
Drrtt... Drrtt....
Dengan mata yang masih terpejam, seorang gadis mengarahkan tangannya kesamping kanan untuk meraih benda yang mengganggu tidurnya.
"Halo? " Ucapnya dengan suara khas orang yang baru bangun tidur.
"Halo sayang, bangun gih udah jam 5 lo nanti kesiangan" Terdengar suara orang dari sebrang yang tidak asing lagi di telinganya.
"Iya ma, ini udah bangun"
"Kalo ga mama telfon pasti belum bangun kan" Tambahnya .
"Iya ih mama, udah dulu ya ma. Alya mau mandi" Pamitnya.
"Iya sayang"
Setelah meletakkan ponselnya, diliriknya pintu kamar mandi yang baru terbuka.
"Udah bangun Al?" Ucap seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Udah bu hihi"
"Yaudah kamu bersih bersih dulu ya, jadwal hari ini jam 7 harus udah ada dilokasi perlombaan untuk daftar ulang dan tata cara serta penjelasan kegiatan besok" Ucap bu Riris.
"Iya bu, saya permisi dulu"
~••~
Selesai mandi, kini Alya sudah siap dan rapi dengan pakaian seragam sekolahnya. Tadi sebelum mandi, bu Riris menginfokan kalau peserta Olimpiade diwajibkan memakai seragam sekolah masing-masing.
Jam telah menunjukkan pukul 06.00 WITA, dan sekarang mereka semua tengah berkumpul di restoran di hotel untuk sarapan sebelum berangkat ke lokasi. Perjalanan dari hotel ke lokasi tidak memakan waktu yang lama, hanya 10 menit. Meski begitu, rombongan dari SMA Darma Bangsa memanfaatkan waktu untuk berkumpul meski hanya sekedar sarapan dan ngobrol singkat.
Selesai makan, dilanjutkan perjalanan menuju lokasi perlombaan. Sampai disana, ternyata tempatnya sudah cukup ramai.
Pak Tian dan Bu Riris sedang mengantri untuk mendaftar ulang, sedangkan yang lain hanya berkumpul dan berbaur dengan perwakilan sekolah lain.
"Mbak Alya" Panggil salah seorang gadis yang dikelilingi dengan beberapa orang yang tidak asing lagi bagi Alya.
"Hallo Rina" Sapanya yang diiringi dengan senyum manis Alya pada gadis yang tadi memanggilnya.
"Kalau udah ada mbak Alya yang lain mah lewat auto dijamin kalah hahah" Ucap cowok yang berdiri disamping Rina tadi, Bagus Efendi.
"Sa ae lu Bagus haha" Timpal Alya.
"Pie ki, biasane diwarai karo mbak Alya la saiki dadi musuhe mbak Alya" Ucap Faiz, dengan logat bahasa jawanya.
('Gimana ini, biasanya diajari sama mbak Alya tapi sekarang malah jadi musuhnya mbak Alya')
"Iya, padahal kemungkinan kecil bisa ngalahin gurunya" Tambah Fera.
Mereka adalah perwakilan dari SMA Nusa Bakti, sekolah lama Alya. Rina, Fera, Faiz, Bagus dan Lintang, kelimanya adalah teman satu angkatan dan adik kelas Alya. Dahulu sering belajar dan bimbingan bersama karena mereka yang akan berjuang di arena perlombaan. Jadi tidak salah jika mereka saling kenal, dekat bahkan sangat dekat.
"Jadilah satu diantara kemungkinan yang kecil itu. Jangan putus asa apalagi pesimis sebelum merintis. Hwaiting hihi" Ucap Alya menyemangati.
'Hahaha' dibalas dengan tawa dari teman temannya.
"Oh ya kenalin ini temen temen aku dari SMA Darma Bangsa, ini Nawang, ini Zela, ini Fathur dan yang ini Nathan" Ucap Alya sambil menunjuk masing-masing orang sesuai nama yang disebut. Sedangkan yang namanya disebut hanya tersenyum dan mengucap 'Hai'
"Em, ini kenalin temen temen aku dari SMA NUSBAK, ini Fera, ini Faiz, ini Rina, ini Bagus dan yang diujung itu Lintang" Lanjut Alya.
