
"Kau tenang saja, Bee. Aku akan melindungi mu," bisik Boy sembari menyembunyikan Amanda ke belakang tubuhnya. Pria muda itu menoleh, melepas helm yang ia kenakan dan memakaikannya pada Amanda.
"Jangan lepaskan helm ini dan jangan tunjukkan wajahmu pada mereka! Oke?" Amanda mengangguk patuh kala Boy menutup kaca helm berwarna hitam itu.
"Haha, lihatlah idiot yang ingin menjadi pahlawan demi melindungi gadis cantik itu," ejek salah satu dari mereka yang disambut tawa menggema teman-temannya.
"Kalau begitu kita lihat seberapa kemampuan pahlawan kita ini. Haha."
"Jangan banyak omong kosong!" geram Boy yang sudah menyiapkan bogeman tangannya.
Bugh, bugh, bugh.
Perkelahian pun tak terelakkan, sembilan orang menyerang bersama. Mereka pun seperti mengeroyok Boy yang seorang diri. Terlebih keadaan yang sepi seakan mendukung mereka.
"Awas," pekik Boy sembari menangkis serangan yang ditujukan pada Amanda. Pria muda itu mati-matian membalas serangan dan melindungi sang gadis cantik.
"Kau yang awas!" geram Amanda karena Boy terus menerus menghalang di depan padahal pria itu kewalahan, ia pun sudah sangat gatal untuk menunjukkan keahliannya.
Bugh, Brukkk.
"Hah?" Boy termangu sesaat kala melihat Amanda yang dengan lihai menjatuhkan satu demi satu orang yang menyerang mereka.
Bugh.
"Argh."
"Haha, melihat gadis cantik yang ternyata lebih hebat dari pahlawan, jadi pahlawan ingin dilindungi gadis cantik saja kah?" ejek pria yang menyerang meninju wajah Boy tadi.
"Sialan! Cih." Boy meludah amis darah yang mengalir dari sudut bibirnya akibat bogeman tadi. Lalu kembali melayangkan pukulan demi pukulan dan bekerjasama dengan Amanda.
Bugh, bugh, bugh.
Mereka saling menyerang, sementara Boy tidak hanya terus menyerang. Pria muda itu tetap membagi fokusnya pada keamanan Amanda.
"Bee," pekiknya kala melihat Amanda jatuh tersungkur. Kaki yang belum sembuh membuatnya tidak leluasa terus menyerang.
"Sial," geramnya kala melihat salah satu dari mereka mengeluarkan senjata tajam dan mengarahkannya pada Amanda.
Sret.
Bugh, bugh, brukk.
"Bee, kau tidak papa?" tanyanya cemas dan kembali menjadi tameng di depan sang gadis.
Pria muda itu tak peduli dengan lengannya yang kini berdarah karena menghalangi serangan yang ditujukan pada Amanda.
Amanda pun perlahan bangkit, dari kejauhan ia melihat Briel, Devan dan Feli berboncengan bertiga melaju ke arah mereka.
"Itu mereka," pekik Feli heboh.
Tiiinnnnnn.
Suara panjang klakson berbunyi nyaring memekakkan telinga, seakan menandakan kedatangan penyelamat.
"Awas," pekik salah satu anggota geng Phantera kala melihat motor yang dibawa Devan melaju ke arah mereka dengan kencang tanpa ada niat untuk berhenti.
Bruk.
Devan menyenggol seseorang hingga terjatuh. Sementara yang lain langsung menyingkir menghindari kegilaan Devan.
"Amanda," pekik Feli yang segera melompat turun dan berlari ke arah Amanda yang masih berdiri mematung.
Sementara Gabriel juga ikut turun dengan menatap mereka tajam. Dan Devan melepas helmnya terlebih dahulu kemudian menampilkan senyum meremehkan. Keduanya lalu berjalan ke sisi Boy dengan keren.
"Kalian datang?" ujar Boy sembari meninju lengan Gabriel.
