The Smile You Gave Me

The Smile You Gave Me
Bab 3 ~ Hujan Hari Ini, Entah Kenapa Terasa Sangat Indah



“Kenapa kamu mengikutiku?” tanya Amanda, sedikit kaget karena Boy tiba-tiba memakaikannya sebuah jaket.


“Siapa yang mengikutimu? Ehm, aku juga mau kembali ke sana karena mau mengambil motorku,” balas Boy yang sebenarnya hanya alasan saja. Pada awalnya ia memang sudah tak peduli dengan motor itu, tinggal minta papanya beliin lagi pikirnya.


“Oh.”


“Oh?” Boy langsung melongo, hanya oh? Bahkan gadis ini sama sekali tidak berterima kasih atas jaket yang ia berikan dan malah mengeratkan jaket itu pada tubuhnya yang memang sudah sedikit basah.


“Kau tidak mau berterima kasih?”


“Tidak, untuk apa?” Boy menatap jaketnya, seolah memberi kode pada gadis itu. Namun Amanda benar-benar tidak peka, gadis itu terus melangkah membuat Boy jadi sedikit jengkel.


“Hem.”


“Ehem.” Boy berusaha mencari perhatian sang gadis namun Amanda terlihat sangat tidak acuh.


“Ehemmm, hemm.”


“Kamu keselek ya?” tanya Amanda membuat Boy menatapnya penuh tanya.


“Mending pergi minum deh, soalnya aku pernah lihat berita ada orang yang berpulang karena keselek.”


“What?”


Puft.


“Hahahaha. Kau polos banget sih.” Boy tertawa keras merasa lucu. Gadis ini memang unik, walau selalu menunjukkan wajah datar, tapi entah kenapa Boy merasa Amanda sangat menggemaskan.


“Malah ketawa lagi. Emang bener kok aku pernah baca.”


“Hahaha, iya-iya. Aku juga pernah baca.” Boy masih saja tak bisa menghentikan tawa.


“Sudahlah. Sepertinya penyakitmu jadi bertambah.”


“Tambah apa?”


“Jadi sakit jiwa.”


“Hah? ... Hahaha.” Boy memegang perutnya yang terasa sakit karena terus tertawa.


Sementara Amanda merasa pria itu memang gila. Jadi ia kembali berjalan ke tempat tadi yang kini sudah sepi.


“Kemana payungku?” gumamnya karena sama sekali tidak ada apa-apa di sana.


“Motorku juga tidak ada,” ujar Boy.


Amanda menatap ke sekeliling. Pandangannya jatuh pada sebuah motor yang terparkir di teras salah satu rumah.


“Itu motormu.”


“Eh, iya. Tapi kau mau kemana?” tanya Boy kembali menahan lengan gadis itu.


“Kalau motormu ada di sana, berarti payungku juga ada di sana.”


“Sudahlah, aku beliin yang baru aja gimana?”


“Tidak, kenapa kamu harus membelikanku yang baru?”


“Ya karena salah satu alasanmu kehilangan payung dan basah begini juga karena aku kan?”


“Bukan salah satu alasan, tapi alasan satu-satunya adalah kamu.”


“Ck, kenapa kau jujur sekali sih?” Amanda tidak menggubris, malah melepas tangan Boy dari lengannya.


“Dek, Ibu, Bapak,” pekik Amanda dan berjalan menuju rumah sederhana itu.


“Eh, kau mau apa?”


“Mengambil payung.”


“Sudah aku bilang nanti aku beliin. Aduh.” Boy menepuk jidatnya kala seorang pria dewasa keluar dari rumah itu. Dari tatapannya saja sudah seperti ingin memakan orang.


“Selamat sore, Pak. Tadi payung saya ketinggalan di jalan, apa bapak ada melihatnya?”


“Oh, jadi kalian yang buat anak saya nangis?”


“Bukan saya, Pak. Tapi dia.”


What? Tega sekali gadis ini.


Pria itu beralih menatap Boy dengan tatapan tajam. Dan Boy tidak takut, ia juga membalas tatapan itu tak kalah tajamnya.


“Kalian benar-benar tidak ada sopan santun. Bukannya meminta maaf, kau bahkan berani melotot padaku,” ngomel pria dewasa itu yang membuat Boy memutar bola matanya malas.


Sedangkan Amanda cukup mengerti keadaan. Mengerti juga orang seperti Boy pasti sulit untuk sekedar mengucapkan satu kata maaf saja. Kalau begitu ia yang akan mewakilkan agar semuanya jadi beres dan mereka juga tidak perlu hujan-hujanan lagi, karena pria dewasa itu sama sekali tidak mempersilakan mereka masuk.


“Kami minta maaf, Pak. Sebenarnya teman saya tidak sengaja hampir menabrak anak Bapak. Dia juga tidak tahu cara mengibur anak kecil sehingga Vivin jadi menangis,” ujar Amanda yang tahu nama bocah itu dari teriakan sang ayah tadi.


Sementara Boy membulatkan matanya, untuk apa gadis ini meminta maaf? Padahal yang salah adalah bocah itu yang nyebrang sembarangan.


