
Selama hampir 30 menit akhirnya Gabriel menyudahi mandinya. Remaja itu keluar dengan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya saja.
"ASTAGA," pekiknya tanpa sadar ketika melihat seorang gadis dengan rambut panjang duduk termenung di depan meja belajarnya.
"Kak." Amanda langsung menyibak rambutnya dan bangun berdiri. Gadis itu menghampiri sang kakak yang menatapnya kesal.
"Lama sekali Kakak mandinya. Aku hampir ketiduran tahu," protes gadis itu.
"Siapa juga yang memintamu menunggu ku? Cepat keluar, kakak mau ganti pakaian," usir Gabriel dengan nada ketus. Namun Amanda sama sekali tidak peduli. Gadis itu bahkan langsung berjalan kembali ke meja belajar dan duduk dengan tenang di sana.
Sementara Gabriel menggeram, ia sedang kesal dan Amanda malah membuat kekesalannya jadi bertambah.
"Kakak bilang keluar, Manda!"
Amanda bergeming, gadis itu malah membuka buku sang kakak dan membacanya dengan tenang, seakan suara kesal Gabriel hanya angin lalu saja. Semakin kesal akhirnya Gabriel mendekat, ia menarik tangan sang adik dan membawanya keluar dari kamarnya.
"Kak, jangan tarik-tarik, aku hanya mau mengobati luka Kakak," ujar gadis itu sembari menunjuk kotak P3K yang ia taruh di atas meja.
"Lagian Kakak malu apa sih? Kalau mau ganti baju ya ganti saja, kenapa harus mengusirku keluar? Padahal dulu kita bahkan pernah mandi dan tidur bersama," protes Amanda sembari menahan pintu kamar, tidak mengizinkan sang kakak menutupnya.
Gabriel menghela napasnya kasar. Akhirnya ia melepas pegangan tangannya pada sang adik, membuat Amanda merasa menang namun di detik selanjutnya ia malah didorong keluar.
"Kak ... pokoknya aku akan menunggu sampai Kakak membuka pintunya lagi," kekeh gadis itu seraya menahan pintu yang akan ditutup Gabriel. Namun sang kakak tak menggubris, Gabriel langsung mendorong dan mengunci pintu kamarnya dengan rapat.
Tak mau ambil pusing, pria itu segera memakai bajunya dan langsung menjatuhkan diri ke atas kasur empuknya. Mencoba memejamkan kedua matanya namun tetap saja hatinya tidak tenang.
"Dia pasti sudah kembali ke kamarnya kan?" gumamnya sembari melirik jam weker di atas nakas.
"Sudah setengah jam lebih, pasti sudah pergi kan?" gumamnya lagi dan menarik selimutnya hingga ke atas kepala, mencoba tak peduli lagi. Namun beberapa detik kemudian, ia langsung bangun, dengan gusar ia menyibak selimut, bangkit dan berjalan ke arah pintu.
"Kak," panggil Amanda setelah Gabriel membuka pintu kamarnya. Gadis itu menatap Briel sumringah dan langsung nyelonong masuk ke dalam kamar sang kakak lagi.
"Kakak, cepat duduk di sini!" ujar Amanda sembari menepuk tempat di sampingnya, pasalnya Gabriel masih terus menatapnya dari depan pintu.
"Kau belum kembali ke kamar mu?" tanya Gabriel yang entah kenapa mendadak bodoh. Pria itu berjalan mendekati sang adik yang selalu menatapnya datar.
"Tentu saja belum, Kakak kira aku punya ilmu apa sampai bisa berada di dua tempat dengan waktu bersamaan?" balas Amanda yang membuat Briel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Aa, seharusnya ia ingat bahwa adiknya ini memang aneh bin ajaib. Kadang sangat menyebalkan, kadang juga sangat menggemaskan seperti sekarang.
"Kakak, duduklah! Aku akan mengobati luka Kakak." Amanda menatap sang Kakak dengan sebuah kapas di tangannya, namun Gabriel masih bergeming. Akhirnya gadis itu menarik tangan Gabriel dan membawanya duduk.
Setelahnya tidak ada suara yang terdengar lagi, Amanda sibuk mengobati sementara Gabriel menatap sang adik dengan lekat. Bahkan ia sama sekali tidak protes kala Amanda menekan lukanya terlalu kuat.
"Sudah selesai," ucap gadis itu membalas tatapan sang kakak. Keduanya seakan nostalgia dengan kedekatan mereka di masa kecil, kedekatan yang mungkin tidak akan terulang lagi sekarang.
"Kak, apa Kakak tidak bisa keluar saja dari geng motor itu?" tanya Amanda setelah beberapa saat diam. Sebuah kalimat tanya yang membuat Gabriel mendelik tidak suka.
"Kak, itu sangat berbahaya. Aku melihatnya sendiri tadi, Kakak bahkan terluka seperti ini."
"Tahu apa kau? Urusanmu sudah selesai kan? Sekarang keluar dari kamarku!"
"Tapi Kak."
"Keluar atau aku teriak biar papa sama mama bangun. Mereka pasti tidak akan suka melihatmu di sini, tapi sepertinya kau akan senang jika mereka mengomeliku lagi kan?"
"Tidak, bukan seperti itu Kak."
"Kalau begitu keluar!"
Amanda akhirnya bangkit dari duduknya. Menatap sang kakak yang memasang sikap cuek sekilas sebelum beranjak pergi. Sementara Gabriel akhirnya hanya bisa memandang pintu yang telah tertutup dengan tatapan sedih.
.
.
.
Sialan kau! Mentang-mentang bebas melakukan apapun, kau jadi terus pamer pada kami? ~ Boy.
