
"Kenapa? Kau tertarik?" bisik Gerald tepat ditelinga Boy lengkap dengan senyum mengejek. Pasalnya remaja itu menatap buruannya dengan sangat lekat.
"Kak, kau yakin menjadikan manusia sebagai bahan rebutan?" balas Boy yang memasang wajah tegang, sedikit kasihan juga dengan wanita minim pakaian yang dikurung dalam sangkar besar itu. Meski Boy tidak dapat melihat wajahnya.
Boy, Briel dan Devan memang masih terbilang baru di geng motor Phoenix. Dan ini adalah pertama kali bagi mereka menghadiri balapan liar yang bahkan sudah riuh sekarang, padahal balapan 30 menit lagi baru dimulai.
"Hah, dalam dunia kejam ini tidak ada yang tidak mungkin Bray." Gerald memasang wajah sombongnya, ia akan menunjukkan betapa asyiknya dunia mereka pada tiga bocah baru ini.
"Eh, tapi kenapa kau datang sendiri? Briel dan Devan mana?"
Boy jadi menatap ke kanan dan ke kiri. Benar juga, kemana dua sahabatnya itu? Masa belum datang.
...
Di sebuah perumahan elit yang salah satunya milik keluarga Taslim, terlihat seorang gadis sedang duduk di meja belajarnya. Warna putih bersih menjadi dasar kamar itu, kontras dengan peralatan di dalamnya yang berwarna soft senada.
Sebuah buku catatan yang berisi jadwal harian pun tertata rapi bagai kalender di sisi kanan sang gadis. Terlihat jadwal hari ini sudah hampir tercoret habis. Tinggal baris terakhir di mana tertulis 'belajar malam selama satu jam' di sana.
Sesekali gadis itu menguap, menandakan kantuk yang melanda namun ia tetap enggan meninggalkan meja belajar yang terlihat tertata rapi itu.
Sejenak ia melirik jam weker di sebelahnya, jarum jam yang sudah menunjuk angka 11 malam itu membuatnya menatap nanar. Biasanya jam 10 malam adalah jadwal tidurnya.
"Hoam, ini semua karena aku pulang terlambat. Jadwalku hari ini jadi berantakan," gumam-gumam gadis itu sembari membolak-balikkan bukunya. Ia jadi tidak bisa berkonsentrasi belajar kalau matanya terus merem melek seperti ini.
"Apa aku buat kopi aja ya?" gumamnya lagi kemudian segera berjalan keluar dan turun ke lantai bawah. Setelah beberapa saat ia kembali dengan secangkir kopi putih. Amanda menghirup dalam-dalam aroma kopi yang baginya sangat menenangkan itu.
Saat hendak kembali ke lantai 2 di mana kamarnya berada, gadis itu buru-buru mundur teratur karena melihat Gabriel yang mengendap-endap keluar. Karena penasaran, Amanda mengikuti langkah pria itu. Namun ia kembali lagi sebentar hanya untuk menyesap sedikit kopi yang ia buat.
"Jangan sampai kempunan," gumamnya kemudian berlari keluar mengikuti kemana sang kakak akan pergi.
.
.
.
Di tempat balapan, jalan yang biasanya sepi di tengah malam itu kini tampak ramai oleh para anggota geng motor Phoenix dan lawannya Phantera. Boy nampak antusias melihat keramaian di depannya. Devan juga sudah sampai di sana, pria muda itu tampak sedang bersenang-senang dengan dua orang wanita.
"Cih." Boy menatap jijik pada Devan yang dibalas tertawaan sang sahabat. Devan tampak tak terlalu peduli pada tatapan itu, justru pria itu semakin sengaja dengan mencium bibir gadis-gadis itu secara bergantian. Boy hanya bisa menggeleng, sembari tertawa kecil ia berlalu dan ingin mencari Briel yang lebih waras saja.
"Hello." Seorang wanita dengan pakaian terbuka mendekati pria itu. Boy tak menjawab sapaan itu, justru menatap wanita itu dengan datar, namun sang wanita tidak menyerah. Ia malah menawarkan minuman yang tengah ia pegang.
