The Smile You Gave Me

The Smile You Gave Me
Bab 1 ~ Setelah Sekian Tahun Kita Berjumpa Lagi



14 Februari 2022.


Cuaca pagi yang cerah di hari kasih sayang. Sang surya memancarkan cahayanya dengan begitu ceria, tak terlihat sama sekali keberadaan awan gelap yang akan mengganggu kebahagiaannya. Yang ada hanyalah awan putih tanpa celah yang menari-nari melengkapi hari yang indah ini.


Seindah hati seorang pria bertubuh jangkung, pahatan wajah yang begitu sempurna untuk seusianya menambah kesan yang indah di hari ini. Rahang yang tegas dan senyuman yang manis, jangan lupa dengan dimple di kedua sisi yang menambah kadar ketampanan pria narsis itu.


“Bagaimana penampilanku?” tanya pria itu sembari memasang sebuah kacamata hitam yang membuatnya tampak semakin keren.


“Kau yakin dia masih mengingatmu?” ejek Devan yang melihat sang sahabat bertingkah seakan baru jatuh cinta kembali. Ia lebih memilih untuk tidak meladeni kenarsisan pria ini lagi atau semua isi walk in closet akan dikeluarkan.


Tadi saat jam 6 pagi, ia yang masih bergelung di bawah selimut dengan wanitanya sudah dibangunkan oleh suara telepon dari pria ini. Ia kira ada hal penting apa. Dan ternyata sepanjang pagi ia hanya disuruh untuk menilai penampilan seorang Boy Listio Laurent. Sungguh pengangguran bukan? Mengingat hal itu membuat Devan menghembuskan napasnya dengan kasar.


“Tentu saja gadisku akan mengingatku. Aku adalah orang yang sangat spesial untuknya. Kecuali kau, mungkin dia tidak akan mengingat playboy sepertimu,” ejek Boy balik dengan tawa kecil. Devan hanya menggeleng saja, lelah rasanya, tak ingin juga merusak kebahagiaan sang teman baik.


“Sudah, kau hanya membuang waktuku yang berharga. Aku mau segera ke bandara untuk menjemput Mandaku.”


“Cih, menjijikan! Ini baru jam 8 pagi, estimasi pesawatnya sampai saja masih butuh 3 jam. Dan ingat, kau yang membuang waktuku di sini.”


Boy hanya tertawa kecil, mengedikkan bahu dan memasang wajah menyebalkan. Sungguh jika pria ini bukan temannya, rasanya Devan akan memberinya hadiah berupa kepalan tinju.


“Haish, sudahlah. Cepat pergi! Kasur empukmu ini jadi milikku hari ini,” ujar Devan akhirnya mengalah, pria itu langsung menjatuhkan diri pada ranjang empuk king size itu dan menaruh bantal di atas kepalanya.


“Cih, pengangguran,” ejek Boy sembari tertawa kecil dan keluar dari sana.


.


.


.


Di dalam mobil, Boy terus bersenandung. Senyum lebar tak lepas dari kedua sudut bibirnya. “Kita akan segera bertemu, gadis kulkas,” gumamnya sangat bahagia.


Sesekali ia melirik ke sebelah tempat duduknya, sebuket bunga aster putih yang tampak indah terletak nyaman di sana. Seakan memastikan bahwa buket itu tidak akan terluka meski hanya ada guncangan kecil.


Sepanjang jalan juga ia ditemani suara radio, dimulai dari sapaan khas penyiar sampai lagu-lagu cinta diputar bergantian, menambah rasa-rasa menggelitik di dalam hati pemuda itu. “Sepertinya aku akan memberi tip untuk penyiar radio hari ini,” gumamnya lagi dengan senyum yang tak pernah luntur.


Hingga tak butuh waktu lama mobil yang ia bawa telah sampai di bandara. Pria itu lalu memarkirkan mobil dan berjalan dengan langkah yang riang. Sambil tersenyum ia melangkah dengan sebuket bunga di tangan, menuju kedatangan internasional yang tentunya belum nampak sosok yang ia cari.


Tentu saja, saat ini baru jam 8.26, yang ditunggu saja diperkirakan sampai jam 11 siang. Sungguh tidak sabaran bukan?


Namun bukan Boy namanya jika ia peduli, pria itu terus mondar mandir bagai setrika baju di sana. “Ck, kenapa waktunya lambat sekali,” gumamnya sembari menatap jam tangannya yang baru menunjukkan jam 8.30.


Sebenarnya ia bisa saja menunggu di ruang VIP bandara, namun ia tidak mau kehilangan kesempatan. Takutnya Amanda tidak tahu ia menunggu di sana.


