
...Chapter 9: Le Noir...
Lima hari kemudian~~~.
Pagi hari, ketika sang mentari menampakkan diri, seorang pemuda bangkit dari mati suri. Dua pasang kelopak mata terbuka, menampilkan sepasang mata mempesona.
Lumiere, yah pemuda tersebut adalah Lumiere yang terbangun dari tidurnya. Setelah sepenuhnya mengumpulkan kesadaran, ia sedikit menguap lalu mulai melakukan peregangan.
Selesai dengan kegiatannya, Lumiere turun dari pohon tempatnya tidur. Tepat di samping pohon tersebut, terdapat aliran sungai dengan arus yang cukup tenang.
Lumiere melihat bayangan dirinya di air kemudian mulai mencuci muka. Gemercik suara aliran sungai terdengar merdu di telinga Lumiere.
Selesai mencuci muka, Lumiere lanjut membasuh rambutnya. Rambut kuning keemasan semakin indah ketika dikibaskan pemiliknya.
“Sekarang apa yang harus ku lakukan?”. Tanya Lumiere pada dirinya sendiri.
“Sekarang masih terlalu pagi untuk sarapan. Mungkin aku akan berjalan jalan dulu sebentar”. Lanjutnya.
Selama beberapa hari ini, Lumiere tidak menjelajahi keseluruhan pulau. Ia hanya berjalan santai menuju ke hulu sungai. Mengapa harus ke hulu? Entahlah, dia hanya mengikuti instingnya saja.
Setelah berjalan cukup lama, Lumiere secara tidak sengaja menginjak semacam jebakan yang membuatnya jatuh ke lubang.
Lumiere hanya meraung dengan kesal saat jatuh ke lubang.
“Apa apaan, kenapa ada jebakan disini? ”.
Lumiere tidak mencoba menghentikan jatuhnya karena dia juga cukup penasaran dengan apa yang ada di dasar lubang. Setelah satu menit terjatuh dan belum mencapai dasar Lumiere berfikir bahwa lubang tersebut cukup dalam.
Beberapa detik kemudian, Lumiere akhirnya bisa melihat dasar dari lubang tersebut. Dasar lubang yang seharusnya gelap justru terlihat terang.
Saat kaki Lumiere menyentuh tanah, secara tiba-tiba muncul sebuah lingkaran sihir yang memenuhi dasar lubang. Lumiere yang terkejut hanya bisa mengatakan.
“Tunggu, perasaan ini. Teleportasi. ”.
Sepersekian detik setelah kalimat Lumiere selesai, dirinya tiba tiba menghilang lalu muncul di sebuah tempat mirip dungeon.
“Monster”....
Lumiere terkejut karena setelah dirinya diteleportasikan, ia tiba-tiba merasakan reaksi mana monster di belakangnya.
Ketika menengok ke belakang, Lumiere menemukan seekor ular hitam besar yang sedang tertidur. Refleks Lumiere langsung memegang gagang pedangnya.
»Tunggu Lumiere, dia itu monster berakal. Dia tidak akan menyerangmu tanpa alasan khusus«.
“Hah? Bagaimana kau bisa tahu kalau itu adalah monster berakal”.
»Lumiere saat ini dia tengah tertidur, itu sudah menjadi bukti yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa dia adalah monster berakal ”.
“Hmm pantas saja aku tidak pernah melihat slime ataupun goblin yang tertidur”.
Secara tiba-tiba, ular besar di depan Lumiere membuka kelopak matanya, menampilkan mata besar berwarna merah darah.
“Hey anak manusia, apakah kau sampai ke sini karena lingkaran teleportasi? ”.
“Ya, benar, aku berada di sini gara gara lingkaran teleportasi di dasar lubang itu”.
“Heh, hahahah hahaha. Jika benar begitu maka orang yang ditakdirkan itu ternyata benar benar ada”.
“Orang yang ditakdirkan? Apa maksudmu? ”.
“Hemh lupakan saja, yang lebih penting lagi sekarang aku harus mengetes kemampuan calon tuanku”.
