To Be Seventeen

To Be Seventeen
TBS ~ 13



"Jangan bilang kalian menjodohkan kami? " tanya Nathan yang sedari tadi membungkam.


"Sepertinya itu ide yang bagus" ucap papa Nathan.


"Plis deh pa, ga lucu"


"Iya om, lagian masih dibawah umur gausah dijodoh jodohin. Masih kecil juga" Ucap Alya menambahkan.


"Ya gapapa dong sayang, anak dari temen temen tante juga udah banyak yang nikah seusia kalian" tambah tante Iren.


"Iya, mama juga setuju. Iya kan pa? " mama Alya menambahkan.


"Iya kak, kakak mau ya. Lagian satu bulan ini mama papa akan sering ke Bali, proyek papa lagi kacau disana"


"Jadi mama sama papa memutuskan untuk menitipkan kamu ke tante Iren dan Om Dika" tambah mama Alya.


"Nitip nitip, dikira Alya barang apa dititipin. Lagian Alya berani kok dirumah sendiri. Eh kan juga ada yang lain dirumah"


"Yakin berani kak? Ujan petir aja udah teriak teriak, belum lagi kalau mati lampu bikin kacau satu komplek kamu nanti"


"Ih papa apaan si? Alya berani ya, itukan dulu" sungutnya sebal.


"Oh ya? " tanya papanya lagi.


"Mm,, iya. Mungkin" cicitnya pelan.


"Udah Alya, kamu itu aman kalo tinggal dirumahnya tante Iren dan om Dika" tambah mamanya.


"Dan kamu ga bikin orang tua khawatir sayang" tambah tante Iren membuat Alya berfikir dua kali untuk tetap menolak. Bagaimanapun ia tak ingin mengganggu aktivitas kedua orang tuanya apalagi sampai mengacaukan.


Sedangkan Nathan? Entahlah. Dia masih kacau dengan rasa di hatinya. Jika kemarin dia mengatakan mencintai gadis itu, tapi sekarang ia sedikit merasa takut. Takut jika dia akan sakit dan jatuh cinta sendiri. Sejujurnya kedekatan dengan Alya beberapa minggu belakangan ini membuat perasaan di hati Nathan semakin besar. Belum lagi kedekatan yang lebih intens beberapa hari terakhir. Kalut, itu yang dirasakan Nathan saat ini.


"Oke lah, Alya ikut gimana maunya mama sama papa aja" ucapnya final.


"Termasuk menerima perjodohan sayang? " tanya mamanya.


"No! Only stay in Nathan's house, mom"


"Oke baiklah, setidaknya kamu mau menginap di rumah tante mama bisa tenang"


"Tenang aja Naz, satu bulan itu waktu yang lama. Aku yakin dalam satu bulan sudah ada yang berbeda" tambah tante Iren yang membuat ke-empat orang paru baya itu terkikik.


"Well, kapan kita pulang papa mama? Alya capek hehe" rengekannya.


"Ya udah sekarang kita pulang. Ayo Dik, Iren"


"Ayo"


~••~


Sampai di rumah Alya segera membersihkan diri, setelah itu ia berbaring di ranjangnya. Tidak lama kemudian ia terlelap dalam tidur siangnya.


"Alya,,, bangun sayang makan dulu" panggil mamanya seraya mengetuk pintu.


"Hmm iya ma" ucapnya dengan mata yang mulai terbuka dari mimpi indahnya. "What, jam setengah tujuh? Gila kebo banget gue" Ucapnya seiring berjalan ke kamar mandi.


Selesai mandi ia beranjak menuju meja makan. Makan malam dengan tenang tidak ada yang bicara satu katapun. Bahkan adiknya, Rey juga tenang tak berkata. Beberapa saat kemudian makan malam telah selesai. 'Aneh' batinnya.


