The Smile You Gave Me

The Smile You Gave Me
Bab 11



"Ini apartemen siapa, Dev?" tanya Boy setelah mereka berlima masuk ke dalam sebuah apartemen mewah.


"Punya sepupuku. Tenang saja, di sini Aman. Tidak ada CCTV atau kamera apapun." Devan berjalan masuk lebih dalam, pria muda itu seakan sudah hapal pasti seluk beluk tempat ini.


Sementara teman-temannya duduk di sofa ruang tamu. Briel meregangkan pinggangnya yang sakit karena naik motor bertiga. Terlebih ia terjepit di posisi tengah, menggunakan motor gede lagi, tanpa sadar ia menatap kesal ke arah Feli yang malah memberikan senyuman manis.


Beberapa saat kemudian Devan kembali sembari membawa sebuah kotak P3K.


"Berikan padaku!" pinta Amanda sembari mengulurkan tangannya. Devan pun memberikan kotak itu dengan senyuman tipis.


"Kalian berdua. Amanda dan siapa namamu?"


"Feli, Felicia Putri Tantra," sahut Feli sembari mengulurkan tangannya yang tidak disambut.


"Aku bukan ingin berkenalan denganmu. Aku yakin tanpa aku sebutkan namaku, kau sudah tahu kan?"


Feli tersenyum tipis sembari menarik kembali tangannya yang melayang di udara. "Devan Warrentio, 17 tahun, anak kelas XI-A SMA Laurent's International School. Sekaligus juara umum angkatan kelas XI. Citramu sangat luar biasa, tampan, kaya, berprestasi, dan berasal dari keluarga kedokteran yang tersohor. Sangat sempurna untuk memerankan tokoh tuan muda di dalam sebuah novel ..." Feli berhenti sejenak, gadis itu tersenyum tipis kala menyadari perubahan wajah Devan.


"Apa informasi yang kuberikan akurat?" lanjut Feli dengan mimik wajah menantang.


"Ternyata kau bukan gadis biasa. Aku kira kau hanya tahu tentang prestasiku," balas Devan menatap lurus pada Feli.


"Tentu saja, telingaku itu dimana-mana."


"Karena telingamu tidak bisa diam, maka aku harap kau bisa mengunci mulutmu dengan rapi!"


Feli mengerutkan kening, kurang paham dengan maksud Devan. Namun setelah beberapa saat ia tersenyum lebar.


"Jadi kau takut aku menyebarkan perkelahian tadi dan membuat nama kalian buruk?" tanya gadis itu dengan tawa kecil di bibirnya.


Devan menyipitkan matanya, sementara Boy dan Gabriel tampak tidak acuh. Kedua pria itu tidak masalah karena memang sering membuat masalah. Namun tidak dengan Devan yang selalu menjaga citra luar biasanya.


"Katakan berapa yang kau butuhkan untuk menutup mulutmu itu!"


"Sahabatku memang banyak bicara, tapi dia tidak besar mulut," sahut Amanda membela Feli. Gadis itu sedang diobati kakinya oleh Boy setelah perdebatan panjang antara siapa yang harus diobati dulu.


"Kau benar-benar bestie ku," balas Feli dengan wajah bahagia, karena jarang-jarang sekali Amanda mau mencampuri masalah sepele seperti ini.


"Benarkah? Jika sampai ada yang membocorkannya maka orang-orang pertama yang aku cari adalah kalian berdua!" ancam Devan yang membuat kedua sahabatnya mendelik.


"Ke-kenapa kalian melihatku seperti itu? Jangan bilang kalian tidak memihak padaku?"


"Kau mengancam adikku," geram Gabriel yang membuat Devan menghela napasnya, ia bisa maklum jika Gabriel membela Amanda. Tapi Boy? Pria itu jadi beralih menatap pada Boy.


"Dia masa depanku," ujar Boy menjawab tatapan penuh tanya Devan yang langsung dihadiahi tekanan kuat pada luka sabetan di tangannya.


"Argh, Bee. Kau menekannya," jerit Boy dengan suara tertahan.


"Benarkah?" tanya Amanda dengan wajah datarnya. Bahkan tidak ada raut rasa bersalah sama sekali.


Boy mengangguk lemah, membuat Amanda memelankan gerakan tangannya dan membersihkan luka Boy dengan lembut. Pria itu pun tersenyum senang, sementara kedua sahabatnya menatap sinis. Terutama Gabriel yang cemburu karena sang adik lebih perhatian pada pria lain. Walau sebenarnya ia juga tidak mau diobati oleh Amanda.


