuat kedua bola mata Ardan membulat sempurna.
“Hah? Yang ada lo yang sakit” jawab Ardan sembari menyingkirkan tangan Klara yang masih menempel pada jidatnya itu.
“Ishh dasar, tingkah lo aneh tau ga, abis kesurupan apa si lo? Ga sadar lo deket-deket gue sekarang? Bukannya lo tuh jiji ya sama gue?” tiba-tiba saja kata-kata yang selama ini Klara tahan saat berhadapan dengan Ardan keluar begitu saja.
“..... hei pede beanget si, orang gue mau pinjem buku! Minggir-minggir menuhin tempat aja lo” Ardan menghela nafas dan terkekeh sejenak. Mendengar ini Klara memasang wajah sinis padanya.
“Cebol gak berhak liatin cogan kek gue, pergi sono” sadar jika tatapan sinis menuju dirinya, Ardan mengusir Klara.
“Enak aja cebol, lo yang abnormal ketinggian gitu” balas Klara dengan nada agak menekan.
“What? Apa lo bilang, abnormal? Hei gue tinggi ya wajar, normal lah. Yang ada tuh lo, megang jidat gue aja pake jinjit segala, dasar cebol” mendengar Klara, Ardan tak tinggal diam.
Klara merasa perdepatannya dengan Ardan tak akan selesai jika salah satu diantara mereka pergi, alhasil Klara memilih untuk pergi begitu saja.
“Ck. Lama-lama gue ilfil sama si Ardan deh. Auhhh bisa-bisanya dulu gue ngejar-ngejar dia si,bodoh.” Klara terus bergumam dalam hatinya seraya berjalan keluar dari perpustakaan.
“Hm, lama-lama kalo dipehatiin tu cewe imut juga kalo marah. Hehe rasanya pengen gue jailin lagi deh ahahaha” sedang dalam hati Ardan yang diam-diam memperhatikan Klara yang berjalan keluar.
Saat itu Klara berjalan dengan langkah cepat, anehnya saat itu koridor terlihat seperti terowongan tak berujung baginya.
Pasalnya ia tak sabar dan ingin segera sampai di kantin.
“Ko baru sadar kalo kantin sejauh ini” pekiknya seraya mempercepat langkahnya.
Di kantin,
Terlihat seisi kantin dipenuhi para murid, entah itu mereka sedang memuaskan rasa lapar atau sekedar bersenda gurau disana. Sedang Klara langsung berjalan menuju jajan terfavorit di SMA itu.
“Pliss roti lapisnya masih ada pliss gue pengen makan itu” gumamnya dalam hati seraya memasuki kerumunan itu.
Sepertinya keberuntungan tak memihak padanya, saat Klara hendak membelinya, roti lapis itu sudah terjual habis.
Dengan langkah berat ia berjalan menuju taman sekolah hanya dengan menenteng dua kaleng minuman soda.
“Gue ga haus, gue pengen roti lapis itu. dua kebanyakan ya udah deh buat pulangnya aja kali ya” sedang asik berjalan dan berbicara sendiri, terlihat sosok Dirga menghampirinya dari belakang.
“Hai Ra, barter yuk” katanya tersenyum ceria.
“Barter? Emang ini jaman bahela?” mendengarnya Klara sedikit terkekeh.
“Emm.. boleh deh hehe” awalnya Klara sedikit berpikir karena sebenarnya ia juga sedang menginginkan roti lapis itu.
“Oke duduk situ yuk” ucap Dirga mengajaknya duduk di bawah pohon di taman sekolah itu.
“Nih” Dirga menyodorkan roti lapis miliknya dilanjut Klara yang memberikan sekaleng minuman bersoda. Alhasil merekapun memakannya bersama di sana.
“Bisa-bisanya lo ko beli dua roti sekaligus, emang kuat diabisin semua?” tanya Klara sembari mengunyah roti lapis hasil barternya dengan Dirga.
“Ah lo ga tahu si, nih gue kasih tahu yah” cakapnya sembari meminum minuman kaleng hasil barter dengan Klara.
“Ha? Apa emang?” kata Klara penasaran.
“Karna gue suka..” ucapnya dengan lantang, tak ketinggalan pula senyuman manisnya.
Blussshhh...
Seketika itu juga ekspresinya berhasil membuat merona wajah si gadis.
“Gilaa manis banget! Yampunn anak siapa ini kyaaa” dalam hati Klara merasa gemas dengannya.
“Oh iya kita kan baru kenal, tapi ko waktu itu lo udah tahu nama gue?” tanya Klara tiba-tiba.
“Emm hehe”
“Malah ketawa lagi, ah ato jangan-jangan lo ngestalker gue ya?” tanya Klara lagi panik.
“Engga ko, emang kita udah kenal kan? Ga inget emang?” kata Dirga seraya memiringkan kepalanya.
“Sejak kapan?” kata-katanya itu berhasil mebuat Klara berpikir keras.
“Udah ga usah dipikirin ntar pusing”
“Ishh” Klara mengirutkan matanya.
Sebenarnya Klara sangat penasaran akan hal itu namun sepertinya, Dirga tak ingin membahasnya dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“Lo kutu buku ya” tanya Dirga.
“Auhh, orang berkacamata itu bukan berarti kutu buku” jawab Klara dilanjut ia meminum minumannya.
“Hmm iya si, tapi gue sering liat lo pergi ke perpus dan oh iya inget ga waktu itu yang lo mau baca setumpuk buku itu?” tanya Dirga.
“Hah? Kapan si? Oohh yang waktu itu gue hampir jatoh apa yah” ucap Klara sembari menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
“Iya..” Dirga terkekeh melihat ekspresi Klara sekarang.
“Pulang nanti mau balik bareng ga?”
“Hm? Boleh, emang lo gada eskul?”
“Em ga da” jawabnya sembari berdiri dan membersihkan celananya yang kotor akibat duduk di tanah.
“Oke sampe pulang nanti ya, gue mau nyamperin temen dulu” ujar Dirga lalu pergi begitu saja. Hal ini disambut anggukan oleh Klara yang masih asik duduk di bawah pohon.
Jam pulang sekolah,
"Ra tunggu.." cletuk Dirga dengan langkah agak sedikit berlari menghampirinya.
"Oh iya" katanya sembari menoleh ke arah Ardan.
"Ra kita seklompok kan, kita kerjain sekarang aja kuy" jawab Ardan santai.
Melihat ini Dirga menghentikan langkahnya dan hanya memperhatikan mereka dari jauh.
Oke sampe disini dulu ya..
Gimana? bikin penasaran?
Kuy baca kelanjutannya ya..
Jan lupa klik bintang di pojok kiri bawah ya..
Makasih udah baca ceritaku...
\(-ㅂ-)/ ♥ ♥ ♥