The Smile You Gave Me

The Smile You Gave Me
Bab 8 ~ Memberikanmu Senyuman Paling Lebar



Di kelas XI-A.


Devan sedang membaca bukunya dengan serius. Remaja lelaki itu seakan tak peduli dengan teman-temannya yang saling ngobrol melepas rindu setelah lama tidak berjumpa, ia seperti tenggelam dalam dunianya sendiri. Teman-temannya pun tak heran, karena Devan adalah peringkat umum angkatan mereka. Jadi wajar saja jika pria muda itu agak pendiam dan tertutup.


Sebenarnya ia sangat ingin berbaur dengan teman-temannya, namun ia tidak ingin keburukannya terbongkar. Sudah susah-susah ia menciptakan citra luar biasa di dalam sekolah dan di rumah, bisa saja ia hancurkan dengan tidak sengaja jika terlalu bebas mengekspresikan diri. Oleh karenanya ia selalu berhati-hati dan hanya bersahabat dengan Boy dan Gabriel yang jelas sudah tahu aslinya dirinya.


Di antara kesibukan siswa kelas itu, hampir semua mata teralih ketika dua orang siswa tampan masuk ke sana. Masing-masing mengulum sebuah lollipop dan terlihat acuh tak acuh namun justru pemandangan itu yang banyak menarik perhatian. Yang berpas-pasan dengan mereka pun memilih mundur, tidak mencari masalah maka lebih baik.


"Woi, tukang pencitraan," bisik Boy tiba-tiba tepat di telinga Devan.


"Sialan kau. Jangan keras-keras!" balas Devan balas berbisik. Sementara Gabriel langsung duduk dengan diam di meja belakang Devan.


Boy tergelak, menertawakan hidup sang sahabat yang penuh kepalsuan. Pria muda itu tak takut meski Devan terus menatapnya tajam.


"Kenapa? Mau permen?" tanya Boy, tawa kecil masih tak surut di wajahnya. Pria muda itu melempar sebuah lollipop yang langsung ditangkap Devan.


"Bukankah kau mau bolos?" tanya Devan sembari membuka bungkusan lollipop dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Pada awalnya iya. Tapi mau bagaimana lagi? Di tengah jalan aku ketemu bidadari. Bidadari itu menarikku ke sekolah dan memintaku menjadi anak baik."


Sejenak Devan mengangguk-angguk, namun setelah sadar wajahnya berubah menjadi sinis. "Cih, kau sangat lebay," ledeknya sembari tertawa jenaka.


Boy tidak menggubris, pria itu justru membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Gabriel. "Bray, aku sudah tahu nama adikmu loh," ujarnya sembari menaik turunkan kedua alisnya.


Gabriel menatapnya tajam. "Jika kau berani macam-macam, aku tidak akan tinggal diam meski kau adalah temanku," ancam Briel membuat Boy memasang wajah takut, namun sekejap langsung berubah jenaka.


"Oh? Ternyata kau sangat perhatian pada adik kecilmu ya?" ledek Boy, namun Gabriel memilih bergeming.


"Haha, jangan memasang wajah seperti itu, Bray. Ayo kita kembali ke kelas, kelas ini tidak cocok dengan kita," ujar Boy akhirnya dan menarik tangan Gabriel.


"Sampai jumpa, murid teladan," ujar pria muda itu sembari mengedipkan sebelah matanya. Devan pun memasang wajah kesal, terlebih mata sekelas kini tertuju padanya.


"Hem." Pria itu berdehem, mencoba menetralisir keadaan dan kembali membaca bukunya dengan serius. Satu-satunya hal yang membuat teman sekelas Devan heran adalah Devan yang merupakan seorang murid teladan bisa berteman dengan dua siswa berandalan dari kelas terburuk, meski mereka memang berasal dari keluarga-keluarga terpandang. Tidak tahu saja mereka siapa yang paling bobrok di antara mereka bertiga.


