
Chapter 8: Ujian
3 bulan kemudian~~
Lumiere telah sepenuhnya menguasai lima bahasa yang diajarkan Ren. Saat ini Lumiere sedang berada di lapangan pelatihan untuk menerima ujian kelulusan.
Dalam hatinya Lumiere bertanya ‘Kira kira akan seperti apa ujiannya nanti?’. Hingga akhirnya, yang ditunggu Lumiere telah tiba. Ren datang sambil membawa satu pedang lengkap dengan sarungnya.
Hal itu lantas membuat Lumiere semakin bertanya tanya. Yang terjadi selanjutnya adalah Ren mengoper pedang di tangannya ke Lumiere. Tentu saja Lumiere menangkapnya dengan senang hati.
“Hmn ujianmu sudah hampir dimulai yah”.
Kali ini Ren mengoper sebuah benda kecil ke Lumiere.
“Cincin? Untuk apa?”.
“Pakailah cincin itu sampai ujian selesai, jika kau menghilangkan itu, kau akan gagal”.
“Memangnya aku akan menghadapi ujian seperti apa?”.
“Sangat mudah, kau hanya perlu bertahan hidup selama satu minggu di pulau terpencil”.
“Eh?”.....
Belum sempat Lumiere bereaksi, pandangannya tiba tiba berubah. Ia menyadari bahwa Ren menteleportasikan dirinya ke sebuah pantai.
Byyurrr....
Suara deburan ombak membuyarkan lamunan Lumiere.
“Ahh padahal masih ada yang ingin kutanyakan”.
Lumiere memijit keningnya kemudian menghela nafas pasrah.
“Huufft sekarang apa yang harus kulakukan?”.
»Karena ini adalah ujian bertahan hidup mengapa tidak mencari makanan dulu?«.
“Kalau itu adalah aku empat tahun yang lalu mungkin aku akan mengiyakan nasihatmu. Namun, sekarang aku sudah mengetahui apa yang paling kubutuhkan”.
»Ohhh memangnya apa itu?«.
“Manusia bisa bertahan hidup sampai dua bulan tanpa makanan, namun manusia tidak bisa bertahan selama itu tanpa air. Jadi yang paling kubutuhkan sekarang adalah air”.
»Aku tidak yakin kalau hukum itu masih berlaku untuk pahlawan«.
“Sekalipun aku pahlawan atau sage agung tapi aku tetaplah manusia yang rapuh”.
»Egh rapuh ya? Padahal ketahanan mu berlevel empat«.
“Hahh terserah, sekarang mau mencari air dulu”. Celetuk Lumiere sambil berjalan ke arah hutan.
»Hah bukankah akan lebih mudah jika kau menggunakan kekuatanmu saja? Mengapa harus repot repot mencari ke dalam hutan?«.
“Aku ragu kalau Ren akan membiarkan aku melakukannya”.
»Tapi dia tidak melarangmu kan?«.
“Hmh benar juga”.
Lumiere mengulurkan tangannya kemudian mengatakan.
“Eau”
Lumiere mengerutkan dahinya karena tidak ada air yang keluar setelah dia mengucap mantra.
“Yaa dia tidak melarangku, tapi menyegel sihirku”.
».......«.
“Hah sepertinya aku harus bertahan hidup di pulau ini tanpa sihir. Yah setidaknya ini tidak lebih sulit daripada mengalahkan naga tanpa menimbulkan kerusakan”.
Lumiere kemudian melanjutkan berjalan ke dalam hutan. Menurutnya hutan di pulau ini sangat menarik karena di dalamnya terdapat flora dan fauna yang tidak biasa.
Pandangannya tertuju pada salah satu pohon yang memiliki tinggi sekitar dua meter. Ada banyak keanehan pada pohon tersebut, mulai dari batang yang berwarna merah darah, daun berwarna putih dan berbentuk hati. Kemudian buah berbentuk kacang berwarna putih sebesar kepalan tangan orang dewasa. Ditambah lagi buah yang tumbuh hanya ada satu buah.
“Sebenarnya pengetahuanku yang kurang luas atau memang pulau ini yang aneh?”.
»Hmp kurasa keduanya, lagipula dunia ini sangat luas, wajar saja ada yang tidak kau ketahui«.
Tanpa menghiraukan komentar Hestia, Lumiere memetik buah dari pohon di depannya. Pohon tersebut tiba tiba layu setelah Lumiere memetik buahnya.
“Pohonnya layu setelah kupetik buahnya, sebenarnya tanaman apa ini?”.
»Ehh sepertinya aku pernah melihat buah ini. Kalau tidak salah, salah satu senior mu pernah memakan buah ini«.
“Lalu? Apa yang terjadi?”.
»Emh aku tidak begitu mengingatnya, kurasa dia mendapat suatu kemampuan khusus setelah memakan buah ini«.
“Memangnya kemampuan apa yang di dapatnya?”.
»Maaf aku tidak ingat. Kenapa kau tidak mencoba memakannya saja?«.
