The Smile You Gave Me

The Smile You Gave Me
Bab 7 ~ Akhirnya Aku Tahu Namamu



"Siapa dia? Kenapa terus mengikutiku?" gumam Amanda sembari menoleh ke belakang. Terlihat seorang pria berseragam sama dengannya terus membuntutinya.


"Jangan-jangan dia penculik dengan berpura-pura menjadi teman sekolahku," tebak Amanda yang menambah kecepatan kakinya mengayuh sepeda. Meski ia tidak merasa takut sama sekali, tapi mama Reina pernah mengatakan bahwa ia harus waspada bila ada sesuatu yang mencurigakan.


Sementara Boy yang ada di belakang sana terus tertawa, Amanda terlihat sangat lucu ketika ketar-ketir seperti ini. Pria itu tak berniat sama sekali untuk menunjukkan siapa dirinya. Bahkan kaca helm pun tak ia buka. Sengaja ingin mengerjai gadis kulkas itu terlebih dahulu.


"Eh, awas!" pekik Boy namun sudah terlambat.


BRAKKK.


Boy langsung mengerem motornya mendadak dan refleks menutup matanya seakan merasakan rasa sakit yang sama.


Pria itu menunggu teriakan membahana yang biasanya refleks seorang gadis lakukan. Namun ditunggu-tunggu pun tak datang-datang. Akhirnya ia membuka matanya dan membelalak saat melihat Amanda sudah berjalan menjauh sembari mendorong sepedanya. Sementara seekor anjing yang hampir gadis itu tabrak kini berlari ke arahnya.


"Eh, eh. Jangan ke sini! Jangan!" Boy langsung melompat turun dari motornya, mencoba berlari namun anjing itu terus mendekat.


"Haish, sialan. A-apa yang harus aku lakukan?" ucapnya seorang diri. Sementara kedua matanya terus melirik ke arah Amanda yang semakin menjauh.


"Hei, kenapa kau terus mengikutiku?" ujarnya sembari mengibas tangan, mencoba mengusir hewan yang menurutnya menakutkan itu. Namun bukannya pergi, anjing itu malah semakin mendekat. Menggoyangkan ekornya seakan ingin mengajak Boy bermain.


"Roti ... iya benar. Aku bawa roti, kau mau?" Boy lalu membuka tas sekolahnya, mengambil sebuah roti yang kebetulan ia beli untuk sarapan.


"Ini ... Ini, ambillah!" Boy sekuat tenaga melempar roti itu, dan berhasil terlempar jauh. Anjing itu pun refleks berlari ke arah di mana roti tersebut jatuh. Sejenak Boy menerawang, setelah dilihatnya aman ia segera berlari ke arah motor yang sempat ia tinggalkan.


"Huh, menyeramkan sekali," gumamnya kemudian menjalankan kuda besinya itu mengejar Amanda yang sudah jauh.


"Hei, gadis kulkas!" pekiknya setelah berada di samping Amanda.


Gadis itu menoleh, namun tidak ada reaksi apapun di wajahnya.


"Jadi kamu yang mengikutiku?" tanya Amanda masih dengan wajah datarnya.


Boy menaikkan sebelah alisnya, menatap Amanda dengan heran. Entah kenapa ia merasa gadis ini sedikit aneh atau mungkin hanya perasaanya saja.


"Oh? Kakimu terluka," pekik Boy membulatkan kedua matanya. Pria itu segera turun dari motornya dan berjongkok, memeriksa lutut kanan Amanda yang berdarah.


"Kau bawa tisu?" Boy mendongak, menatap gadis yang wajahnya tetap datar.


"Ada, untuk apa?"


"Kakimu terluka, lihat darahnya mengalir! Apa kau tidak merasa sakit sama sekali?" kesal Boy sembari membawa gadis itu duduk di salah satu kursi taman.


Pria itu segera membersihkan darah yang mengalir dengan tisu basah. "Kau tunggu sebentar di sini, aku akan membeli perban."


"Aku tidak bisa menunggu lagi, nanti aku bisa terlambat."


"Tapi kakimu harus segera diobati!"


"Aku harus menghadiri acara penyambutan murid baru. Aku bisa pergi ke UKS setelah acara penyambutan selesai."


"Ck, kau." Boy menghela napasnya, lalu mengambil sapu tangan dari dalam sakunya.


"Jangan bergerak! Setidaknya aku harus menghentikan darah yang terus mengalir," ujar pria remaja itu kemudian menarik kaki Amanda dan mengikat lututnya menggunakan sapu tangan bergambar Phoenix.


"Aku akan mengantarmu."


"Tidak mau, kamu lupa? Gara-gara kamu aku jadi seperti ini."


"Justru aku sekarang sedang bertanggung jawab. Bukankah kau tidak mau terlambat?"


Amanda melirik jam tangannya sekilas, lalu menatap Boy yang juga sedang menatapnya lekat.


.


.


.


"Kemana bocah itu?" gumam Gabriel menoleh ke sana ke mari, mencari keberadaan sang adik di antara kerumunan siswa baru. Namun tidak terlihat keberadaan Amanda di manapun.


