The Rising Of Demon Slayer Hero

The Rising Of Demon Slayer Hero
Chapter 3: Pelatihan



Chapter 3: Pelatihan


Satu bulan telah berlalu sejak Lumiere memulai pelatihan sihir. Sekarang dia sudah menguasai tujuh elemen murni. Kenapa tujuh dan bukan sembilan? Karena elemen kegelapan dan cahaya terlalu sulit untuk dipelajari sampai ke tahap murni.


Meskipun begitu, Lumiere sudah banyak mempelajari dan mempraktekkan sihir sihir elemen yang diajarkan Ren. Mulai dari yang paling dasar seperti bola api sampai ke tingkat monster badai petir. Namun, Ren sendiri bilang “Jangan pernah menggunakan sihir yang bersifat merusak alam seperti sihir ledakan”.


“Oleh karena itu, mulai hari ini sampai beberapa bulan ke depan. Aku akan mengajarimu seni pedang”. Lanjutnya.


“Seni pedang itu, membutuhkan kecepatan dan kekuatan fisik pada level tertentu kan?”.


“Ya itu benar. Dengan level kecepatanmu yang sekarang sudah cukup untuk mempelajari seni pedang yang kuciptakan. Level kekuatanmu masih kurang, jadi aku akan melatihmu untuk meningkatkannya dulu. Selain itu, seni pedang membutuhkan stamina yang luar biasa, untuk itu kamu harus mempelajari teknik pernafasan”. Jelas Ren panjang kali lebar.


“Kalau begitu tunggu apa lagi, kita mulai sekarang”. Sahut Lumiere dengan senyuman malaikat.


“Push Up lima ratus kali”. Ucap Ren santai yang membuat Lumiere menjadi suram.


“Ka-......”


“Besok tambah menjadi seribu, lusa menjadi seribu lima ratus dan seterusnya”.


“Bukankah kamu seperti iblis?”.


“Aku tidak menyangkalnya, dan cepat mulai latihan agar kamu bisa lebih cepat menguasai seni pedang”.


Tanpa membantah lagi, Lumiere langsung memasang posisi Push Up lalu segera memulai hitungannya dengan semangat. Tentu saja Ren mengawasinya sambil memakan camilan kacang. Beberapa jam kemudian, Lumiere sudah hampir selesai melakukan Push Up.


“496, 497, 498, 499, 500..... Hah selesai, selanjutnya”. Ucap Lumiere yang langsung berdiri setelah menyelesaikan hitungannya.


Lumiere sedikit terengah - engah namun tetap memasang wajah semangat. Keringatnya telah membasahi wajah dan pakaiannya.


“Baiklah kita akan melanjutkan ke pelatihan selanjutnya. Tapi sebelum itu, sebaiknya kamu minum terlebih dahulu”. Ucap Ren sambil menyerahkan botol air ke Lumiere yang tentunya langsung diterima.


“Baiklah untuk sekarang silahkan lari keliling lapangan ini dua puluh kali. Ini bagus untuk sedikit meningkatkan staminamu”.


“Tidakkah menurutmu lari keliling lapangan dua puluh kali itu terlalu mudah?”.


“Tentu saja tidak, satu sisi lapangan ini memiliki panjang 125 meter. Jika dikalikan empat kelilingnya 500 meter. Lalu saat kamu lari mengelilinginya dua puluh kali akan setara dengan berlari 10 kilometer. Tenang saja ini tidak akan membutuhkan waktu yang lama karena jika kamu bisa mempertahankan kecepatan dua puluh kilometer per jam, maka latihan ini akan berakhir dalam 30 menit”.


Lumiere hanya mengangguk pelan sebagai tanda kalau dia memahami penjelasan Ren. Setelah mengambil nafas panjang Lumiere mulai berlari mengelilingi lapangan.


“Lumiere aku akan pergi sebentar untuk mengambil sesuatu”. Teriak Ren pada Lumiere yang sedang berlari.


Karena tak mendapat balasan dari Lumiere, Ren kemudian pergi untuk mengambil sesuatu yang dimaksud, meninggalkan Lumiere yang sedang fokus dengan latihannya.


Dua puluh lima menit kemudian, Ren datang dengan membawa sebuah pedang kayu dan satu set bekal untuk Lumiere. Dengan perlahan Ren meletakkan bawaannya di sebuah bangku kemudian lanjut menonton latihan Lumiere.


“Seharusnya sebentar lagi selesai”.


Dan benar saja, beberapa menit kemudian, Lumiere yang sudah selesai latihan langsung berlari ke arah Ren dengan nafas terengah- engah. Seluruh tubuh dan pakaiannya juga dibanjiri dengan keringat.


“Hahh..... Hahh..... Haah..... Benar benar melelahkan hah.....”.


Secara tiba tiba muncul air deras yang mengguyur Lumiere setelah Ren mengayunkan tangannya ke bawah. Setelah guyuran air berhenti, sekali lagi Ren mengayunkan tangannya. Namun kali ini yang muncul adalah angin sepoi sepoi yang mengipasi Lumiere selama beberapa menit.


“Hwaah...... Benar benar sejuk”.


Beberapa saat kemudian seluruh pakaian Lumiere sudah sepenuhnya kering sehingga Ren menghentikan angin sepoi sepoinya.


“Duduklah lalu makan bekalnya!”.


“Kamu tidak ikut makan?”.


