To Be Seventeen

To Be Seventeen
TBS ~ 07



Brukk...


"Sorry, sorry, gua ga sengaja" ucap Alya merasa bersalah sambil ngulurin tangan buat bantu orang yang tadi ia tabrak.


"Iya gapapa, lain kali ati ati ya" ucap seorang gadis dan menerima uluran tangan Alya.


"Sekali lagi maaf ya, gua duluan buru buru soalnya"


"Iya gapapa"


Selah itu Alya kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.


~••~


Selepas upacara jam pembelajaran dilanjutkan seperti biasa.


"Baik anak anak, sampai disini pembelajaran kita. Untuk tugas jangan lupa dikerjakan dan dateline pengumpulan adalah minggu depan. Dapat dimengerti? " Tanya bu Fika selalu guru Fisika dan wali kelas 11 IPA 1.


"Iya bu mengerti" serentak anak IPA 1


"Dan untuk Alya nanti selepas istirahat temui saya di ruang guru"


"Iya bu siap"


~••~


"Alya tadi saya mendengar bu Riris bicara dengan pak Kepala Sekolah mengenai Olimpiade Nasional. Jadi saya dengan bu Riris guru ekonomi anak IPS dan Pak Rozi sempat berunding sebentar. Bu Riris bilang kalo disekolah kita akan berpartisipasi dalam Olimpiade Ekonomi Nasional dan Olimpiade Akuntansi untuk anak IPS. Jumlah siswa yang dibutuhkan ada 5 anak. Dengan pembagian 2 tim, satu tim 2 anak dan satu lagi 3 anak. Sedangkan anak IPS yang lolos seleksi baru 4 anak, jadi saya dan pak Rozi sempat mengajukan nama kamu untuk mencoba mengikuti Olimpiade ini" bu Fika berhenti sejenak.


"Sebenarnya untuk jurusan IPA juga ada Olimpiade yang akan diikuti, tapi yang dibutuhkan hanya dua anak. Dan itu sudah ada dan sudah dibimbing dari awal semester dua di kelas sepuluh yang lalu. Sebenarnya saya percaya kamu mampu dalam teori, namun karena Olimpiade kali ini adalah teori disertai dengan praktek saya masih sedikit ragu. Kamu adalah siswi yang cerdas dan berbakat saya yakin kamu bisa. Tapi alasan saya tidak mengajukan nama kamu salah satunya karena kamu adalah siswi baru. Satu hal lagi yang membuat saya berat untuk memasukkan nama kamu, karena saya kasihan dengan perjuangan dua murid yang sudah digembleng dari dulu"


"Singkatnya, saya ingin tahu apakah kamu mau mengikuti Olimpiade untuk anak IPS atau tidak? Karena menurut cerita pak Rozi kamu sudah paham dan tau banyak tentang Ekonomi dan Akuntansi bahkan kamu memiliki banyak prestasi dibuang itu. Kami pihak sekolah berharap kamu kamu berpartisipasi. Bagaimana Alya? "


"Sebenernya saya sudah lelah bu dengan teori dan praktek di Akuntansi dan ekonomi. Tapi kalau dengan kehadiran saya bisa membantu InsyaAllah saya akan ikut berpartisipasi" ucap Alya dengan yakin.


"Syukurlah kalau begitu Alya. Waktu saya mendengar cerita dari pak Rozi, jujur saya kaget dan juga kagum. Seberapa cerdas sebenarnya kamu ini. IPS bisa IPA juga bisa, sungguh hal yang luar biasa"


"Bu Fika bisa saja, sebenarnya semua orang pasti bisa bu. Tergantung niat dan kemauannya saja"


"Ibu bangga dengan kamu, meski masih hitungan jari kamu sekolah disini kamu sudah bisa membuat semua guru di sekolah ini kagum dengan kamu. Padahal mereka hanya tau dari cerita satu guru"


Tet.. tet..


"Baiklah Alya, karena sudah masuk jam pelajaran kamu bisa kembali ke kelas. Dan nanti sepulang sekolah kamu bisa ikut pembelajaran tambahan dilantai 4. Ruangnya kamu pasti sudah bisa menyebabkan? "


"Baik bu, terimakasih atas kepercayaannya. Saya permisi kembali ke kelas terlebih dahulu"


~••~


Bel pulang sudah berbunyi 10 menit yang lalu, sekarang Alya tengah berjalan di tangga menuju lantai empat. Sebenarnya di sekolah ini juga difasilitasi dengan lift, namun saat jam berangkat dan pulang sekolah pasti lift akan ramai. Makanya Alya memutuskan untuk lewat tangga.


Setelah hampir 10 menit berlalu akhirnya Alya sampai di lantai empat, segera ia melangkah mencari ruang bimbingan Olimpiade Ekonomi ataupun Akuntansi. Diliriknya setiap tulisan yang menempel di pintu yang menunjukkan nama ruang didalamnya. Ruang ekstra Multimedia, Lap. Basket indoor, Lab IPA, Ruang Arsip, Bimbingan IPA dan yak Bimbingan IPS.


Di depan pintu bertuliskan Bimbingan IPS, Alya segera mengetuk pintu dan masuk kedalam. Terlihat ada 9 siswa, 3 cowok dan sisanya cewek. Dengan sopan Alya masuk melangkah ke dalam.


"Permisi bu, maaf saya terlambat"


"Falya Salsabila? " tanya guru itu dengan raut wajah yang sedikit bingung, maybe.


