
Jan lupa votenya sayang..
(。'▽'。)♡
"Heh? Ko jadi inget dia si?" dalam hatinya seraya menatap bunga-bunga itu. Ia teringat dengan teman masa kecilnya yang dulu sering bermain bersama, Klara memanggilnya dengan sebutan Indung. Sesaat Klara juga tersenyum karena mengingat wajah polos teman kecilnya.
"Ishh dia gimana sekarang yah, udah sembilan tahun gak pernah ketemu lagi" gumamnya yang masih asik berdiri di depan tanaman cantik itu.
"Klara.... lo ngapain disini si?" pekik Sinta yang sedaritadi mencarinya. Sekarang ia sedang berlari menghampiri Klara yang masih berdiri dengan polosnya.
"Ehh iya kelupaan.." jawab Klara dengan senyum tanpa dosa.
"Lo aneh deh, balik kelas yuk. Bentar lagi juga bel, oh iya nih minuman lo kenapa ga diambil? Maaf gue minum dikit tadi, haus soalnya hehe" cletuknya seraya memberikan minumannya pada Klara, melihat tingkah temannya itu Klara terkekeh dan menurutinya.
Di kelas mereka berdua bergabung dengan teman-teman yang lain. Suasana kelas yang menyenangkan, dimana ada yang sedang menyanyi, tertawa, saling mengejar satu sama lain. Sungguh suasana ini akan menjadi sebuah kenangan yang selama ini Klara inginkan, dimana tidak ada yang namanya ketua geng atau bos dan suasana ketika anak-anak seperti dirinya dirundung.
"Akhirnya gue bisa bersekolah dengan normal" gumam nisa seraya menyeruput minuman miliknya.
"Ra, pulsek nanti lo mau ikut gue ke student mart?" tanya Rosa yang tiba-tiba berbalik ke arah Klara yang duduk dan masih menikmati minumannya.
"Mau beli apa emang?" tanya Klara.
"Gue mau beli alat-alat gambar buat ade gue ikut lomba hehe, mau yah?" kata Rosa memohon.
"Ayu aja hihi, btw ade lo jago gambar? Keren tuh bisa jadi pelukis" jawab Klara tersenyum.
"Iya ade gue emang jago gambar, gurunya malah sering nyuruh dia ikut lomba-lomba gitu"
"Wahh, kelas berapa sekarang?"
"Dia kelas 4 SD" jawab Rosa senang karena mereka membicarakan adiknya. Setelah itu pelajaran dimulai sampai jam pulang.
"Yuk, jadi kan Ra" kata Rosa yang sedang menggunakan tasnya.
"Lo ajak Klara kemana?" tanya Nisa karena tadi dia ada di club silat.
"Rosa tadi ngajak gue anterin dia beli peralatan gambar buat adeknya" jawab Klara yang selesai membereskan barang-barangnya.
"Owh, gue pengen ikut tapi ada latihan hari ini huhu. Ya udah gue otw dulu ya bye!" cletuk Nisa ceria dan pergi begitu saja.
"Wahh dia semangat banget kalo urusan silat" cleruk Rosa yang memperhatikan Nisa pergi.
"Ahh itu udah hobinya dari dulu, dia yang cerita sendiri ke gue" pekik Klara dilanjut mereka pergi ke student mart. Sampai disana Rosa dan Klara langsung masuk dan melihat-lihat seisi toko.
"Wahh aroma sekolah banget, gue suka ini" cletuk Klara yang menghirup bau toko itu.
"He? sampe segitunya lo, oh iya bagian peralatan gambar di belakang, kesana yuk" Rosa terkekeh melihat tingkah Klara dan mengajaknya kebagian peralatan gambar.
Disana mereka berdua memilih barang-barang mulai dari pewarna, pensil, penggaris, palet, kuas dan lain sebagainya. Disaat itu juga mata Klara tertuju pada buku berukuran sedang dengan sampul gambar bunga trompet warna putih.
"Wihh lucu tuh buku" cletuknya berjalan kearah buku itu.
"Hoo lo mau beli itu Ra?" tanya Rosa yang tiba-tiba ada di belakangnya.
"Iya nih, lucu sih gue suka hehe, lumayan buat catetan kecil" jawab klara tersenyum senang.
Setelah itu mereka beranjak menuju kasir dan pulang bersama. Sampai di rumah, Klara langsung mengganti pakaiannya dan membantu Ibunya di dapur. Ibu dan anak itu tengah menyiapkan makan malam bersama. Saat mereka tengah asik tiba-tiba Dika mengagetkan Klara yang sedang mencuci sayuran alhasil sayuran itu berserakan di tempat cucian piring.
"Ngagetin aja lo, mau ngapain?" pekik Klara kesal seraya membereskan kembali sayuran yang berserakan.
"Kak.. kaka kan jago gambar, gue ada tugas disuruh bikin poster struktur ginjal dan gue mau kaka gambarin ginjalnya hehe" rengek adiknya.
"Alah, apa susahnya gambar ndiri sih?" jawab Klara.
"Kaka tau ndiri kan kalo bagian dalam ginjal bentuknya kek apa, susah tau. Pliss ka gambarin dong, ntar kaka minta apa deh terserah" Dika terus membujuknya.