"Mau coba," bisiknya dengan suara seksi.
Boy menatap minuman itu, lalu menarik sebelah sudut bibirnya kala melihat sapu tangan warna oranye yang terikat di lengan sang wanita.
Ia lalu mengulurkan tangannya, menerima minuman itu dan meminumnya dalam sekali teguk. Wanita yang bernama Calista itu tersenyum takjub. Meski masih muda tapi aura Boy benar-benar membuatnya terlena.
"Kau sangat berbeda, Boy." Boy tersenyum, tangannya terangkat untuk menarik dagu Calista. Lalu menunduk seolah akan mencumbu sang gadis. Calista semakin takjub dan segera memejamkan matanya, menanti bibir manis berondong itu bertemu dengan bibir seksiinya
Namun yang ditunggu-tunggu itu tak datang-datang. Malah tangannya yang terasa terangkat.
"Wow, kau anggota Phantera?" tanya Boy menatap tangan Calista yang terikat sapu tangan oranye itu.
"Aku anggota Phoenix loh, bukankah kita lawan?" lanjut Boy dengan wajah tanpa dosa. Membuat Calista gelagapan, apalagi teman-temannya kini menatap padanya.
"Eh, a-aku."
"Calista, sedang apa kau di sini? Kau nyasar, hem?" Seorang pria datang dan membuat Calista akhirnya bernapas lega.
"Ehm, ya. Di sini terlalu ramai, aku ...."
"Baiklah, ayo kita ke sana," potong pria itu sembari merangkul Calista dengan mesra, kemudian melayangkan tatapan tajam pada Boy. Sedikit banyak Boy tahu bahwa pria ini adalah Zain, pimpinan Phantera. Namun bukan Boy namanya jika ia peduli.
"Apa yang kau lakukan? Dia itu bunga geng Phantera," ujar Devan yang tau-tau sudah ada di samping Boy.
"Bunga apaan? Bunga bangkai?" balas Boy dengan tidak acuh, sementara sang wanita yang jaraknya masih tidak terlalu jauh itu membelalak mendengar hinaan dari pria muda itu. Kedua tangannya jadi terkepal erat.
"What? Kau benar-benar luar biasa," sahut Devan sembari tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Boy mengangkat bahunya, lalu berjalan pergi ketika melihat Gabriel yang baru sampai.
"Lama sekali? Acaranya sudah mau dimulai," protes Boy sembari meninju pelan lengan pria itu. Namun helm berwarna hijau yang Gabriel kenakan membuatnya teringat sesuatu.
"Aku menunggu orang rumah tidur dulu," balas Gabriel datar. Boy yang sudah biasa dengan sikap cuek itu tak ambil pusing dan malah tertawa kecil.
"Boy, Briel. Ayo ke sini! Acaranya sudah mau mulai," teriak Devan dengan antusias sebelum suara teriakan keluar dari berbagai arah mendukung ketua mereka masing-masing.
"Ayo Zain," pekik wanita tadi hingga berhasil menarik perhatian. Wajah cantik dan tubuh seksii itu membuat banyak orang terpesona namun tidak dengan Boy dan Briel.
"Wooo, kak Gerald." Boy malah ikut berteriak, sementara Briel tampak berdiri tegak dan melihat saja dengan wajah datarnya.
Sementara di tengah-tengah jalan, dua orang telah bersiap di atas motornya. Seorang gadis berdiri di sisi mereka sembari mengangkat sebuah kain merah. Gerald dan Zain pun melakukan ancang-ancang, keduanya saling menatap tajam sejenak kemudian bersamaan menutup kaca helm, lalu memutar pedal gas berkali-kali, mempertahankan rem depan dan membiarkan ban belakang mereka tergores aspal.
Dan suara riuh memenuhi tempat itu kala balapan dimulai. Terlihat Gerald memimpin di depan, hal itu membuat para anggotanya berteriak penuh semangat. Dua putaran dengan rute berbeda adalah kesepakatan mereka.