“Tunggu dulu! Maksudmu kau akan menjadi familiarku karena aku adalah orang yang ditakdirkan itu? Benar begitu”.
“Wahh hebat sekali kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu. Dan jawabanku adalah iya”.
“Bagaimana jika aku tidak mau? ”.
“Hahahah, lucu sekali jika kau tidak mau, bagaimanapun kau seharusnya tau keuntungan apa saja yang kau dapat saat mengontrak monster. ”
“Baiklah, pertanyaan terakhirku. Apa keuntungan yang kau dapat setelah menjadi familiarku? Mengapa makhluk kuat sepertimu mau mengontrak seorang anak manusia? ”.
“Tentu saja karena itu adalah takdirku. Lagipula aku tidak bisa keluar dari sini jika tidak mengontrak seseorang”.
“Oh begitu, lalu tes seperti apa yang akan kau berikan? ”.
“Sudah jelas kita akan bertarung”.
Mendengar hal itu sebuah senyuman tipis terukir di wajah Lumiere. Ia mulai menarik pedang dari sarungnya.
Begitupula sang ular yang mengubah wujudnya menjadi sosok pria berambut hitam. Lumiere yang melihat itu sedikit terkejut karena monster yang bisa melakukan hal itu setidaknya berperingkat S.
Namun hal itu tidak menggoyahkan keyakinan Lumiere. Justru hal itu membuat Lumiere bersemangat karena menemukan teman latihan yang kekuatannya hampir setara dengan dirinya.
*Oke, supaya mudah, saat ini saat akan menyebut sang ular sebagai Noir.
Melihat Noir yang mengeluarkan sepasang belati dari balik bajunya, Lumiere langsung berwaspada dan memasang kuda kuda.
Suasana hening tercipta ketika keduanya saling menatap satu sama lain. Suara tetesan air yang entah darimana seakan menjadi pertanda dimulainya pertarungan.
Baik Lumiere maupun Noir, keduanya berlari kedepan, menyerang lawannya. Sebuah pedang dan sepasang belati bertabrakan dengan keras, menciptakan percikan bunga api yang menghiasi pertarungan.
Setelah saling mempertemukan senjata masing-masing, Lumiere dan Noir mundur selangkah untuk mengambil jarak.
Noir mendarat sepersekian detik sebelum Lumiere dan langsung berlari ke arah Lumiere yang baru mendarat. Melihat sebuah tebasan belati tepat di depan wajahnya, Lumiere refleks menangkis serangan Noir menggunakan pedangnya. Secara tidak sadar Lumiere mengaktifkan percepatan pikirannya.
Serangan Noir tidak berhenti disana. Setelah satu belatinya terlempar, ia menyerang Lumiere dengan belati yang satunya sambil mengeluarkan belati baru dari balik pakaiannya.
Kembali lagi Lumiere menangkis serangan Noir, sesekali ia akan menghindar jika bisa.
‘Luar biasa, dia benar benar cepat. Aku jadi tidak punya kesempatan untuk menggunakan seni pedang’. Ucap Lumiere dalam hatinya.
Tidak sampai satu detik Lumiere membatin, ia mendapati sebuah tendangan yang menuju kepalanya.
Refleks Lumiere mengayunkan pedangnya sambil melompat ke belakang.
‘Kesempatan’.
«Kamihakkai Sword Art, Third Style: Lighting Strike».
Selesai membisikkan nama tekniknya, Lumiere menghilang dan digantikan kilatan petir yang menuju ke arah Noir dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Menyadari bahaya yang mendekat, Noir melindungi lehernya menggunakan lengan yang telah diperkuat dengan mana.
“Srriiing.......... ”.
Suara gesekan besi terdengar kuat tatkala kilatan petir melewati Noir.
“Oiii anak manusia, apakah kau berniat membunuh calon familiarmu? ”. Kata Noir saat melihat luka gores di tangannya.
“Tentu saja tidak, aku yakin kau tidak akan mati hanya karena serangan itu. Lagipula kau adalah monster peringkat S”.
“Heh, sedikit koreksi kalau aku ini monster peringkat SSS”. Balas Noir sambil mengeluarkan senyuman menyeramkan. Satu persatu lingkaran sihir muncul di atas Noir.