Pria dewasa itu bergeming, masih juga menatap datar terutama pada Boy. Menyadari itu Amanda menginjak kaki pria di sebelahnya.


“Aww, apaan sih? Sakit.”


“Hah? Ngga mau ah, ngapain?”


“Kamu salah jadi harus minta maaf.” Boy membuang muka, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata itu. Namun tatapan Amanda membuatnya tidak tahan.


“Hem ... ma-maaf, Pak.” Hingga beberapa saat akhirnya Boy berhasil. Dan meski tidak puas akhirnya pria dewasa itu tidak mempermasalahkan lagi. Lagian anaknya juga tidak papa, jadi ia mengembalikan payung Amanda dan kunci motor Boy.


“Terima kasih, Pak,” ujar Amanda sebelum pergi dari sana. Meski tanpa senyuman tapi Amanda adalah anak yang sopan, jadi pria itu akhirnya bisa tersenyum tipis dan mengangguk.


“Kalian tidak mau mampir? Sepertinya kalian kedinginan.”


“Tidak perlu, Pak. Kami mau segera pulang karena hari sudah mulai gelap.”


“Baiklah, hati-hatilah. Terutama kau, jangan ngebut-ngebutan lagi!” Boy hanya bisa diam karena ia juga tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak bisa berjanji karena ngebut-ngebutan adalah sebagian dari hidupnya.


...


“Eh, kau mau kemana? Biar aku antar pulang gimana?” Boy memilih mendorong motornya, mengikuti langkah Amanda dari belakang.


Amanda menatap sekilas. “Tidak perlu, rumahku sudah dekat.”


“Tidak, masa gitu doang udah pisah?” batin Boy berusaha berpikir cara agar bisa memiliki waktu lebih lama dengan gadis ini.


“Aduh, duh. Tanganku.” Boy pura-pura meringis, namun tak ada tanda-tanda gadis dihadapannya berhenti.


“Aduh. Hei, kau masa tidak ada rasa peduli sama sekali padaku?”


“Untuk apa?”


“Aku terluka, bukankah perlu pertolongan?” sahut Boy sembari menunjukkan luka pergelangan tangannya yang sebenarnya hanya berupa goresan walau agak lebar.


Amanda menatap datar, lalu beralih pada jam tangannya.


“Kamu tahu apotek terdekat?” tanya Amanda yang membuat kedua sudut bibir Boy tertarik lebar.


...


“Aduh ....”


“Kenapa kamu terus menarik tanganmu? Kalau begitu kapan aku selesai mengobatinya?”


Boy tersenyum kikuk, apa ia ketahuan sengaja? Hem, sepertinya tidak karena Amanda kembali menarik tangannya untuk ia perban.


Diam-diam Boy tersenyum menatap sang gadis. Apa ia tengah merasakan cinta monyet yang orang-orang bilang? Yah, dari usianya memang cocok dengan sebutan itu.


“Sudah.”


“Hem, a-aku akan membelikanmu minuman hangat. Tunggu di sini.” Boy langsung melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Amanda.


Pria muda itu lalu kembali dengan menenteng sebuah kantong kresek berisi dua gelas susu hangat namun tak terlihat lagi keberadaan Amanda. Ia lalu memandang sekitar dan melihat gadis itu sudah dibonceng seseorang. Amanda tampak nyaman bahkan memeluk pria itu erat.


Wajah Boy langsung cemberut. “Aku bahkan belum tahu namanya,” gumamnya sembari menatap kedua gelas susu itu dengan tatapan kecewa.


.


.


.


“Aku mau cerai.” Sebuah teriakan menggema menjadi sambutan saat Boy masuk ke dalam rumah.


Pria muda itu menggenggam kantong kresek yang ia bawa dengan erat. Sesaat sang ibu keluar dengan sebuah koper besar.


“Ma,” panggil Boy lirih.


Sonia menatap putranya, dengan mata berkaca-kaca ia menghampiri dan memeluk Boy dengan erat. “Maafkan mama, Nak.”


Boy menggeleng, meski ia terkesan tak peduli tapi anak mana yang tak sedih bila kedua orangtuanya berpisah.


“Kamu ikut mama ya? Cepat bereskan semua barang-barangmu.”


“Tidak! Boy akan tetap di rumah ini.” Yanuar menghampiri mereka dengan tatapan tajam pada sang istri.


“Boy anakku, ikut mama ya Nak!”


“Tidak!”


“Berhenti!” pekik Boy dan kedua orangtuanya langsung terdiam.


Boy menatap keduanya bergantian. “Aku ... aku ikut papa saja.”


Sebuah kalimat itu membuat Sofia menjatuhkan air matanya. Ternyata sang anak lebih memilih ikut dengan sang ayah. Sementara Boy langsung berlari masuk ke dalam kamar setelah memutuskan hal itu.


Di dalam kamar ia menatap kosong di depan jendela. Sembari menyesap susu yang tak lagi hangat itu ia menatap datar kepergian sang ibu yang dijemput seorang pria. Bukan tanpa alasan ia memilih sang ayah, meski keduanya sama-sama tidak perhatian namun Yanuar setidaknya tidak berselingkuh seperti Sofia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.


🌼🌼🌼🌼🌼