"Kakak nanti segera berkemas ya, besuk kamu dapat izin libur kan? Kita ke rumah om Dika jam 9, pesawat papa jam 10" ucap papanya memecahkan keheningan.


"Iya pa. Alya naik dulu ya"


Sampai dikamar, Alya segera mengambil pakaiannya di lemari dan dimasukkan kedalam koper besar miliknya. Sebenarnya ada satu koper besar yang belum terbongkar, isinya pakaian yang baru dikirim oleh mamanya sewaktu dia masih di Surabaya namun pakaiannya belum sempat ia buka jadi dijadikan satu di dalam koper.


Tiga tumpukan pakaian di lemari, satu tumpuk atasan, yang satu bawahan, dan yang satunya dress simpel jaga jaga kalau dia mau hangout. Dan tidak lupa pakaian dalam miliknya. Tidak perlu memilih dan memilah pakaian mana yang akan dibawa, karena sejujurnya ia bukan tipikal wanita yang ribet.


Untuk buku dan kosmetik sederhana ia masukkan kedalam tas sekolah. Kalau ditanya muat atau tidak, jawabannya adalah muat. Karena sementara waktu ia belum mendapatkan buku paket dari sekolah jadi hanya buku tulis saja, sedangkan makeup yang dibawa hanya beberapa yang masih tersimpan didalam dompet makeup dari Surabaya ditambah facial wash dan bedak bayi yang biasa ia pakai.


Untuk urusan make up, sejujurnya dia bukan orang yang selalu memakai make-up atau bahkan tipikal orang yang tidak suka memakai make-up. Dulu dia adalah seorang model dan penyanyi yang selalu dituntut untuk memakai make-up saat menjalankan tugasnya, tapi sekarang dia adalah seorang konten kreator yang juga mengarah kepada konten kecantikan jadi terkadang ia akan membuat tutorial make-up.


Setelah urusan make-up, buku dan pakaian selesai, kini ia tengah merapikan sepatu yang akan ia bawa. Bisa dikatakan ia akan membawa lumayan banyak sepatu, bagaimana tidak sepatu untuk keperluan sekolah saja sudah 3, belum ditambah 3 sepatu flatshoes dan sendal jepit untuk di rumah nanti. Sepatu itu ia masukan kedalam kantong yang cukup besar untuk memuat 5 pasang sepatu tersebut, sedangkan sendalnya akan ia pakai besok. Dan jangan lupakan kaus kaki juga ia bawa.


Dirasa persiapannya cukup, ia merebahkan dirinya di ranjang dan memainkan ponselnya. Banyak notifikasi chat dari sahabatnya dan teman teman satu kelasnya juga, serta banyak DM juga yang mengucapkan selamat atas keberhasilannya dengan Nathan. Ia gerakkan jarinya untuk mengetik balasan dari pesan yang kiranya penting. Setelah itu ia memutuskan untuk menonton drama Korea di laptopnya. Jam menunjukkan pukul 23.58 WIB, Alya menutup laptopnya dan segera beranjak menembus dunia mimpinya.


Pagi menyapa, hari ini Alya bangun kesiangan. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Alya segera melangkah ke kamar mandi dan bersih bersih. Selesai mandi ia turun keruang makan dan melihat mamanya menyiapkan sarapan


"Good morning ma" sapanya.


"Morning sayang"


" Tuh, diluar lagi baca koran" ucapan mamanya yang membuat Alya hanya mengucapkan kata 'Oh'.


"Sayang, kamu jaga diri ya kalo di rumah tante Iren nanti. Ga usah sungkan sama tante Iren ataupun sama om Dika anggap aja kaya keluarga sendiri. Maaf ya, mama malah ninggalin kamu lagi setelah kamu memilih untuk tinggal dan ikut mama papa"


"It's oke mom, aku tahu kalo sebenarnya mama sama papa juga ga mau keadaan kaya gini. Tapi gimanapun udah takdir kaya gini ma"


"Papa bangga sama kamu Alya"


"Iya mama juga bangga, anak mama sudah dewasa sekali pemikirannya"


"Iya dong hehe"


"Ayo sarapan kak"


"Iya"


~••~


Kini keluarga Alya sudah sampai di kediaman Alfernon sepuluh menit yang lalu.