.


.


.


Kelas XI-9.


Kelas yang jauh dari kata tenang. Bagaimana tidak? Pagi-pagi saja para siswa sudah ribut, teriakan terdengar di sana sini menyambut kedatangan Boy dan Gabriel.


"Boy, kita bertemu lagi," pekik seorang siswi yang langsung disoraki teman-temannya. Boy tertawa kecil, lalu mengedipkan sebelah matanya pada gadis itu.


"Akkhhh," teriak sang gadis kegirangan setelah mendapat kedipan maut itu. Seketika kelas yang heboh semakin heboh.


Sementara Gabriel memutar matanya malas, bagaimana mungkin ia percaya pria seperti Boy akan serius dengan adiknya? Maka dari itu tidak akan ia biarkan pria itu mendekati Amanda meski Boy merupakan sahabatnya.


Boy juga tidak peduli dengan teriakan sang gadis, pria muda itu berjalan dengan santai menuju bangku paling belakang yang memang sengaja dikosongkan untuknya.


"Briel, sini!" ujarnya sembari memaju mundurkan jari telunjuknya dan tersenyum lebar.


Gabriel pun dengan malas duduk di sebelahnya karena bangku memang sudah terisi semua.


"Ei, kau tidak mau menceritakan sedikit saja tentang adikmu?" ujar Boy saat Gabriel baru saja mendaratkan pantatnya di kursi.


"Hei, kau tidak dengar aku tanya apa?" Boy bertanya dengan gemas, pasalnya Gabriel seperti menganggapnya tidak ada. Pria itu malah sibuk sendiri.


"Aku tidak akan membicarakan apapun yang berhubungan dengan keluargaku terutama denganmu."


"Ck, kau ...."


"Diam semua!" Sebuah suara lantang menggema berhasil memutus semua keributan dalam kelas itu. Termasuk Boy yang masih ingin protes dengan sahabat sekaligus kakak calon kekasihnya itu.


Semua siswa siswi yang sebelumnya berhamburan kini berbondong-bondong kembali ke bangku masing-masing. Kelas pun dimulai dengan ceramahan sang bapak guru. Tentang kelas mereka yang super ribut, kelas mereka yang dianggap sebelah mata dan sebagainya. Tidak lupa juga sang wali kelas itu memberikan semangat agar anak-anak didiknya ini bisa membuktikan diri.


"Kalian tahu? Suara kalian bahkan sudah terdengar dari bawah tangga. Sedangkan kelas yang terletak di bawah kelas kalian adalah kelas X-1. Kalian jelas tahu kelas apa itu. Bapak harap kalian dapat memberikan contoh yang baik bagi adik-adik kalian ...."


Ucapan pak wali kelas masih panjang lebar namun hanya satu kalimat yang membuat rasa kantuk Boy menghilang.


...


Dan hari pertama sekolah berlalu. Amanda berjalan keluar dari kelasnya dengan langkah sedikit tertatih. Tadi memang tidak begitu sakit rasanya, namun sekarang terasa sakit sekali tapi ia juga tidak tahu harus menanggapi perasaan sakit itu dengan bagaimana.


"Amanda," pekik Feli yang langsung menepuk punggung sang sahabat hingga membuat Amanda nyaris terjatuh jika saja Boy tidak langsung menahannya.


"Eh, hati-hati," ujar pria muda itu dengan bibir melengkung sempurna. Amanda mendongak, lalu menatap Boy dengan datar seperti biasanya.


"Wah, hampir satu bulan kita tidak bertemu kau banyak berubah ya. Kau bahkan punya teman baru sekarang." Feli memasang wajah tertekuk. Seakan merasa cemburu dengan kedekatan mereka.


Amanda menggeleng, ia lalu melepas tangan Boy yang masih memegang lengannya. "Dia bukan temanku, dia teman kakakku."