Hingga waktu berlalu, jam tangan pria itu sudah menunjukkan angka 11 siang. Dirinya yang bagai setrika pun mulai berhenti. Memfokuskan pandangan ke arah kedatangan di depannya. Cukup lama, sekitar 15 menit akhirnya yang ditunggu menunjukkan batang hidungnya.


Seorang gadis cantik dengan tinggi semampai, kulit putih halus, rambut panjang yang lurus itu bergerak sesuai irama langkah tubuhnya. Senyum yang indah mampu menghipnotis Boy yang tanpa sadar mencengkram buket bunga yang ia bawa.


“Senyum itu, aku yang mengembalikannya,” batin pria itu juga dengan senyum yang tak kalah lebar.


Deg.


Deg.


Deg.


Rasanya jantungnya ingin melompat keluar, ternyata perpisahan selama bertahun-tahun tak membuatnya mati rasa. Yang ada justru rasa itu semakin merajai dirinya. Lagi-lagi ia hanya bisa menarik kedua sudut bibirnya dengan lebar, namun hanya sesaat karena perhatiannya teralih pada seorang bocah perempuan yang digandeng Amanda.


“Siapa bocah itu?” gumam Boy dengan cemberut, ia saja tidak pernah menggandeng Amanda dengan seerat itu. Bocah itu juga terlihat sangat manja pada sang gadis.


Baru saja Boy ingin berteriak, seorang pria datang dan langsung menggendong bocah perempuan itu. Ketiganya pun tampak bercanda bagai keluarga yang bahagia.


“Amanda sudah menikah?” gumam Boy kecewa.


“Lantas apa gunanya aku menunggu selama ini.” Pria itu mencengkram bunga aster putihnya dengan erat, lalu melemparnya sembarang tempat dan pergi begitu saja.


Sementara di sisi lain Amanda terus melirik kesana kemari. “Kata kak Briel, kak Boy akan menjemputku?” gumam gadis itu.


“Amanda.”


“Kak.” Amanda tersenyum.


“Maafkan aku, aku benar-benar kebelet tadi. Oh iya, terima kasih sudah menjaga Cira.”


“Oh, ayolah Sayang. Kau benar-benar tidak menganggapku. Padahal aku bisa menjaga putri kita seorang diri.”


“Kau lupa terakhir kali aku meninggalkan Cira padamu? Dia jatuh ke kolam renang.”


“Ya, itu karena anakmu ingin ikut berenang bersamaku.”


“Kau bahkan tidak tahu ada anak mu di belakang.”


“Ya, ya benar aku yang salah.”


Amanda tertawa kecil, pasangan ini memang selalu seperti itu. Sering bertengkar namun tak mengurangi rasa kasih.


“Kak, kalau begitu aku duluan ya,” pamit Amanda pada kakak sepupunya itu.


“Kau yakin tidak mau kami antar?”


“Tidak perlu Kak, aku sudah dijemput.”


“Hem, dijemput seorang pria?” ledek sang kakak sepupu dan Amanda hanya bisa membalas dengan senyuman malu.


“Baiklah, hati-hati di jalan ya.” Amanda mengangguk, lalu berjalan keluar dan mencari keberadaan pria yang sangat ia rindukan.


“Di mana dia?” Gadis itu memandang kesana sini namun tetap tak menemukan yang ia cari.


“Bunga aster putih,” gumamnya ketika melihat buket yang sudah bonyok itu tergeletak begitu saja di lantai.


“Sayang sekali,” gumamnya lagi karena ia sangat menyukai bunga itu.


.


.


.


“Hei, Boy. Aku tidak menyangka kau akan ke sini lagi,” ujar seorang pria sembari duduk di samping Boy yang sedang menyesap sebotol wine.


“Apa ada yang baru? Aku mau mencobanya.”


“Kau yakin? Sudah lama sejak kau pensiun, Bray.”


“Oke-oke. Kebetulan ada tantangan baru malam ini.”


“Aku mau ambil.”


“Oke, jam 1 malam nanti kami menunggu di tempat biasa.” Pria bertubuh besar dan memiliki banyak tato itu pergi setelah menepuk pundak Boy.


Boy mengambil ponsel yang sejak tadi terus bergetar.


Briel, Devan, dan terakhir ada sebuah nomor asing.


“Bullshit!” geram pria itu dan melempar ponselnya begitu saja. Hari ini ia benar-benar tidak ingin diganggu, ia sedang patah hati ditinggal nikah.


Hingga malam menjelang dan waktu yang ditentukan tiba.


Amanda sedang tertidur lelap kala suara ponsel merasuk ke telinga. “Engh, hallo.”