“Yah kurasa tidak ada salahnya mencoba”.
Lumiere kemudian menggigit buah yang dipegangnya. Karena tidak terjadi apa-apa pada gigitan pertama, Lumiere lantas berinisiatif memakan buah tersebut sampai habis.
»Bagaimana? Kau merasakan sesuatu?«.
“Hmmm kurasa buah tadi cukup enak”.
»Bukan itu maksudku💢, apakah kau merasakan perubahan di tubuhmu?«.
“Tidak, mungkin tidak ada. Haah sepertinya aku harus mencari tahu sendiri kemampuan apa yang ku dapatkan”.
~---------------><---------------~
Malam harinya, di dekat sungai dengan aliran air yang cukup tenang, Lumiere membakar ikan yang baru ditangkapya.
Di hutan aneh yang di tumbuhi tanaman tidak biasa ini untungnya masih ada tanaman yang bisa Lumiere gunakan sebagai bumbu.
Semerbak aroma masakan yang sudah matang menggugah selera makan Lumiere. Mengetahui ikan bakarnya telah matang, Lumiere mengambil salah satu ikan yang dibakarnya.
Saat akan menggigit ikannya, Lumiere merasakan kehadiran seseorang yang mendekat.
“Hmm ternyata ada manusia yang menghuni pulau ini”.
Lumiere bergumam lalu melanjutkan acara makannya. Baru saja gigi Lumiere menyentuh daging ikan, Lumiere mendapati serangan kapak yang hampir mendarat di kepalanya.
Refleks Lumiere meletakkan makanannya. Dalam waktu yang sama Lumiere berhasil menendang kapak yang terbang ke arahnya.
“Keluarlah! Kau tidak bisa bersembunyi. Aku sudah mengetahui keberadaanmu”.
Selang beberapa saat, muncul seseorang dari arah hutan. Seorang remaja laki laki memiliki rambut coklat pudar dan iris mata berwarna merah terang.
“Kau, anak buahnya pria sialan itu kan?”.
“Hah? Pria siapa yang kau maksud? Aku berada di sini karena sedang melakukan ujian”.
Dengan cepat remaja tersebut menarik belati dari belakang pinggangnya kemudian berlari ke arah Lumiere. Lumiere hanya berdiam di tempatnya dan melihat remaja tersebut dengan malas.
“Sebutkan namamu dulu sebelum menyerangku seperti itu, setidaknya jika kau bukan monster tak berakal ”.
“Hah? Mengapa aku harus mendengarkan nasihat dari manusia yang datang dari luar pulau ini? ”.
Remaja itu hendak menebas leher Lumiere menggunakan belatinya, namun sebelum belatinya mengenai leher Lumiere, lengannya telah di cengkeram kuat oleh Lumiere.
Lumiere sedikit menghela nafas sebelum akhirnya melemparkan remaja di depannya ke sungai.
“Haaah...... Sepertinya akan sulit untuk berbicara denganmu”.
“Ughh... Ughh... Namaku Taruchan, ingatlah nama orang yang akan membunuhmu!”.
Dengan sedikit kesulitan Taruchan berdiri kemudian berjalan tertatih tatih ke arah Lumiere.
“Membunuhku? Hahaha.... Lihatlah dirimu yang sekarang ini! Padahal aku tidak serius saat melemparmu, tapi kau sudah kesulitan untuk berjalan”.
Dengan gigih Taruchan secara perlahan mulai berlari dan menyiapkan belatinya.
‘Ahh yaampun, apakah Ren akan marah jika aku membunuh seseorang? Kurasa tidak yah’.
“Hey kau, rasanya tidak sopan jika hanya kau yang memperkenalkan diri. Ingat namaku, Lumiere Chevalier! ”.
Tanpa mempedulikan ucapan Lumiere, Taruchan terus berlari, namun sebelum dia berhasil mendekat, Taruchan merasakan sakit pada bagian tengkuknya. Hal terakhir yang dia lihat adalah Lumiere yang memposisikan tangannya di tengkuk Taruchan.
“Hmm sudah berakhir yah? Mungkin aku bisa menanyakan sedikit informasi kepada orang ini”.
Lumiere menggendong Taruchan yang sedang pingsan kemudian meletakkannya di dekat api unggun.
----------------><-----------------
Beberapa saat kemudian, Taruchan perlahan membuka kelopak matanya. Setelah mengumpulkan kesadarannya secara sempurna, Taruchan mendapati dirinya yang diikat pada sebuah pohon.
“Ohhh kau sudah sadar?”
“Kaau... Kenapa? ”.
“Ku katakan sekali lagi, aku berada di pulau ini karena sedang melakukan ujian. Jadi aku sama sekali tidak memiliki hubungan dengan orang yang kau maksud tadi”.
“Bagaimana kau bisa membuktikannya? ”.
“Kalau aku memang memiliki hubungan dengan orang yang kau maksud seharusnya aku langsung datang ke tempatnya. Jadi menurutmu mengapa aku justru bersantai di pinggir sungai seperti ini”.