“Terre-...”
Lumiere yang melihat itu mulai berlari ke Noir sambil membisikkan nama tekniknya.
“... -Coups Consecutifs”.
Selesai Noir mengucap tekniknya, ratusan tanah keluar dari dalam lingkaran sihir dan ditembakkan kearah Lumiere.
«... -Infinite Slash».
Tak gentar dengan serangan Noir, Lumiere menyelesaikan kuda kuda seni pedangnya lalu menebas semua gumpalan tanah yang ditembakkan kearahnya.
Memanfaatkan Lumiere yang sedang fokus dengan tembakan tanah, Noir memainkan belatinya lalu berlari ke arah Lumiere.
Tepat di depan Lumiere, Noir mengayunkan satu belatinya. Lumiere yang tak siap, menerima luka gores di pipinya. Refleks Lumiere membalas dengan menebaskan pedangnya diagonal.
Dengan menjadikan pedang Lumiere dan belatinya sebagai tumpuan, Noir melakukan salto di udara. Melihat itu Lumiere tersenyum lalu melakukan gerakan lompat galah mengunakan pedang.
Ketika posisi Lumiere sedikit lebih tinggi dari Noir, ia mengayunkan kakinya ke bawah dengan menargetkan Noir. Dan tentu saja Noir tidak akan membiarkan dirinya ditendang begitu saja. Noir memutar tubuhnya dan melakukan tendangan untuk membalas Lumiere.
Setelah kedua tendangan bertemu, baik Lumiere maupun Noir sama sama terlempar. Noir terlempar ke bawah dengan sangat cepat, sedangkan Lumiere terlempar ke atas.
“Brraaak.......... ”.
Suara sesuatu menghantam tanah terdengar jelas menggema. Dari asal suara terlihat Noir yang masih berdiri tegak.
Sedangkan Lumiere? Setelah mendarat, terlihat kondisinya yang memiliki beberapa luka di tubuhnya, terutama bagian kaki.
Nafas Lumiere mulai memburu, namun masih menatap Noir dengan tegas. Sedikit menurunkan tubuhnya, Lumiere menarik nafas panjang.
«Kamihakkai Sword Art, Second Style: Wind Cut».
Dengan konsentrasi penuh, Lumiere mulai menggerakkan pedangnya. Setelahnya tiba-tiba muncul luka gores di beberapa bagian tubuh Noir yang masih diam di tempatnya. Omong omong, jarak antara Lumiere dan Noir saat ini hanya sekitar tiga meter.
“Oh tebasanmu benar benar akurat. Jika bukan karena sisikku yang keras, mungkin bagian vitalku sudah terluka”.
Sekali lagi Noir memainkan belati di tangannya dan tiba-tiba menghilang. Lumiere yang merasakan bahaya sedikit menggeser kepalanya. Rambut Lumiere yang agak berkibar terpotong oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Saat menengok ke belakang, Lumiere melihat Noir yang memposisikan belatinya seolah baru saja menebas sesuatu.
Ditandai dengan ayunan pedang Lumiere, bentrok senjata antara belati Noir dan pedang Lumiere dimulai. Percikan bunga api yang tercipta seolah menambah estetika pertempuran.
Dalam sudut pandang orang biasa pertarungan mereka berdua mungkin tidak bisa diikuti oleh kecepatan mata.
Setelah hampir satu menit beradu senjata, keduanya mundur selangkah dilanjut dengan pemasangan kuda kuda.
«Kamihakkai Sword Art, Fifth Style: Angel Dance».
Setelah membisikkan tekniknya, Lumiere mulai menari dengan pedangnya yang terus diayunkan ke arah Noir. Dalam sudut pandang Noir saat ini, dirinya melihat seorang bidadari yang menari di belakang tarian indah Lumiere.
‘Ahh luar biasa’. Batin Noir sambil mempercepat gerakannya.
--------------><---------------
Beberapa jam kemudian~~~
Nampak, sosok Lumiere yang yang tengah mengacungkan pedangnya ke arah Noir yang sedang mengangkat kedua tangannya. Nafas Lumiere sudah menjadi sangat berat, juga terlibat beberapa luka memar pada tubuh Lumiere.