"Al, keknya kita disuru masuk ke aula deh" Ucap Zela menghentikan kegiatan berkenalan itu.
"Oh yaudah kalo gitu, ayok" Ucap Alya.
"Duluan ya, success guys" Lanjut Alya.
'Dada'
~••~
Setelah hampir dua jam berada di aula untuk mendengar tata-cara, aturan dan petunjuk Olimpiade besok hari ini semua anak SMADASA sudah berada dikamar hotel masing-masing, kecuali Alya. Alya sekarang sedang menumpang dikamar hotel Nawang dan Zela. Entahlah, tapi satu kamar dengan gurunya sendiri meskipun itu perempuan tapi terasa canggung rasanya.
Jam masih menunjukkan pukul 10 pagi dan mereka semua tengah merasakan boring yang teramat boring. Malam masih lama, dan sekarang mereka tidak diperbolehkan untuk berjalan jalan, takut sakit katanya.
"Belajar aja yok buat besok" Ucap Nawang pada Zela.
"Yaudah bentar gua cht Fatur" Balas Zela.
"Sekalian sama Nathan" Tambah Alya.
"Okey" Balasnya.
Semenit kemudian pintu kamar diketuk yang sudah dipastikan siapa pelakunya. Segera Alya bangkit untuk membuka pintu.
"Belajar apaan woi? " Tanya Fathur begitu masuk ke kamar milih Nawang dan Zela.
"Dimana mana kalo masuk bilang assalamu'alaikum bukan langsung nyelonong" Sungut Nawang.
"Yaudah Assalamu'alaikum"
"Telat"
"Yaudah sih yang penting salam" Jawab Fathur.
"Waalaikumsalam" Ucap mereka serempak.
"Mau belajar apa? " Kali ini Nathan yang bicara dengan pandangan menuju Alya.
Seolah tahu kalo dirinya yang diajak bicara Alya menjawab,
"Gatau tuh mereka yang mau belajar"
Nathan hanya menaikkan sebelah alisnya seolah mengatakan 'terus kenapa lo ngajak gue? '
"Dan entahlah mendingan tidur wkwk" Tambahnya.
Alya dan Nathan memutuskan untuk tidak belajar, udah males katanya. Sedangkan Nazwa, Zela dan Fathur juga sama, mereka justru malah nonton film action bersama sama.
Sekejap pandangan Alya jatuh pada Nathan yang ada di samping kirinya sedikit menyerong. Dalam hatinya seolah sedang bertempur pikirannya sedikit kacau.
Banyak yang bilang kalau Nathan itu orang yang cuek dan ga peduli sama hal hal yang ga penting menurutnya. Tapi Nathan yang didepannya kini adalah sosok Nathan yang peduli terhadap hal ga penting. Buktinya saat ini dia mau mau saja duduk dan menonton film action yang Alya rasa dia tidak menyukainya.
Sosok Nathan yang ada didepannya ini adalah sosok Nathan yang bisa membuat Alya kepikiran setiap malam. Memang tidak seperti mereka yang berbagi kebahagiaan dengan suatu acuan romantis. Tapi Alya dan Nathan berbagi kebahagiaan dengan tawa lepas yang menyenangkan. Tidak ada hal romantis dalam beberapa waktu mengenalnya, namun caranya berbicara, menatap dan melakukan segalanya meninggalkan bekas tersendiri di hati dan fikiranya.
'Apa gue baper sama Nathan? ' batinnya kala itu.
Setelah sadar dan lamunan, kini mata yang masih menatap Nathan bertemu dan terkunci dengan mata teduh milik Nathan. Seketika jantungnya berdetak lebih cepat seperti waktu dulu ketika mereka berdekatan.
'Apa iya gue suka sama lo Nath? ' batinnya.
Sejurus kemudian Alya mengalihkan pandangannya ke arah TV yang masih menampilkan adegan perkelahian yang sialnya sangat Alya benci.
Disisi lain, juga dua orang yang tengah beradu pikirnya. yang satu merasakan cemburu dan yang satu merasa bimbang dengan hati dan pikirannya.
Lantas apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang menyebabkan dua orang tersebut bimbang dalam pikirnya? Ataukah karena mereka memiliki rasa yang sama sehingga salah satu diantaranya harus merasakan kecewa?
Dan yang sebenarnya adalah karena....