Kedua motor itu saling kejar mengejar, kadang Gerald di depan kadang Zain pun berhasil menyusul. Dan putaran pertama membuat geng Phantera riuh karena Zain yang memimpin. Sementara keadaan cukup tegang bagi geng Phoenix saat menunggu sang ketua kembali setelah putaran kedua.
"Itu, kak Gerald," pekik Devan sembari menunjuk Gerald yang kali ini berada di posisi depan.
"Gerald, Gerald, Gerald. Yeay. Wooo." Teriakan menggema menyambut kemenangan Gerald. Pria itu membuka helmnya dengan keren. Sementara Zain mengacak rambutnya dengan kesal.
"Bagaimana? Mereka milikku kan?" ujar Gerald sembari menatap motor ninja merah milik Zain.
"Sial," geram Zain sembari melempar segenggam kunci yang ditangkap Gerald. Zain lalu menampilkan senyum mengejek.
"Wah, Gerald kau sangat keren," puji Calista sembari mendekat pada pria itu.
"Hei, Calista!" geram Zain tidak terima.
"Apa? Kau tahu sendiri aku selalu memihak pada yang lebih kuat," balas Calista dengan senyuman lebar tanpa dosa. Wanita itu bahkan mulai bergelayut manja di lengan Gerald.
"Kau."
"Akh."
Zain yang tak bisa mengendalikan emosinya lagi, melayangkan sebuah bogem pada Gerald. Hingga keributan pun tak terelakkan. Kedua kubu saling menyerang, tidak ada yang mau mengalah.
Begitupun dengan ketua masing-masing. Keduanya saling menyerang dan tanpa disangka Zain mengeluarkan sebuah pisau.
Sret.
"Kak Gerald." Boy yang lebih dekat posisinya segera menendang lawannya dan berlari menuju sang ketua.
Sebetan tajam pisau itu berhasil melukai perut Gerald. Zain tertawa ketika Gerald menatapnya tajam. Namun tawa itu hilang ketika Boy datang dan menendangnya.
Bruk.
"Argh, sialan." Baru saja hendak bangkit dan membalas Boy, suara sirine polisi membuat mereka tersentak. Semuanya saling memandang dengan wajah tegang.
"Mundur!" titah Zain pada para anggotanya.
Sementara Gerald pun mengangkat tangannya sebagai perintah yang sama. Semuanya pun langsung buru-buru naik ke motor masing-masing dan pergi dari sana. Namun tidak dengan Boy, Briel, Devan dan Dennis sang wakil ketua Phonix. Mereka lebih memilih membantu Gerald.
"Pergilah! Aku baik-baik saja," usir Gerald sembari berjalan tergesa menuju sangkar besi yang masih berada di atas sebuah mobil pickup.
"Suara sirine sudah semakin dekat, kalian pergilah dulu. Selamatkan diri kalian!"
"Tapi lukamu lumayan parah. Ayo, Ge. Tinggalkan saja dia, kita pergi dulu!" bujuk Dennis yang sama sekali tidak digubris Gerald, padahal sirine terasa sudah sangat dekat. Para anggota yang lain pun sudah kabur semua tertinggal mereka.
Sementara Devan memasang wajah tegang, ia benar-benar tidak siap jika ketahuan membelot oleh kedua orangtuanya. "Kita pergi duluan saja," ujarnya sembari menarik tangan Boy dan Briel. Namun keduanya tampak enggan.
"Ayo!" bujuk Devan lagi ketika melihat Gerald yang kesulitan menemukan kunci yang benar dari sangkar itu. Sepertinya Zain memang sengaja memasang banyak kunci di sana.
Gerald pun tampak sedikit tegang saat suara Sirine sudah seperti tepat di belakangnya. Namun yang terjadi selanjutnya membuat Devan ternganga tidak percaya.
Karena dari kegelapan malah muncul seorang bidadari cantik dengan sebuah megafon yang ia pakai bagai sebuah tas. Sementara Boy tampak takjub, tanpa sadar tersenyum dan lagi-lagi terpesona pada gadis ini. Berbeda dari teman-temannya, Briel malah tampak marah dengan kedua tangan yang terkepal erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC.
🌼🌼🌼🌼🌼