The Smile You Gave Me

The Smile You Gave Me
Bab 2 ~ Gadis Tanpa Emosi



“Sial,” umpat Boy merasakan sakit pada tubuhnya. Namun telinganya lebih sakit lagi ketika mendengar suara tangisan anak kecil yang hampir ia tabrak.


“Hei, kenapa kau nangis? Yang jatuh itu aku, kau lihat! Aku bahkan tidak mengeluarkan setetes air mata pun,” ujar Boy dengan wajah panik.


HUAAA.


“Eh? Kenapa malah makin kencang?”


“Hey, bocah!”


“Aduh, nyusahin aja deh,” gumam pria muda itu tak tahu harus berbuat apa juga. Ditambah tiba-tiba hujan gerimis lagi.


HUAAA.


“Ish, apa kabur aja kali ya?” batin Boy.


“Eh, nanti kakak beliin permen deh. Mau gak?” Kedua mata sang bocah nampak sedikit berbinar.


“Atau kau mau rokok? Nanti sekalian aku belikan,” ucap remaja itu lagi, berusaha membujuk sang anak kecil. Biasanya kalau temannya dalam masalah tinggal dibelikan rokok maka semuanya beres.


“Huaa, ibuu, bapakk.”


“Waduh, kok jadi kek toa gini. Beneran harus kabur nih. Nanti ketauan bisa nambah masalah,” gumam Boy kala melihat dari kejauhan seorang gadis berpayung tengah mendekat.


Boy mencoba mendirikan motornya. “Argh, sial banget hari ini,” umpat remaja lelaki itu kala merasakan sakit pada pergelangan tangannya.


Saat motornya berhasil didirikan dan ia berniat kabur, suara gadis berpayung itu menghentikannya.


“Kamu yang membuatnya menangis?”


“Bukan, dia sendiri yang nyebrang tidak lihat-lihat. Aku bahkan tidak menyentuhnya sedikitpun,” balas Boy panjang lebar namun gadis muda itu tidak peduli. Hanya menatap Boy sekilas kemudian berlalu dan mengulurkan tangannya pada bocah laki-laki itu.


“Kalau kamu laki-laki, kamu akan menyambut tanganku karena aku cantik. Dan kalau kamu laki-laki, kamu akan berhenti menangis karena laki-laki tidak akan menangis di depan seorang perempuan asing,” ucap gadis itu dengan wajah datar, namun anehnya tangis bocah itu benar-benar berhenti.


Sembari mengusap kedua matanya, bocah itu menyambut tangan sang gadis.


“Cih, kecil-kecil sudah genit,” ejek Boy yang membuat bocah itu menatapnya garang dan kedua matanya kembali berkaca-kaca.


“Kakak cantik, dia ...,” rengek bocah itu sembari menatap sang gadis muda, seakan tengah mencari pembelaan.


“Sudah, jangan menghiraukan kakak menyebalkan itu lagi ya,” bujuk Gabriella Amanda Taslim, nama gadis itu. Ia memberi sebuah permen untuk sang bocah yang diterima dengan senyuman manis.


“Hei, tadi aku juga mau belikan permen untukmu. Kenapa tidak mau?” kesal Boy. Pria muda itu tak terima juga dikatakan menyebalkan meski memang seperti itu kenyataannya.


“Itu karena Kakak bilang mau memberikanku rokok juga. Aku pernah melihat tulisan kalau rokok membunuhmu, itu artinya Kakak orang jahat,” balas bocah itu sembari memasukkan permen pemberian Amanda ke dalam mulutnya.


“Eh, ma-mana ada aku berkata seperti itu. Ka-kau jangan percaya padanya, itu hanya omong kosong.” Boy jadi salah tingkah sendiri, namun Amanda tak menunjukkan reaksi apapun. Tetap pada wajah datarnya.


“Aku tidak berbohong,” pekik sang bocah.


“Siapa di sana? Vivin,” teriakan dari belakang membuat Boy yang baru saja ingin membalas perkataan sang bocah terlonjak. Ia yang sudah terbiasa kabur dari masalah langsung cabut dan refleks menarik tangan Amanda.


“Ayo kabur!”


“Eh, payungku.”


Drap, drap, drap.


“Kamu ngapain sih? Kenapa menarikku?” tanya Amanda setelah Boy menariknya ke celah rumah yang sempit.


“Sstt.” Boy menutup mulut mungil gadis itu dengan telapak tangan. Cukup lama dan setelah memastikan bahwa tidak ada yang mengejar baru ia menatap pada gadis di hadapannya.


Deg.


Dua mata berwarna hazel itu menatap Boy dengan lekat, benar-benar murni. Bulu mata yang lentik, alis tebal hitam, dan poni tipis yang membuat Boy seketika terhipnotis.