Tentu saja, di sini aku menikmati hidup. Sementara kau harus susah payah belajar bisnis. Haha. ~ Devan.
Argh, aku mau pulang dan berkumpul bersama kalian. ~ Boy.
Kalau begitu pulanglah. Aku akan mengenalkan mu pada pacar baruku. ~ Devan.
Apa-apaan? Baru lagi? Astaga, kau ini benar-benar tidak tertolong. ~ Boy.
Haha, masa muda tidak datang dua kali Bro. Kita harus menikmatinya selagi masih ada kesempatan. ~ Devan.
Dengan cara seperti itu? Huh, bicara denganmu benar-benar tidak ada bobotnya. Sudahlah, lebih baik aku mencari yang lebih waras saja. ~ Boy.
Hem. ~ Gabriel.
Hem? Apa-apaan kau? Tapi sekarang aku tidak merasa aneh lagi kenapa kau sangat irit bicara. Sepertinya keluargamu memang seperti itu ya? Adikmu juga sama. ~ Boy.
Jangan macam-macam! ~ Gabriel.
Wow, ada yang marah Boy. Kau harus hati-hati jika mau mendekati adiknya. Sepertinya abangnya bisa berubah menjadi macan nanti. ~ Devan.
Haha, walaupun abangnya macan, aku tidak akan mundur. Bukankah justru akan lebih menantang? ~ Boy
Bullshit! ~ Gabriel
Oh, ayolah Briel. Adikmu itu sangat manis. Katakan siapa namanya? Hanya itu yang ingin aku tahu saat ini? ~ Boy.
Dalam mimpimu. ~ Gabriel.
"Hahaha, ternyata dia bisa bersikap seperti ini juga," gumam Boy sembari menatap ponselnya. Pria itu tampak berpikir akan menjawab apa, namun suara ketukan pintu membuat jari-jari panjangnya terhenti.
Tok, tok, tok.
"Permisi Tuan Muda, tuan sudah menunggu Anda di dalam mobil," ujar seorang pria di luar sana.
"Baik," jawabnya singkat. Lalu mematikan layar ponselnya dan dimasukkan ke dalam saku. Pria muda itu menghela napasnya kasar. Liburan kali ini benar-benar akan berakhir dengan hal membosankan ini.
.
.
.
Dan begitulah waktu berlalu. Tanggal 27 Juli 2015 adalah hari pertama mereka bersekolah.
Bolos, yuk! ~ Boy.
Tidak bisa, ini hari pertama kita. Kalau orangtua ku tahu bisa gawat. ~ Devan.
Halah, pencitraan banget sih. Sudahlah, mending aku ajak Briel. ~ Boy.
Aku diantar. ~ Gabriel.
Nggak asyik banget kalian. ~ Boy.
Gabriel sedikit menarik sudut bibirnya. Lalu menyimpan ponsel ke dalam tas dan beranjak keluar kamar.
"Briel, kamu lihat adikmu di mana?" tanya mama Reina yang keluar dari kamar sang putri. Gabriel menggeleng, ia lalu berjalan mengikuti sang ibu dengan tergesa-gesa.
"Mama sudah coba menghubungi ponselnya?" tanya papa Hadi sembari melirik jam tangan yang ia kenakan. Hari ini ia yang akan mengantar kedua anaknya karena sopir mereka izin pulang kampung, sementara sebentar lagi ia punya meeting penting.
"Tidak dibawa, ponselnya ada di kamar."
Papa Hadi menghela napasnya dengan kasar, lalu mengalihkan tatapannya pada sang putra.
"Sekarang Amanda jadi semakin banyak ulah. Pasti karena kau yang tidak memberikan contoh selayaknya seorang kakak," ujar papa Hadi yang lagi-lagi menyalahkan Gabriel. Yang disalahkan pun hanya bisa menunduk, berusaha meredam ego sembari mengikuti kedua orangtuanya keluar rumah.
"Pa, sepertinya ada sesuatu yang tertempel di mobil Papa," ujar mama Reina dan menarik secarik kertas berwarna merah muda itu.
Papa, Mama, aku akan berangkat duluan. Kalian tenang saja, jarak sekolah tidak terlalu jauh. Jadi aku akan bersepeda saja.
Sebuah pesan singkat tertulis di sana, membuat papa Hadi, mama Reina dan juga Gabriel sendiri akhirnya bisa bernapas lega.
"Karena adikmu bisa berangkat sendiri, kau juga bisa kan? Papa ada meeting penting sebentar lagi. Oh iya, pastikan juga adikmu sudah sampai sekolah dengan selamat!" ujar papa Hadi sembari menatap Gabriel. Pria muda itu hanya mengangguk dalam diam, walau dalam hati tentu saja ada rasa kecewa yang semakin menumpuk.
Sementara di sisi lain, Boy sedang mengendarai motornya tak tentu arah. Kedua sahabatnya benar-benar tidak bisa diajak bersenang-senang. Mau ke markas juga pagi-pagi seperti ini pasti belum ada anggota yang ngumpul.
Padahal ia baru pulang dari luar negeri kemarin, dan hari ini sudah harus masuk sekolah. Bukankah sangat membosankan?
Ia pun membelokkan arah motornya, melewati sebuah taman untuk menyegarkan mata. Diantara kebosanan yang melanda, kedua mata pria muda itu menangkap bayangan seseorang. Sejenak ia tidak peduli, namun ia kembali menoleh karena sepertinya ia mengenal siluet itu.
"Gadis kulkas?" gumamnya dan seketika senyum cerah menghiasi bibirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC.
🌼🌼🌼🌼🌼