To Be Seventeen

To Be Seventeen
TBS ~ 06



Jakarta


"Good morning my World"


Sapa seorang gadis di depan tirai kamar menyambut fajar dengan senyuman yang mengembang kala melihat mentari menampakkan diri. Waktu masih menunjukkan pukul 04.45 WIB, namun gadis itu sudah siap dengan baju rumahan dan dengan wajah yang nampak segar. Siapa lagi kalau bukan Alya, Alya adalah seorang gadis pecinta keindahan fajar dan senja. Bahkan ia pernah berharap bisa mengunjungi tempat terindah kala langit menapakkan semburat merah diujung timur maupun barat bersama dengan orang tercinta suatu saat nanti.


Falya Salsabila Fidyanirmala, gadis 17 tahun yang kini tengah duduk di bangku 11 IPA 1 di SMA DARMA BANGSA. Putri dari Firmansyah Danuarta dan Nazwa Alina Danuarta, dan kakak dari Fareynand Angkasa Firdiansyah. Sedari kecil ia sudah terbiasa mandiri dalam berbagai hal sehingga banyak orang yang kagum kepadanya. Bahkan ketika di NUSBAK, sekolahnya dahulu ia menjadi primadona NUSBAK. Selain cantik, dia juga pintar dan berbakat. Bahkan multitalent, mulai dari dalam dunia modeling, publik speaking, bahkan bernyanyi dengan bermacam-macam genre mampu ia kuasai, dan satu hal lagi ia juga mampu memainkan alat musik, meski hanya gitar dan piano saja. Bakat dan hobi yang ia miliki tidak serta merta ia jalani dengan percuma, namun semuanya mampu mendatangkan pundi pundi rupiah meskipun itu tidak seberapa. Imagenya sebagai model majalah kota dan juga penyanyi sederhana dan jangan lupakan ia juga seorang influencer di dunia maya. Tidak heran jika Alya dianggap sebagai primadona dan role models bagi sebagian kaum wanita.


Alya tidak berniat untuk turun ke dunia modeling, karna menurutnya ia hanya suka berpose dan difoto tidak untuk berjalan kemudian difoto. Dalam dirinya ia selalu menanamkan prinsip "Just do it" Dalam artian segala sesuatu yang disukai dan tidak merugikan orang lain namun mendatangkan manfaat bagi dirimu sendiri.


Begitulah Alya, gadis yang simpel dan sederhana namun terlihat elegan dan berkelas jika dipandang mata. Alya juga masuk dalam kategori gadis yang ceria dan mudah bergaul, sehingga ia dapat dengan mudah berteman dengan siapapun dan dengan sifat yang beragam.


~••~


Pagi ini selepas mandi dan mengagumi pesona langit dipagi hari, ia segera turun ke dapur untuk membantu sang mama tercinta.


"Selamat pagi mamaku tercinta terkasih dan tersayang" Ucapnya kala sampai di depan pantry.


"Selamat pagi juga princessnya mama" ucap mama yang diiringi dengan senyuman.


"Menu sarapan hari ini apa ma? "


"Ayam kecap pedas manis sama tcapcay sayang" Beginilah keluarga Alya, dulu mamanya pernah bilang kalau dia tidak suka jika menu sarapan hanya nasi goreng ataupun sandwich karena menurutnya waktu sarapan pagi adalah waktu yang spesial untuk memulai hari, dan nasi goreng ataupun sandwich terlalu simpel untuk dijadikan sebagai ungkapan semangat. Makanya mama pasti selalu menyiapkan makanan yang luar biasa nikmat yang bisa membangkitkan semangat untuk menjalani hari.


"Aku yang masak ayam, mama yang masak tcapcay, oke" Ucap Alya memutuskan.


"Oke sayang"


Selain pandai dalam pembelajaran dan menghasilkan uang, Alya juga pandai dalam mengenyangkan perut. Bukan makan ya, tapi memasak makanan. Entahlah kenapa dia bisa menjelma menjadi gadis yang mempesona semua kaum. Semua kagum karena dia mampu banyak hal, yang cewek ingin menjadi seperti Alya, yang cowok pengen menjadi suami Alya, dan yang udah berkeluarga pengen menjadikan Alya putrinya dan menantunya. 'Hei Alya, kenapa pesonamu mematikan? '


Selesai memasak, diliriknya jam yang sudah menunjukkan pukul 05.45 WIB. Mamanya sudah selesai masak sejak lima belas menit yang lalu dan kini mamanya tengah mengurus adik kecilnya, Rey untuk bersiap ke sekolah.


