
"Kau?" ujar Boy saat Amanda telah berdiri di depan mereka. Namun remaja lelaki itu harus menelan rasa kecewa kala Amanda justru tak menghiraukannya dan malah menatap Briel dengan lekat.
"Kak, Kakak tidak papa?" tanya Amanda sembari menyentuh sudut bibir sang kakak yang tampak berdarah. Namun perhatian itu tak diindahkan Gabriel, pria itu malah menepis tangan sang adik.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya remaja itu dengan nada menekan. Sungguh ia sangat tidak terima adiknya yang polos sampai ke tempat seperti ini dan dikelilingi orang seperti ini.
"Aku mengikuti Kakak," balas Amanda dengan wajah datarnya. Ia mendongak dan menatap Briel dengan kedua mata bulatnya. Membuat Boy yang berdiri tepat di samping Briel lagi-lagi terpanah.
"Ck, ayo pulang!" Briel menatap tajam sang adik, lalu menggenggam pergelangan tangan Amanda dan menariknya pergi.
"Hei, kalian mau kemana?" tanya Boy menarik tangan satunya. Sentuhan Boy berhasil membuat Amanda menyadari kehadiran pria itu.
"Kamu?" ucap gadis itu beralih menatap pada Boy.
"Ya, ini aku yang tadi. Lihatlah, kita bertemu lagi bahkan kurang dari 6 jam. Bukankah itu dinamakan jodoh?" ujar Boy sembari tersenyum lebar, tidak sadar bahwa ucapannya itu membuat Devan ternganga lebar.
Sementara Briel menatap nyalang pada Boy. Tanpa sadar ia mengeratkan cengkeramannya pada tangan sang adik. Namun Amanda sama sekali tidak protes, meski merasa sakit tapi gadis itu juga tidak mengerti bagaimana reaksi yang harus ia berikan.
"Hei ... lepaskan!" titah Briel dengan nada dingin. Bahkan pria muda itu seperti tak memandang Boy yang adalah sahabatnya lagi, asalkan sang adik aman.
Boy memandang Briel dengan tatapan tak percaya. Apa benar gadis ini adalah pacar sahabatnya yang dingin dan kaku ini?
"Ada apa, Bro? Kenapa kau bersikap seakan aku akan memakan gadis ini?" tanya Boy sembari menampilkan wajah jenaka.
"Singkirkan tatapan busuk mu itu, Boy Listio!" geram Briel. Ia tidak suka saat Boy menatap adik kecilnya penuh damba.
"Hah, jangan bilang kalau gadis ini adalah kekasihmu?" tanya Boy yang kini menatap Briel dengan tatapan serius. Sebuah pertanyaan yang sangat ia harapkan jawabannya adalah TIDAK. Begitu pun dengan Devan, pria itu juga penasaran akan jawaban Briel.
"Dia kakakku," jawab Amanda yang sejak tadi diam melihat interaksi mereka.
"Kakak? Jadi dia adik yang kau bilang menyebalkan itu?" timpal Devan yang membuat Amanda berbalik menatap sang kakak penuh tanya.
"Apa aku menyebalkan?" tanya gadis itu polos.
"Ya, sangat menyebalkan. Karena itu ayo pulang!" ujar Briel akhirnya setelah beberapa saat diam. Tangannya menarik pergelangan tangan sang adik untuk mengikuti langkahnya.
Namun pegangan Boy masih tidak ia lepas. Sehingga Amanda lagi-lagi terlibat tarik menarik oleh dua pria itu.
"Lepaskan adikku, Boy!" titah Briel dengan nada geram. Namun Boy malah bersikap santai. Pria muda itu tersenyum lebar menampilkan sederet gigi putih yang tampak rapi.
"Aku belum tahu namamu," ujar Boy yang ditujukan pada Amanda. Tak menghiraukan wajah geram Gabriel.
"Aku? Namaku ...."
"Kau tidak perlu tahu siapa namanya. Ayo ikut kakak!" Briel menepis tangan Boy yang masih menahan lengan sang adik. Kemudian membawa Amanda berlalu menuju motornya. Meninggalkan Boy yang masih menatap dengan senyuman cerahnya.
"Kau sudah kutandai, gadis kulkas," batin Boy yang menatap kepergian Amanda yang juga menoleh padanya.
"Bos!" pekik Dennis yang membuat Boy tersadar. Pria itu segera menuju mereka dan membantu Dennis dan Devan untuk membawa sang ketua ke tempat yang lebih aman.
.
.
.
Amanda menatap sang kakak yang menurunkannya di depan komplek perumahan mereka.
"Kau bisa masuk sendiri kan?" tanya Gabriel dengan nada datarnya.
"Kakak tidak mau ikut masuk?" Amanda malah balik bertanya. Hari sudah semakin larut, mau kemana lagi Gabriel pikir gadis itu.
"Tidak. Cepatlah masuk sebelum ketahuan satpam!"
"Sudah, cepat!" Gabriel mau tidak mau turun dari motornya dan mendorong sang adik agar membungkuk dan melewati portal yang telah ditutup.
"Kak."
