
"PEJUANG TIDAK TAKUT BERJUANG, SMADARSA BERJAYA, KITA PASTI BISA! "
Kalimat penyemangat itu menggelegar di tengah kerumunan orang dan sekaligus menarik perhatian mereka. Alya dan kawan-kawan kemudian memisahkan diri dan masuk ke ruang yang bertuliskan Olimpiade yang akan mereka ikuti, dan disusul oleh pembimbing mereka masing-masing. Alya dan Nathan segera memasuki ruang yang bertuliskan Olimpiade Ekonomi Nasional diikuti bu Riris di belakangnya.
Di dalam, Alya dan Nathan kemudian berpamitan pada bu Riris untuk duduk di tempat mereka, meja bertuliskan SMA Darma Bangsa.
Waktu pengerjaan adalah 3 jam, dengan jumlah soal sebanyak 40 soal dengan rincian 15 praktik dan 25 teori.
"Al" Nathan mengamati sosok di sampingnya yang begitu tenang.
'Hmm' hanya terdengar gumaman dari gadis di sampingnya.
"Ini bukan yang pertama, tapi kenapa gue nervous ya? " Nathan mengatakan yang sejujurnya.
Secara tidak sadar Alya menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan Nathan seolah menenangkan. Sedangkan Nathan yang diperlakukan seperti itu justru berperang dengan batinnya.
"Lo tenang Nath, kalo lo nervous semua yang udah kita pelajari ga akan berguna"
'Gimana gue bisa tenang kalo nih jantung ngajak perang? ' batin Nathan.
"Gue usahain"
~••~
Soal dengan kategori sulit itu telah Nathan dan Alya selesaikan dengan baik. Dalam waktu satu jam, mereka menjadi yang pertama menyelesaikan. Setelah mengumpulkan, Alya dan Nathan duduk di tempat yang telah disediakan bersama bu Riris. Kali ini mereka duduk di barisan pertama.
Menunggu peserta lain dapat menyelesaikan, Alya dan Nathan lebih memilih untuk bermain ponsel. Ia baru mengaktifkan data internetnya, banyak notif yang masuk terutama dari instagram. Setelah ditelusuri ternyata banyak orang yang mengucapkan semangat dan semoga sukses. Untuk menghargai, Alya membuka satu direct message kemudian mensecreen shoot dan memposting di instastory.
Belum 2 jam menunggu sudah banyak yang kembali mengumpulkan jawabannya, sampai akhirnya semua orang telah berhasil menyelesaikan kemudian mengumpulkan. Kemudian dilanjutkan pengecekan jawaban.
'Waiting again' batin Alya.
Sekarang waktunya pengumuman, dibacakan 6 pemenang.
"Juara ke enam... Dimenangkan oleh SMA.... Garuda" suara lantang yang membuat kita seolah merasakan sport jantung.
Alya dan Nathan juga sama dengan perserta lainnya, meskipun terkenal cerdas namun mereka tidak diajarkan untuk sombong bahkan menyepelekannya. Pembacaan kemenangan berlanjut, hingga kini telah memasuki dua besar.
"Juara kedua, dimenangkan oleh SMA...... Nusa Bakti" Terdengar keriuhan setelah kalimat itu terselesaikan. Alya? dia tersenyum bahagia, setidaknya perjuangan mereka dulu tidak sia sia.
"Dan yang terakhir, juara pertama dimenangkan oleh SMA.... "Sejujurnya Nathan dan Alya sedikit ragu dan nervous.
" SMA DARMA BANGSA " Hah.... secara reflek Alya dan Nathan berpelukan, seolah menyalurkan ketegangan, semangat, dan emosi yang datang pada saat bersamaan. Kemudian Alya beralih memeluk bu Riris.
"Selamat ya"
"Selamat juga buat bu Riris"
Setelah berpelukan, kemudian Alya dan Nathan maju naik ke podium untuk menerima piala, sertifikat serta hadiah uang tunai.
"Selamat untuk SMA Darma Bangsa"
"Terimakasih" Alya menerima lembar sertifikat kemudian diikuti dengan hadiah. Sedangkan Nathan menerima tropi yang bertuliskan Juara 1.
Setelah berbasa-basi mengucapkan selamat dan diucapkan selamat, Alya dan Nathan segera keluar ruangan mengikuti bu Riris. Sampai diluar mereka melihat Pak Tian dan anak yang lain membawa sesuatu yang dibawa sama dengan Alya dan Nathan. Senyum bahagia dan ucapan selamat saling mereka tukarkan.
Pak Tian menginterupsi untuk mereka kembali ke hotel, namun sebelum itu mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Selesai makan mereka kembali ke hotel, namun mereka dibebaskan jika ingin berjalan jalan. Alya memilih untuk tidur sama dengan yang lain karena waktu masih siang, mungkin nanti malam ia akan berjalan jalan.