"Ma, itu ayamnya udah siap. Aku mau keatas dan ganti baju" Ucap Alya ketika sampai didepan pintu kamar adiknya.


"Iya sayang, nanti mama yang taruh di meja"


"Oke ma"


Sampai dikamar Alya berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka, karena tadi ia sudah mandi sebelum turun memasak. Kemudian ia berganti baju, menyisir rambutnya dan mengoleskan sedikit bedak bayi dan liptint di bibirnya. Kiranya sudah siap, segera ia memakai sepatu, mengambil tas dan beranjak untuk sarapan.


"Good pagi selamat morning sugeng enjing sadayana" Ucap Alya setibanya di meja makan.


"Kakak tiap hari makin berisik deh, nyeloteh ga jelas gitu, Rey ga paham kakak omong apa" Gerutu Rey.


"Selamat pagi juga kak" Ucap mama papa bebarengan.


"Ini itu bukan nyeloteh ga jelas ya Rey sayang, ini itu mengucapkan selamat pagi buat mama papa dan Rey juga"


"Sok terserah kakak mau gimana, Rey ma apa atuh cuma anak kecil yang gatau apa-apa" Ucap Rey mendramatisir dan Alya ngakak ditempat.


"Udah udah, sarapan dulu dong jangan malah berantem" Ucap mama menengahi.


"Iya ma"


"Ma pa, Alya berangkat dulu ya. Naik mobil sendiri aja gausah dianter Pak Sholeh Alya udah hafal jalannya" Pamit Alya.


"Iya, hati hati ya sayang" Ucap mama.


"Iya ma" Ucap Alya dan diikuti kecupan dipipi mama dan papanya.


"Hati hati kak, ga usah ngebut masih pagi"


"Oke pa, assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


~••~


'Senin pertama di SMA Darma Bangsa, semoga tidak mengecewakan dan tetap menyenangkan' Batin Alya menyemangati paginya.


Setelah sampai diparkiran khusus mobil, Alya segera beranjak keluar dan melangkah menuju kelasnya. Diliriknya jam dipergelangan tangan yang masih menunjukkan pukul 06.55 WIB. Dari rumah kesekolah yang biasanya hanya membutuhkan waktu 15 menit kini malah memakan waktu 40 menit. Terjebak macet di ibukota membuatnya sempat menggerutu dijalan. Ini adalah senin pertamanya di SMA Darma Bangsa, dan ini juga senin pertamanya terjebak macet. Di SMA Darma Bangsa, khusus untuk hari senin bel masuk pukul 07.00 WIB karena akan diadakan upacara. Sedangkan untuk hari Selasa sampai jumat masuk pukul 07.30 WIB.


'Untung ga telah, tau gitu naik motor aja kali ya biar ga kelamaan dijalan' batinnya.


Seperti telah menjadi rutinitas, setiap ia berlajan di koridor manapun pasti akan ada bisik bisik dan ungkapan kekaguman terhadap dirinya. Alya hanya bisa membalas itu semua dengan senyuman dan engga untuk menanggapi.


'*Selamat pagi bidadarinya abang'


'Selamat pagi neng Alya'


'Eh ya ampun, makin cantik aja itu muka dek'


'Skincarenya dong apa? '


'Aaa pengen cantik juga'


'Ingin ku pinang kau dengan bismillah*'


Dan masih banyak lagi ucapan ucapan yang diucapkan oleh kakak kelasnya, karena kali ini ia tengah berjalan di koridor kelas 12. Lagi dan lagi, Alya hanya bisa menanggapinya dengan senyuman. Bukan senyuman yang dipaksakan, tapi senyuman yang tulus. Karena pada dasarnya, salah satu tujuannya menjadi influencer adalah menjadi semangat untuk seseorang yang mau merubah dirinya menjadi lebih baik lagi, dalam hal apapun. Jadi ada kebahagiaan tersendiri dalam dirinya.


Sampai diujung koridor, Alya segera naik tangga untuk ke lantai dua, ke kelasnya lebih tepatnya. Dengan sedikit berlari karna jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 06.58 WIB artinya 2 menit lagi upacara bakal dimulai.


Brukk...


Brakk


"Awh.... "


~••~


**Sebelumnya terimakasih, dan maaf ya mungkin dipart sebelumnya banyak typo hehe.


Thanks for Reading 🖤**