"Kak Briel," pekik seorang gadis dengan suara melengking. Gabriel yang sedang fokus mencari keberadaan sang adik sampai harus menutup sebelah telinganya.


"Kak Briel, sedang apa disini?" sapa gadis itu lagi setelah sampai di hadapan Gabriel. Gabriel menatap gadis yang setinggi dadanya itu jengah. Entah kenapa adiknya yang pendiam bisa memiliki sahabat yang super berisik seperti ini.


Feli lah yang mendekati ia duluan, gadis ceria itulah yang melengkapi hidup Amanda yang selalu datar. Namun setiap gadis itu main ke rumah, Gabriel harus menutup telinga seharian karena suara Feli yang tak ada habis-habisnya.


"Kak, Amanda mana?" tanya Feli membuat lamunan Briel buyar.


"Dia belum datang?" tanya Gabriel balik. Seketika kecemasan tampak semakin jelas di gurat wajahnya.


Feli menggeleng. "Dia memintaku untuk menunggunya di parkiran, katanya dia datang menggunakan sepeda. Lima menit lagi acara akan dimulai, aku kira dia sudah datang dan bersiap di belakang panggung. Jadi aku pergi memeriksanya, tapi aku tidak melihatnya sama sekali."


"Sial," gumam Gabriel.


"Hah? Kakak bilang apa?"


"Ck, kau tunggu di sini! Kalau dia sudah datang, beritahu aku!" Tanpa menunggu jawaban Feli, Gabriel langsung melangkah pergi.


"Apa? Oh? Hem, baiklah." Feli mengangguk, namun sesaat kemudian ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bagaimana cara aku menghubunginya? Aku saja tidak punya nomornya," gumam gadis itu kemudian menggeleng.


"Bagaimana ini, acaranya sudah mau dimulai," gumam Feli resah, gadis itu menggigit kuku-kuku tangannya dan mencoba menghubungi ponsel Amanda, namun tetap saja tidak diangkat.


"Aaa, anak ini benar-benar tidak pernah membuatku tenang." Gadis itu semakin resa kala suara mikrofon berbunyi, meminta para siswa baru untuk berkumpul di aula karena acara penyambutan akan segera dimulai.


"Fel, ngapain masih di sini? Itu kita udah disuruh masuk loh," ujar salah satu siswi.


"I-iya, aku lagi nungguin Amanda ini."


"Amanda? Tadi aku lihat udah datang kok. Sama cowok ganteng lagi," sahut siswi itu mendadak heboh.


"Udah dateng? Sama cowok ganteng juga?" tanya Feli yang diangguki dengan antusias oleh siswi tersebut.


"Sialan, Amanda. Aku khawatir setengah mati di sini dan dia enak-enakan sama cowok ganteng," geram Feli dengan raut wajah kesal.


Sementara di sisi lain Amanda telah bersiap untuk naik ke podium. Ia menjadi perwakilan murid teladan dengan nilai tes nyaris sempurna. Hanya kurang 2 poin dari mata pelajaran fisika.


Gadis itu berjalan dengan percaya diri setelah namanya dipanggil. Meski tanpa senyuman tapi wajah cantik dan aura yang berbeda mampu menghipnotis para siswa bahkan siswi di sana, tak terkecuali seseorang yang menyelinap dengan tujuan memang ingin melihatnya.


"Oh, namanya Gabriella Amanda Taslim. Enaknya kupanggil apa ya? Hem, Gabi, Ella, Amanda, Manda, Bee. Hem, bukankah dipanggil Bee akan terdengar sangat imut?" gumam Boy sesekali cekikikan, membuat Feli yang kebetulan duduk tidak jauh dari sana mendelik.


"Itu dia," bisik siswi yang tadi sempat heboh.


"Apa?"


"Dia ... dia cowok yang nganter Amanda tadi?" Feli mengangkat sebelah alisnya. Melihat tatapan memuja Boy pada sang sahabat membuat Feli menatapnya penuh curiga. Tidak akan ia biarkan Amanda nya yang polos dijebak pria tidak jelas ini.


"Hei, bukankah aku memintamu untuk menghubungiku jika Amanda sudah datang?" ujar Gabriel tiba-tiba membuat Feli terlonjak.


"Aku tidak punya nomor Kakak, bagaimana aku bisa menghubungimu?" balas Feli jadi sewot.


"Kau!"


"Tenang, Bray. Jangan kasar sama cewek," sahut Boy membuat Briel menyadari kehadiran temannya itu.


"Kau? Sedang apa kau di sini?"


"Apalagi? Tentu saja melihat adikmu."


"Awas saja kalau kau macam-macam."


"Tenang saja, aku hanya mau satu macam kok. Aku hanya ingin mengejarnya."


"Kau ... hei, kau mau kemana?"


"Pergi. Adikmu sudah selesai pidato, untuk apa lagi aku di sini?" balas Boy acuh tak acuh. Sementara Gabriel menatapnya geram.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


TBC.


🌼🌼🌼🌼🌼