"Ya, aku memang bukan temannya. Tapi calon kekasihnya," tambah Boy dengan wajah penuh percaya diri. Amanda ingin membalas namun Feli menghentikannya.


Gadis itu menyipitkan matanya, menatap wajah sang teman yang senantiasa tanpa ekspresi. Lalu beralih menatap pada Boy yang memberinya senyuman lebar yang indah.


"Ck, ck, ck. Dilihat bagaimanapun aku tidak akan membiarkan sahabatku yang polos ini dipermainkan olehmu," ujar Feli menatap Boy tajam, gadis itu bahkan langsung menarik tangan Amanda untuk bersembunyi di belakangnya.


"Apa maksudmu?"


"Jangan kau kira aku siswa baru jadi tidak tahu sama sekali tentang sekolah ini. Hoho, kau salah besar Boy Listio Laurent alias Bad Boy. Namamu itu sudah merusak reputasi sekolah ini. Sayang sekali papamu ketua yayasan, kalau tidak, mungkin kau sudah lama ditendang dari sini."


"Kau!"


"Ayo Amanda! Jangan dengarkan dia!" Feli menarik tangan Amanda, namun kaki Amanda yang masih sakit membuat gadis itu tidak bisa berjalan cepat.


Boy menyadari hal itu, ia lalu mengejar mereka dan melepas tarikan Feli. "Kau gila, kakinya terluka!" bentak Boy tanpa sadar namun berhasil menyadarkan Feli.


"Oh, Amanda. Kau tidak papa?" tanya Feli panik. Sementara Amanda menggeleng.


"Aku akan mengantarnya pulang!" ujar Boy yang tanpa banyak kata langsung menarik Amanda ke dalam lift yang kebetulan terbuka.


"Eh, apa yang kau lakukan?" pekik Feli yang turut mengejar langkah mereka.


"Keluar!" titah Boy tak terbantahkan pada para siswa yang berada di dalam lift itu. Tanpa ada yang berani membantah, mereka pun berbondong-bondong keluar dan menghalangi Feli yang ingin ikut masuk.


"Sial," geram gadis itu ketika pintu lift sudah tertutup. Gadis itu menekan-nekan tombol lift dengan wajah yang kesal sekali. Tak ingin menunggu lama, ia pun berbalik dan berlari ke arah tangga.


Sementara di dalam lift Amanda menatap Boy. Boy pun membalas tatapan itu dengan tersenyum. Ia tahu Amanda pasti akan kesal dengannya. Tapi kenapa wajah gadis ini tidak menunjukkan perasaan apapun?"


"Kenapa meminta mereka keluar?" tanya Amanda.


"Kakimu sakit, bagaimana jika ada yang tidak sengaja menyenggol."


"Meski kamu anak ketua yayasan, seharusnya kamu tidak melakukan hal seperti itu. Lift ini untuk umum, hak semua warga sekolah. Jadi kamu tidak bisa memonopoli seperti ini."


"Sstt, kenapa kau cerewet sekali dengan wajah datar seperti itu?"


Amanda menunduk, setiap kali ada yang protes dengan ekspresinya yang datar, entah kenapa ia merasa tidak nyaman.


"Aku bahkan belum pernah melihatmu tersenyum," lanjut Boy masih menatap Amanda lekat.


"Jangan-jangan kau tidak bisa tersenyum?"


Amanda bergeming, mendongak pada Boy sekilas lalu menoleh ke arah lain. Seakan membenarkan dugaan pria muda itu.


"Wah, tidak ku sangka. Padahal aku yakin kau pasti akan semakin cantik jika bisa tersenyum."


Hening, Amanda tetap tidak menjawab.


"Hei, lihat aku!" Boy mengambil posisi di mana Amanda menatap.


"Tidak papa kau tidak bisa tersenyum. Aku akan memberikannya. Senyuman paling lebar." ujar pria itu menatap lekat dan dalam kedua iris mata hazel itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.


🌼🌼🌼🌼🌼