
Keduanya saling menatap dalam, saling menyelami netra masing-masing. Hingga akhirnya Boy yang lebih dulu salah tingkah sendiri.
"Hem." Pria itu berdehem agar tidak canggung. Sementara Amanda malah terlihat biasa saja. Gadis itu menoleh pada Boy dengan wajah datarnya.
"Ngomong-ngomong kakimu belum diobati ya?" tanya Boy dengan tatapan menyelidik. Awalnya ia bermaksud untuk menghindar dari tatapan sang gadis, tapi matanya malah membawa penglihatannya pada lutut Amanda yang masih terbalut sapu tangan miliknya.
"Hem, aku lupa," jawab gadis itu enteng. Malah Boy yang jadi kesal sendiri karena Amanda terlalu santai.
"Ikut denganku, aku akan membawamu ke rumah sakit terdekat." Pria itu berjongkok, namun Amanda tak kunjung naik ke punggungnya.
"Ck, naiklah ke punggung ku! Kenapa melihatku seperti itu?"
"Aku tidak mau."
"Cepatlah naik! Sebentar lagi kita akan sampai lantai 1."
Amanda bergeming, menurutnya Boy sangat aneh. Untuk apa memintanya naik ke punggung pria itu? Padahal ia masih bisa berjalan sendiri.
"Ck, kau membuat aku kesal!" geram Boy dan tanpa banyak kata ia langsung melepas jaket kulit yang sedang ia kenakan lalu membalut tubuh kecil Amanda dan mengangkat gadis itu untuk ia gendong seperti karung beras.
Walau usianya belum genap 17 tahun, tapi jangan salah. Boy memiliki tubuh yang gagah hingga menggendong Amanda sama sekali tidak terasa berat baginya. Pria muda itu menarik sudut bibirnya kala lift terbuka lebar dan semua mata tertuju pada mereka sekarang.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" teriak Amanda walau dengan wajah datar.
"Salahmu sendiri yang tidak mau naik ke punggungku," balas Boy sembari tertawa mengejek. Pria itu berjalan keluar lift tanpa peduli pada tatapan semua orang.
"Lepaskan aku!" Amanda memukul punggung Boy dengan keras. Gadis itu menyembunyikan wajah dengan rambut panjangnya. Entah kenapa pandangan semua orang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Eh, jangan pukul-pukul! Sakit tahu," protes Boy masih tetap melanjutkan jalannya.
"Kalau begitu turunkan aku!"
"Jika aku turunkan kau sekarang dan wajahmu terekspos, apa kata mereka nanti? Kau mau gelar murid terbaikmu dicopot karena bergaul dengan berandalan seperti ku?" balas Boy membuat Amanda terdiam.
Dan sepanjang perjalanan Amanda hanya bisa diam patuh sampai Boy membawanya ke parkiran dan mendudukkannya di atas motornya.
"Jangan nakal, Bee!" titah Boy dengan sorot mata tajam kala melihat Amanda yang akan melompat turun.
"Bee?"
"Ya, Bee. Aku ambil dari nama depanmu, Gabriella."
Amanda menatap Boy tak percaya. Belum pernah ia dengar panggilan selebay itu. Bahkan orangtuanya saja memanggil dengan sebutan biasa.
...
"Hah, hah, hah." Feli menarik napasnya kasar kala berhasil sampai di lantai dasar. Gadis itu berhenti sejenak demi meraup udara sebanyak-banyaknya. Wajar saja, ia baru turun dari lantai 9 dengan berlari lewat tangga.
"Kemana mereka? Hah," gumamnya dengan napas yang masih tak beraturan.
"Eh, kau lihat Amanda?" tanya Feli mencegat seorang siswa yang lewat namun hanya dijawab dengan gelengan kepala.
Gadis itu lalu melanjutkan jalannya dengan sedikit sempoyongan. Namun karena langkahnya tidak stabil ia akhirnya menabrak seseorang.
"Oh? Kak Briel?"
"Di mana Amanda?"
"Amanda ... Amanda diculik," jawab Feli tergagap, ia jadi panik sendiri.
"Diculik?" Gabriel membulatkan kedua matanya, begitupun dengan Devan yang berada di sampingnya.
"I-iya, Amanda diculik bad boy sialan itu."
"Bad boy?"
"Iya, teman seangkatan Kakak."
"Maksudmu Boy Listio?" Kali ini Devan yang bertanya.
"Iya, iya. Boy Listio itu."
"Kau tahu Boy bawa Amanda kemana?" tanya Briel.
Feli menggeleng. "Tadi mereka pakai lift, aku tidak dapat mengejarnya."
"Sial," umpat Gabriel dan akan pergi.
"Kakak mau kemana?" tanya Feli sembari mencegat lengan Gabriel.