"Aku belum membuat perhitungan dengan kau yang membawa kabur adikku," balas Gabriel namun matanya tetap fokus lawan mereka di depan.
"Cih, nyalinya kecil sekali sampai bawa-bawa komplotan segala."
"Apa tidak salah? Kalian yang seramai ini mengeroyok sahabatku yang seorang diri ... Bukankah itu pengecut sejati?" balas Devan tersenyum mengejek.
"Sialan."
Bugh, bugh, bugh.
Perkelahian pun kembali terjadi, lima lawan sembilan. Meski belum seimbangan namun Boy dan teman-teman berhasil menyaingi. Keahlian bela diri dua saudara Gabriel dan Amanda pun tak bisa diremehkan.
"Jangan mendekat!" pekik Feli kala seseorang mendekat padanya.
"A-aku ini sabuk Dan IX karate asal kau tahu," lanjutnya sembari merogoh sebuah botol parfum dalam tasnya.
"Sabuk Dan IX?" balas sang lawan mundur sejenak. Feli tersenyum menyeringai. Lalu membuka tutupnya dengan posisi masih di dalam tas.
"Akhirnya setelah sekian lama kau berguna juga," pekik gadis itu mengeluarkan botol parfum dan menyemprotkannya membabi buta.
"ARGHH," pekik pria itu merasakan perih pada kedua matanya. Ternyata gadis itu menyemprotkan air cabai yang ia racik sendiri.
"Sialan bocah ini!" lanjutnya sembari menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri berusaha menggapai Feli yang malah mengolok-oloknya.
"Haha, nggak kena. Nggak kena, woooo." Feli tertawa tanpa menyadari ada bahaya yang mengintai di belakang.
"Si berisik ini benar-benar merepotkan," gumam Gabriel yang menyadarinya. Pria itu menendang lawannya hingga tersungkur dan berlari ke arah Feli.
"Awas!" ujarnya meraih tubuh mungil itu dan menendang pria yang bermaksud menyerang Feli tadi. Gadis itu pun dibawa bergerak mengikuti irama tubuh Gabriel. Dan selama itu pula pandangan Feli hanya terkunci pada pria itu. Tanpa sadar senyumnya tertarik lebar, ternyata kakak sahabatnya itu sangat tampan jika dilihat dari dekat.
"Kakak Gabriel, aku padamu," batin gadis itu dengan kedua mata tanpa berkedip.
"Manda, bawa dia menjauh dari sini."
"Tapi, Kak."
"Jangan membantah!"
Amanda pun akhirnya mundur sembari menarik tangan sahabatnya itu. Bukan tanpa alasan ia menurut, itu karena pihak lawan mulai menyerah. Terlihat beberapa orang sudah mulai mundur dan naik ke motor masing-masing.
Hanya tersisa dua orang yang bertahan, salah satunya yang disemprot Feli tadi. Tampaknya kedua matanya membengkak dan merah karena kepedasan.
"Sial, apa kita mau mati konyol begini?" bisik salah satu dari mereka pada temannya.
"Mereka benar-benar tidak setia kawan."
"Masih mau lanjut?" tantang Devan dengan pose kedua tangan terkepal.
"Urusan kita belum selesai, terutama kau bocah ingusan," geram pria bermata bengkak itu sembari menunjuk Feli, membuat gadis itu sedikit takut.
"Kau!" Boy maju ingin kembali menyerang.
"Sudah, kita balas lain kali saja," ujar teman pria bermata bengkak itu sembari menarik temannya pergi.
"Cih, pengecut, sshh," ejek Devan tertawa kecil, namun sesaat kemudian harus mendesis kala merasakan sakit pada sudut bibirnya.
"Kau tidak papa kan?" tanya Boy pada Amanda dengan cemas. Pria itu menatap tubuh gadis itu, memastikan tidak ada luka tambahan selain luka di lututnya.
"Jaga matamu, Boy!" geram Briel sembari mendorong Boy mundur.