Sebelumnya ia memang belum melihat wajah gadis ini dengan jelas karena tertutup payung.


Sebelumnya ia juga ingin mengejek gadis ini karena dengan percaya dirinya mengatakan diri sendiri cantik.


Namun sekarang ia benar-benar kalah. Ia mengakui bahwa gadis ini sangat cantik hingga ia tidak bisa mengalihkan pandangan.


“Tanganmu kotor dan berdarah,” ujar Amanda sembari menatap datar pada Boy. Sementara pria muda itu malah semakin terpanah. Memandang wajah gadis itu secara keseluruhan benar-benar membuatnya semakin tidak teralihkan. Sangat manis dan imut meski tanpa senyuman.


“Bisa minggir sedikit? Aku mau keluar.”


“Oh? I-iya.” Boy memundurkan tubuhnya namun tidak juga memberi jarak karena tempat yang memang sempit. Jadilah pria muda itu harus menahan napas saat Amanda perlahan bergeser keluar.


“Eh, kau mau kemana?” Boy memegang lengan gadis itu.


“Kembali ke tempat tadi untuk mengambil payungku.”


“Hah? Untuk apa? Kita sudah susah-susah bersembunyi dan kau mau mengantarkan diri dengan kembali ke sana?”


Amanda menoleh, menatap Boy dengan lekat.


“Aku tidak bersembunyi, kamu yang menarikku.”


“Yah, ya tetap saja aku menyelamatkanmu dari orang-orang itu. Mereka pasti menyalahkan kita tanpa tahu alasan pastinya.”


“Lebih tepatnya menyalahkanmu, karena adik kecil itu akan memihakku,” balas Amanda masih dengan wajah datarnya.


Boy menatap gadis itu tidak percaya, ia kira gadis ini pendiam dan kalem, namun nyatanya memiliki daya debat yang luar biasa. Bahkan ia yang terkenal seenaknya jadi kehabisan kata-kata.


“Lepaskan tanganku, aku akan kembali ke tempat tadi.”


“Eh, tapi ....”


Boy masih ingin mencegah namun Amanda telah beranjak pergi. Sebenarnya pria muda itu mau tidak peduli saja, namun ternyata ia tidak bisa. Jadilah ia mengikuti sang gadis dari belakang.


.


.


.


Di sisi lain, teman Boy yang bernama Gabriel tengah berada di kantor polisi. Ia tertangkap dari kejaran tadi dan juga masih berada di bawah umur, KTP dan SIM bahkan belum punya. Jadilah polisi menghubungi orangtuanya dan sekarang ia tengah dimarahi habis-habisan oleh sang ayah.


“Kau benar-benar pembuat onar. Sedikitpun tidak ada miripnya dengan adikmu. Sesekali cobalah untuk belajar darinya, meski dia seorang perempuan, tapi dia tidak pernah membuat papa dan mama khawatir sekalipun..”


Gabriel hanya bisa diam mendengarnya. Untung saja suara hujan sedikit mengurangi suara menggema sang ayah. Jika tidak mereka pasti sudah menjadi pusat perhatian orang-orang di sana, padahal saat ini mereka bahkan masih berada di kawasan kantor polisi.


“Kau dengar tidak?” pekik Hadi Taslim merasa geram dengan sang putra yang sepertinya hanya menganggap perkataannya sebagai angin lalu saja.


“Gabriel!”


“Iya, aku mendengar.”


“Pokoknya mulai sekarang kau tidak boleh mengendarai motor lagi!”


“Tapi, Pa ....” Gabriel masih ingin protes namun dering nyaring telepon sang ayah membuat suaranya kembali tertelan.


“Apa? Amanda belum pulang?” suara hujan membuat Gabriel menajamkan pendengarannya.


“Astaga, ini sudah mulai gelap. Kemana anak itu? Apa kau sudah coba hubungi teman-temannya?”


“....”


“Baiklah ... adikmu belum pulang, ayo kita cari. Eh, Gabriel ... Gabriell!” pekik Hadi, namun Gabriel sudah lebih dulu tancap gas tak peduli hujan yang membasahi dirinya.


“Anak pembuat onar itu,” geramnya merasa marah sekali. Namun saat ini yang terpenting adalah menemukan sang anak bungsu yang selalu membuatnya bangga itu. Sehingga Gabriel akan menjadi urusan nanti saja. Setelah Amanda ditemukan baru ia akan memberi pelajaran baik-baik pada anak tak bisa diatur itu.


Di sisi lain, Gabriel berhenti di depan sebuah toko yang tutup. Mengambil ponsel dan menghubungi sang adik, namun tidak diangkat sama sekali.


“Kemana perginya bocah itu?” gumamnya dengan raut wajah khawatir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.


🌼🌼🌼🌼🌼