"Oke siap! tapi gambarin.." jawab Dika lalu pergi mengambil peralatan gambar dan kertas karton.
"Taro aja di kamar gue" teriak Klara yang melihat Dika pergi.
Setelah Klara selesai membantu Ibunya di dapur ia beranjak ke kamarnya. Di dalam terlihat dia sedang menaruh semangkuk bubur ayam lengkap dengan dua tusuk sate telur puyuh ditambah segelas es teh manis.
"Nahh gitu dongg.." Klara langsung beranjak menghampirinya dan langsung memakan bubur ayam hangat itu.
"Ka konsepnya terserah kaka mau kek apa, bikin yang keren ya ka. Nih udah ada materinya juga tinggal kaka salin.." sedang Dika menjelaskan ingin seperti apa konsep posternya dan Klara hanya mengangguk sambil memakan bubur ayam.
"Iya iya bawel, ntar gue bikin" kata Klara dengan mulut yang masih mengunyah bubur ayam.
Selesai dengan itu Klara mengambil tas miliknya dia mengambil notebook yang baru dibelinya tadi.
"Hmm buat apa ya ni buku? Nulis diary? Ah ga penting males gue. Oh! Alih-alih nulis gue gambar aja hehe. Gue janji bakal gambar tentang semua hal yang berhubungan dengan pemuda misterius itu sampe gue berhasil deket sama dia trus dikasih ke dia deh hehe" yang sedari tadi Klara duduk di meja belajarnya dan berbicara sendiri.
Terlepas dari itu Klara langsung membuatkan poster adiknya. Satu jam setelahnya Klara berhasil menyelesaikan poster adiknya itu.
"Selesai! pegel juga tangannya.." cletuknya sambil meregangkan jari-jarinya karena pegal.
Tiba-tiba Klara melirik notebook barunya, di dalam pikirannya ia berencana menggambar sesuatu di sana. Seketika Klara melupakan jari-jarinya yang pegal, diapun mulai membuat sketsa di buku barunya itu. Tak lama kemudian gambarnya mulai terlihat jelas saat Klara mulai mengarsirnya, ialah sosok pemuda yang tengah bersandar di bawah pohon. Namun, Klara hanya menggambar bagian belakang pemuda itu. Karena ia tak mengetahui wajahnya seperti apa.
"Kalo aja gue tau mukanya kek gimana, pasti mukanya semanis aromanya, tau banget gue paling suka parfum coklat kesanya tuh pria lembut ahh.. kan jadi inget bau dia..." gumamnya tersenyum-senyum melihat hasil karyanya.
"Ih lo kenapa ka? Senyam-senyum sendiri, oh! Wihh keren tuh ka, siapa?" cletuk Dika yang sedari tadi berdiri di belakang Klara dan melihat hasil gambarnya.
"Ini? dia tuh coklat emas gue, kepo bat. Nih udah jadi pergi sono" pekik Klara merasa terganggu oleh adiknya seraya memberikan posternya yang sudah selesai dibuat.
"Gambar mukanya juga dong ka, masa punggungnya doang" kata Dika seraya menggambil posternya.
"Ishh suka-suka elah, btw sesuai ga tuh hasilnya"
"Waow! Oke ka sip! Kalo sebagus ini bisa diminta buguru buat dijadiin contoh di kelas lain hehe, thanks ka" ucapnya terpukau melihat hasil gambar kakaknya itu, diapun langsung pergi keluar dengan mata yang masih fokus melihat posternya.
"Hmm iya yah kapan gue bisa liat muka dia?" ujarnya seraya memasukan notebook barunya kedalam tas dilanjut ia mulai mengerjakan tugas sekolah.
Esoknya di sekolah terlihat Ardan sedang berjalan menuju kelas, mungkin karena fisiknya yang hampir memenuhi semua kriteria para gadis, Ardan menjadi sorotan disana. Banyak siswi memperhatikan dirinya bahkan ada yang sengaja berjalan di belakangnya karena ia ingin berada dekat dengan sosok Ardan.
"***** udah ganteng tinggi lagi, kalo aja pacar gue kek dia.." bisik para siswa melirik Ardan dengan mata penuh binar.
"Wihh kalo di negri ginseg dia udah ditarik jadi idol tuh"
"Produk lokal juga ga kalah sama produk luar, gantengnya.."
Terdengar para siswi berdecak kagum saat Ardan melewati mereka begitu saja. Sadar dirinya sedang dibicarakan, iapun memasang headset agar tak mendengar ocehan mereka dan entah kenapa Ardan terlihat lebih keren dengan headset itu.
Dari jauh terlihat Klara berlari dan melewati Ardan begitu saja. Klara seperti ini karena dia sedang terburu-buru.
"Ck!" Ardan mengeluarkan smriknya saat melihat Klara berlari melewatinya begitu saja.
"Pagi-pagi udah rusuh gitu dasar parasit" Gumam Ardan dalam hati.
**Upss...
sampe sini dulu gaess..
(๑・ω-)~♥"
Lanjut minggu depan lagi hehe..
love U All**..