"Aku tahu kalian iri, tapi jangan liat aku kek gitu amat juga kali," ejek Boy yang kembali menampilkan wajah jenaka.


"Cih." Gabriel memalingkan wajahnya, enggan menatap sahabat tidak punya akhlaknya itu. Jika saja Boy terluka bukan karena menolong sang adik, sudah dari tadi ia memisahkan Amanda dan tidak akan membiarkan Boy mendekatinya.


Setelah mendapatkannya ia pun langsung menggeser duduknya dan mendekati Gabriel.


"Kau mau apa?" tanya Gabriel kaget kala Feli tanpa aba-aba menempelkan sebuah kapas antiseptik pada luka di sudut bibirnya.


Feli mengembangkan senyum sebelum menjawab pertanyaan itu. "Tentu saja mengobati luka Kakak," jawabnya dengan alunan nada yang lembut.


Amanda bahkan sampai menoleh pada sang sahabat, gadis itu merasa aneh karena ia belum pernah mendengar suara Feli yang manis seperti ini.


"Aku tidak mau!" tegas Gabriel dan kembali memalingkan wajahnya.


"Kalau begitu biar aku yang mengobati luka Kakak," sahut Amanda sembari mengangkat kedua tangannya yang tengah memegang kapas dengan wajah yang tentunya datar. Melihat itu Gabriel meringis. Rasa sakit saat Amanda mengobatinya terakhir kali masih terasa segar meski ia tidak protes kala itu.


"Tidak, tidak perlu," balas Gabriel cepat yang membuat Feli diam-diam tersenyum lucu.


"Tapi luka Kakak harus diobati," kekeh Amanda.


"Ayo, Da. Paksa terus!" batin Feli dengan kedua mata berbinar.


"Tidak, ini hanya luka kecil. Tidak perlu diobati."


"Feli, bergeserlah sedikit, biar aku yang mengobatinya," pinta Amanda yang membuat Gabriel kelabakan sendiri.


"Tidak," ujar pria itu tanpa sadar menggenggam erat lengan Feli saat gadis itu akan bergeser.


Deg.


Feli menundukkan wajahnya yang memerah, genggaman tangan Gabriel benar-benar membuat jantungnya tidak aman. Entah sejak kapan tapi gadis itu sadar bahwa ia telah terpikat pada kakak sahabatnya sendiri.


Dengan susah payah ia menetralkan kembali perasaan bahagianya. Perlahan ia mulai mendongak, menatap Gabriel dengan tatapan seakan bertanya.


"Kau, kau saja yang mengobati ku," ucap pria itu dengan suara kecil, sebenarnya ia malu meminta Feli yang sebelumnya ia tolak. Tapi daripada sang adik, sepertinya Feli lebih lembut. Meski ia dapat melihat betapa lembutnya Amanda saat mengobati Boy tapi tetap saja ia masih trauma. Membayangkan betapa kuatnya Amanda menekan lukanya saat itu saja masih membuat tubuhnya bergidik.


Sementara Feli sendiri sedang berusaha menahan senyuman senangnya. Gadis itu mengangguk dengan senyuman tipis saja. Lalu beralih pada lengannya yang masih dipegang erat oleh Gabriel. Melihat kemana arah pandang Feli pun membuat Gabriel tersadar, pria muda itu langsung melepas pegangan tangannya dan jadi salah tingkah sendiri. Sementara Devan dan Boy yang melihat Gabriel yang tampak lucu jadi tertawa geli.


"Apa yang kalian tertawakan?" kesal Gabriel yang masih malu.


Boy mengangkat bahunya sedangkan Devan menaikkan kedua alisnya. sungguh reaksi yang sangat menyebalkan bagi Gabriel. Amanda yang ditolak pun biasa saja. Memang ada baiknya setiap kekurangan, lihatlah, ia sama sekali tidak kecewa pada sang kakak yang lebih memilih diobati oleh orang lain.


Gadis itu bahkan kembali duduk di sisi Boy dan sibuk sendiri dengan ponselnya. Sementara Devan yang baru tersadar bahwa ia kini seperti anak terbuang mulai menatap Amanda yang sedang luang dengan penuh harap.


"Amanda," panggilnya hingga sang gadis menatap ke arahnya.


"Kau tidak mau membantu mengobatiku?" ujar pria itu dengan wajah memelas.


"JANGAN HARAP!" pekik Boy dan Gabriel bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.


🌼🌼🌼🌼🌼