"Siapa di sana?" Sebuah teriakan membuat kedua bersaudara itu mendelik dan saling memandang.
...
"Sebenarnya apa mau mu, hah? Bukan hanya sama sekali tidak mau mendengar perkataan mama dan papa, sekarang kau bahkan membawa-bawa adikmu yang penurut ini agar berkelakuan sama sepertimu. Mama tahu dari dulu kau memang tidak pernah menurut, tapi apa tidak cukup hanya kau yang membuat kami kecewa? Kenapa membawa Amanda? Jangan membuatnya sama seperti mu, Briel!" pekik Reina Tandra pada anak sulungnya itu. Wanita itu tak habis pikir dengan jalan pikiran putranya ini.
Sementara Hadi menatap tajam Gabriel. Meski tak mengatakan apapun, tapi Briel tentu tahu bahwa amarah sang ayah tak lebih kurang dari amarah sang ibu. Sehingga yang bisa ia lakukan hanya diam dan menerima semua amukan dari kedua orangtuanya.
"Ma, bukan kakak yang mengajakku keluar. Aku yang diam-diam mengikuti kakak, aku ...," bela Amanda yang terpotong kala sang ayah mengangkat tangannya seakan meminta semuanya diam.
Pria yang berusia 40-an itu akhirnya mendekat pada istri dan putra putri nya setelah cukup lama diam. Dan jika papa Hadi sudah angkat bicara, maka mama Reina pun sudah waktunya bungkam.
"Ma, bawa Amanda kembali ke kamarnya!" titah kepala keluarga itu sembari menatap pada sang istri.
"Tidak, aku ...."
"Jangan membantah papa!"
"Sayang, ayo kita kembali ke kamar!"
"Tapi, Ma. Kakak ...."
"Kakak mu akan baik-baik saja, oke? Kita tinggalkan mereka agar bisa saling berbicara sebagai sesama pria." Reina mengelus kedua tangan putrinya itu, memberi pengertian dengan sangat lembut. Dapat dilihat dengan jelas bahwa perlakuannya terhadap putra putrinya sangat timpang.
Amanda masih enggan, kepalanya menoleh hanya untuk melihat ke arah sang kakak yang memberinya kode agar menurut saja. Hingga akhirnya ia mau kembali ke lantai atas bersama sang ibu.
Setelah ditinggal berdua, papa Hadi kembali menatap tajam pada sang putra. "Berikan kunci motormu pada papa!" titah pria itu dengan sorot mata tak terbantahkan.
"Mulai sekarang kamu tidak diizinkan lagi mengendarai motor sendiri. Mau kemana ada sopir yang akan mengantar. Berikan kuncinya!"
"Pa," balas Briel dengan wajah memelas. Sungguh ia mendapat motor ini dengan susah payah memohon saat itu.
"Cepat berikan! Papa nyesel sudah belikan kamu motor yang nyatanya membuat kelakuan kamu makin amburadul."
Briel menggenggam erat kunci motor yang ada di dalam genggamannya. Sangat berat untuk menyerahkan itu pada sang ayah. Namun melihat tatapan papa Hadi yang semakin menekan membuat ia perlahan mengangkat tangannya yang tanpa menunggu sudah direbut paksa oleh sang ayah.
"Kembali ke kamarmu! Mulai sekarang kamu tidak boleh keluar tanpa izin dari papa atau mama. Terlebih dengan membawa-bawa adikmu!" ujar papa Hadi sebelum beranjak dan pergi meninggalkan Briel yang matanya sudah memerah.
Pria muda itu akhirnya kembali ke kamar, masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower. Membiarkan air mengalir membasahi tubuhnya, tak peduli meski saat ini sudah tengah malam dan dingin menusuk ke dalam tulang.
Entah menangis atau tidak, tapi ia mengusap rambutnya dengan kasar. Matanya terpejam menikmati air yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
Di sisi lain, Boy yang baru sampai di rumah pun harus menghadapi sang ayah yang ternyata baru pulang juga. Pria muda itu menunduk, tampak pasrah jika papa Yanuar akan mengomelinya seperti para orangtua pada umumnya.
"Bereskan apa saja yang ingin kamu bawa. Besok kamu harus ikut papa dalam perjalanan bisnis ke luar negeri. Mulai sekarang papa akan mengajari kamu sedikit demi sedikit agar siap menggantikan papa memimpin perusahaan di masa depan."
Boy mendongak, menatap sang ayah dengan bingung.
"Tenang saja, kita akan kembali sebelum libur sekolah usai." Papa Yanuar mengusap bahu sang anak, kemudian meninggalkan Boy yang masih menatapnya tak percaya. Ia kira akan dimarahi karena pulang malam, namun nyatanya sang ayah bahkan tidak membahas sama sekali.
Sementara Devan sendiri disambut dengan kekosongan. Tadi siang kedua orangtuanya telah memberitahu akan pergi keluar kota beberapa hari untuk menjadi relawan. Ia sudah terbiasa, namun meski sudah terbiasa tetap saja ada rasa sesak di dalam dada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC.
🌼🌼🌼🌼🌼