~••~
Sore ini Alya diajak Nathan untuk berjalan jalan. Untuk membeli oleh oleh katanya. Mereka berkeliling melihat kota Manado, kemudian mereka berada disalah satu pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari hotel. Dengan sama sama mengenakan switer mereka dianggap sebagai pasangan kekasih.
Berkeliling cukup lama, Alya memutuskan untuk membeli acsecoris, jajanan khas dan baju. Tidak lama dia memilihkan pakaian untuk dirinya, adiknya dan orang tuanya. Ditambah jajan untuk para pekerja di rumah. Ia juga membantu memilihkan pakaian yang akan dibeli oleh Nathan.
Selesai berbelanja, Alya dan Nathan memutuskan untuk kembali ke hotel, karena sekarang udah jam 8 malam.
"Thanks Nath, sorry gue ngerepotin"
"Gapapa Al, tenang aja" ucap Nathan ketika mereka sampai di depan pintu kamar.
Dikamar, Alya mendapati tidak ada bu Riris dikamar. Mungkin lagi jalan jalan, batinnya. Sebelum bersantai, Alya memutuskan untuk beres beres merapikan kopernya. Besuk mereka check-out jam 8 pagi.
~••~
Keesokannya, selesai sarapan mereka semua berjalan menuju ke bandara untuk kembali ke Jakarta. Sama seperti saat berangkat, kini Alya sudah berada dipelukan Nathan. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang Nathan, sekaligus menghilangkan rasa takutnya.
"Jangan kenceng kenceng meluknya"
"Gue takut Nath, marahnya kalo udah turun aja"
"Kalo lo kaya gini, lo bakal semakin takut Alya. Coba lawan rasa takut lo"
"Kapan kapan aja deh Nath" Nathan sedikit mendengus.
"Al liat" Nathan menginterupsi. Namun hanya gumaman yang terdengar. Nathan menyelipkan tanganya di kedua pipi Alya, menariknya sedikit menjauh dari dadanya.
"Itu liat disamping kanan lo" Alya menengok ke jendela di sampingnya.
"Ih Nathan, tinggi banget "
"Jangan pikirin ketinggiannya, tapi lihat pemandangannya"
"Wah cantik banget, bagus" ucapan kekaguman Alya kala melihat Kota Manado dari ketinggian.
"Iya, lo juga cantik" ucap Nathan yang diikuti dengan kecupan dipelipis Alya.
Terkejut. Satu kata yang membuat Alya mematung ditempat. Jantungnya berdetak abnormal, mata cantiknya mengerjap sedikit lebih cepat.
Setelah sadar dari keterangannya, Alya melirik pelaku yang tadi menciumnya, siapa lagi kalau bukan Nathan. Nathan nampak biasa saja tidak terkejut seperti dirinya. Namun tanpa sepengetahuan Alya, Nathan telah merutuki kebodohannya karena telah mencium Alya.
Entah bodoamat atau gimana, sekarang malah Nathan menarik Alya kepelukannya.
"Gara-gara lo jantung gue berdetak ga normal Al" kalimat Nathan yang jujur membuat Alya semakin bingung, namun benar saja telinganya mendengar detak jantung yang berdetak lebih kencang.
Alya diam, Nathan juga diam tapi cowok itu justru menarik dan memeluk Alya lebih erat seolah takut akan kehilangan.
~••~
Sampai di Jakarta, Nathan dan Alya berpamitan pada guru dan teman temannya untuk menuju tempat orang tua mereka.
Disalah satu cafe yang ada di bandara, mereka berdua menemukan orang tuanya yang asik bercengkrama dan tertawa.
"Ya ampun calon mantu" ucapan tante Iren justru membuat Alya dan Nathan malu karena terlihat kejadian dipesawat tadi.
"Apasih ma"
"Gimana sayang disana? " Kali ini Nazwa yang bicara.
"Baik kok ma, alhamdulillah Alya sama Nathan dan temen yang lain dapet juara pertama" ucap Alya membuat ke empat orang-tua itu tersenyum bangga.
"Selamat ya buat kalian"
"Iya ma"
"Iya tante"
"Kalo kalian nikah, anaknya sepintar apa ya" kali ini papa Alya yang mengucapkan kalimat aneh itu.
"Ya bagus dong Man, cucu gue bakal jadi anak yang super cerdas"
"Iya, bibitnya aja udah unggul. Iya kan Naz?"
"Iya Ren, jadi ga sabar deh liat anak mereka yang bakal cerdas banget"
"Kalian bicara apa sih? Siapa yang nikah? Dan anak siapa yang super cerdas? Alya ga ngerti"
"Ya kalian berdua dong sayang" ucap tante Iren membuat Alya bingung, dia dengan Nathan tidak ada hubungan apapun kenapa akan menikah.
"Jangan bilang kalian menjodohkan kami? " tanya Nathan yang sedari tadi membungkam.
"Sepertinya itu ide yang bagus" ucap papa Nathan.