The Rising Of Demon Slayer Hero

The Rising Of Demon Slayer Hero
Chapter 10: Lumiere VS Kelompok Aneh



Chapter 10: Lumiere VS Kelompok Aneh


“Oh iya, Noir bagaimana caranya keluar dari sini? ”.


“Coba lihat ke kiri, kau melihat Crest Of Land Element disana. Coba kau salurkan manamu ke sana maka jalan keluar akan tercipta”.


“Dalam keadaan normal melakukan hal itu semudah bernafas untukku, namun entah kenapa sekarang aku merasa tidak yakin”.


“Hoh, kenapa begitu? ”.


“Ketika bertarung denganmu tadi aku sudah berkali-kali mencoba menyalurkan mana ke pedang ku, namun tidak bisa. Seolah ada sesuatu yang menghalangi aliran manaku”.


“Ehh, dengan kata lain kau tadi melawan ku tanpa menggunakan mana sama sekali”.


“Tentu saja tidak, walaupun tidak bisa mengalirkan mana ke pedang ku, tapi aku masih bisa mengalirkan mana ke seluruh tubuhku”.


“Ohh begitu, jadi intinya kau tidak bisa menyalurkan mana keluar tubuhmu bukan? Lalu bagaimana dengan sihir elemen? Seharusnya sihir elemen masih dihitung daerah dalam tubuh”.


“Ya, untuk sihir elemen aku tidak bisa menggunakannya saat ini”.


“Wah, ternyata saat ini kau mengalami banyak penurunan kemampuan”.


“Yah, kalau masalah sihir elemen aku masih bisa mengatasinya. Namun aku belum menemukan pemecahan untuk penyaluran mana”.


“Yah sebenarnya niatmu adalah menyuruhku untuk membuka pintu keluarnya kan? ”.


“Oh kalau kau sudah tahu maka tidak perlu basa basi lagi”.


“Ah merepotkan, kalau begitu segera jalan kesana! ”.


Tanpa menjawab ucapan Noir, Lumiere berdiri lalu membersihkan debu yang menempel di pakaiannya. Lumiere berjalan ke arah yang di maksud oleh Noir.


“Sekarang ulurkan tanganmu ke sana”.


Setelah Lumiere mengulurkan tangannya, Noir menjadikannya sebagai tumpuan untuk bergerak. Tiba di depan Crest Of Land Element, Noir mulai menyalurkan mananya.


Selang beberapa saat, sebuah lorong berbentuk kubah muncul di depan Lumiere. Jika Lumiere tidak salah memperkirakan lorong ini memiliki luas sepuluh meter persegi.


Setelah melamun sesaat, Lumiere akhirnya berjalan mengikuti lorong. Di dalam lorong itu cukup terang karena ada obor disana.


“Noir aku ingin bertanya satu hal”.


“Hmm apa yang ingin kau tanyakan? ”.


“Sebenarnya ada di mana posisi kita saat ini? ”.


“Di dalam bukit tertinggi di tengah pulau”.


“Ehhh, sepertinya aku tadi ber teleportasi cukup jauh yah”.


“Seingatku aku memasang empat lingkaran teleportasi di penjuru pulau ini. Kau ber teleportasi dari arah yang mana? ”.


“Jika matahari disini terbit dari timur, maka aku datang dari arah selatan”.


“Hemph guyonanmu tidak lucu”.


Sesaat setelah mereka berdua selesai mengobrol, cahaya matahari sudah menyambut di depan mereka. Lumiere sedikit menutup matanya karena merasa silau.


“Huh, sebelumnya aku hanya berniat untuk berjalan jalan sebentar sebelum makan. Tapi kurasa sekarang sudah lewat dari lonceng ke empat belas”.


“Hey jangan bercanda, orang yang memiliki mana masih bisa bertahan hidup walaupun tidak makan berbulan bulan”.


“Noir sepertinya kau terlalu lama mengurung diri. Kalau itu adalah manusia di zaman dulu mungkin bisa melakukannya, tapi tidak dengan saat ini”.


“Hoh kenapa bisa begitu. Lagipula seingatku aku mengurung diri di sini masih kurang dari lima ribu tahun”.


“Entahlah alasannya tidak dituliskan dalam sejarah”.


Ketika sedang asik mengobrol, keduanya tiba-tiba merasakan reaksi mana dari balik semak semak.


“Monster? Tidak, tapi kurasa aku kenal dengan reaksi mana ini”.


Beberapa saat kemudian sosok tupai kecil berekor merak keluar dari balik semak dengan banyak luka ditubuhnya.


“Ehh bukankah kau Regel? ”.


“Koaakk..... ”.


“Hah apa yang dia katakan? ”.