Sedangkan Noir, dirinya saat ini sedang mengangkat kedua tangannya saat ditodong dengan pedang Lumiere. Beberapa luka gores terlihat di bagian tubuhnya. Pakaian yang dikenakannya sudah lusuh dan berantakan, padahal seharusnya pakaiannya adalah perwujudan dari sisik ularnya.
“Aku menang”.
Lumiere berucap sambil menurunkan pedangnya kemudian duduk di tanah. Begitu pula Noir yang mengubah tubuhnya menjadi seperti semula.
“Tadi itu benar benar menyenangkan, sudah lama aku tidak melakukan pertarungan seperti itu”.
“Kau yang senang, namun aku benar benar kewalahan. Lagipula kau seperti tidak serius tadi”.
“Hey kalau aku serius, mungkin aku tidak akan pernah keluar dari sini. Lagipula anak normal seumuranmu mungkin masih kesulitan untuk melawan monster peringkat B”.
“Senang mendengar pujianmu, tapi aku punya seorang teman sekaligus guru yang jauh lebih kuat dariku”.
“Hohoho, jika benar dia seumuranmu sepertinya anak itu tidak normal”.
“Ya, lagipula walaupun aku bertarung berkali-kali dengannya, dia akan mengalahkanku dengan telak”.
~Sementara itu di tempat Ren
“Haatchuu...... ”.
“Huh itu tadi bersin pertamaku setelah hidup bertahun-tahun di dunia ini”.
»Ren kau tak apa? Sangat jarang melihatmu tidak sehat seperti ini«.
“Ya aku tak apa. Mungkin Ashura sedang membicarakanku”.
~Kembali ke tempat Lumiere
“Jadi bagaimana dengan kontraknya? Jujur saja aku belum pernah mengontrak monster”.
“Mudah saja, cukup teteskan darahmu di atas kepalaku lalu ucapkan mantra”.
“Baiklah jika memang semudah itu”.
Lumiere yang hendak mengusap darah yang ada di pipinya tiba-tiba dibuat terkejut karena darah disana sudah hilang. Tidak, bukan itu yang membuat Lumiere terkejut, karena yang membuat Lumiere terkejut adalah tidak ada bekas luka di sana.
“Ada apa? Apa kau sedang tidak sehat? ”.
“Ya aku sehat, malahan sangat sehat karena luka gores di seluruh tubuhku menghilang tanpa bekas. Bagaimana hal ini bisa terjadi? ”.
“Oh bukankah itu wajar? Menurut cerita orang itu, orang yang ditakdirkan memang memiliki kemampuan regenerasi”.
‘Tapi sebelumnya aku tidak memiliki kemampuan seperti ini. Apakah ini adalah kemampuan dari buah itu? ’.
“Yah itu tidak penting”.
Lumiere menggigit jempolnya lalu meletakkannya di kepala Noir. Sesaat setelah itu, Lumiere dan Noir mulai mengucap mantra yang entah apa artinya.
Pancaran cahaya terang menutupi tubuh Noir. Ukuran raksasa Noir tiba-tiba menyusut sampai ke ukuran anak ular normal. Dengan cepat Noir melilitkan tubuhnya ke tubuh Lumiere.
Dengan senyuman tenang Lumiere mengelus elus kepala Noir.
“Ohh iya.. Aku baru ingat kalau aku harus memberimu sebuah nama”.
Setelah beberapa saat berfikir, Lumiere akhirnya menemukan nama yang menurutnya cocok.
“Le Noir, bagaimana? Cocok dengan warnamu yang hitam bukan? ”.
“Yah ku akui nama itu memang cocok untukku. Tapi kenapa kau harus berfikir hampir sepuluh menit hanya untuk nama sesimpel itu? ”.
“Itu lebih baik daripada aku menamaimu Laram”.
“Jangan bilang kalau artinya adalah ular hitam”.
“Ahahah ku kembalikan kalimatmu. Hebat juga kau bisa menyimpulkan seperti itu”.
“Sialan”.