"Iya bu, saya Alya yang direkomendasikan oleh bu Fika dan pak Rozi"


"Saya kira kamu tidak jadi ikut berpartisipasi"


"Sebelumnya saya minta maaf bu atas keterlambatan saya dan membuat ibu tidak nyaman"


"Iya tidak apa apa Falya, sebelumnya bisakah saya menguji kamu dengan beberapa pertanyaan Falya?"


"Iya bu silahkan, tapi panggil saya dengan sebutan Alya saja bu"


"Baik Alya, saya bu Riris guru yang memegang bimbingan Olimpiade Ekonomi, dan ada lagi pak Tian yang akan membimbing Olimpiade Akuntansi. namun kali ini pak Tian sedang izin jadi saya menjadikan satu bimbingan kali ini. Dari sembilan siswa disini baru 4 anak yang lolos seleksi. Jika kamu bisa lolos maka saya dan pak Tian akan fokus membimbing 5 siswa yang mengikuti Olimpiade".


"Iya bu"


"Sebutkan beberapa keunggulan Leasing bagi Lessor! "


"Pendapat bunga, insentif pajak dan nilai residu yang tinggi" jawab Alya dengan lantang dan tegas.


"Bagus Alya, 15 pertanyaan kamu jawab dengan baik. Saya sangat yakin kalau kamu mampu. Silahkan kamu duduk terlebih dahulu"


"Baik bu"


Mata Alya kini menjelajah ke arah tempat duduk yang menampilkan raut wajah ternganga dan kagum terhadap dirinya. Melangkah dengan bingung ingin duduk dimana karena bangku depan telah terisi dan hanya menyisakan satu bangku kosong disamping seorang cowok.


"Maaf, saya duduk disini" ucapnya sopan pada seorang cowok sebangku dengannya.


"Iya" balasnya acuh.


'Gila ni cowok yang dulu gua tabrak kayaknya' batin Alya.


'Ini cewek pinternya subhanallah. Dulu tante Nazwa ngidam buku pelajaran apa ya? Punya anak kok cerdas banget ' batin cowok yang tidak lain adalah Nathan.


"Baik anak anak, saya dan pak Tian telah memutuskan. Untuk siswa yang mengikuti Olimpiade Akuntansi bulan depan adalah Fatur, Nawang dan Zela. Sedangkan anak yang mewakili sekolah untuk Olimpiade Ekonomi adalah Nathan dan Alya"


Ucapan dari bu Riris tersebut memberi dampak yang mengejutkan dan mengecewakan bagi siswa yang ada disini.


"Untuk yang terpilih jangan merasa bangga atau tinggi hati, begitu juga dengan yang tidak terpilih harus bisa berlapang dada. Kita memiliki tanggung jawab bersama" ucap bu Riris.


"Untuk hari ini saya akan membimbing untuk yang menjadi perwakilan Olimpiade Akuntansi, untuk Nathan dan Alya saya yakin kalian berdua bisa belajar sendiri. Dan untuk yang lain bisa pulang" lanjutnya.


"Iya bu, kami permisi"


~••~


Berjalan beriringan membuat suasana menjadi canggung.


"ehmm"


Deheman Alya memecahkan kecanggungan.


"Emm sorry nama lo Nathan kan?"


"Iya kenapa? " balasnya singkat.


"Gapapa mau tanya aja, belajarnya ini gimana? Mm maksudnya belajar sendiri-sendiri atau belajar bareng-bareng" ucapan Alya sedikit kikuk ketika mengucapkan kata 'kita'.


"Gue sih terserah, kalo mau belajar sendiri gapapa belajar bareng juga ayo aja. Gue yakin sih kalo lo belajar sendiri ga bakal kesusahan juga. Lo kan cerdas" katanya.


Entahlah dari kalimat yang diucapkan oleh Nathan itu menghadirkan maksud tersendiri bagi Alya. Menyindir atau apa Alya rasa.


"Jadi? " tanya Nathan karena ucapannya tadi tidak mendapat tanggapan oleh gadis disampingnya.


"Sorry kalo seumpama lo keganggu" ucapnya terhenti karena masuk ke dalam lift. Dan Nathan hanya menyerngit sedikit bingung.


"Maksudnya kalo lo keganggu dengan adanya gue. Maksud gue kalo belajar bareng gue bisa tau materi yang diajarkan di kota besar sedangkan gue notabenenya dari kota kecil maybe. Gue ga tau apa materinya sama atau justru ada yang beda, atau ada tambahan" tuturnya yang cukup membuat Nathan terhenyak karena kerendahannya.


"Kalo ga gua minjem buku lo aja deh biar gua baca" lanjutnya.


"Kita belajar bareng aja di rumah gue, soalnya buku materi gue di rumah, daripada di luar nanti malah bolak balik kelamaan" ucap Nathan seraya keluar dari lift karna udah sampai lantai satu.


"Oh oke kalo gitu, sekarang langsung ke rumah lo? "


"Iya, lo bawa kendaraan sendiri atau dianter? "


"Gue bawa mobil, gua tunggu di depan gerbang ya, rumah lo arah kanan atau kiri? "


"Kanan" ucapnya singkat.


"Oke, honda Jazz warna kuning ya. Gue duluan" ucap Alya kemudian melenggang pergi.


Nathan? Dia hanya menampilkan senyuman yang sedari tadi ia tahan.