“Dia bilang tolong”.


Setelah mendengar kalimat Noir, tanpa pikir panjang Lumiere langsung menggendong Regel.


“Tunjukkan jalannya! Noir untuk sekarang kau bisa bersembunyi”.


Tanpa menjawab kalimat Lumiere, Noir langsung melilitkan tubuhnya ke pergelangan Lumiere. Bersamaan dengan hilangnya tubuh Noir, tercipta sebuah tato bermotif ular di pergelangan tangan Lumiere.


Lumiere langsung berlari ke arah datang Regel tadi.


»Hei Lumiere, kenapa kau langsung menggendongnya seperti itu? Apa yang sedang terjadi?«.


“Entahlah aku tidak tahu, tapi sepertinya Taruchan sedang dalam masalah”.


»Lalu? Apa hubungannya denganmu?«.


“Yah kurasa dia sudah membantuku dengan memberiku informasi tentang pulau ini. Jadi kupikir ini adalah saatnya membalas budi”.


Lumiere langsung berbelok ketika Regel menunjuk ke arah kanan. Omong omong, saat ini Lumiere tidak berlari dengan kecepatan penuh. Alasannya? Tentu saja karena Regel tidak akan bisa menunjukkan jalan jika Lumiere berlari terlalu cepat.


Singkat cerita, Lumiere tiba di suatu tempat yang cukup luas yang dikelilingi pohon dengan keberadaan sebuah goa di salah satu sisinya.


Yang Lumiere lihat saat ini adalah Taruchan yang sedang bertarung dengan seorang pria berjubah hitam.


“Sialan, aku tidak akan kalah”.


Taruchan meraung kesal tat kala dirinya terpojok. Berbagai macam luka juga terlihat di tubuhnya. Melihat Taruchan yang menyedihkan, si pria berjubah mengayunkan tingkat di tangannya.


Taaakkk.........


Sebuah batu sebesar Kepala tangan di lemparkan ke arah si pria berjubah, namun ia berhasil menangkisnya menggunakan tingkat.


Pria itu kemudian melihat ke arah Lumiere. Yah, Lumiere. Karena sang pelempar batu adalah Lumiere. Tatapan dingin terlihat di wajah keduanya.


“Lumiere..... ”


“Hooii bocah, apa maksudnya ini? ”.


“Tidak, bukan apa apa. Aku hanya ingin melemparkan batu ke kepala orang yang menindas orang lain yang lebih lemah. Taruchan kau bisa berdiri? Kalau ya, segeralah pergi dari sana”.


“Baiklah terimakasih”.


“Ooii kau sudah bosan hidup kah? ”.


“Hahaha mana mungkin, sepertinya justru kau lah yang sok hebat”.


“Kubunuh kau bocah!!! ”.


“Hegh, kau terlalu meremehkan lawanmu”.


Dengan kesal si pria membentuk sebuah lingkaran sihir di depan tongkatnya. Lumiere yang menyadari hal itu langsung melompat dan menendang wajah lawannya dengan keras.


“Sialan kau bocah tengik”.


Dengan didasarkan atas kemarahan, si pria menembakkan sihir kearah Lumiere. Dan tentu saja Lumiere bisa menghindarinya dengan mudah, lagipula sihir yang ditembakkan hanya satu kali.


“Hey, kau bilang kau akan membunuhku kan? Tapi kalau kau menyerang dengan mainan seperti itu mana bisa kau membunuhku”.


“Baiklah ku akui kalau aku terlalu meremehkanmu. Ingat namaku, Tyre orang yang akan membuatmu menyesal telah melawannya”.


“Sebenarnya aku tidak suka memperkenalkan diriku padamu, tapi sebagai bentuk kesopanan perkenalkan namaku Light”.


Lumiere tersenyum dingin saat menatap Tyre.


“Aku akan serius sekarang, pastikan kau tidak menyesal”.


“Haha terimakasih perhatiannya, namun kau tidak akan bisa membunuhku sekalipun kau serius”.


“Jangan sombong bocah! ”.


Sekali lagi Tyre mengacungkan tongkatnya.


“Feu, Coups Consecutifs”.


Puluhan bola api keluar dari lingkaran sihir yang dibuat oleh Tyre. Puluhan bola api tersebut kemudian melesat kearah Lumiere.


«Kamihakkai Sword Art, Fourth Style: Infinite Slash»..


Dengan mudah Lumiere menebas semua bola api yang diarahkan kepadanya.


“Kau, monster”.


“Lapor bos, makhluk yang bos sebut Ekorre itu sudah kabur entah kemana”. Ucap salah satu dari mereka sambil ketakutan.