"Mama papa pergi dulu ya, jangan nakal sama om tante"


"Iya ma, ih dikira anak kecil apa"


"Ya udah papa mama sama Rey berangkat dulu ya sayang"


"Iya Pa, Rey jangan lupa jajan okey"


"Okey kak, nanti telepon Rey ya kak"


"Siap, babay. Hati hati ma, pa, Rey semoga selamat sampai tujuan"


"Iya sayang, assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


Setelah kepergian orang tuanya, Alya kembali digiring masuk oleh tante Iren kedalam rumahnya.


"Nathan, sini"


"Iya ma"


"Ini bantuin Alya bawa kopernya ke kamar"


Terdengar suara langkah kaki yang menuruni tangga,


"Ayo" ucap lelaki pemilik langkah kaki tadi sambil menarik koper Alya.


"Ikut Nathan ya sayang, kamu beres beres dulu. Tante mau masak"


"Iya tante, makasih"


Alya segera melangkah menaiki tangga, mengikuti langkah Nathan.


"Ini kamar lo" ucapnya sambil membuka pintu kamar yang akan ditempati oleh Alya. "Dan didepan itu adalah kamar gue jadi kalo lo butuh sesuatu bisa nyari gue kalo mama ga ada"


"Oke"


Nathan melangkah memasuki kamar, "Nih lo tata gih di lemari" ucapnya menyerahkan koper kemudian ia duduk ditepi ranjang sambil memainkan ponselnya.


Setelah mengambil kopernya, Alya kemudian melangkah menuju lemari, namun ketika akan membuka kopernya ia sedikit ragu karena didalam koper terdapat beberapa pakaian yang termasuk dalam kategori privasi bagi seorang wanita terlebih dikamar itu ada Nathan.


Akhirnya Alya memutuskan untuk menata buku, sepatu dan alat make-up nya dahulu seraya memanjatkan doa berharap supaya Nathan segera keluar dari kamarnya. Selesai menata buku, sepatu dan alat make-up kemudian Alya menata piyama yang ia masukkan kedalam tasnya. Beberapa menit kemudian ia merasa canggung dan ragu untuk tetap membuka kopernya karena Nathan masih tetap tidak beranjak. Diliriknya cowok yang masih setiap bermain ponsel ditepi ranjang itu beberapa kali, merasa cukup aman karena Nathan fokus terhadap ponselnya ia memutuskan untuk melanjutkan membuka kopernya. Segera ia masukkan pakaian dalamnya kedalam lemari dengan cepat agar tidak diketahui oleh Nathan.


Sedangkan orang yang menjadi alasan keraguan Alya justru sedikit tersenyum. Sebenarnya Nathan sedikit penasaran, apa yang menyebabkan Alya ragu ternyata hanya karena pakaian dalam. Seberapa privasinya barang tersebut bagi wanita? batinnya.


Masih sibuk dengan pakaian dalamnya, Alya dikagetkan dengan suara yang berbisik di telinganya.


"Tenang aja, ga usah malu. Underwear lo cantik" ucapan Nathan membuat Alya mematung ditempat. Bukan karena pakaian yang dimaksud Nathan jelek tapi tetap saja itu merupakan barang pribadi yang masuk kategori privasi.


"A.. a.. apaan si lo" Nathan tergelak, tawanya pecah seketika.


"Ga usah gugup Alya, sans ae" ucapnya disela tawa yang aneh itu namun Alya sedikit terpukau melihat Nathan yang oleh banyak orang dinilai dingin tapi kini cowok itu tengah tertawa lebar didepannya.


"Gelo nih orang"