“Amanda,” pekik suara telepon di sebrang.


“Kakkk ... aku tahu di sana masih siang. Tapi kau juga jangan menggangguku. Aku baru saja terlelap setelah berusaha mengatasi jet lag,” rengek Amanda di antara kesadaran yang belum pulih.


“Ck, kau sudah bertemu Boy?”


“Kak Boy? Jangan membahasnya, aku sedang sangat kesal padanya. Kau tahu berapa jam aku menunggu di bandara? Bahkan telepon ku saja tidak dijawab.”


“Dia datang, bahkan beberapa jam sebelum kau sampai.”


Kedua kelopak Amanda langsung terbuka lebar. “Bohong, kau hanya tidak ingin hubungan kami rusak lagi kan?”


“Sungguh, dan sekarang dia menghilang. Aku dan Devan sama sekali tidak bisa menghubunginya.”


“Aku akan mencarinya.”


“Tidak! Ini sudah tengah malam di sana ....”


Tut.


...


Di tempat lain, suasana begitu meriah dengan begitu banyak orang yang berkumpul.


“Boy ... Boy ... Boy ... Yeayyy ....”


Suara teriakan saling bersahutan memekikkan telinga kala Boy berhasil melewati putaran pertama dengan begitu kerennya disusul sang lawan yang hanya berbeda sedetik saja. Hingga beberapa putaran terlewati dan ini adalah putaran terakhir dengan belokan yang sangat sulit.


Kedua sepeda motor itu saling menyalip, Boy terlihat lihai mengendalikan kuda besinya itu. Hingga kehadiran seseorang membuat Boy kehilangan konsentrasi. Laju motornya sedikit melambat dan tanpa diduga sang lawan menyerempet dirinya sampai ia tidak bisa menyeimbangkan diri saat belokan.


Brukkk, Crashh.


Boy jatuh menggelinding membuat para penonton memekik.


“KAKK!”


Sementara Amanda langsung berlari tidak peduli jarak di antara mereka terbilang lumayan jauh.


“Kak ... Kak Boy,” lirih gadis itu setelah berada di depan pria itu.


“A...manda.” Boy samar-samar menatap wajah itu, hingga kenangan demi kenangan berputar dalam ingatannya. Awal mula gadis kulkas ini berhasil menguasai hatinya.


.


.


.


28 Juni 2015.


“Sudah berapa kali ku bilang? Aku hanya bekerja! Tidak ada hubungan lebih di antara kami.”


“Kau pikir aku tidak tahu? Dia mantanmu kan? Kau pikir aku bodoh, hah?”


Boy menutup kedua telinganya menggunakan tangan, inilah makanannya setiap hari jika berdiam diri di rumah. Lantas ia langsung bangkit dari sofa ruang keluarga, masuk ke kamar mengambil sebuah jaket, ponsel, dompet dan kunci motor.


“Mau kemana?” tanya Yanuar Laurent, sang ayah.


“Mencari udara segar, berada di rumah sangat pengap,” ketus pria muda dan berlalu begitu saja.


“Kau ... Lihatlah! Ini semua adalah didikanmu,” geram Yanuar ketika sang istri yang juga akan keluar.


“Kau lupa jika dia juga putramu? Tugas mendidiknya bukan hanya padaku saja.”


Boy memejamkan mata, berjalan semakin cepat sembari menghubungi kedua sahabatnya.


“Ayo ngumpul di markas. Kak Gerald ada tugas baru katanya.”


Dalam sekejap sudah ada balasan. “Baiklah,” jawab keduanya berbarengan.


Boy tersenyum, naik ke atas motor ninjanya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Ketiganya lalu bertemu di persimpangan, saling memberi klakson dengan laju di atas rata-rata. Seenaknya juga menerobos lampu merah hingga dikejar oleh polisi yang sedang berpatroli.


“Sial,” umpat Boy dan memberi kode ke teman-temannya untuk tidak jadi ke markas.


Ketiganya lalu kembali berpisah, masing-masing berbelok ke arah manapun asal bisa menghindari kejaran polisi.


Boy sendiri masuk ke dalam sebuah gang kecil. Melajukan motornya dengan kecepatan sedang karena tak terlihat ada yang mengejar lagi. Namun tiba-tiba seorang anak berlari menyebrang.


BRUKKK.


“ARGH.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.


Halo, selamat datang di karyaku yang baru. Semoga betah ya. Oh iya, novel ini alurnya maju mundur. Jadi perhatikan tanggalnya agar tidak bingung ya.


Terima kasih.


Salam, Joy🌼.


🌼🌼🌼🌼🌼