Briel menoleh dan menatap tangan Feli yang dengan lancang memegang erat lengannya. Menyadari itu Feli segera melepas. "Hehe, maaf Kak," ujar gadis itu cengengesan.
Gabriel tak menggubris, berbalik begitu saja dan berlari pergi.
"Eh, aku ikut Kak," pekik Feli yang juga berlari kencang demi menyamai langkah kedua pria yang telah duluan.
Gabriel menggeleng, masih terus coba menghubungi teman tak punya akhlaknya itu. Berani sekali dia membawa pergi adiknya yang cantik nan polos itu.
"Coba kau lacak saja posisinya," usul Devan membuat Gabriel menatapnya.
"Ternyata kau pintar juga."
"Heh, kalau tidak pintar bagaimana aku bisa jadi juara umum?" balas Devan dengan wajah angkuhnya.
"Cih."
"By the way, kau nggak bawa motor?" tanya Devan yang dijawab dengan gelengan kepala Briel, kemudian pria muda itu melompat naik begitu saja sembari mencengkram erat kedua lengan Devan.
"Eh, sialan kau. Aku belum siap."
"Ayo cepat! Aku sudah melacak posisi Boy." Devan mengangguk dengan wajah kesal, lalu menarik pedal gas dan mulai menjalankan kuda besinya.
Cit.
Namun pria muda harus mengerem mendadak kala Feli menghadang dengan wajah merah padam.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Devan geram.
"Aku mau ikut!" balas Feli menggebu-gebu sembari menarik napas yang masih belum teratur.
"Kau!" Giliran Gabriel yang bersuara.
"Haish, sudahlah jika dia mau ikut. Sekarang jangan halangi jalan kami. Cepat naik ke motormu sendiri."
"Aku nggak bawa motor."
"Terus?" tanya Devan yang dijawab Feli dengan senyuman penuh arti.
...
Sementara Boy membawa Amanda melewati jalan pintas, jalan yang agak sepi namun lebih cepat sampai ke rumah sakit.
"Bee, kau baik-baik saja?" tanya Boy karena suasana sangat hening. Takut gadis itu malah pingsan di belakang.
"Aku tidak akan pingsan, tenang saja," balas Amanda dengan suara agak keras, takut Boy tidak dengar dan bertanya lagi. Gadis itu hanya malas menjawab dua kali.
Boy tersenyum, ternyata Amanda sangat tahu isi hatinya, juga gadis itu menerima ia memanggilnya Bee. Boy membawa motornya dengan kecepatan sedang, tidak ngebut seperti biasa karena takut Amanda malah tidak mau diajak berboncengan lagi. Sepercaya diri itu dia akan ada kesempatan bersama gadis itu di masa depan.
"Hei, bukankah itu anggota Phoenix," ujar salah seorang anak muda yang sedang nongkrong di salah satu warung.
"Mana?"
"Itu, lihatlah sapu tangan yang terikat di lutut gadis itu!"
"Benar! Ayo kita beri pelajaran mereka! Berani sekali menyerang kita waktu itu."
Yang lainnya mengangguk, hampir 10 orang segera naik ke motor masing-masing. Ada yang seorang diri, ada juga yang berboncengan. Mereka bergegas tanpa peduli teriakan pemilik warung yang meminta bayaran.
"Anak muda zaman sekarang! Sial sekali aku hari ini," geram pemilik warung sembari menatap nanar gelas-gelas kopi dan plastik-plastik makanan yang berserakan.
"Berhenti!" teriak salah satu dari mereka pada Boy.
Amanda menoleh, melihat ada 6 motor gede yang mengejar di belakang.
"Shiit!" umpat Boy yang juga menyadarinya.
"Pegangan, Bee!" pekik Boy dan Amanda langsung menurut. Gadis itu melingkarkan tangannya pada pinggang Boy dengan erat.
"Apa aku harus berterima kasih pada mereka?" batin Boy dengan senyuman mengembang. Pria itu menunduk sekilas demi melihat tangan kecil itu memeluknya erat.
"Jangan takut, oke?"
Amanda bergeming, wajah yang senantiasa datar tak dapat menunjukkan perasaan apapun. Boy sama sekali tidak tahu gadis itu takut atau tidak.
Ia pun melajukan motornya dengan kencang, menyalip satu demi satu kendaraan di depan. Hingga tiba-tiba ada sebuah motor yang memutar arah.
Cit...
Boy membanting setir ke teras sebuah ruko kosong. Untung saja ia lihai berkendara, jika tidak sudah pasti luka Amanda akan bertambah.
"Shiit!" umpat pria itu kala motor-motor yang mengejarnya sudah mengelilingi mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC.
🌼🌼🌼🌼🌼