“Lihat! Ekorre yang kalian kejar sekarang ada di sana”. Teriak Tyre sambil menunjuk kearah Regel dan Taruchan.


“Sekarang tangkap makhluk itu lalu sisanya bantu aku membunuh bocah ini! ”.


Segera, orang orang berpakaian hitam itu membentuk dua kelompok seperti yang diperintahkan oleh Tyre. Taruchan yang melihat hal itu tentu tak tinggal diam.


“Tak akan kubiarkan”.


“Taruchan mengapa kau tidak menyerah saja dan menyerahkan semua monster unik di pulau ini”.


»Noir kau bisa keluar lalu bantulah Taruchan«.


»Okee«.


Bersamaan dengan selesainya kalimat Noir, pergelangan tangan Lumiere mulai bercahaya dan memunculkan seekor ular hitam kecil. Ular kecil tersebut mulai membesar sampai berukuran sekitar sepuluh meter.


“Ahh, ular itu. Black Viper. Sialll padahal aku sudah mencarinya selama tiga bulan ini. Tapi kau malah merebutnya bocah sial”.


“Merebutnya? Hahaha leluconmu membuatku tertawa paman. Kalau kau sudah mencarinya selama tiga bulan artinya kau payah dalam pencarian. Padahal pulau ini tidak terlalu besar”.


“Aghh siall....!!! Kalian semua bunuh anak itu!!! ”.


Sebelum sempat bereaksi, setengah pasukan hitam telah dilibas habis oleh Noir. Seketika hal itu membuat semua orang tercengang, tentu saja pengecualian untuk Lumiere.


“Kerja bagus, sekarang kembalilah”.


Ketika semua orang telah sadar dari keterkejutan nya, mereka melihat senyum meremehkan dari wajah Lumiere.


Orang orang berpakaian hitam langsung naik pitam saat melihat senyum Lumiere yang menurut mereka menyebalkan. Tanpa pikir panjang mereka langsung menyerang bersamaan.


Melihat hal itu Lumiere hanya diam di tempatnya dengan tenang. Puluhan tebasan belati di arahkan ke tubuh Lumiere. Tanpa kesulitan Lumiere berhasil menghindari serangan yang ditujukan padanya.


Beberapa saat kemudian pasukan hitam berhenti menyerang dan terlihat kelelahan.


“Anak itu tidak normal. Tidak, dia itu monster”.


“Tapi setidaknya usaha kita tidak sia sia. Lihatlah luka di bahu kanannya”.


“Meskipun kau kuat tapi kau masih bisa terluka yah, Light”.


“Tentu saja aku bisa terlalu. Lagipula aku masih lelah setelah pertarungan tadi pagi. Oh iya aku sekarang juga lapar”.


“Jangan mengelak! Kau pasti panik karena terluka kan? ”.


“Hahaha lucu sekali, jangan berpikir kalau luka seperti ini bisa membunuhku! ”.


Dalam sekejap luka tebasan di tubuh Lumiere menghilang tak berbekas. Melihat hal itu, rahang semua orang hampir jatuh ke tanah.


“K- kau iblis. Manusia tidak mungkin memulihkan luka secepat itu tanpa air suci maupun sihir penyembuhan”.


“Kalau kau bilang mustahil sepertinya kau tidak bisa melihat. Padahal contoh nyatanya ada di depanmu”.


Sekali lagi semua orang melihat senyuman meremehkan dari Lumiere. Namun bukannya marah, kali ini mereka justru merasa takut lalu mengambil satu langkah mundur.


Rasa takut mereka semakin diperkuat saat Lumiere mengambil kuda-kuda sword art. Dengan cepat Tyre membentuk lingkaran sihir yang berfungi sebagai perisai.


«Kamihakkai Sword Art, First Style: Wave Flow».


“Barrier.... ”


*TRAAANG.........


Suara besi terbentur terdengar nyaring di telinga semua orang.


*Kraakk.......


Perisai sihir yang dibuat Tyre mengalami keretakan setelah berbenturan dengan pedang Lumiere. Begitu pula pedang Lumiere yang mengalami hal sama.


Pedang maupun perisai yang digunakan kedua insan tersebut pecah bersamaan.


Setelah berhasil menembus perisai Tyre, Lumiere melakukan pendaratan sambil membuang pedangnya.


“Ahh sial, aku lupa kalau aku tidak bisa mengalirkan mana ke pedangku”.


Melihat Lumiere yang tidak bersenjata, sontak membuat pasukan hitam menarik senjata mereka.


“Lumiere!!! ”......


“Jangan khawatirkan aku Taruchan. Kau sekarang sedang terluka, lebih baik kau beristirahat saja”.


“Hey bocah, sekarang kau sudah tidak memiliki senjata. Jadi bagaimana kau akan melawan kami?”.


“Hemh dalam kondisi ku sekarang, akan lebih mudah mengalahkan kalian tanpa senjata”.


“Hegh sombong”. Ucap seseorang yang langsung melesat kearah Lumiere.


Saat orang tersebut hampir menusuk Lumiere, dia menyadari bahwa targetnya sudah bergeser entah sejak kapan.


Sepersekian detik berikutnya orang tersebut terjungkal ketanah akibat tendangan Lumiere.


“Oops sepertinya aku sedikit berlebihan. Seharusnya aku tidak membuat keretakan di tanah. Xixixi”.


Tawa aneh Lumiere membuat lawannya meneguk salivanya dengan kasar. Dengan berat hati Tyre harus mengeluarkan teknik terkuatnya.


“Barrier, Prison”..... Teriaknya sambil mengarahkan tongkat ke arah Lumiere.


Seketika sebuah bola transparan muncul untuk mengurung Lumiere.


“Hahaha bagaimana light? Dengan ini kau tidak akan bisa menyerang kami. Tapi kami masih bisa menyerangmu”.


“Hooh jadi maksudmu, perisai ini tidak bisa diserang dari dalam begitu?”.


Tanpa menjawab pertanyaan Lumiere, seseorang bersenjatakan long sword menebas horizontal barrier yang melindungi Lumiere.


Reflek Lumiere berjongkok untuk menghindari serangan.


“Woah hebat, pedangmu bisa menembus barrier ini. Mungkin lain kali aku akan meminta Ren mengajariku”.


Sekali lagi ucapan Lumiere benar benar membuat lawannya naik pitam. Tyre yang kemarahannya sudah memuncak, kali ini serius merapalkan mantra untuk membunuh Lumiere.


Sementara itu Lumiere sibuk menghindari serangan yang diarahkan padanya sambil mengobrol dengan Noir.


“Hey Noir, yang kau gunakan di lubang itu adalah lingkaran teleportasi bukan?”.


»Heeeh apakah kau akan mencoba menggunakan itu sekarang?«.


“Tentu saja bukan aku yang akan menggunakannya”.


»Huuh baiklah«. Dengus Noir sambil menampakkan wujudnya di pergelangan tangan Lumiere.


“Taruchan, lemparkan kapakmu kesini”.


“E.. Ehhh... Baiklah”.


Dengan cepat Taruchan mengambil kapak di sampingnya kemudian melemparkan kapak tersebut kearah Lumiere.


*Swoosshh......


Bertepatan dengan kapak yang lewat di depannya, Lumiere menjulurkan tangannya sehingga Noir bisa menggapai gagang kapak.


Bukannya menangkap kapak tersebut, Noir justru meletakkan sebuah lingkaran sihir kecil pada gagang kapak.


Senyuman tipis terlukis di wajah Lumiere bersamaan dengan kapak yang melesat menembus barrier.


Detik berikutnya, Lumiere menyadari bahwa Tyre telah selesai mengucapkan mantranya. Mengarahkan pandangannya ke atas, Lumiere melihat sebuah bola api besar yang 100% diarahkan kepadanya.


“Hoo bola api itu benar benar mantra paling dasar yah”. Gumam Lumiere sesaat sebelum bola api ditembakkan.


Ketika bola api menyentuh barrier, semua orang berfikir bahwa Lumiere pasti akan mati atau setidaknya terluka parah setelah terkena serangan tersebut.


Namun hal yang terjadi berikutnya mengejutkan semua orang, pasalnya Lumiere tiba-tiba menghilang sepersekian detik sebelum bola api menyentuh dirinya.


Lebih mengejutkannya lagi, Lumiere tiba-tiba muncul di dekat kapak yang sedang melesat sambil menangkap kapak tersebut. Tak berhenti disana, Lumiere kemudian melemparkan kapak di tangannya ke arah Tyre.


Tyre yang tidak siap masih diam ternganga dengan kemampuan Lumiere. Kapak yang dilempar Lumiere menabrak keras tongkat di tangannya. Akibat lemas karena terkejut, Tyre membiarkan tongkatnya terbang bersama kapak Lumiere.


Namun yang tidak dirinya duga, Lumiere muncul di belakangnya dan langsung menendang kepala Tyre hingga menancap di tanah.


»Huhh bukankan tadi itu hampir saja?« -Noir


»Tidak, sekalipun Lumiere terkena serangan itu dia tidak akan mengalami cedera berarti.« -Hestia


“Yah tadi itu aku hanya ingin mencoba teknik baru”.


»Uhhh seharusnya aku sudah tahu hal itu.« -Noir