“Kau tau, alasanmu itu tidak cukup kuat”.
“Ahhh terserah kau mau percaya atau tidak. Setidaknya saat ini jawab beberapa pertanyaanku! ”. Balas Lumiere dengan kesal.
“Mengapa aku harus menjawab pertanyaan darimu? Hah? ”.
“Karena kalau kau tidak menjawab pertanyaan dariku artinya kau tidak berguna untukku”.
Lumiere kemudian menarik gagang pedangnya dan membuat Taruchan menelan salivanya. Dengan perlahan Lumiere berjalan ke arah Taruchan yang membuat jantung Taruchan berdetak kencang.
“A - apa yang kau lakukan? ”.
“Menurutmu apalagi? Kau sudah tidak berguna untukku, lagipula kau tadi berniat membunuhku bukan? ”.
Sambil memasang senyum sinis, Lumiere mengangkat pedangnya. Saat Lumiere sedikit menggerakkan pedangnya dia melihat salah satu semak bergoyang goyang.
Sepersekian detik kemudian muncul seekor tupai berekor merak dari balik semak tadi.
“Regel". Pekik Taruchan yang terkejut dengan kemunculan makhluk tadi.
Makhluk yang di panggil sebagai Regel itu melakukan postur mengancam kepada Lumiere seolah mengatakan ‘Jangan berani menyentuhnya’.
Lumiere yang melihat itupun langsung menurunkan pedangnya.
“Baiklah, aku tidak akan membunuhnya, aku tadi hanya menakutinya. Lagipula aku masih memiliki hati nurani ”. Ucap Lumiere santai sambil menebas tali yang mengikat Taruchan.
Taruchan yang telah dibebaskan tidak langsung bergerak dari tempatnya. Ia menundukkan kepalanya lalu berdiri perlahan.
“Maaf, sebelumnya aku menyerangmu tanpa pikir panjang. Ku pikir kau adalah rekan dari orang itu”.
“Yah tak apa, tapi lainkali dengarkan penjelasan dari orang lain dulu”.
“Emm baiklah”.
*Kruuukkk.........
“Kau lapar? ”.
“Iya, karena itulah aku tadi tidak bisa bertarung dengan benar”.
Lumiere yang mendengar itu hanya bisa mengangkat kedua bahunya. Lumiere mengambil salah satu ikan yang dibakarnya lalu memberikannya pada Taruchan.
Taruchan yang menerima ikan bakar dari Lumiere menjadi sedikit kebingungan.
“Kau yakin? ”.
“Yah, sebelumnya aku mengatakan kalau aku masih memiliki hati nurani. Mana mungkin aku tidak membantu orang yang sedang dalam kesulitan”.
“Terima kasih”.
Taruchan mulai menggigit ikan yang ada di tangannya, begitu pula Lumiere. Taruchan sedikit terkejut dengan rasa dari ikan yang dimakannya.
“Kau juga mau? ”. Tanya Lumiere saat melihat Regel yang menatapnya dengan rasa penasaran.
Lumiere kemudian meletakkan sebuah ikan di depan Regel.
“Ehh memangnya tupai itu memakan daging yah? ”. Gumam Lumiere saat Regel memakan ikan di depannya.
“Sebenarnya Regel termasuk makhluk pemakan tumbuhan, namun karena sudah lama tinggal denganku jadi dia sudah terbiasa memakan daging matang".
“Oh begitu, omong omong Taruchan, kau tadi selalu mengatakan 'orang itu' ataupun 'pria itu'. Memangnya ada masalah apa? ”.
“Maaf aku tidak bisa menceritakan itu padamu, aku tidak ingin merepotkanmu setelah menuduhmu yang tidak tidak”.
“Ahh baiklah kalau begitu aku tidak akan bertanya lebih jauh lagi”.
“Emm... Oh ya Lumiere, bukankah tadi kau bilang ingin menanyakan sesuatu. Kalau aku bisa menjawab aku akan menjawab apa yang kau tanyakan”.
“Ahh ya benar juga, tapi informasi yang ingin kutahu mungkin tidak terlalu penting untuk ujianku. Misalnya, apakah kau tahu seberapa besar pulau ini? ”.
“Besar pulau ini? Tidak aku tidak pernah mengukur itu lagipula pulau ini sangat besar”.
“Hmm kalau begitu aku akan menanyakan hal yang lain”.
“Tapi kalau tidak salah kakek pernah memberitahuku, kalau pulau ini berbentuk bulat sempurna dan berdiameter lima belas kilometer”.
“Kalau begitu aku bisa memperkirakan kalau pulau ini memiliki luas sekitar seratus tujuh puluh lima kilometer persegi. Hmmm cukup besar untuk pulau yang tidak dikenal”.
“Hah bagaimana kau bisa memperkirakan seperti itu? ”.
“Itu tidak penting”.
Setelahnya, Lumiere menanyakan informasi yang cukup berguna tentang pulau yang dia tempati sekarang kepada Taruchan, sebelum akhirnya mereka berpisah.