Ia pun menatap adiknya, memastikan juga keadaan Amanda. Namun di mata Feli, Gabriel malah seperti sedang menatapnya lekat. Tanpa sadar gadis itu tersipu dan mengipas wajahnya yang terasa panas mengunakan kedua tangan.
"Akh, kak Briel ganteng banget," batin Feli baper.
"Kau baik-baik saja?" tanya Gabriel pada sang adik. Tanpa sadar malah Feli yang mengangguk-angguk menjawab.
"Aku tidak papa, justru kalian. Terutama dia," balas Amanda yang menatap pada Boy. Gadis itu lalu berjalan menghampiri Boy yang seketika berbahagia.
"Cih." Gabriel berdecih kala melihat wajah Boy yang tertawa malu. Pria muda itu lalu menoleh dan tanpa sengaja tatapannya terkunci pada Feli. Kontan saja Feli langsung gugup.
"Kenapa wajahmu merah sekali?" Sebuah pertanyaan yang menurutnya tidak penting itu terlontar begitu saja tanpa ia sadari.
"Hah? Ehm a-aku ...."
"Sudahlah, tidak perlu dijawab!" ujar Gabriel dan berjalan pergi, meninggalkan Feli yang masih menganga.
"Ayo kita ke rumah sakit!" ajak Amanda sembari memegang lengan Boy yang terluka karena menolongnya.
Dan seperti terhipnotis Boy mengangguk-angguk setuju. Sementara Devan langsung melempar kunci motornya pada Gabriel.
"Pergilah ke rumah sakit bersama mereka!"
"Lalu kau?"
"Aku akan pulang sendiri," balas Devan tersenyum tipis sembari berjalan pergi. Briel dan Boy pun saling memandang.
"Dev, apa kau punya kotak P3K di rumah?" tanya Boy membuat Devan berbalik.
"Ayo bersama ke rumahmu," lanjut Boy dengan senyuman yang dibalas Devan.
"Aku akan mencari taksi untuk mereka terlebih dahulu," ujar Gabriel sembari melirik pada Amanda dan Feli.
"Hah? Tidak, aku mau ikut kalian," pekik Feli tanpa sadar, namun tatapan tajam Gabriel membuatnya menciut. Akhirnya ia hanya bisa menunduk dalam diam.
"Kami akan ikut kalian, hitung-hitung sebagai tanggung jawab ku pada dia. Karena aku dia terluka," sahut Amanda membuat Feli tersenyum sumringah.
"Oke," balas Boy penuh semangat. Pria itu bahkan langsung naik ke motornya.
"Amanda!"
"Nanti aku akan ikut pulang dengan Kakak."
"Ck."
Amanda pun tak membalas lagi, gadis itu berjalan ke arah Boy dan akan melepas helm yang ia kenakan.
"Jangan dilepas!" cegah Boy sembari menahan tangan gadis itu.
"Pakai saja, agar kau lebih aman." Amanda mengangguk, lalu naik ke atas motor pria itu.
Sementara Feli yang ditinggal menatap kedua pria yang kini juga menatapnya. "Lebih baik kau pulang!"
"Kenapa kalian tega sekali padaku? Lihatlah penampilanku yang berantakan ini! Apa kata orangtuaku saat aku pulang dengan keadaan seperti ini. Setidaknya aku harus berbenah agar kelihatan lebih rapi."
"Kau bisa mampir di toilet umum atau tempat apapun itu. Untuk apa mengikuti kami?" sahut Gabriel kesal.
"Sudahlah, biarkan dia ikut!" ujar Devan yang sangat mengerti alasan Feli. Ia yang tidak mau ke rumah sakit pun karena alasan itu. Karena sebagai dokter, cepat atau lambat orangtuanya pasti tahu jika menyambangi tempat itu.
Pada akhirnya meski melalui perdebatan yang lumayan lama, Feli berhasil ikut mereka dengan berboncengan bertiga lagi. Mereka pun meninggalkan tempat itu tanpa tahu ada seseorang yang sedang melihat hasil jepretan di ponselnya dengan tersenyum puas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC.
🌼🌼🌼🌼🌼