“Tidak, lebih baik aku memakan camilan kacang”. Jawab Ren sambil meraih camilan di samping kotak makan yang dia bawa tadi.


“Baiklah kalau begitu aku akan makan”. Ujar Lumiere lalu meminum air dari botol sebelum memakan makanannya.


“Setelah makan kamu boleh istirahat. Dua jam lagi kita mulai pelatihan selanjutnya”. Ucap Ren sambil memakan camilannya.


“Hummw, bwaiklwah”. Jawab Lumiere dengan mulut yang dipenuhi makanan.


“Setidaknya jangan menjawab saat mulutmu sedang penuh”.


Selang beberapa menit kemudian Lumiere sudah menghabiskan makanannya dan langsung tertidur di bangku yang digunakan untuk makan. Agar tidak menggangu Lumiere, Ren merapikan alat alat makan dengan hati hati.


»Heh, bilang saja kau ingin punya anak. Padahal sudah tua tapi masih belum menikah«. Sahut suara seorang wanita yang tiba tiba terdengar di kepala Ren.


»Kau sendiri juga belum menikah Restia. Padahal umurmu sudah ribuan tahun«. Balas Ren ketus, dan tentu saja dia berbicara dengan telepati.


»Kalau begitu kau mau menikah denganku?«.


»Hemp jangan bercanda, kau itu hanyalah sebuah roh yang tidak bisa disentuh, mana mungkin kau bisa memuaskanku«.


»Ahahahaha«.


»Apanya yang lucu?«.


»Tentu saja lucu, kau yang sangat dingin ini bisa memiliki nafsu dengan wanita. Awalnya aku mengira kau itu penyuka ses-«.


»Kalau kau teruskan, akan aku pastikan kau kukirim ke alam pengadilan«. Potong Ren dengan nada lebih ketus.


»Hehe..... Kalau begitu tolong ampuni saya BA-GIN-DA«. Canda seseorang yang berbicara dengan Ren sambil memasang senyum yang bisa membuat para kaum Adam tergoda.


----------><----------


Dua jam kemudian, Ren membangunkan Lumiere untuk segera melanjutkan latihan.


“Hoi, Lumiere, bangun dan segera lanjutkan latihanmu”. Ucap Ren sambil menepuk pelan pundak Lumiere.


“Hmm Ren, baiklah aku bangun sekarang”. Jawab Lumiere dengan nada khas bangun tidur.


Setelah mencuci wajahnya dengan sihir air, Lumiere langsung mengambil pedang kayu yang dibawa Ren tadi.


“Jadi apa yang harus kulakukan dengan pedang kayu ini? Apakah aku harus mengayunkannya sebanyak seribu kali?”.


“Tidak, lawan aku dengan itu. Ahh tentu saja dilarang menggunakan sihir”.


“Ohh duel kah?”.


“Sebut saja begitu”.


“Baiklah langsung saja ayo ke lapangan”. Lanjut Ren sambil berjalan ke tengah lapangan dan diikuti oleh Lumiere.


“Bagaimana peraturannya, Ren?”.


“Kamu cukup melukaiku dengan pedang kayu itu lalu kamu akan menang”.


“Hemm baiklah”. Ucap Lumiere santai lalu memasang kuda kuda asal karena memang belum pernah belajar berpedang.


Dengan teliti Ren mengamati kuda kuda Lumiere untuk mencari letak kesalahannya.


“Lumiere kamu terlalu tinggi mengangkat pedangmu lalu sikumu terlalu jauh. Kakimu, agak lebarkan posisi kakimu". Koreksi Ren yang langsung dituruti Lumiere.


Diawali dengan tarikan nafas panjang, Lumiere mulai berlari ke arah Ren yang masih santai di tempat semula. Setelah dekat dengan posisi Ren, Lumiere mengayunkan pedangnya ke atas, namun bisa dihindari Ren dengan melakukan setengah putaran ke kiri.


Tak ingin menyerah, Lumiere langsung mengayunkan pedangnya secara diagonal. Sekali lagi Ren dapat menghindarinya dengan melompat ke belakang. Memanfaatkan posisi Ren yang masih mengudara, Lumiere langsung bergerak menyusul Ren. Setelah bergerak dua langkah ke depan, Lumiere langsung mengayunkan pedangnya horizontal. Namun yang tidak dia duga, Ren justru menjadikan pedangnya sebagai tumpuan tangannya untuk melakukan back flip.


“Fssiuuu....... Gerakan yang bagus Lumiere. Tapi, kamu menggenggam pedangmu terlalu erat, itu membuat gerakan tanganmu menjadi lebih lambat. Coba genggam dengan lebih rileks tapi masih cukup kuat”. Ujar Ren setelah bersiul keras.


Sekali lagi Lumiere berlari ke arah Ren kemudian mengayunkan pedangnya dengan lebih cepat. Namun anehnya, kali ini Ren tidak menghindari pedang kayu Lumiere, melainkan menangkapnya dengan satu tangan.


“Sudah cukup untuk hari ini, besok kita lanjutkan lagi”. Ucap Ren sambil melepaskan pegangannya dari pedang Lumiere.


“Kalau begitu terima kasih untuk pelatihannya hari ini”. Jawab Lumiere sambil membungkukkan badannya kemudian langsung berdiri.


“Huuff sepertinya kamu juga cukup berbakat di bidang ini”.


“Jadi aku bisa melampauimu?”.


“Heh jangan mimpi”.


Lumiere & Ren: